Sunday, May 07, 2006

Pelajaran dari Vina Panduwinata

sumber:www.tommypratama.com

Malam Minggu kemarin Vina Panduwinata tampil jadi bintang tamu di acara Extravaganza Trans TV. Masih sexy juga si Burung Camar itu. Dan di sela-sela acara penuh tawa itu, ia menyanyikan beberapa lagunya, termasuk Surat Cinta. Walau saya bukan fans fanatik Vina, harus saya akui, lagu-lagunya memang memikat. Suaranya yang serak unik, kadang-kadang seperti mendekam di dalam tenggorokan, tak pernah bisa membuat saya tak tertegun untuk mendengarkannya. Lirik lagunya biasanya sangat dalam kalau bicara perasaan. Nakal bila mengupas cinta. Tak kalah pula nuansa girang pada nada-nadanya.

Maka sambil memasukkan nasi uduk sisa sarapan tadi pagi, saya duduk di sofa memperhatikannya.

Dan kali ini yang membuat saya berterimakasih (hanya di dalam hati) kepada Extravaganza rupanya bukan cuma karena show ini merefresh lagi ingatan saya pada lagu-lagu di masa saya kuliah dulu. Yang terutama adalah karena show itu memperkenalkan saya pada satu sisi lain dari diri Vina. Sisi yang selama ini mungkin abai saya catat. Sisi yang barangkali tidak terlalu penting bagi kebanyakan orang, tetapi cukup penting bagi orang nyinyir seperti saya.

Apa itu?

Ini dia. Bahwa Vina itu ternyata bernyanyi dengan lafal 't' yang biasa, lafal t milik kebanyakan orang Indonesia. Bukan t yang digenit-genitkan yang kerap membuat kita bingung membedakan lafal ‘kaca’ dengan ‘kata,’ ‘bata’ dengan ‘baca’, dan banyak kata-kata berunsur t lainnya. Vina rupanya tidak merasa perlu bergenit-genit dengan huruf t, sebab dengan suaranya yang khas, ia sudah enak didengar dan memang benar-benar menghibur.


Kalau saya tak salah, cara melafalkan t menjadi c (ditambah dengan air ludah yang muncrat dari mulut) dulu sekali dimulai oleh Dian Pramana Putra. Lagunya waktu itu, saya lupa judulnya, tetapi syairnya kira-kira berbunyi:
Sungguh aku t(c)ak mengert(c)i,
Ent(c)ah apa sebabnya
Dst.

Juga ada Sheila Madjid, penyanyi Malaysia yang memang secara alami tidak bisa mengucapkan lafal t pada kata-kata tertentu. Lagunya Antara Anyer dan Jakarta, dinyanyikannya dengan lafal, ‘ancara anyer dan jaka’ca.’ Kala itu, pelafalan t menjadi c yang terdengar digenit-genitkan ini masih terasa lumayan segar. Dian Pramana Putra menjadikannya ciri khasnya. Sheila Madjid memang melakukannya karena tak punya cara lain.

Tetapi kemudian, setidaknya menurut pandangan saya yang nyinyir ini, ‘t-muncrat’ itu benar-benar jadi tak lucu, tak menarik, norak dan bikin mual, setelah semakin banyak orang jadi ikut-ikut, seolah-olah bila melafalkan huruf t tidak dengan cara begitu, bukan penyanyi modern. Lucunya, penyanyi yang kita benar-benar hafal suaranya dan lagu-lagunya dan kita tahu ia memang bisa melafalkan t dengan baik, eh, malah keranjingan pula ikut-ikut bergenit-genit dengan t muncrat itu. Termasuk ke dalam hal ini Eyang Titiek Puspa.

Tak mengherankan bila dalam sebuah konser AFI, saya pernah melihat Trie Utami, sang komentator, meminta si Akademia yang baru saja tampil, untuk melafalkan huruf t dengan baik. Dan sang Akademia ternyata bisa mengucapkan t tanpa muncrat. Padahal sebelumnya, kala bernyanyi, syair lagunya ia lafalkan penuh dengan t-muncrat. Rupanya, Trie Utami termasuk orang yang kesal dengan kegenitan t-muncrat itu, sehingga ia memaksa si Akademia untuk mempertontonkan bagaimana melafalkan t yang benar. Untuk pertamakalinya saya bersimpati pada Trie Utami dalam memberi komentar-komentarnya di ajang AFI…..


Parahnya kelatahan menggunakan t-muncrat saya kira dewasa ini sudah tak terkira-kira. Hampir di semua jenis musik, ada penyanyi yang ketularan pada t-muncrat. Tak peduli lagu jazz, dangdut, terutama pop.
Lebih parah, saya bahkan pernah mendengar penyanyi lagu Batak, terjangkiti kegenitan lafal t-muncrat. Lagu yang seharusnya diucapkan, “surat mu na tu au,” dia lafalkan menjadi “surat mu na cu au….”

Wah. Ada-ada saja.

Untunglah, malam Minggu kemarin itu, Vina yang genit, yang matanya bulat cerdas dengan bibir tipis menggemaskan, ternyata tak bergenit-genit dengan lafal t-nya. Ia nyanyikan lagu-lagunya dengan t biasa, t nya orang Indonesia. Vina dengan t yang benar-benar t, tampil antara lain dalam lagunya, Surat Cinca, eh, Surat Cinta, yang syairnya antara lain berbunyi:

Surat cintaku yang pertama
Membuat hatiku berlomba
Seperti melodi yang indah
Kata-kata cintanya…

Dan tanpa t-muncrat itu, Vina tetap menawan. Tampil sebagai wanita yang cerdas, modern dan kota, walau tidak kebarat-baratan seperti yang ingin dikesankan oleh orang-orang berlafal t-Muncrat itu.

Tampaknya baik juga meluruskan lagi kelatahan-kelatahan yang tak perlu di negeri kita yang aneh ini. Dulu, misalnya, waktu Pak Harto berbicara dengan banyak sekali menggunakan akhiran ken (semisal, mengataken, menunjukken dll) latah lah orang berbicara dengan 'aksen' seperti itu. Bahkan yang bukan orang Jawa, ikut coba-coba. Padahal Pak Harto ber ken-ken, karena dia memang tidak bisa mengucapkan kan. Kok ada lho, orang yang latah meniru ketidakmampuan orang?

Terimakasih Vina. Ternyata menjadi diri sendiri, kembali ke kebersahajaan yang benar itu, tetap indah.

6 Mei 2006
© Eben Ezer Siadari

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...