Saturday, March 25, 2006

Kamus Hidup

Tahu kan kenapa Yuni Sara jatuh cinta kepada Henri Siahaan?

Bagi yang menganggap berita tentang selebriti adalah cerita murahan, mungkin ada yang menganggap hal ini tak penting. Karena itu tak tertarik untuk tahu. Tapi tolong kali ini, dengarlah saya. Sebab ini saya kira sangat berguna juga.
Aksara Simalungun. Sumber:www.bonapasogit.com


Kalau saya lihat secara lebih teliti, Henri Siahaan itu tak ganteng-ganteng benar. Kalau, misalnya, kita pergi ke Sarimatondang, kampung saya yang seperti noktah di peta itu, kita bisa menemukan puluhan orang berwajah seperti Henri Siahaan bila kita pergi ke pekan. Bahkan mungkin lebih macho, lebih charming dari Henri. Wajah Henri, menurut saya, bukanlah hal terindah dari yang bisa kita temukan pada wajah-wajah pria Batak pada umumnya.
Gadis Simalungun manortor (menari). Sumber:www.bonapasogit.com
Lalu mengapa Yuni Sara, yang mungil tapi manis dan bikin gemas itu mengidolakan Henri? Dari hasil mengintip tabloid yang jadi bacaan istri saya, saya akhirnya tahu Yuni mengagumi Henri, salah satunya karena Henri ini adalah tempat bertanya yang siap-sedia 24 jam. Jawabannya lengkap, tepat dan berguna bagi Yuni. Itu sebabnya, salah satu kekagumannya pada sang suami adalah karena ia layaknya ‘Kamus Berjalan’.

Saya sih merasa Kamus Berjalan itu bukan istilah yang tepat betul. Seharusnya adalah Kamus Hidup. Boleh ditambah kata 'Berjalan', tetapi tak penting betul. Sebab, ada juga Kamus Hidup yang tidak berjalan atau tidak bisa berjalan lagi. Tetapi ia tetap bisa menjadi tempat bertanya yang lengkap, tepat dan gampang dimengerti. Mirip-mirip dengan Apotik Hidup di pekarangan rumah, seperti yang jadi hobi kawan dan Big Brother saya, jrs.

Cerita tentang Kamus Hidup itu jadi menggoda pikiran saya ketika malam Minggu lalu, saya coba-coba menulis dalam Bahasa Simalungun, menerjemahkan beberapa tulisan bahasa Indonesia ke bahasa Sim. Semangat saya sudah saya setel full. Kopi dan rokok lengkap di meja. Juga saya mengambil tempat dekat jendela, agar angin Banten yang belakangan ini kencang dan dingin, bisa ikut menemani saya. Saya agak yakin bahwa pekerjaan saya kali ini akan memberi hasil yang memuaskan. Soalnya, dari kampung halaman saya baru mendapat harta karun yang berharga. Pemberian (sebenarnya lebih mirip hasil menodong) ayah saya, yakni kamus Simalungun-Indonesia, karangan J.E. Saragih, diterbitkan Kolportase GKPS 1989.

Ternyata hanya beberapa menit saja semangat saya memuncak. Berbatang-batang rokok habis. Tapi tulisan saya tak beranjak lagi setelah paragrap kelima. Saya akhirnya menyadari bahwa kamus itu hanya sedikit saja membantu (mungkin karena belum akrab dan perbendaharaan bahasa Sim saya memang masih terbatas). Tiap kali saya ingin mencari arti sebuah kata Indonesia dalam Bahasa Simalungun, saya harus membolak-balik kamus secara susah-payah. Dan seringkali tidak ketemu.Kadang-kadang memang ada berkat tak terduga. Misalnya, ketika saya ingin mencari arti kata Bising, dan dengan nekad saya pergi ke huruf B di kamus itu, oh ternyata ketemu. Bising dalam Bahasa Simalungun adalah Bisong. Tapi jangan coba begitu dalam hal kata sedih. Sebab bukan di huruf S jawabnya. Melainkan di huruf H, yakni Horu. Atau di huruf B, Bangor.

Saya akhirnya berandai-andai. Seandainya saja bukan hanya kamus Simalungun-Indonesia yang yang ada, tetapi ada juga lah, misalnya kamus Indonesia-Sim, bukankah pekerjaan saya akan lebih mudah? Seandainya kamus seperti itu ada, anak-anak remaja Sim yang tumbuh di Jakarta, dengan perbendaharaan kata dan cara berpikir sudah sangat Indonesia, bukankah ia akan sangat terbantu untuk mengemukakan pikiran-pikirannya dalam Bahasa Sim?

Saya menduga-duga, agaknya kamus Sim-Indonesia masih lebih ditujukan untuk penerjemahan teks Sim ke bahasa Ind. Bukan sebaliknya. Padahal, yang terakhir ini juga akan banyak gunanya kelak untuk anak-cucu kita. Menarik, bukan, kalau, misalnya, kita suatu saat bisa menerjemahkan Cintaku di Kampus Biru ke dalam bahasa Sim?

Tak mengherankan bila sampai saat ini saya masih lebih sering berpaling kepada Kamus Hidup atau Kamus Berjalan (meminjam istilah Yuni Sara). Ada beberapa Kamus Hidup saya dalam hal Bahasa SImalungun. Waktu saya ingin tahu apa arti kata Hakkei, saya mengirimkan SMS kepada ayah saya di kampung. Ia bisa menjawabnya dengan cepat. Tetapi ketika saya ingin tahu, kenapa tempat kelahiran Oppung Boru bernama Marubun, SMS saya lama sekali baru berbalas. Ketika balasannya saya terima, itu juga tak memuaskan. Sebab isinya hanya kalimat pendek: “Husukkun lobei Omakmu.” (Saya tanya dulu emakmu.) Dan berhubung ibu saya gaptek, tak bisa menggunakan handphone, akhirnya tiap kali ada pertanyaan yang pelik, harus lah lewat ayah. Selain memakan waktu, tergantung pada mood pula. Sebab, kadang-kadang ibu saya sedang memasak, atau sedang pergi ke partonggoan gender (persekutuan doa gender). Jadi makin sulitlah mengharapkan Kamus Hidup di kampung halaman itu. Itu sebabnya, sampai sekarang, saya tak tahu sejarah nama Marubun itu.

Kamus Hidup saya yang lebih efektif sekarang ini, ternyata adalah mereka yang tinggal di Jakarta. Diantaranya adalah Tulang (Paman) Mansen Purba, sanina (saudara) Jhankhandi Saragih dan Tulang Jaberkat Purba. Semua mereka ini adaalah orang-orang Simalungun yang saya kenal lewat dunia maya. Mereka ini buat saya merupakan alternatif yang paling praktis ketimbang membolak-balik kamus. Dengan biaya Rp300 per sms, kadang-kadang saya sudah mendapat arti dua atau tiga kata. Sebetulnya total costnya lebih besar. Sebab, ketika menjawab saya mereka juga harus mengeluarkan biaya serupa. Artinya, untuk satu dua kata diperlukan Rp600. Tapi sejauh ini mereka tidak pernah mengeluh.

Di kampung kita, mungkin masih banyak Kamus Hidup yang bisa kita tanyai. Tapi persoalannya Kamus Hidup dalam irama Jakarta yang serba praktis dan cepat ini tak lagi sekadar punya pengetahuan. Harus pula akrab dengan teknologi. Ada beberapa orang tua yang sesungguhnya bisa saya tanyai di kampung halaman, tetapi jangankan memencet-mencet tombol telepon selular untuk mengirimkan SMS. Membaca Buku Doding (buku nyanyian rohani) pun mereka sudah tersendat-sendat karena usia telah banyak merenggut kemampuan melihat mereka.

Maka Kamus Hidup made in Jakarta masih tetap merupakan pilihan saya. Itu sebabnya di memori Handphone saya, nama Tulang Mansen Purba, Jhankhandi Saragih dan Jaberkat Purba ada beberapa. Sebab saya ingin berjaga-jaga, siapa tahu suatu saat putri saya yang lagi bandel-bandelnya, iseng memegang handphone saya dan terhapus beberapa nama, nama cadangan untuk nama-nama ini bisa menjadi pengaman. Saya bisa terhindar dari kehilangan Kamus Hidup.

Sekarang, saya juga sedang mengusahakan Kamus Hidup dalam hal teologia, yang belakangan makin menarik minat saya. Tulang Martin Sinaga, beberapa kali saya ganggu termasuk menanyakan apa itu Hellenism. Juga Tulang Alof. Mudah-mudahan mereka sudi menjadi Kamus Hidup itu. Seandainya saya tahu nomor selular Pak Ajie, juga akan saya 'todong' dia .

Namun, sampai kapan saya bisa berharap pada Kamus Hidup itu? Sangat mungkin suatu saat mereka berpikir dalam hati, “Ah, si Eben ini kurang kerjaan. Nanya melulu. Bikin pikiran jadi terganggu.” Dan tidak mungkin setiap saat mereka bisa saya ganggu. Dulu saya pernah bertanya kepada sanina Jhankandi apa arti ‘idop ni uhur.” Jawabannya baru muncul beberapa jam kemudian. Dugaan saya beliau sedang ada rapat penting. Atau kalau Tulang Jaberkat, ia mungkin sedang dalam sermon, yang tentu tak elok lah diganggu. Tulang Mansen memang paling gampang ditanyai. Dan saya berdoa panjang umurlah Tulang itu, yang sebentar lagi akan berusia 70. Saya berdoa pula, semoga SMS saya dalam hubungan Kamus Hidup itu dia tempatkan pada top urgent. Sebab saya dengar-dengar, untuk tokoh seusia beliau, urusan cucu lah yang paling teratas. Dan kalau sms saya sudah ia prioritaskan di urutan bontot, apa pula yang bisa saya perbuat?.

Maka urusan kamus Indonesia-Sim dalam pandangan saya sangat penting. Mungkin belum sepenting beasiswa yang pernah didiskusikan panjang lebar (dan bahkan melebar-lebar) tempo hari. Tapi dalam hal kegunaannya dan tingkat kemungkinan diwujudkannya, ide menginisiasi kamus Sim-Indonesia barangkali lebih mudah. Mereka yang kita anggap Kamus Hidup itu, bisa didorong untuk bergotong-royong membuat Kamus Beneran. Para tokoh Simalungun pensiunan yang punya kepedulian terhadap Simalungun, boleh kita berdayakan. Daripada otak mereka tumpul setelah tak lagi banyak aktivitas, apalagi fee membership klub golf sekarang ini sudah melejit tak terkira-kira, kan lebih baik dipakai membolak-balik lagi pengetahuan mereka tentang Simalungun.

Begitu pula Kamus Hidup kita di kampung halaman. Mereka yang kini terbenam dalam aktivitas ke ladang, sermon, lalu duduk-duduk di lepau, bisa kita produktifkan. Dan kalau mereka menagih honor, honornya kita bisa berikan dengan menyitir lagu ketika kita masih sekolah minggu dulu, yakni “Upahmu besar di Surga.” Juga, ada lagu yang jadi obsesi kamum manula sekarang ini, yakni lagu yang memakai syair Amsal (atau Mazmur?):
“Hati yang gembira, adalah obat.
S’perti obat, hati yang senang
Tapi semangat yang patah
Keringkan tulang
Hati yang gembira, Tuhan senang”

Uuuups, saya udah sampai dimana nih. Wah, paragraf kelima saya belum juga bertambah. Saya harus mulai lagi. Sialan. Jam sudah menunjukkan malam yang makin larut. Kopi sudah dingin pula. Dan, yah, payah deh. Pasti Kamus Hidup pasti saya sudah pada tidur.

Jakarta, 25 Maret
© Eben Ezer Siadari

Kembali ke THE BEAUTIFUL SARIMATONDANG

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...