Saturday, April 22, 2006

Sepotong Masa Kecilku, by Frans Purba


Pengantar.
Frans Purba adalah seorang putra senior Simalungun, kini tinggal di Jakarta dan menjalani hidup sebagai seorang entrepreneur. Belum lama ini, ia menulis di sebuah milis, barita-simalungun@yahoogroups.com. Tulisan itu, menurut saya, bukan hanya penuh kenangan, tetapi memberikan gambaran bagaimana Simalungun tempo dulu. Maka saya minta izin agar tulisan itu bisa saya ketengahkan lagi lewat blog ini. Dan beliau setuju. Nah, selamat menikmati.
Tabik,
Eben

Sepotong Masa Kecilku
by Frans Purba

Tanah Simalungun bagian atas, kira-kira dimulai dari perbatasan Raya - Tiga Runggu
sampai ke dolok Sipiso-piso, sampai ke lembah-lembah yang sangar di lereng tepi danau
Toba dan disebelah lainnya berbatasan ke Serdang - di-tengahnya di belah oleh
Jalan Raya P.Siantar ke Kaban Jahe dan bersimpang tiga di Merek Situnggaling yang
menuju Sidikalang.

Satu-satunya jalan beraspal di jaman itu.

Seluruh hamparan tanah Simalungun Atas adalah dataran tinggi terdiri dari
bagian terbesar padang lalang semak belukar ber dolok-dolok (berbukit-bukit, ed) - dan dihamparan padang
lalang dan semak belukar /hutan kecil itulah yg menjadi perladangan penduduk. Dinamai juma (ladang atau perladangan, ed)-
ada juma sitohang ada juma bolak,ada juma pispisan ,ada juma
rabang ... juma paya sikkam....dsbnya. Jangan dikira diantara hamparan padang
lalang itu menjadi tempat sepi. Tidak. Di dalam hutan lalang dan semak belukar
itu banyak binatangnya ,terutama babi hutan, galot (tupai, ed), dan banyak berbagai jenis
burung, dan juga ada harimaunya sbg predator binatang-binatang tadi.

Disana sini terdapat lembah=lembah yg memanjang bagaikan bekas sungai besar dijaman
dahulu kala dan sampai kini menjadi areal persawahan penduduk. Dan pd sisi-sisi
lembah itu juga masih banyak ditumbuhi pohon-pohon dan merupakan hutan spesifik,
kaya akan ragam tumbuh-tumbuhan seperti pahu (pakis, ed),keladi hutan tahul-tahul -bambu -pisang liar
-rotan ....dll.

Dihamparan sawah-sawah yang memanjang itu airnya sangat jernih dan tak pernah
kering, demikian jernihnya maka di masa kecilku aku biasa minum langsung nyedot
keair seperti gaya kuda,atau sambil berenang sekalian diminum
airnya.Minum seperti itu sekarang ,kemungkinan besar akan langsung terserang
penyakit perut.

Didalam sawah-sawah dan rawa dan parit-parit kecil sepanjang persawahan itu ,kaya sekali
dgn berbagai macam ikan, sibahut,haporas,sioto. sikapala timah- sibit sohorpuk-
demikian kayanya seakan akan tak habis-habisnya walaupun setiap hari selalu
didurungi (dijala, ed). Kini konon ikan-ikan itu menjelang punah?

Dikejauhan ada beberapa gunung yg tegak kaku diselimuti hutan,dolok
singgalang,dolok simarjarunjung, dolok Sipiso-piso - dolok simarsolpah- dan tak
terhitung dolok2 kecil yg mencapai jumlah ribuan ,itulah konon yg membuat ada
nama Saribu Dolok.walaupun demikian hutan2 di Simalungun Atas masih dianggap
kurang luas,makanya penghijauan selalu mendapat perhatian utama.ada pahlawan
kehutanan di Simalungun yg kukenal sejak aku masih kecil yaitu Mantri Kehutanan
Kasugihan.(eh ternyata kakeknya boru saya CP br Purba)

Bila kita melihat dari ketinggian maka disana sini akan terlihat sekumpulan
rimbunan pohon2an yg dikelilingi hutan bambu dan hampir selalu ada asap yg
menyembul di-sela2nya- itulah pertanda adanya kampung.seperti- marihat,gajah
pokki-bunga sampang -sipinggan- hinalang- naga saribu- banua dll.

Mengherankan pd jaman itu semua org tua pd beberapa kecamatan saling kenal
mengenal ,bahkan saling memiliki pertalian kekeluargaan. Maka kami anak2 pun
tidak akan merasa kesulitan dimana saja dan dikampung mana saja - selalu saja
org2 memanggil untuk makan pd waktu jam makan atau menginap dikampung mana
saja -terlebih pd hari 2 libur sekolah.

Acara utama sehari -hari adalah bangun pd saat ayam jantan berkokok yg kedua
kali( jam simalungun itu ternyata jam 5 pagi ) dan anehnya ketika dulu ayam
berkokok pertama kali (jam 3 pagi) selalu tepat jam 3 pagi,dicocokkan ketika jam
tangan sudah memasuki simalungun.(satu2nya jam yg ada dikampung kami pd waktu
itu hanyalah milik pastor), dan kami sudah harus benar2 bangun ketika ayam sudah
berkokok ber-sahut2 an( jam 5.30 -jam 6 pagi)- lalu mengeluarkan hewan piaraan
seperti kerbau,lembu dan kuda dari kandang2nya .

Bagianku adalah kuda2 yg selalu kutunggangi untuk menambatkannya di rerumputan
jauh diluar kampung. Spy tahu dimasa kecil aku adalah salah seorg jagoan
penunggang kuda, demikian jagonya , aku tidak duduk menunggang akan tetapi duduk
jongkok di punggung kudaku lalu berpacu siapa yg duluan sampai di gerbang
kampung. Ini hampir terjadi disetiap sore ketika pulang dari ladang.

Setelah selesai menambatkan hewan ,maka kamipun harus berlari pulang kerumah
dgn mampir di pancuran,karena harus berangkat ke sekolah.

Peraturan pd waktu itu adalah hanya boleh makan nasi 3 suap- kata org tua perut
yg kenyang akan bikin bodoh disekolah- akan tetapi tak dilarang kenyang kalau
makan ubi, Ketika itu saya heran kalau kenyang dgn nasi akan bodoh , kalau
kenyang dgn ubi nggak apa2...?

Sepulang dari sekolah ada satu penampilan yg unik dimasa itu. Guru biasanya
memberi angka dgn kapur tulis pd pelajaran yg kami tulis diatas batu le -
kalau mendapat angka 8 atau 9 maka angka yg ditulis oleh Pak Guru itu
dicopikan dulu dgn memindahkannya ke pipi kita ,karena ada keharusan harus
membersihkan batu le untuk pelajaran berikutnya- agar tidak kehilangan authentic
angka yg bagus itu ,maka ditempelkanlah dulu kepipi dan sering bekas tempelan
itu kita pertahankan sampai pulang kerumah , sekalian pamer bahwa kita dapat
angka yg bagus.

Sepulang sekolah kita sudah harus tahu mengerjakan tugas rutin ,yaitu memberi
minum hewan , mencari rumput untuk makan mereka diwaktu malam, baru membantu
kerja di ladang atau sawah,

atau mengumpulkan kayu api , atau mencari ikan disawah,atau mengumpulkan ubi
atau sayur mayur untuk dibawa ibu kepasar, dll.

Pemandangan unik lainnya adalah ketika menjelang senja akan pulang
kerumah,maka terbiasa kita juga harus meneriakkan ke sdr2 kita yg ladangnya
berdekatan " bot niari ma on alooo.........." Untuk mengingatkannya untuk
pulang ,menghindari terlanjur ke gelapan.Kelak saya tahu bahwa pd bulan2
dimana matahari berada di belahan selatan (simalungun berada diutara equator)
dan bulan tidak terbit ,maka begitu matahari tenggelam diufuk barat ,maka
senja remang2 akan cepat menjadi gelap gulita.

Pulang beriringan dari ladang atau sawah org sekampung juga suatu keindahan ,
dari yg kecil sampai yg besar tak ada yg lenggang kangkung, ada saja yg
ditentengnya atau dijunjung diatas kepala, terutama ibu saya ,ada keranjang
berisi sayuran dikepalanya , tangan kanan menenteng perabotan tempat
minum,tangan kiri membawa buah tabu- dan dipunggungnya menggendong si kecil.

Sesampainya dirumah saya masih punya satu tugas , memeriksa air untuk kebutuhan
malamnya,kalau kurang maka aku harus berlari kepancuran yg berjarak kira2 300
meter, membawa baluhat ,karena ibu akan memasak.Yg paling berkesan mengingat
ibu memasak adalah ketika ibu harus melemaskan daun singkong untuk dibuat sayur
,yaitu dgn cara membilas-bilas daun siongkong itu dgn kedua belah tangannya ber
ulang2 sampai lemas ,sampai didapatkanya jumlah yg cukup untuk sekeluarga. Pd
hal siang harinya kedua tangan ibu saya itu berlumuran tanah dan lumpur karena
bekerja diladang atau sawah. Kuperhatikan begitu ibu selesai melemas2kan daun
singkong tadi ,maka tentu sisa2 tanah /Lumpur yg ada ditangannya pun turut
terikut bersama dgn daun singkong itu,dan saya fikir bukan mustahil daki2
ditangan ibupun terikut juga masuk kedlm sayur daun singkong itu.,karena
kulihat kedua belah tangan ibuku sudah jadi bersih.

Namun ketika saat makan malam bersama tiba, maka pd saat itulah kunikmati sayur
daun singkong yg paling enak ,masakan ibuku, sangat jauh lebih nikmat daripada
masakan direstoran 2 yg saya cicipi di Frankfurt mapun di San Fransisco
atau di Sidney atau di Hongkong atau di Tokyo , mengenang indahnya di
Simalungun dgn masakan ibuku itulah sering membuatku menitikkkan air mata.

Belajar sambil menunggu nasi matang yg lagi dimasak oleh ibu, dgn hanya
memakai lampu kaleng,yaitu bekas kaleng susu dikasi lobang ,diisi minyak tanah
lalu dikasi sumbu , sering berakibat rambut kita ikut terbakar sedikit, dan
pagi harinya harus rajin membersihkan hidung karena menghitam bekas asap lampu
minyak tanah itu.

Pd bulan2 Juni,Juli,dan sekitar awal Agustus , curah hujan sangat sedikit
atau dapat dikatakan kemarau, angin akan bertiup lebih kencang ,saatnya membuat
ingon2 parruru, padi diladang hampir menunduk dan menguning yg berarti
panen dlm kurun waktu 3- mingguan- saatnya menjaga padi dari serbuan burung,yg
artinya pekerjaan fisik yg lain ditangguhkan dulu. Soalnya pd masa itu panen
hanya sekali setahun , gagal panen artinya haleon setahun yad penuh .

Menjaga padi dari serbuan burung kitapun harus berteriak2 dan kalau capek
berteriak maka digantilah teriakan itu dgn doding2 atau kadang2 kita timpali
dgn seruling dgn mendayu-dayukan taur2.

Dan sudah terbiasa orang lain pun kurang lebih akan melakukan kegiatan yg
sama pula, dan tentu seruling yg ditiup oleh si anu dari ladang yg berdekatan
,atau doding2 yg dilagukan oleh Fulan dari sebelah sana lagi, turut menjadi
pelengkap kemeriahan masa mamuro itu( masa menjaga padi dari serbuan burung).

Dan hanya pd masa mamuro itulah kejadian ini sering terjadi.

Kita mendengar keramaian pesta dari suatu kampung.kita lihat dari kejauhan
memang ada kepulan asap rada banyak, sbg pertanda org berpesta memang akan
memasak banyak.Kemudian terdengar bunyi gonrang dgn serunai simalungunnya
,terutama pd irama rambing2 ramos,yg membuat badan kita gatal ingin menari dan
sesekali terdengar pekikan ,horas,horas,horas, sebanyak 3 X.Keramaian pesta
itu pun terus terdengar sampai menjelang kira2 jam 4 sore. Dan kita pun
bertanya-tanya pesta apa gerangan dikampung sebelah? Siapakah gerangan yg
sedang berpesta itu ?Sebenarnya antar kampungpun hubungan keluarga masih
dekat,jadi mengapa kita tak diundang.?

Karena kita pun ingin tahu pesta apa gerangan dikampung sebelah itu,maka
besoknya kitapun bertanya kepada teman sekolah yg berasal dari kampung yg
menjadi sumber keramaian pesta yg kita dengar kemarin.

Teman sekolah itu pun menjawab,tak ada pesta dikampung kami itu kemarin , semua
juga keladang,kesawah , biasa pd siang hari kampung kosong.

Kami dengar ada bunyi gonrang dan sarunei dari situ, dan teman itu tambah
sengit, ah kau yg lagi mimpi ketiduran diladang......

Dan ketika kita panasaran menanyakan keanehan itu kepada orang tua ,maka orang
tua menjawab ,memang "mereka " lagi berpesta kemarin.......moga2 itu sbg tanda
pemberitahuan bagi kita bahwa panen kita tahun ini akan melimpah
ruah........................

Itulah sedikit ttg masa kecilku di simalungun, ini baru sedikit,kalau
diceritakan semua akan terlalu banyak.

Dan kudengar sampai kini setelah setengah abad masih banyak yg hampir tidak
berobah,

kecuali katanya memang tak ada lagi dan tak pernah lagi org mendengar
keramaian pesta dari kampung sebelah... .

Dan ketika dgn panasaran kutanyakan kepada org tua ,kenapa tak ada lagi
keanehan seperti

dulu itu ,maka org tua menjawab "mereka " sudah rada malas mampir ke
Simalungun.


Horas anjaha diatei tupa .



Frans Purba.
PT Krida Hasta Tama.
Pandatel-Telco Systems-
3M Products-Networks/OSP.
Ph.0215689011-5689013-5644843.
Fax.0215689012.
Mb.0816952077.

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...