Wednesday, March 15, 2006

Pulkam tanpa Istri-istri


Pulang ke kampung halaman atau Pulkam, selalu memunculkan gairah yang unik. Paduan antara kerinduan ingin cepat-cepat menemukan kembali jejak hidup semasa kecil, dengan antusiasme menikmati perjalanan yang panjang, yang pasti akan diisi oleh tetek-bengek tak terduga tetapi asyik.
Rumah kami di Sarimatondang. Tempat berkumpul kala Pulkam
Waktu kecil, kegairahan seperti ini sering juga muncul. Misalnya, ketika ayah menjanjikan akan mengajak saya dan adik-adik 'jalan-jalan’ ke kota P. Siantar, kota terdekat dari kampung kami, Sarimatondang. Seminggu sebelum waktu yang dijanjikan itu, kami biasanya sudah bersiap-siap. Menyiapkan baju terbaik. Mencuci sebersih-bersihnya sepatu karet yang akan kami pakai. Dan sambil bersiap semacam itu, kami sudah mengumbar bayangan kami tentang apa nanti yang akan kami temui dan alami di kota. Dan itulah cerita saya kali ini.


Jum’at 10 Maret.

Hari ini saya menemukan lagi kegairahan Pulkam itu. Ada alasan yang tepat untuk Pulkam, yang menyebabkan bos di kantor tak bisa menolak memberi izin. Yakni adik saya, Epyphanias Siadari, akan menikah esok harinya. Ia mempersunting seorang putri, yang rumahnya hanya berjarak dua rumah dari rumah kami di kampung. Namanya Mei Damanik. Dan hajatan pernikahannya dilaksanakan di kampung halaman itu.

Saya pulang bersama dua orang Tulang (Paman) saya, yakni adik dari ibu saya. Mereka adalah Tulang Godang (Paman senior karena ia lebih tua) dan Tulang Etek (Paman kecil, karena ia adalah adik dari Tulang Godang). Kedua Tulang itu bermarga Damanik, sama dengan ibu saya. Tulang Godang, berperawakan tinggi besar, tinggal di Bekasi dan bekerja di sebuah akademi di kawasan Cempaka Putih. Tulang Etek, tak kalah tinggi besarnya, seorang birokrat pendidikan di bidang pekerjaan sosial, tinggal di Parung.

Namun, bila kami bertiga merasa sebagai orang-orang yang senasib bukan lah hanya karena pertalian darah. Melainkan karena kami semua memperistri 'boru sileban' atau wanita yang bukan Batak. Tulang Godang, sama seperti saya, memperistri perempuan Jawa. Tulang Etek memperistri perempuan Sunda. Untungnya, budaya Batak memberi jalan keluar yang antik untuk tetap membuat kami berada di jalur yang benar. Karena para istri kami kemudian 'diborukan,' atau dinobatkan jadi perempuan Batak. Jadi istri Tulang Godang mendapat marga Sihaloho, istri Tulang Etek mendapat marga Purba dan istri saya sendiri akhirnya diberi marga Damanik. Tulang Godang itu lah yang jadi ayah angkat istri saya. Dengan begini, kami tetap merasa happy sebagai orang Batak dan istri-istri kami (mudah-mudahan) merasa happy juga sebagai ‘orang Batak Swasta yang disamakan.’

Tulang Godang dan Tulang Etek merantau ke Jakarta ketika saya masih sangat kecil. Tulang Godang berangkat lebih dulu, mungkin ketika saya masih belum sekolah. Tulang Etek menyusul, ketika saya masih di SD. Tetapi kami kemudian bersatu di Jakarta setelah saya menamatkan studi dan bekerja.

Hubungan saya dengan mereka yang dulu berlangsung dalam iklim 'kemanjaan' seorang keponakan kepada pamannya, berangsur menjadi hubungan persahabatan dan bahkan 'kakak-adik.' Tentu tidak 100%. Dalam beberapa hal, saya sering mengambil untung dengan mencoba bermanja-manja dengan mereka. Semisal, kalau pada Hari Natal atau Tahun Baru saya 'lupa' menyambangi mereka, saya akan berdalih maaf dan mohon dimaklumi. Dan apalah daya seorang paman kepada seorang keponakannya yang terbata-bata di ujung telepon, selain memaafkan dan menghibur pula?

Sudah tak terhitung lagi berapa kali kami kongkow-kongkow di lepau orang Batak, untuk sekadar melepas kangen, karena rumah kami saling berjauhan. Di awal tahun, kami sering berkumpul dengan membawa keluarga masing-masing. Tetapi di hari-hari biasa, kerap kali kami bertemu mendadak, di lepau terdekat. Kami lantas menghabiskan waktu dua atau tiga jam. Sambil makan makanan khas Batak, bersenda gurau, bernostalgia, bertukar informasi tentang kampung halaman dan sering pula, saling memberikan pandangan tentang isu-isu yang lebih berat. Tentang politik di kampung halaman. Tentang adat istiadat yang kami sendiri sebenarnya tak paham benar.

Di akhir pertemuan, kami seringkali berlomba merogoh dompet kami masing-masing untuk membayar makanan yang telah kami nikmati. Dan selalu saja kami berlomba paling cepat membayar. Saya, dalam beberapa kali kesempatan (nah, ini juga kemanjaan seorang keponakan) sering berusaha berlama-lama merogoh kantong sehingga terlambat mengeluarkan dompet. Dan mereka selalu memaafkan (hehehe).

Perjalanan kami, Jum'at lalu itu, berlangsung dalam suasana yang seperti itu. Istri-istri dan anak-anak kami tidak dapat ikut serta. Istri dan anak saya, tidak berangkat karena alasan budget. Sementara putri dari Tulang Etek tak bisa meninggalkan kuliahnya sementara istrinya harus menunggui rumah mereka yang sedang direnovasi. Tulang Godang tak mengikutkan istrinya karena tidak bisa mendapat cuti sebagai perawat di sebuah poliklinik, sementara dua orang putranya, terkurung pada jadwal kuliah dan sekolahnya.

Jadilah kami berangkat seperti 'bujang lapuk' yang sedang menikmati kesendirian. Asyik juga. Sebab kami tidak perlu terbeban oleh koper yang besar dan banyak. Sejak di Bandara, kami sudah merasakan betapa 'enaknya' bila sekali-kali hanya memikirkan diri sendiri. Saling lempar guyon tentang masa kecil, tentang kekonyolan orang-orang sekampung termasuk diri kami sendiri.
menunggu di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta, dari kiri: saya, Tulang Etek dan Tulang Godang. Mana yang Paman, mana yang keponakan, tak jelas lagi.
Pukul 12:00
Kami bertiga sudah tiba di Bandara, walau pun hari itu pesawat Lion Air yang akan kami tumpangi dijadwalkan berangkat pukul 13:35. Canda dan tawa itu tak habis-habis kami lontarkan di ruang tunggu Bandara itu. Mungkin mengisi kekosongan. Tetapi juga, dugaan saya, untuk melampiaskan gairah ingin segera cepat tiba, ke kampung halaman yang selalu kita rindukan.

Ketika tiba waktunya naik ke pesawat dan setelah kerepotan yang lazim mencari tempat duduk sesuai nomor, akhirnya kami duduk sebaris sambil sekali-kali menoleh ke jendela. Kami saling guyon lagi, walau pun dalam 10 menit pertama, ada rasa tegang, mengingat seringnya berita tentang kecelakaan pesawat akhir-akhir ini. Tulang Etek sering memejamkan mata seolah tidur, selama lampu tanda mengenakan sabuk pengaman belum padam. Tetapi setelah itu ia rileks lagi. Tulang Etek pula yang paling sering menanyakan jam, seolah tak sabar segera tiba. Kala lain, ia membolak-balik Kompas yang dibawanya dari Jakarta.
Di atas pesawat, saya dan Tulang Etek yang sedang membaca Koran. Serius kali bah, tulang ini.
Sementara Tulang Godang dan saya sering bercanda sambil terkekeh-kekeh. Meledek Tulang Etek yang selalu serius. Juga kami sering berbisik-bisik, karena dalam perjalanan kali ini, Tulang Etek lah yang tampaknya bakal bertindak sebagai ‘bos besar’, membayar pengeluaran-pengeluaran besar. Yang kecil-kecil, Tulang Godang yang bertanggung jawab. Saya kebagian sebagai keponakan yang benar-benar dimanja.
Di atas pesawat : saya dan Tulang Godang yang sering bercanda.


Pukul 15:45

Kami tiba di Bandara Polonia yang baru saja terbakar sebagian bangunannya. Kami bergegas menelepon adik saya, Eksaudi Siadari, yang sudah berada di Medan dan telah menyiapkan kendaraan untuk membawa kami ke Sarimatondang. Ia telah menunggu kami bersama istri dan namboru (adik perempuan ayah) yang akan ikut pula Pulkam.

Di perjalanan itu pula saya pertamakali berkenalan dengan putrinya yang masih berusia sembilan bulan, yakni Lidya Primasari. Senang rasanya melihat Lidya yang sehat, berkulit putih bersih dan kalem. Lidya seperti jinak-jinak merpati kepada kami. Ingin dicandai, tetapi tak mau dibelai. Eksa, ayahnya, yang bekerja di Aceh, juga ia perlakukan begitu. Eksa hanya lima hari dalam sebulan tinggal di Medan. Dan konon, kata Eksa, Lidya baru 'dekat' kepadanya setelah dua-tiga hari ia di rumah. Ah, Lidya yang manis. Matanya bulat. Mengundang simpati dari siapa saja.
Kenapa saya jadi ingat pada putri saya ketika ia masih seusia Lidya?
Lidya dengan bola mata yang mengundang simpati. Uih, jadi ingat Marty, anak saya.
Ketika kami tiba di Sarimatondang, hari sudah malam. Maklum, dari Polonia ke Sarimatondang perlu waktu empat jam. Belum lagi ketika kami singgah makan 'sore' di sebuah rumah makan B2 panggang Karo di Lubuk Pakam. Dan membeli 'oleh-oleh di P. Siantar. Di rumah di Sarimatondang, kami menemukan keramaian persiapan pesta karena sejumlah keluarga telah hadir di sana.

Sabtu, 11 Maret
Pagi-pagi sekali, ritual pesta pernikahan itu dimulai ketika kami menjemput mempelai putri. Adik saya, Epyphanias, tampak begitu ceria setelah bersanding dengan sang pujaan hati. Mereka bercanda dalam pose yang menurut saya menjadi picture of the day di handphone saya. Seperti sepasang kekasih yang telah lama tak bersua. Dan memang betul. Epyphanias bekerja di Kalimantan, sementara calon istrinya tinggal di Medan. Hanya sekali tiga bulan Epy bisa wakuncar. Dan masa penantian semacam itu akan berlalu, karena Epy akan membawa pujaan hatinya ke Kalimantan setelah menikah nanti.
Canda kedua mempelai sesaat setelah ‘bertemu’ dan akan berangkat ke gereja. Sudah boleh kok, deket-deket, hehehe
Kira-kira pukul 8:30, pengantin diikuti sanak keluarga berangkat ke gereja. Dalam formasi yang sudah rutin dan sangat klasik bagi tradisi perkawinan orang Batak, iring-iringan itu selalu membuat hati saya senang. Ingat ketika saya mengalami masa seperti itu.
Iring-iringan pengantin menuju ke gereja. Awas, ada e’e kebo lho…
Ada grup terompet yang mengiringi barisan rombongan dengan lagu-lagu rohani.
Grup terompet mengiringi perjalanan ke gereja. Udah sarapan belon?
Ada gadis-gadis yang menjinjing karangan bunga. Para sanak saudara yang mengantar juga berpakaian rapi, termasuk saya. Sehari penuh harus pakai jas dengan dasi. Untung hawa Sarimatondang yang cukup dingin tak membuat saya mandi keringat, seperti yang kerap terjadi di Jakarta.
Karangan bunga mendahului pengantin. Pegel nih tangan…
Di depan gereja, saya tertegun melihat pengumuman di tembok sebelah pintu masuk, yang menyatakan agar handphone dimatikan.
No Handphone, Please
Hmmm, saya jadi berpikir, ini sudah seperti pengumuman yang kerap saya dengar di Warta Jemaat di gereja kami di Jakarta. Betapa penduduk Sarimatondang nun tak ada di peta itu, sudah pula keranjingan berhandphone ria. Syukurlah, karena dengan itu mungkin mereka dengan cepat mengecek harga-harga kopi, jahe dan hasil tani lain di kota lain. Agar bisa mengukur kapan menjual kapan menimbun.

Khotbah dalam pemberkatan itu dibawakan oleh Pendeta Istipanus Sipayung. Mengambil ayat yang tak pernah saya lupakan, berbunyi, "…Kalau saya dan seisi rumahku, akan beribadah kepada Tuhan."
Kedua mempelai mendengar khotbah Pak Pendeta. Aku dan seisi rumahku.....
Pemberkatan itu berlangsung khusyuk. Pendeta Sipayung membawakan upacara itu dengan serius. Intonasi ucapannya dalam Bahasa Simalungun sangat jelas. Suaranya jernih. Dan ia cukup kenal dekat dengan orang tua saya, dan Epy. Ia bahkan membocorkan sedikit riwayat Epy, yang kala masih jadi pemuda dan aktif di gereja kami, pernah didoakan supaya cepat mendapat jodoh.

Ada sejumlah paduan suara yang mengisi acara ibadah, termasuk vocal group Bapak yang terdiri dari sejumlah pria berseragam biru. Lagu mereka diiringi gitar, yang mengingatkan saya pada gaya bernyanyi Trio Lasidos, trio terkenal di khasanah lagu-lagu Batak.
Vocal group kaum Bapak beraksi. Sudah bisa nih ke dapur rekaman
Foto Vocal Group.
Sebelum ibadah pemberkatan dimulai, ada sesi foto-foto. Ini rupanya sebuah kebiasaan baru. Seingat saya, biasanya acara berfoto bersama itu dilaksanakan seusai ibadah. Itu pula yang menyebabkan saya menyempatkan diri ‘pulang’ ke rumah untuk mengurus ‘sakit perut’ saya yang mengharuskan saya ke kamar mandi. Sesi foto untuk saya sempat terlewat. Tetapi untung lah, bisa diselipkan.
Dari kiri: Adik saya Eksa, saya, mempelai, Erba adik perempuan saya, dan Hotma (nyonya Eksa). Saya bergaya dengan dasi modal pinjam dari bokap

Tak lupa pula, saya ‘menodong’ Pak Pendeta untuk berfoto bersama. Pak Pendeta Sipayung senang-senang saja. Ia adalah pendeta yang cukup lama saya kenal. Dulu ketika ada pesta ulang tahun GKPS Sarimatondang, ia datang ke Jakarta untuk membantu menyambangi para donatur. Saya sempat ikut-ikut mengantarkannya.
Saya dan Pak Pendeta Sipayung. Hmm, ingin deh punya baju kayak Pak Pendeta. Nggak kalah kan wajah innocent saya sama Pak Pendeta? (Plaaak)

Setelah ibadah pemberkatan itu, satu per satu hadirin menyalami kedua mempelai berikut keluarga mereka, dalam bentuk barisan yang sangat panjang. Saya seharusnya berada di barisan yang ikut disalami. Tapi, ah, kayaknya lebih asyik mondar-mandir say hello dengan sanak famili. Apalagi sudah ada Bapatua (Pak De), Bapauda (Pak Lik) dan adik saya, Eksa, di jajaran barisan itu. Bisa tak muat altar itu bila saya harus ikut-ikut berdiri di sana.
Mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Awas, jangan terlalu kencang berjabat tangannya. Bisa bengkak seusai pesta...

Hajatan pernikahan itu sendiri dilangsungkan di balairung pekan Sarimatondang. Jangan bayangkan ini seperti sebuah gedung pertemuan yang megah. Ia hanya sebuah bangunan beratap tanpa dinding yang lumayan luas, berlantai semen yang dkelilingi oleh balairung-balairung mini lainnya. Jika hari Jumat dan Minggu, pastilah balairung ini dijadikan tempat berdagang.

Hajatan itu dimulai dengan manortor atau menari, dengan urut-urutan yang rumit, yang saya sendiri sampai hari ini tak begitu mudeng. Adat Batak Toba dipakai dalam upacara ini, diselingi oleh adat Batak Simalungun. Begitu pula lagu yang mengiringi tarian, selang-seling antara lagu Simalungun dan Toba.

Menari (Manortor) dengan uang dijepitkan di jari. Lumayan nih, buat nambah-nambah ongkos pulang.

Seusai beberapa ritual adat dan tarian, dilanjutkan dengan makan siang. Makan siang kala itu jam 14:00, duduk bersila di tikar beramai-ramai. Piring berisi nasi dan gulai sapi cincang plus sayur kacang panjang ditauco yang dilidah saya terasa enak benar, didistribusikan secara estafet. Parhobas adalah sebutan bagi pekerja yang mengurusi teknis pesta ini. Biasanya mereka adalah kawan-kawan sekampung yang tergabung dalam serikat kampung dan serikat marga.
Makan rame-rame duduk lesehan. Kacang panjang tauconya ueeeenak tenan…

Pesta itu usai sekitar pukul tujuh malam. Kami kembali berkumpul di rumah. Kali ini sang pengantin putrid sudah resmi jadi bagian dari keluarga kami. Dan karena itu, ia berada di rumah kami bersama dengan seluruh keluarga. Selepas makan malam, ada acara memberikan nasihat kepada kedua mempelai, sekaligus ucapan selamat kepada keluarga kami, dari segenap sanak saudara dan kawan sekampung.

Saya kebagian juga bicara mewakili pihak keluarga. Dalam Bahasa Batak Toba dan Bahasa Simalungun selang-seling, saya mengucapkan terimakasih kepada segenap keluarga dan kawan sekampung yang telah ikut mensukseskan pesta itu. Kepada kedua mempelai, saya mengucapkan selamat berbahagia. Saya juga menitipkan adik saya Epy kepada istrinya, Mei, yang kini saya panggil anggi boru. Saya titipkan agar ia menjagainya, membuat dia jadi gendut dikit (soalnya Epy itu kurus). Juga kami mengucapkan semoga perjalanan mereka ke Kalimantan, tempat mereka bermukim, selamat-selamat dan sejahtera terus.


Minggu, 12 Maret
Ini adalah pagi yang bebas buat saya dan kedua Tulang. Bebas dalam arti tak ada kewajiban ritual adat lagi. Itu sebabnya kami menyempatkan diri mandi pagi hari di sungai Aek Manik. Jalannya berliku, sudah mulai tidak terurus.Tetapi sisa-sisa masa lalu saya masih membuat saya kuat menaklukkan jalan setapak menurun dan terjal, menuju sungai berair bening itu. Dingin selama perjalanan tidak sedingin dulu ketika saya masih kecil. Apakah Sarimatondang sudah seperti Bandung, yang tak membuat gigi gemeretakan setiap pagi? Bila Jakarta ketika saya tinggalkan masih sering ditimpa hujan lebat, di Sarimatondang memang kemarau sedang berlangsung.

Aek Manik dengan airnya yang biru jernih. Dari kejauhan kedua Tulang tampak mandi. Ini bukan pornoaksi lho…
Seusai mandi, dengan agak bergegas, kami pulang dan segera berlari ke gereja untuk beribadah Minggu. Ibadah itu cukup ramai, karena pada hari itu adalah perayaan hari ulang tahun komisi wanita GKPS.
Ibadah Minggu di GKPS Sarimatondang, saya foto dari pintu masuk.
Tetapi yang menarik perhatian saya adala sumbangan paduan suara dari anak-anak balita Sekolah Minggu. Lagunya, Di Doa Ibu, dinyanyikan dengan keluguan anak-anak. Saya menyempatkan diri berkenalan dengan dua orang Guru Sekolah Minggu itu. Sarmaida Sidabutar dan Esra Sigiro. Keduanya gadis remaja yang manis, masih duduk di kelas II SMA Negeri Sarimatondang. Keduanya malu-malu ketika saya foto, tetapi tetap ramah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

Menurut Sarmaida, ada 10 guru SM, yang disupervisi oleh penatua senior. Muridnya ada kurang lebih 100 orang. Dibagi dalam dua kelas. Latihan untuk perayaan Natal biasanya dimulai tiga bulan sebelum hari H, dan itu mungkin adalah hari-hari sibuk bagi Esra dan Sarmaida. Esra bukan anak asli Sarimatondang, ia kos di desa ini. Sedangkan Sarmaida memang benar-benar putri Sarimatondang. Lucu juga ketika Sarmaida bertanya kepada saya begini: “Jadi abang, apanya Oppung Eben?” Saya tertawa menjawab: “Oppung Eben itu ibu saya. Saya ini Eben.” Ia tersipu malu, menutupkan telapak tangan kirinya ke mulutnya. Tapi harus saya akui, wajah tersipu-sipunya manis sekali. Wajah khas putri Sarimatondang.

Esra dan Sarmaida, guru Sekolah Minggu yang baik. Salut deh

Di saat-saat ibadah, saya ‘kabur’ terutama ketika khotbah (maafkan saya Tuhan). Saya berkeliling gereja itu, mencoba membayangkan apa saja yang telah berubah. Saya melihat anak-anak SM dengan keceriaannya memanjat-manjat sebuah mobil pick up.
Anak-anak gereja yang ceria
Mereka makin menunjukkan kekanak-kanakan mereka ketika saya memotret mereka. Saya juga jadi ingat kenakalan-kenakalan saya ketika masih jadi murid SM di sini. Kabur sebentar ke pekan ketika anak-anak lain latihan berliturgi. Menjajankan uang kolekte. Mengganggu kerbau yang sedang digembalakan di lapangan bola di depan gereja itu… Kenapa kenangan masa kecil tak bisa kita lupa?
Anak-anak SM bermain di atas mobil di samping gereja. Bosan dengar khotbah ya?

Di bagian belakang gereja saya melihat gedung TK Sari Ma Panondang, TK yang dulu diinisiasi oleh Menteri Pertanian pada Kabinet Mega, Bungaran Saragih yang orang Sarimatondang. Sehari sebelumnya, saya sempat berbicara dengan seorang guru TK itu. Katanya, murid TK itu sudah ada 30 orang. Hebat. Tiga tahun lalu, seingat saya, muridnya masih sangat sedikit. Sayang, papan nama TK itu sudah tak jelas lagi menunjukkan nama TK itu. Padahal gedungnya lumayan mentereng lho, untuk ukuran Sarimatondang.
Gedung TK Sari Ma Panondang di belakang gereja. Sayang, papan namanya sudah tak terbaca lagi
Di bagian belakang TK, ada pula tempat bermain anak-anak seperti perosotan dan ayunan sebagaimana lazimnya taman bermain di TK mana pun. Memang jangan bandingkan dengan yang ada di kota-kota. Tapi ini sudah mengobati rasa iri saya, di zaman dulu, ketika saya begitu inginnya naik perosotan, kala melihat anak-anak Tuan Kebun di perkebunan bercanda ria di taman bermain TK mereka yang eksklusif.
Taman bermain yang dulu waktu kecil, selalu membuat iri.
Di depan TK itu, saya lebih takjub lagi karena ternyata sudah ada tempat parkir motor, lengkap dengan atapnya. Hmmm, sama seperti handphone, motor pun makin berjubel di desa saya. Lambang ekonomi yang berkembang? Mudah-mudahan.
Tempat parkir motor yang sudah berjubel. Dahulu, di sini sepeda lah yang digeletakkan begitu saja. Tidak ada atapnya.

Rumah pendeta dan rumah Bivo, juga sudah dibangun permanen. Tidak seperti tiga tahun lalu, terutama rumah Bu Bivo, masih memprihatinkan. Kedua rumah itu sangat mirip baik catnya mau pun arsitekturnya. Siapa yang baru datang ke sana pasti tak bisa membedakan mana rumah Pak Pendeta mana rumah Bu Bivo.
Rumah pendeta (kiri) dan rumah Bivo. Biru muda segarrrr…

Pulang dari gereja, kami kembali berkumpul di rumah. Saling bersenda gurau. Berkumpul duduk di ruang tengah, di atas tikar, bersiap untuk bersantap siang. Saya melihat ibu saya sumringah wajahnya, menggendong cucunya, Lidya, yang hari itu harus kembali ke Medan. Ibu yang trengginas, tak bisa dibantah tetapi sepadan pula dengan kasih sayang dan determinasinya di saat-saat sulit.

Nyokap ketika menggendong cucunya. Tidak cape-cape juga nih Ibu. Padahal sudah sebulan lebih jadi co-CEO bersama Ayah mempersiapkan pernikahan adik saya

Sementara ayah saya, saya paksa membongkar lagi file-file lamanya. Saya meminta beberapa kliping tulisannya ketika dia masih jadi wartawan tempo hari. (Sayang, hanya beberapa yang tersisa. Selebihnya, pernah ia titipkan kepada saudara, tetapi hilang tak berbekas juga). Saya juga menodong dia untuk memberikan buku koleksinya tentang sejarah Simalungun. Semisal biografi Agus Theis, misionaris Jerman yang mengabarkan injil di Simalungun, Sejarah Perang di Sumatera Timur, dan banyak lagi. Yang paling berharga adalah kamus Bahasa Simalungun-Indonesia dan Alkitab Bahasa Simalungun, yang sudah sangat lama saya dambakan.
Babe dalam pose yang tidak ia sukai, sebab sebagai guru, ia selalu ingin tampak rapih. Tapi, hehehe, saya memang sekali-kali ingin mempermalukannya. Termasuk dengan pose begini

Senin 13 Maret
Bangun agak siang, saya dan kedua Tulang kembali bergegas mandi pagi. Kali ini sasaran kami adalah sungai Aek Simatahuting. Jalannya lebih curam dari pada ke AekManik. Di bagian hilir sungai, ada kolam pemancingan. Kami tak menemukan lagi banyak orang mandi di sana.
Aek Simatahuting, sungai tempat mandi semasa SD dulu. Tulang Godang dan Tulang Etek bersiap mandi, di kejauhan, ada orang telanjang yang sudah hampir tuntas mandinya
Lalu kami bertiga berfoto-foto sehabis mandi.
Foto-foto dulu sehabis mandi: dari kiri, Tulang Etek, saya dan Tulang Godang
Selasa 14 Maret
Saya masuk kantor lagi dan membuka email, pertama kali dalam empat hari ini. Saya melihat ada diskusi tentang Simalungun di milis orag-orang Simalungun. Diskusi yang mengatakan Simalungun mengalami kemunduran. Hati saya terusik. Kok mundur sih? Saya melihat motor makin memekakkan telinga di jalan-jalan, saya lihat orang-orang antusias membicarakan anak-anaknya yang kuliah dimana-mana. Kok mundur? Maka saya pun membuat laporan seperti berikut ini, sebagai oleh-oleh kepada peserta milis itu. Semoga oleh-oleh ini cukup berharga.


Kemunduran Simalungun (?): Kasus Sarimatondang

Dear all, nasiam hasoman, kawan-kawan yang budiman,

Kemarin saya pulang kampung ke Sarimatondang, tiga hari. Dibanding
beberapa tahun lalu, kali ini saya pulang dengan kacamata miliser
baritasimalungun, dan saya takjub dan mencoba melihat kampung kami
itu lebih detail. Apalagi ketika tiba di Jakarta dan membuka email,
kebetulan ada pula tema tentang kemunduran Simalungun di milis ini.
Ada beberapa hal yang menarik, buat saya.

1. Ketika akan beribadah di GKPS Sarimatondang, di tembok di pintu
masuk saya temukan tertempel secarik kertas diketik dengan komputer
dengan tulisan: DEMI KHIDMATNYA KEBAKTIAN, MOHON HP
DIMATIKAN. (Tentu saja saya melanggar anjuran ini,
tapi buat saya, pesan dari anjuran ini menggembirakan sebab,
kelihatannya HP sudah jadi barang penting di sana)

2. Ada yang kemalangan. Seorang ibu yang sudah berusia 85 tahun,
disemayamkan di rumah duka, dan akan dikebumikan lima hari lagi. Akan
ada pesta. Malam hari, saya melihat anak-anak muda bermain kartu
sampai larut. Saya bertanya, apakah memang ini kebiasaan? Tuan rumah
menjawab, sekarang berjudi sudah tidak boleh lagi. Maka penghobi judi
hanya bisa melampiaskan hobinya kalau ada acara semacam ini. Sudah
banyak penjudi yang diciduk aparat. Pelapornya kebanyakan menggunakan
SMS.

3. Motor berjubel. Disamping gereja GKPS Sarimatondang, sudah ada
tempat khusus parkir motor. Lengkap dengan atapnya yang teduh.

4. Rumah pendeta dan bivo sudah parmanen. Dicat biru muda.

5. TK Sari ma Panondang, yang diasuh oleh GKPS, muridnya kini
berjumlah 30 orang.

6. Sekolah Minggu muridnya 100 orang lebih, dibagi dalam dua kelas.
Gedung sekolah minggu sudah terpisah dari ruang ibadah.

7. Sabtu pagi, saya melihat di depan pintu gerbang SMP Negeri 1 yang
sudah terkunci, berbaris anak-anak yang terlambat datang. Ada pula
guru yang terlambat, dan semua mendapat 'hukuman' untuk tidak ikut
upacara. Selama upacara, ada musik, anak-anak sekolah bernyanyi, lagu
Peter Pan dll. Juga ada pidato dalam bhs Inggris.

8. Pekan Sarimatondang kini terasa lebih sepi, karena
setelah 'pemekaran' Sidamanik jadi beberapa kecamatan, pekan sudah
ada di Sait Buntu dll. Sehingga frekuensi pekan jadi lebih baik. It's
not a bad news at all. Sebab orang Sarimatondang jadi lebih sering ke
pekan, ke pekan Sait Buntu, Pamatang dll, sehingga mobilitas mereka
jadi lebih tinggi lagi.

9. Seorang kawan semasa SMP, yang setiap kali saya datang pasti
mengeluh dan selalu bertanya, "bisakah kau carikan aku kerja di
Jakarta, Bah?" justru berbisik kepada saya ketika kami sama2
mengikuti sebuah acara adat. "Besok sebelum kau pulang, singgah kau
ke rumah ya? Ada kiriman aku untuk Abang di Jakarta." Dan saya
singgah di rumahnya. Dia menitipi saya oleh2 yang banyak. Untuk saya
dan untuk abangnya. Saya senang sekali. Apa pekerjaanmu? Kata saya.
Dengan sikap low profile orang desa yang khas, dia berkata, dia
sekarang jadi 'pedagang kecil2an' memasok beberapa kebutuhan
perkebunan. Saya terharu dan senang. Saya kira ini adalah bagian dari
kerja kerasnya yang tidak henti2 mengetuk pintu perkebunan itu, dan
sebuah bukti dari janji di Alkitab, "Semua indah pada waktunya."

10. Seseorang mengeluh kepada saya bahwa dana kompensasi BBM untuk
masyarakat miskin masih belum menyebar dengan sempurna. Memang sudah
turun, tapi masih banyak penduduk yang semestinya mendapatkannya,
belum mendapatkannya. Ia bertanya kepada saya, apakah saya bisa
menyampaikannya ke RCTI, Metro TV dll, agar bisa diliput? Saya
tertawa dan melirik handphonenya. Saya katakan, mengapa tak Anda SMS
saja produser-produser TV itu? Saya memberinya beberapa nomor HP
wartawan TV dan koran nasional yang saya kenal. Dia senang. Mudah2an
dia benar-benar akan mengSMS mereka.

11. Saya mandi di Aek Simatahuting, yang airnya jernih tetapi makin
sepi karena air PAM sudah masuk ke rumah-rumah. Di sana, saya bertemu
dengan beberapa anak muda dari Siantar yang kebetulan berkunjung ke
rumah temannya yang orang Sarimatondang. Ketika saya tanya, di mana
rumah si kawan, ia menjawab, di kampung seberang. Hm, di kampung
seberang? Saya belum pernah dengar. Lalu dia menunjuk ke arah hulu
sungai itu. Ya ampun, di hulu sungai itu kini sudah ada pemukiman
pula. Thanks God. Dulu itu adalah tanah tandus. Kini sudah menjadi
pemukiman. Kini kawasan sungai itu tak seseram dulu lagi. Saya senang
karena Sarimatondang terus berkembang, mengikuti jumlah orang yang
bermukin di kampung itu.

Di hilir sungai, kini ada kolam pemancingan. Dan ada graviti yang
bertuliskan: Welcom to the Jungle. Hehehehe, orang Sarimatondang
sudah bisa berbahasa Inggris rupanya. Walaupun masih kurang 'e' di
kata Welcome, tetapi nggak jelek2 banget, bukan?

12. Setiap kali saya bertemu orang, mereka mengeluh tetapi sebenarnya
dengan nada bangga. Mengeluh hidup makin sulit karena membiayai anak-
anak mereka yang kuliah di mana-mana. Tingkat kelulusan ke PTN makin
tinggi. Sebuah keluarga, malah sampai mencium-cium saya, karena tiga
orang anaknya kakak-beradik, kuliah di UNPAD Bandung (ehm, ini
almamater saya lho...). Mereka senang karena anak2 itu tekun
kuliahnya, nggak neko-neko. "Kalem kali kayak orang Bandung,"
katanya. Hidung saya mengembang. Mudah2an mereka kelak dapat
pekerjaan yang baik setelah lulus, dan tidak lupa pada Sarimatondang.

13. Pesta perkawinan masih tetap ramai. Jurufoto dan juruvideo makin
banyak. Seseorang bertanya kepada saya dengan nada retoris. Makin
krisis, makin banyak orang berpesta. Yang kemudian dia jawab sendiri
bahwa pesta tidak bisa lagi dipandang sebagai pemborosan. Sebab,
sifat gotong-royong, serikat sekampung dan semarga, membuat beban
pesta jadi lebih ringan. Jarang sekali yang nombok sampai bangkrut.
Bahkan ada yang impas dan surplus malah. Wah, dalam hati saya
berpikir, boleh juga diusulkan agar orang2 rantau yang kawin, bikin
pestanya di kampung saja. meriah dan murah lho.... Dan inang2 penjual
telor dan kacang itu, akan makin sumringah wajahnya. Mengingat ia
akan bisa membayar uang sekolah anaknya tepat waktu.

14. Kursus Bahasa Inggris sudah ada beberapa. Thanks God (lagi).

15. Jalan raya masih tetap baik, kendati di beberapa lokasi,
berlubang2 tergerus air. Saya menduga, itu memang penyakit lama.

Malam terakhir di sana, sebelum tidur, ketika menghabiskan waktu
bernyanyi-nyanyi dengan keluarga dan kawan2 saya minta dinyanyikan
lagu yang saya sukai dari dulu:

Sai tudia ho marpira
o anduhur nagundesan
Sai tu dakka ni rantiti
marpusuk di hauna i

Sai tudia ho marhuta
ale sidongan magodang
Da tu luat sihadaoan
Sai horas be ma pariban

Ingot ma natinadikkon mu
marsahali sabulan i
Ingot ma huta hatubuan
na di topi ni tao i

Ingat gareja parpunguan
na di toru ni dolok i.

Walau bukan lagu Simalungun, lagu ini selalu mengingatkan saya pada
Sarimatondang, THE BEAUTIFUL SARIMATONDANG, yang dalam pandangan
saya, sebuah kasus yang membuktikan, Simalungun tidak mundur. At
least dilihat dari kemampuannya beradaptasi terhadap kemajuan zaman.

Tabik
Eben


Sehari sebelumnya, ketika taksi yang membawa saya tiba di rumah, istri dan anak saya menyambut saya dengan aneka pertanyaan. Lalu istri saya seperti terheran-heran, kok saya kelihatan ceria betul sepulang dari kampung. Padahal seharusnya saya capek. Dan saya memang capek. Tetapi jawabannya ternyata datang dari celutukan putrid saya, yang kini sudah bisa meledek saya. “Jelas saja Papa ceria. Sudah ketemu sama mama’ dan bapa’nya,” kata dia, sambil merangkul saya. Anak saya juga memang tampak ceria.
Saya, Marty dan Irna, saling ledek setelah berkumpul lagi
Maka saya punya satu alasan lagi untuk pulang kampung seandainya kesempatan dan uang ada kelak. Yakni untuk merefresh lagi hidup. Bahkan seandainya ada yang memberi pilihan, lebih baik berlibur kemana, ke Bali, ke Hawaii, ke Disneyworld atau ke Sarimatondang. Pilihan saya pasti yang terakhir. Istri saya memang pasti cemberut. Sebab, ia juga ingin dong sekali-kali pulang juga ke tempat leluhurnya, di Kedunggalar atau ke Tulung Agung. Ah, pasti makan pecelllllll lagi deh…


15 Maret 2006
(c) Eben Ezer Siadari

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...