Tuesday, March 14, 2006

Pukka yang Selalu Lebih Tua dari Usianya

Pintu Gerbang menuju Asrama Wisma Sejahtera di Bandung

Siapa saja yang melihat wajahnya, tak usah sampai semenit, pasti bisa menduga ia adalah orang Batak. Wajahnya berbentuk kotak, dengan tulang pipi yang menonjol, yang selalu mengingatkan saya pada lagu Ayah karya Ebiet G. Ade. Dengan syair, 'keriput tulang pipimu gambaran, perjuangan…….'

Apalagi kalau sudah mendengar ia berbahasa Indonesia. Makin terkuak lah bahwa ia bukan Batak yang 'sudah jinak.' Istilah di asrama kami untuk menyebutkan kami-kami orang Batak yang tembak langsung dari pelosok Sumatera Utara tanpa melewati Medan merantau ke Jawa. Ciri-cirinya antara lain: kalau makan (tak peduli pagi, siang, apalagi malam) makannya banyak. Jarang pakai sendok dan kalau makan sangat serius, tidak pakai ngobrol atau bertegur sapa. Itu sebabnya, walau kerap terlambat tiba di meja makan, sering paling awal meninggalkannya. (Saya curiga, ini taktik juga, supaya jangan kebagian membereskan piring-piring kotor). Ciri lainnya, kalau bicara keras-keras hingga tak bisa dibedakan sedang berantam atau sedang berbisik.

Namun, ada pengecualian pada dirinya, kawan saya yang bernama Pukka Agustinus Situmorang itu. Kecuali bicaranya yang memang agak keras dan volume perutnya yang lumayan banyak, ciri lain dari 'Batak Liar' itu tak ada pada dia. Ia rajin. Resik. Suka beres-beres di dapur. Dan jangan salah pula soal keindahannya berbicara. Pancing saja ia berbahasa Sunda. Maka ia bisa lebih halus daripada si mamang penjual bakso apalagi kenek angkot jurusan Kebon Kelapa-Dago. Naik-turun nada suaranya halus dalam bahasa orang Parahyangan ini. Kehalusan bahasa Sundanya itu bahkan diakui oleh Teteh, ibu yang bekerja sehari-hari di dapur asrama kami, tempat dia belajar Bahasa Sunda.

Pukka adalah kawan seasrama saya di Wisma Sejahtera Bandung. Ia mulai tinggal di asrama itu, seingat saya tahun 1986, setahun lebih belakangan dari saya. Saya sempat memelonco dia sebagai anak baru, walau sebenarnya usianya lebih tua dari saya dan kami sama-sama memasuki kuliah di tahun yang sama, 1985. Ia di FISIP, saya di Ekonomi UNPAD. Dan kami bersamaan lulusnya, lima tahun kemudian dan sama-sama pula meninggalkan asrama itu.

Pukka lahir dan berasal dari sebuah desa di Pulau Samosir. Ia seorang katolik yang taat, dan dulu pernah menjadi calon pastor. Ia menamatkan sekolah seminarinya di P. Siantar, tetapi entah kenapa, ia akhirnya memilih tak melanjutkan cita-citanya yang mulia itu. Ia akhirnya kembali ke dunia 'sipil', dunia yang 'duniawi' dan bukan rohani. Dan karena itu lah ia 'terdampar' di asrama kami, dan berkenalan dengan saya, yang dalam hal berteologia statusnya tak lebih dari seorang jebolan Sekolah Minggu Sarimatondang, desa nun jauh seperti noktah di peta.

Untungnya, Pukka tak pernah berminat berteologia dengan saya. Kecuali dalam Pemahaman Alkitab 45-menitan setiap malam, jarang saya mendengarnya bicara tentang Alkitab dan Tuhan. Dalam PA itu pun ia lebih banyak diam. Jika kami sedang berkongkow-kongkow di depan asrama, sore atau malam, ia lebih sering bicara hal-hal yang sangat nyata di depan kami. Semisal, pohon jambu di belakang asrama yang sudah tumbuh tinggi dan berdaun lebat, tapi tak berbuah. Pompa air yang sudah mulai lebih besar suaranya ketimbang air yang dialirkannya. Si Bleki peliharaan kami yang makin tua justru makin malas dan makin rakus minum susu.

Ada yang membuat saya dan banyak kawan lain kagum sekaligus bersimpati kepada Pukka. Salah satunya adalah karena ia selalu yang paling awal bangun pagi. Saya tak tahu jam berapa persisnya ia bangun. Yang pasti, ketika saya bangun pukul enam pun, manakala harus mengejar kuliah pagi jam tujuh, kerap kali saya melihatnya sudah bercengkerama dengan si Bleki di depan asrama. Pakaiannya sudah rapih, karena ia baru saja pulang dari mengikuti misa di gereja katolik di dekat Rumah Sakit Boromeus. Gereja itu bisa ditempuh lima menit berjalan kaki dari asrama kami. Dan ketekunannya mengikuti misa setiap pagi, menyebabkan jadwal bergilir membuka pintu gerbang di asrama kami praktis tak berguna karena tugas bergilir itu samasekali sudah 'diambil alih' Pukka.
Halaman depan asrama, tempat Pukka biasanya bermain-main dengan Bleki

Pukka juga banyak aktivitas. Jika dini hari ia tak pernah absen dari misa pagi, sore hari juga ada saja kegiatannya di gereja itu. Ia juga aktivis PMKRI. Kawan-kawannya banyak dari seantero Indonesia. Yang paling sering berkunjung ke asrama adalah kawan-kawan Floresnya. Dan kepekaannya dalam berbahasa, rupanya membuat Pukka gampang saja meniru-niru logat berbicara suku apa pun, termasuk kawan-kawan Floresnya itu.

Kendati begitu banyaknya ia menghabiskan waktu di luar asrama, Pukka selalu ada di tengah-tengah kami manakala ia dibutuhkan. Kala memelonco anak-anak baru, Pukka selalu ada, kendati ia kerap bertindak sebagai seseorang yang 'lebih tua dari usianya.' Tidak jarang, ia membuatkan teh manis di teko, dan membawakannya ke ruang pelonco itu. Mungkin tujuannya untuk berjaga-jaga siapa tahu yang diplonco kehabisan stamina. Tapi ia salah, sebab kami yang memelonco lah yang paling banyak menyeruput teh manis buatannya.

Pukka juga piawai memasak. Dulu kami punya beberapa anjing peliharaan. Dan sekali waktu, seseorang menyelutuk, "Wah, ini sudah pas ini. Lagi enak-enaknya kalau disangsang." Maka sebuah rencana singkat tersusun. Subuh ketika ia pulang dari misa, ia mengajak saya belanja bumbu ke pasar. Sore harinya, kami memotong salah satu dari peliharaan kami itu. Pukka lah yang jadi mentor untuk memotong-motong dagingnya, membuatkan bumbu dan memasakkan sopnya. Semua penghuni asrama kebagian, walau pun kepada beberapa orang, kami merahasiakannya dengan mengatakan ini hanya 'daging babi hutan dari pasar.' Baru setelah semua pada kenyang, rahasia itu kami bongkar….

Di tahun keempat kami kuliah, entah kebetulan atau sudah ada yang mengatur, kami berdua sama-sama macet penulisan skripsinya. Sudah sampai Bab II tapi rada-rada seret dalam penelitian lapangannya. Tetapi Pukka sudah punya kesibukan, yakni menjadi supervisor perumahan para pemulung di sebuah kawasan di Bandung Selatan. Rupanya aktivitasnya di Gereja dan jejaring pergaulannya membawa dia berkenalan dengan Prof. Hasan Purbo (dari ITB). Dan dia diberi pekerjaan mengawasi perumahan pemulung itu.

Pukka kala itu belum bisa naik motor, padahal sang Profesor menyediakannya sebuah motor untuk dia pakai. Sedangkan saya, jelek-jelek begini di Sarimatondang sudah diajari naik motor oleh para kawan-kawan. Maka Pukka meminta saya jadi 'tukang ojeknya' mengantarkannya ke proyeknya itu sekalian ia belajar naik motor di sana. Saya gembira dengan penawaran ini.

Rumah-rumah pemulung itu dibangun seukuran RSS tipe 21 zaman sekarang. Para pemulung tinggal di sana. Tiap rumah itu, kalau tak salah, berlantai dua. Satu rumah dengan rumah lain dibangun terpisah sehingga masing-masing mempunyai pekarangan. Pekarangan itu lah yang diharapkan diusahakan oleh para pemulung untuk dijadikan kebun sumber pangan dan sayuran sehari-hari.

Pukka aktif membina para pemulung itu. Membina dalam hal ini bukan sekadar membina secara lemah-lembut, tetapi kadang-kadang dengan tekanan yang tujuannya sebenarnya memotivasi. Sebab, seringkali pula para pemulung itu tidak disiplin, lalai membayar cicilan rumahnya yang sebenarnya sangat kecil dan sesungguhnya tak layak disebut cicilan. Hal itu dimaksudkan sekadar untuk memompa rasa memiliki saja pada mereka. Lebih celaka lagi, tidak sedikit para pemulung yang lebih merasa nyaman hidup berkeliaran seperti sediakala, melanglang buana Bandung dari satu emperen ke emperan lain. Lalu mereka meninggalkan perumahan itu.

Perumahan itu rupanya bukan sekadar ajang bagi para pemulung untuk belajar hidup lebih tertib. Perumahan itu ternyata juga menjadi tempat belajar bagi sejumlah pastor-pastor muda (frater?). Sering saya temui mereka berada di sana, menginap berbulan-bulan. Mereka ikut merasakan hidup bersama pemulung. Mencangkul. Bercocok tanam. Dan jika saya kala itu sudah belajar merokok Gudang Garam Super, beberapa frater itu malah dengan santainya merokok lintingan. Kurang ajar. Mau meledek saya ya?

Sekali waktu, dalam rangka tugas  sebagai 'tukang ojek', saya membonceng Pukka dari Asrama kami menuju perumahan itu. Kami sudah agak telat dan terpaksa sedikit ngebut. Di sebuah jalan di depan sebuah SMA, mata saya tergoda melihat anak-anak SMA itu yang melintas sembarangan. Saya sampai lupa kalau ternyata angkutan kota di depan kami berhenti mendadak. Saya mau menginjak rem, taunya menginjak gas. Kami menabrak angkot yang berhenti itu. Saya terjatuh, tertimpa motor, Pukka terjatuh tapi bisa segera bangkit. Motor kami sedikit ringsek, tetapi kaki saya lebih parah. Keseleo.

Setelah sedikit keramaian karena dikerubuti orang, plus tarik urat leher dengan si pengemudi angkot, akhirnya kami bisa terbebas dari kerumitan itu. Pukka kemudian memaksakan diri mengemudikan motor itu, walau pun saya sebenarnya agak ragu karena pelajaran menunggang motor baginya saya kira belum mantap benar. Kami akhirnya tiba di perumahan itu. Dia meminta saya beristirahat sebentar, sembari menenangkan diri. Ia juga memijat kaki saya. Ketika kami tiba kembali di asrama, segera ia panggilkan tukang urut. Saya kira ia keluar uang banyak waktu itu, termasuk untuk memperbaiki motornya.

Ketika Pukka tahu bahwa skripsi saya tak kunjung kelar juga, dan ia melihat wajah saya lebih sering kecut ketimbang ceria, ia mengajak saya ikut misa pagi. Semula saya ikuti dengan ogah-ogahan. Tapi lama-kelamaan, saya menikmati betul dan malah jadi rutin. Semula kikuk juga dengan aneka ritual memasuki gereja itu. Semisal berlutut di kursi kita duduk, berbaris ke depan mengantri komuni, menyilangkan tangan sembari menggumamkan doa, 'Dalam nama…..

Salah satu yang membuat saya merasa damai di gereja itu adalah keheningan dan elemen-elemen di dalamnya yang seolah menjauhkan saya dari dunia yang semrawut. Dan kalau saya ingat-ingat, khotbah hanya lah salah satu elemen dari misa itu, yang bahkan sangat sedikit yang nyantol di kepala saya. Yang membuat saya selalu merasa ada di dekat-dekat Dia, justru melihat kekhusukan orang-orang di sekitar saya, terutama Pukka, sahabat saya itu.

Di situ pula saya diperkenalkan Pukka dengan sejumlah suster yang jadi sahabatnya pula. Sebagian besar sudah berusia setengah baya, dengan wajah yang alami. Bersih tanpa dipulas kosmetik dengan bahasa tubuh yang jujur dan kadang rada kikuk. Saya masih ingat Pukka bercerita bahwa seorang suster di sana menanyakan Pukka siapa saya ini yang ikut-ikut misa. Dan konon sang suster bertanya, kenapa wajah saya murung seperti kehilangan semangat. Ketika Pukka menjawab bahwa kami berdua senasib, skripsinya macet, si suster akhirnya mengatakan ia ikut berdoa bagi kami.

Saya tidak ingin mendramatisir cerita dengan mengatakan doa suster itu telah menghidupkan lagi semangat saya mengerjakan skripsi. Tetapi setelah perkenalan yang intens dengan Pukka, saya mulai merasa bahwa hidup harus dibuat berarti, seperti Pukka dan para suster itu membuat hidupnya berarti. Dengan pinjaman motor Pukka, saya pun akhirnya nekad mencoba lagi menembus belantara Subang untuk melakukan penelitian di sana, menemui lurah dan kepala jawatan Sospol di sana. Beberapa minggu kemudian, Pukka pula yang mengantarkan saya ke desa Sukamelang, tempat saya meneliti dan menginap selama beberapa minggu.

Pendek cerita, Pukka dan saya akhirnya menyelesaikan studi, tak lebih dari lima tahun. Cukup cepat dibandingkan banyak penghuni asrama lainnya. Agak lambat bila dibandingkan dengan para mahasiswa teladan….

Kata orang-orang sekolah tak hanya menolong kita belajar dari guru. Tetapi juga dari teman. Pukka sampai sekarang adalah buku yang saya anggap tak pernah selesai saya baca. Saya selalu mengagumi orang-orang seperti dia, yang di mata saya adalah 'orang yang trampil dalam hidup dan diletakkan di mana saja pasti akan bisa survive.'

Saya membayangkan, jika Pukka itu kelak menjadi suami, istrinya pasti lah berbahagia. Karena konon, wanita akan bertekuk lutut pada pria yang piawai dalam hal-hal remeh temeh. Membetulkan atap yang bocor. Membukakan tutup botol saos yang ribet. Memberi makan peliharaan di belakang rumah. Memandikan anak-anak. Memetikkan sayur-mayur dari kebun. Menanakkan nasi manakala si istri mual-mual karena ngidam. Dan Pukka bisa semua itu, yang membuat saya iri, sebab saya bahkan mengganti bola lampu yang putus pun kerap kali dihardik (istri) dulu baru bergerak.

Berbahagialah para jemaatnya, seandainya saja Pukka dulu memutuskan meneruskan menjadi pastor. Sebab ia mungkin akan ditempatkan di kampung halamannya atau di kampung yang masih seudik kampung halamannya. Sebab ia akan menjadi teman diskusi yang enak membicarakan bagaimana agar kerbau-kerbau gesit membajak sawah. Ia akan menjadi kawan bicara yang asyik tentang palawija yang harganya merosot. Dan dugaan saya, Pukka juga tak akan segan-segan menyingsingkan lengan bajunya untuk turun memperbaiki jembatan kampung yang roboh.

Maka saya gembira sekali ketika suatu kali mendengar kabar ia diterima menjadi seorang dosen di Dilli, di Timor Timur. Dalam hati saya bersyukur karena saya berharap ia pasti sudah bertemu dengan Uskup Bello yang jadi pujaannya. Saya juga senang karena saya yakin, orang seperti Pukka pasti akan diterima dengan syukur tak berkesudahan karena orang-orang Timtim tak perlu repot menerima orang sesederhana Pukka. Bahkan Pukka mungkin akan banyak menyumbang kemampuannya.

Dan bertambah gembira pula ketika saya mendapat khabar ia sudah menikah dengan perempuan Batak Karo, yang ia kenal di kota itu. Dalam hati, saya bisa memastikan pastilah perempuan itu terpana pada Pukka bukan karena kepiawaiannya merayu, keahlian yang saya tahu, tak ia miliki. Pastilah karena hal-hal remeh temeh, seperti sudi meminjamkan buku-buku, mengantarkan kemana pergi dan sedikit nasihat-nasihatnya yang khas, dari seseorang yang selalu 'lebih tua dari usianya.'

Lalu zaman memunculkan seorang Presiden ahli pesawat terbang. Yang dikesankan lugas dalam menyusun kebijakan dan cepat dalam memutuskan sesuatu. Dan di tangan sang Presiden, Indonesia melepas Timor Timur. Saya tak tahu lagi bagaimana kabar Pukka. Yang saya dengar ia kembali ke Indonesia dan mengajar lagi entah dimana. Saya tak pernah khawatir, sekejam apa pun zaman mengubah nasibnya. Karena saya yakin ia adalah tipe orang yang bisa hidup di mana saja. Dengan kesahajaannya menerima keadaan. Dengan ketrampilannya menjalani hidup. Dan dengan keakrabannya pada kesulitan dan tantangan. Yang membuat saya selalu merasa sedih adalah kenapa saya tak tahu dimana lagi dia kini. Sahabat yang mengajarkan hal penting, yakni mengakrabi hidup dari hal-hal paling remeh di sekitar kita.

29 Maret 2006
© Eben Ezer Siadari



Link

1 comment:

  1. Anonymous9:24 PM

    ada kontaknya pukka?

    kalo ada, tulung kabari ke pmkri_web@yahoo.com yah.

    makasih,

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...