Friday, April 28, 2006

Ngopi Bareng Jansen Sinamo (2)

Episode Coffee Shop Mandarin


8 April 2006, pukul 07:42.
Hotel Mandarin di kawasan Sudirman Jakarta sudah terlihat bergegas sepagi ini. Saya duduk di lobbi. Menunggu sambil berpikir, sudah berapa lama saya tidak ke hotel ini?

Seingat saya, sepanjang karier saya sebagai wartawan agak jarang saya menghadiri liputan yang bertempat di hotel ini. Uuups, saya ingat sekarang. Pertama kali datang ke sini ketika seorang wanita setengah baya, dari Swiss, mengundang kami beberapa wartawan makan malam. Ia datang dari sekolah bisnis terkemuka, International Management Development (IMD), Swiss. Lalu di sini dulu sekali, seorang perempuan yang menjadi menteri di Pemerintahan Belanda, juga pernah mengundang kami para wartawan. Seusai konperensi pers, saya bahkan masuk ke kamar sang menteri. Duduk di kasurnya, dan menyodorkan tape recorder mini saya ke mulutnya untuk merekam jawaban-jawabannya. Foto ketika saya mewawancarainya itu, di atas tempat tidurnya, masih saya simpan di rumah. Jika saya amat-amati lagi, tidak ada kesan tidak senonoh dalam foto itu. Justru kesederhanaan lah yang tampil. Sebab seorang menteri, dari negeri Kincir Angin, menginap di ruangan kamar standar yang tak terlalu luas….

Hotel ini tak banyak berubah, pikir saya. Teduh, tenang tetapi hidup. Orang-orang yang berlalu-lalang menandakan hotel ini bukan sebuah penginapan untuk plesiran. Melainkan untuk bisnis, bisnis dan bisnis. Seorang bermata sipit di sebelah saya, mungkin berkebangsaan Jepang, tak henti-hentinya menoleh ke arlojinya. Mungkin ia sedang menunggu seseorang? Saya terus melamun, menanti hingga pukul delapan tiba……

Ketika melamun begitu, tanpa saya sadari Jansen ternyata sudah ada di dekat saya, bersama Andrias Harefa, rekannya yang sudah lama saya kenal. Setelah say hello dan basa-basi seperlunya, Jansen menggiring saya ke Coffee shop di lantai dua. Coffee shop itu sejuk, aroma kopi merebak. Jansen segera membuka jasnya, duduk di sofa, begitu juga saya dan Andrias. Jansen rupanya sedikit 'kepanasan' setelah berjalan kaki dari seberang hotel itu. Ia baru saja menyelesaikan acara talk shownya di radio Smart FM, dan daripada pusing-pusing ke tempat parkir, plus harus muter lagi, ia memutuskan saja berjalan kaki dari studio radio itu, mungkin sekitar 500 meter dari hotel itu.

Yang segera saya perhatikan adalah perawakan Jansen yang gempal, mirip pejudo atau pegulat. Namun bola matanya yang bulat, keningnya yang lebar, segera menyadarkan saya akan cara memandang para intelektual pada umumnya: tajam menyelidik, tapi tenang menunggu jawaban. Tawanya renyah, dengan suara yang tak kalah enak dengan para penyiar radio. Sebungkus A Mild, menemani dia manakala bicara.


Saya lupa bagaimana awalnya ia membuka topik pembicaraan. Yang saya ingat, tanpa saya sadari kami sudah berbincang panjang lebar mengenai berbagai hal, termasuk tentang arti sukses dalam hidup baik individu, organisasi, maupun negara. Sekali lagi, seperti yang sudah sering saya baca dalam ulasan mengenai dia, ia peragakan lagi ketidakjemuan dan ketidakmenyerahannya berbicara tentang Etos. Kali ini bahkan dengan agak meyakinkan ia menceritakan pencariannya ke berbagai khasanah ilmu dan peradaban untuk menelisik apa itu sukses, apa sumber sukses dan bagaimana mencapainya. Dan Jansen mengatakan pada akhirnya kuncinya ada pada Etos.

Salah satu hal menarik dari Jansen adalah ia tak bisa melepaskan diri dari dirinya sebagai Fisikawan. Ia menggunakan pendekatan Ilmu Fisika dalam meneropong banyak hal, termasuk dalam pencariannya menelusuri berbagai teori sukses. Ia juga mengutip aneka teori fisika (yang satu pun saya tak hafal) untuk menjelaskan pikiran-pikirannya kepada saya, sebagai analogi.

Yang mengherankan bagi saya, jika Ilmu Fisika yang saya pelajari di bangku SMA begitu rumit dan begitu ruwet, dalam penjelasan-penjelasannya justru terdengar menarik, indah dan menantang, meskipun 'otak kampungan' saya tetap kalang kabut untuk bisa mengerti. Ini mengingatkan saya pada Umar Kayam, sosiolog yang tak pernah berpretensi jadi seorang gurubesar sosiologi ketika berbicara sosiologi. Tetapi setelah mendengar penjelasannya yang mengalir, lincah tapi juga jenaka, kita baru sadar bahwa sang profesor ternyata dari tadi telah menanamkan kepada kita sesuatu yang berharga dari khasanah sosiologi.

Saya menemukan kelincahan seorang Fisikawan yang berbicara tentang arti sukses pada Jansen. Ia menjelaskan konsep-konsep Fisika lewat contoh-contoh sangat sederhana dan nyata. Lalu kemudian ia sambungkan dengan hidup sehari-hari dan mempertautkannya dengan ‘teori sukses’ yang sedang ia kembangkan.Jansen agaknya percaya, bahwa sama seperti ambisi Albert Einstein untuk menciptakan satu teori menyeluruh (unified) tentang Fisika, Jansen juga yakin dapat tercipta sebuah teori menyeluruh tentang sukses. Dan Etos, yang ia populerkan tanpa kenal lelah, menurut dia, adalah bingkai atau payung yang bisa jadi wadah bagi teori menyeluruh itu. Sebab menurut dia, Etos memuat semua elemen sukses yang selama ini beredar di 'pasar' teori-teori sukses. Apakah itu yang disebut sikap mental, motivasi, kebiasan (habit), semua tercakup dan menyatu pada Etos.

Seraya membeberkan itu semua, ia menyerahkan sebuah buku karyanya, yang terbit tahun lalu dengan judul 8 Etos Kerja Profesional, Navigator Anda menuju Sukses. Ada puluhan tokoh, termasuk Jakob Utama, Peter F. Gontha, Bungaran Saragih sampai Ignas Kleden memberikan endorsement pada buku itu.

Buku itu dengan hormat saya terima, tetapi dalam hati saya berpikir, kapan ya saya akan punya waktu, untuk membaca buku setebal 285 halaman ini? (Ada CDnya pula).

Dengan sekelebat saya buka-buka buku itu. Antara terpaksa dan tertantang. Hm, tiap bab dalam buku itu selalu dibuka dengan kisah-kisah yang mengajak kita untuk berkontemplasi. Merenung. Kadang-kadang tersenyum sendiri. Dalam hati saya berpikir, Etos itu ternyata tidak seabstrak dan seberat yang saya bayangkan ya?

Di sana-sini ia cantumkan pula semacam ringkasan dari masing-masing bab. Kadang-kadang ringkasan itu berpanjang-panjang juga. Tapi saya kira Jansen memang harus mengambil risiko itu. Sebab buku ini memang benar-benar tidak ingin punya ‘lobang’ untuk diserang. Jansen agaknya berusaha menghimpun semua hal yang bisa menjelaskan apa arti sukses sehingga ia tidak ingin membuka kesempatan kepada orang untuk mengatakan, “Hei Jansen, yang ini kamu belum bahas lho….”

Masih di Coffee shop yang nyaman itu, sembari diselingi menyeruput Capucciono dari gelas raksasa (wah, baru kali ini saya minum kopi dari sebuah gelas sebesar kelapa), mata saya sekilas berhenti halaman 26 buku itu, terpaku karena membaca kata-kata yang menurut saya adalah obsesi dari Jansen selama puluhan tahun bergelut pada kajian-kajian ilmu abstrak yang jadi minatnya. Dia menulis begini: “Demikianlah, saya menemukan bahwa Etos ternyata mengandung makna yang bahkan melebihi apa yang saya cari. Dalam kata Etos, semua kata kunci yang menjadi elemen sukses dalam ratusan bahkan ribuan buku sukses sudah terwakili dengan lengkap."

Ini harus dibuktikan, pikir saya. Dalam satu kalimat yang agak panjang, tetapi tidak membingungkan, Jansen menurut saya telah menjelaskan siapa dirinya, apa yang dia cari dan sudah sampai dimana pencariannya itu. Tentu tidak semua orang percaya. Saya juga tak percaya. Dan menurut saya kalimat itu adalah kalimat seorang yang percaya dirinya tinggi (bahkan ada kesan sombong, bukan?) tetapi pada saat yang sama ia mengundang bahkan menantang.

Tantangan itu membuat darah saya agak bergelegak. Juga agak bimbang. Saya tak pernah percaya pada buku-buku tentang teori sukses. Tapi, untuk yang satu ini, trembelane tenan kata orang Jawa (yang artinya, keterlaluan benar). Kok bisa lho, menggoda saya? Membuat saya penasaran, apa benar Etos begitu hebatnya, begitu luwesnya untuk bisa menampung semua pemikiran tentang sukses?

Kopi Cappucino yang tersuguh di meja makin lama makin habis. Jansen, Andrias, dan saya masih ngalor-ngidul, tentang banyak hal pada pagi hari itu. Tetapi pikiran saya mengembara entah kemana. Mengembara ingin mencari waktu. Agar saya bisa menuntaskan membaca buku yang ada di tangan saya. Ingin tahu, seperti apa sih sebuah karya yang dimaksudkan sebagai sebuah buku teori sukses yang menyeluruh?

Lalu kemudian saya harus pamit. Jansen masih akan ada tiga sampai lima meeting lagi di tempat itu, sementara Andrias ada acara di tempat lain. Jansen berkata kapan-kapan ia masih ingin bertemu lagi. Bahkan bila perlu ingin bertemu secara rutin. Saya mengiyakan, karena buat saya, pertemuan semacam ini semacam merecharge otak saya yang makin hari makin serasa tumpul.

Saya akhirnya beranjak. Pikiran saya sudah bulat. Saya akan melumat teori menyeluruh tentang sukses, The Unified theory of Success yang digalang oleh Jansen Sinamo ini. Darimana memulainya ya?

Bersambung ke
Ngopi Bareng Jansen Sinamo: Episode Ruang Tunggu

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...