Wednesday, May 31, 2006

Asyiiiik, Sudah Ada Buku yang Cerita tentang The Beautiful Sarimatondang



Orang Sarimatondang yang norak seperti saya, kerap tak kira-kira memuja-muji kampung halamannya. Desa Sarimatondang yang tak terlalu menonjol di peta, yang jauh dari radar biro wisata bahkan biro wisata lokal sekali pun, kok bisa-bisanya, lho, saya sulap jadi The Beautiful Sarimatondang. Apa yang bisa membuat begini selain karena sifat saya yang norak, uber alles yang menganggap kampung halamannya terhebat di dunia, atau sifat narsistik yang kecintaan pada diri sendiri berlebih-lebihan dan dilebih-lebihkan?

Tentu saya ingat nasihat para orang tua, bahwa segala yang berlebih-lebihan itu tidak baik. Tak boleh terlalu menggebu-gebu untuk satu hal, sebab ia bisa seperti balon yang cepat melar tapi cepat gembos juga hanya oleh satu tusukan kecil. Tapi, eh, untuk Sarimatondang, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan itu, kok saya masih suka lupa ya, sama nasihat-nasihat bijak itu?

Saya kira kecintaan yang berlebih-lebihan kepada Sarimatondang lah yang membuat saya bersemangat untuk ikut, ketika Blogfam, (www.blogfam.com) komunitas maya para blogger se-Indonesia, bekerjasama dengan Penerbit Cinta, mengundang anggotanya untuk menulis cerita konflik dengan orang-tua semasa remaja, untuk kemudian dibukukan. Buku itu dimaksudkan akan menjadi semacam chicken soup for the soul untuk para remaja dan orang tua. Agar pertentangan dengan orang tua bisa diambil hikmahnya.

Yang terpikir pertama kali ketika saya mengirimkan dua tulisan saya adalah semoga nama Sarimatondang bisa lebih dikenal lewat cerita-cerita saya itu. Apalagi, sebagian dari kenangan masa kecil saya di Sarimatondang sudah pula saya bagikan lewat blog The Beautiful Sarimatondang. Dalam batin saya, mudah-mudahan cerita masa kecil saya di Sarimatondang bisa bikin nama Sarimatondang dikenal orang. Sehingga suatu saat jika saya sudah jadi orang tenar (ehm, boleh kan berandai-andai?), dan ada orang ketemu anak saya di jalan, mereka lantas dengan cepat menyapa, Hei Marty (nama anak saya), kamu kan anaknya si Eben yang orang Sarimatondang?

Cerita yang saya kirim itu ternyata lolos seleksi. Mas Benny dari Penerbit Cinta dan Mbak sa dari Blogfam, yang jadi 'produser eksekutif' sekaligus editor pengerjaan buku ini, meloloskan karya saya bersama karya 11 penulis lain. Para penulis dalam buku ini yang kesemuanya adalah blogger, adalah Lili Lengkana, Nunik Utami Ambarsari, Ryu Tri, Lafrani Taufik, Sylfia R. Agustini, Be Samiyono, GAT, Iwok, Ika Widyastuti, Koko P. Bhairawa, Irayani Queencyputri dan saya sendiri. Buku itu kemudian diberi judul seperti di gambar sampul di atas: Ortu Kenapa Sih? Judulnya memang agak ngepop dan ABG abis. Tapi saya percaya, orang tua seumur saya juga bisa awet bijak bila baca buku ini. (serius nih).

Semua cerita dalam buku ini adalah tentang konflik kita dengan ayah atau ibu ketika masih remaja. Selain menceritakan bagaimana konflik itu terjadi, juga dikisahkan bagaimana kita menyelesaikannya. Dalam buku ini, saya menulis tentang pertengkaran saya dengan ayah pada suatu malam. Lalu dalam cerita lain, saya juga bercerita tentang konflik dengan Ibu yang menyebabkan saya merana selama berpekan-pekan. Selengkapnya, tentu saya nggak bisa cerita di sini. Nggak adil buat penerbit, dan nggak adil buat pembaca lain yang berencana membelinya. Maka baca saja nanti ya?

Yang menyenangkan bagi saya dari ikut menulis di buku ini adalah inilah pertama kali saya menulis buku yang tidak ada sangkut-pautnya dengan ekonomi dan bisnis. Kalau soal yang beginian sih, dulu sudah ada beberapa buku yang saya hasilkan sebagai penyunting. Tapi yang bercerita tentang diri sendiri dengan gaya yang suka-suka kita sendiri, inilah pertamakalinya.

Tapi yang paling menyenangkan di buku ini, tentu karena saya bisa menyebut-nyebut Sarimatondang di beberapa bagian cerita. (Mudah-mudahan editornya tidak menyunatnya). Sebab saya memang ingin sekali Sarimatondang dikenal orang. Sarimatondang bagi saya terlalu indah untuk tidak diketahui sebanyak mungkin orang sebab ia adalah sebuah desa yang adem, tenteram, rukun, dinamis, nyaman, dekat dengan gunung dan ….. eh, mulai deh, uber alles saya kumat.

Saya belum tahu akan dipatok dengan harga berapa itu buku. Yang saya dengar, ia akan diluncurkan pada akhir Juni nanti. Mungkin lewat aneka acara yang melibatkan komunitas Blogfam, para guru-guru sekolah dan mudah-mudahan ada selebriti yang ikut meramaikan.

Di sampul depan buku ini, artis sinetron Indra Bruggman menuliskan kesannya begini setelah membaca draft buku ini:

"Banyak cara jadi remaja yang lebih oke. Salah satunya lewat buku yang ringan namun sarat makna ini"

Asyiik. Indra Bruggman lho yang bilang, bukan saya……

Lalu para endorser lain, seperti Elly Risman S.Psi (Psikolog anak dan remaja, Direktur yayasan kita dan buah hati), menulis begini:

"Buku ini bisa jadi panduan agar orangtua dapat menghindari terjadinya bongkahan keras di hati remaja. Sehingga iklim psikologis rumah jadi lebih nyaman, serta mengetatkan jalinan kasih antara remaja dan orangtuanya."

Tuh, hebat kan?

Lalu,

Icha Rahmanti - penulis Cintapuccino dan Beauty Case:

"Manis, menyentuh, dan inspiratif ... untuk semakin mengerti bahwa dari sesuatu yang berbeda bisa saling melengkapi dengan indahnya. Seindah cinta orangtua dengan anak-anak mereka yang (konon) tanpa syarat."

Makasih Mbak Icha. Emang kasih orang tua kepada anak-anaknya tanpa syarat kok. Nggak pake konon. Berani taruhan deh.

Juga dari Primadonna Angela - Penulis Jangan Berkedip!:

"Menyentuh hati ... Sungguh, membaca buku ini membuat saya lebih menghargai apa yang saya miliki!"

Tuh kan, apa saya bilang. Buku ini hebat benar kok.

Baca pula komentar dari K. Atmojo - Editor dan publisher Majalah Cerita Kita:

"Buku ini memberi banyak contoh bagaimana konflik remaja dan orangtua bisa terjadi. perbedaan bisa menimbulkan riak-riak pertengkaran remaja dan orangtuanya."

Juga dari Luna TR. - Penulis trlogy Sweet Angel:

"Wajib dibaca para remaja untuk menghadapi keinginan orang tua yang kadang-kadang nggak sesuai dengan hati nurani kita. Apalagi ini berdasarkan kisah nyata."


tetapi sehebat apa pun buku ini kata para endorser itu, saya belum bisa tenang sebelum saya mendapat komentar dari ayah dan ibu saya. Sebab mereka lah tokoh utama dalam cerita yang saya tulis. Sayangnya mereka belum pernah baca naskahnya dan saya, sumpah, deg-degan menanti reaksi mereka.

Beberapa hari lalu, kepada ayah, saya sempat cerita tentang buku ini. Ia sedikit curiga dengan bertanya begini: "Kelihatannya kau bercerita yang baik-baik tentang dirimu, dan yang jelek-jelek tentang aku, kan?," kata dia, ketika saya katakan yang saya tulis adalah tentang pertengkaran saya dengan dia. Saya tertawa di ujung telepon sementara ayah saya tak bisa saya bayangkan mimik wajahnya. Ayah saya sendiri lupa pertengkaran yang mana, karena saya memang kerap menjadi oposisi baginya dalam segala hal.

Nah, kalau ingin tahu Sarimatondang dan ingin tahu pertengkaran saya dengan ayah dan ibu, juga jika ingin tahu bagaimana orang-orang Blogfam bertengkar dengan nyokap-bokapnya, beli dan baca lah buku ini. Ajak Kakek, nenek, bini, anak, tante, Om, keponakan, lurah, ketua RT, tetangga, tukang sayur di depan rumah, dokter yang Anda kunjungi, supir taksi yang Anda tumpangi dan orang-orang lain untuk beli dan baca buku ini. Tidak ada ruginya kan sekali-kali menolong orang norak dan kampungan seperti saya? Dan Anda juga pasti merasa beruntung deh. Sebab saya jamin, sesudah baca buku itu, Anda akan bilang "Wah, saya juga akan tulis buku seperti ini ah......"

31 Mei 2006
© Eben Ezer Siadari

3 comments:

  1. hehehehe bang eben...
    namaku salah tuh :D
    irayani queencyputri, bukan irawati qeencyputri :D

    ReplyDelete
  2. pengen banget jadinya baca, ito..nanti kalo balik pulang buat liburan, pengen beli dehhh.......kalo keabisan, bisa nanya langsung sama ito, kan? kali2 ada stock lebihnya di rumah..hehehehe

    ReplyDelete
  3. langsung berkaca2 deh baca tulisanmu, bang! jadi inget emakku yg di rumah hehehe

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...