Thursday, May 18, 2006

Maaf untuk Pak Harto



Kejadian itu tak akan pernah saya lupakan. Saya masih di kelas lima SD, ketika kejahatan besar itu saya lakukan. Dan saya menyesal sampai sekarang.

Di desa kami, Sarimatondang, saya bersekolah di sebuah SD bernama SD Negeri 4. Sekolah itu hanya lah satu dari enam SD Negeri lainnya yang ada di kompleks sekolahan itu. Lainnya adalah SD 1, SD 2, SD 3, SD 5 dan SD Inpres. Di seberang kompleks sekolah itu, ada SMP Negeri Sarimatondang.

Pada suatu hari ketika jam istirahat, seorang rekan sekelas yang terkenal 'jagoan' dan anak 'kota' mengajak saya dan seorang lagi kawan duduk-duduk di dekat pagar yang membatasi SD dengan SMP itu. Si Jagoan sudah terlebih dahulu membelikan kami aneka jajanan dan karena itu, tak enak untuk tak mengikuti ajakannya.

Pada saat itu, di lapangan SMP itu, kami melihat murid-murid sedang belajar olah raga. Mereka berbaris, menunggu giliran melakukan gerakan-gerakan yang diperagakan oleh Pak Guru Olah-Raga mereka. Nama Pak Guru itu adalah P. Sianipar, tetapi biasanya disapa dengan Pak SP.

Nah pada saat itu lah kejahatan dahsyat itu terjadi.

Si Jagoan lantas berteriak memanggil-manggil nama Pak Guru itu. "P…. P…. P….." kata dia. Tak cukup hanya dengan itu, ia juga mengajak saya dan kawan saya untuk berteriak serupa. Dan entah kenapa, kami ikut juga, bahkan seakan bangga bisa meledek Pak Guru yang sedang bekerja itu.

Cara kami meneriakkan nama itu benar-benar tak bisa dikatakan sopan. Kami seolah meneriakkan sebuah nama yang tak terhormat, nama seseorang yang bahkan lebih rendah dari kami yang meneriakkannya. Makin kami menyaksikan Pak Guru itu menoleh kepada kami dengan wajah tak senang, makin kami menjadi-jadi meneriakkannya.

Ini adalah dosa yang sangat besar. Pertama, kami berdosa karena kami mengganggu Pak Guru yang sedang bekerja. Tetapi dosa kedua yang tak pernah bisa saya maafkan dalam diri saya, hingga hari ini, adalah saya menyebut dan memanggil nama seorang dewasa, yang lebih tua dari saya, dengan nama panggilannya. Dalam budaya Batak, hal semacam ini adalah dosa yang tidak tanggung-tanggung.
Adalah pantangan besar menyebut nama kecil seseorang yang lebih tua dari kita, apalagi ia sudah berkeluarga. Jangankan meneriakkannya, menyebutkannya perlahan saja adalah sebuah kesalahan yang tak terkira. Dan yang ketiga, dosa yang lebih besar lagi adalah saya sebagai seorang Nasrani telah melanggar hukum taurat yang kelima, yakni hormatilah orang tuamu.

Kami masih sempat berkali-kali memanggilkan nama Pak Guru Olah-Raga itu sebelum akhirnya kami meninggalkan tempat itu karena akan masuk kelas kembali.

Yang kami tak sangka adalah rupanya Pak Guru itu tak menganggap persoalannya selesai. Ia melaporkan kami kepada Kepala Sekolah. Sebelumnya, dia telah menanyai murid-muridnya apakah ada diantara mereka yang mengenali kami. Dan karena banyak murid-muridnya adalah orang kampung kami juga, tentu saja mereka mengenali kami. Terutama saya. Karena rumah saya persis di depan SMP itu. Dan saya adalah anak Ibu Guru SD 4 pula.

Maka ketika kasus itu dilaporkan kepada Kepala Sekolah, jjadilah kami bertiga terdakwa dengan dosa yang sangat memalukan. Penyelidik sekaligus pendakwa kami waktu itu adalah Pak Tindaon yang sekaligus guru kelas kami. Tak terkira-kira berapa kali ia memukulkan penggaris ke punggung kami masing-masing untuk memaksa kami mengakui kesalahan kami. Ibu saya yang juga mengajar di sekolah kami, sampai tak bisa menanggung malu. Ia pulang lebih awal dan di depan saya ia mengatakan kepada Pak Tindaon supaya saya dan kawan-kawan dihajar agar mengerti apa arti menghormati guru dan orang tua.

Saya menangis. Saya menyesal. Saya merasa orang paling berdosa sedunia. Tapi yang lebih sedih lagi, saya merasa tak kan mungkin mengobati lagi luka hati Pak Guru SP yang telah saya sakiti hatinya secara keterlaluan itu.

Di rumah, sekali lagi ayah dan ibu saya menginterogasi. Mereka bertanya berulang-ulang mengapa saya sampai bisa terjerumus kepada kejahatan yang begitu dalam. Mengapa saya sampai tidak ingat bahwa ayah-ibunya adalah Guru juga. Mengapa saya sampai tak bisa membayangkan, bagaimana kalau suatu saat ibu dan ayah saya diperlakukan orang sebegitu rupa?

Ampun ayah, ampun ibu, gumam saya dalam hati. Saya tak tahu untuk keberapa kalinya saya menangis, membisu, merasa perlu dikasihani, tetapi saya merasa tak satu orang pun ada yang mau mengasihani saya. Saya memang benar-benar orang yang berdosa besar.

Saya kira dari tangis saya ketika saya dimarahi, dari wajah saya yang mendung berhari-hari, ibu dan ayah saya tahu bahwa saya sangat menyesal atas apa yang telah saya lakukan. Tetapi mereka tak merasa cukup dengan itu. Mereka juga meminta saya untuk membeberkan apa saja kesalahan dan dosa saya dengan meneriakkan nama Pak Guru secara melecehkan begitu. Dan ayah-ibu saya meminta saya mempelajarinya, menghayatinya, dan memikirkannya selama beberapa hari. Dan setelah itu lah saya baru diperbolehkan minta maaf. Dan saya memang dimaafkan.

Sekarang, saya merasa beruntung saya mendapat hukuman karena kesalahan saya itu. Saya juga merasa beruntung karena sambil diinterogasi oleh Pak Guru, saya menyadari betapa kesalahan yang saya lakukan bukan kesalahan biasa. Dampaknya besar, dan lebih dari itu, interogasi Pak Guru mendorong saya untuk bisa membayangkan bagaimana perasaan orang yang saya zalimi itu.

Sekarang saya mendengar Pak Harto katanya akan dimaafkan. Kata pengacaranya, proses hukum telah berlangsung dan karena Pak Harto sakit, maka beliau tidak mungkin lagi membela diri. Maka penuntutan terhadap Pak Harto pun katanya dihentikan.

Para pakar berbeda pendapat. Ada yang mengatakan itu tak adil. Ada yang mengatakan sebaiknya Pak Harto diampuni. Bahkan belakangan saya mendengar sudah ada yang mengatakan sebaiknya masyarakat mengampuni Pak Harto demi alasan kemanusiaan. Kasihan. Dia sudah tua. Lagipula, kata seorang pakar, bangsa ini akan lebih bermartabat jika bisa memaafkan pemimpinnya.

Saya jadi ingat lagi dosa saya ketika masih kelas lima SD itu. Pengakuan saya yang begitu dalam atas dosa yang saya lakukan membekas hingga kini. Sehingga setiap kali ingat nama Pak Guru itu, saya selalu bergumam dalam hati semoga ia benar-benar memaafkan saya.

Pengakuan atas dosa-dosa itu, menjadi benteng bagi saya untuk tak melakukannya lagi. Lebih jauh, dari pengakuan itu llah saya berharap bisa mengajarkannya kepada anak-anak saya kelak bahwa melawan Pak Guru, melecehkan Pak Guru adalah dosa yang besar. Pengakuan itu membebaskan. Tetapi rasa bersalah itu tak akan pernah hilang seumur hidup.

Saya berharap Pak Harto dan keluarganya juga benar-benar memikirkan hal itu. Begitu banyak, ribuan, ratusan ribuan atau jutaan orang mungkin di Indonesia ini menantikan kata maaf dari Pak Harto. Sebab selama ini mereka merasa telah disakiti, diperlakukan tidak adil, terlepas dari apakah Pak Harto melakukannya secara sengaja atau tidak sengaja. Dapatkah kita membayangkan jika tiba-tiba Pak Harto dimaafkan?

Pak Menteri Sekretaris Negara, Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa Pak Harto telah minta maaf ketika mengundurkan diri tempo hari. Saya ulang berkali-kali membaca pidato itu dan saya merasa itu adalah permintaan maaf yang sumir. Beliau mengatakan ia meminta maaf bila ada kesalahan dalam melakukan tugasnya selama ini. Pak Harto dalam hemat saya, belum pernah mengaku salah, bila ia memang salah.

Saya bukan pengagum Pak Harto. Tetapi saya juga tidak pernah sangat benci kepadanya. Bahkan saya berterimakasih karena ketika masih kuliah dulu, selama dua tahun berturut-turut saya menerima beasiswa Supersemar dari yayasan yang dipimpinnya. Namun sekali lagi, saya kira sebaiknya lah tidak ada maaf bagi siapa pun yang belum membuat pengakuan tentang apa yang perlu dimaafkan kepadanya. Dan seandainya saya Keluarga Soeharto, saya tidak akan pernah mau dimaafkan untuk sesuatu yang saya tidak tahu.

Semoga Pak Harto lekas sembuh dan tahu apa yang akan dia perbuat.

18 Mei 2006
© Eben Ezer Siadari

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...