Saturday, May 13, 2006

Penjara Putih



Surat panggilan
Saat itu sekitar pukul 10 pagi, dengan semangat yang masih membara, kutaburkan biji-biji jagung di ladang, bersama dengan pupuk campuran urea-tsp-mop.
Tapi keeasyikan itu tiba-tiba terganggu mendengar suara Bapak. ” Jon, ada surat buatmu dari sekolah, kamu disuruh datang ke sekolah hari ini juga!”

Terkejut aku, ada apa gerangan? Bukankah pengumuman kelulusan masih seminggu lagi? Kebingunganku itu akhirnya ‘diselamatkan’ oeh hadirnya Ibu. Beliau menganjurkan agar Bapak saja yang pergi ke sekolah, toh tanpa urusan itu pun Bapak akan tetap pergi juga.

Betapa gembiranya hati ini ketika malamnya Bapak menyampaikan maksud surat tersebut. Ternyata saya menjadi salah satu kandidat peserta yang bias mengikuti tes penerimaan siswa SMU PLUS yang sering disebut orang SMU unggulan. Bapak juga menyampaikan bahwa kalau bisa diterima menjadi siswa smu plus, saya tidak akan dibiayai orang tua lagi tapi dibiayai oleh negara.

Dalam hati aku selalu berdoa semoga bisa diterima, karena kalau diterima berarti saya akan diasramakan, tidak ke ladang lagi, dan tidak membebani orang tua. Kalau tidak masuk itu berarti saya akan sekolah di Saribudolok kota sejauh satu jam perjalanan dari tempatku tinggal, dan pulang balik ke rumah tiap hari...
Bah…berarti kebiasaan berjalan 14 km per hari akan terus berlanjut. Minta sekolah di Siantar menjadi sesuatu yang mustahil buatku.

Diterima

Setelah persyaratan dipersiapkan saya mendaftar diantar oleh bapak dan beberapa hari kemudian mengikuti ujian di Pematang Siantar, kota yang menjadi ibukota kabupaten. Akhirnya tibalah hari yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman………dan ternyata saya diterima….Wah thanks God.

Setelah registrasi dan urusan yang lain, kita yang diterima mulai dikumpulkan. Hati ini mulai kecewa setelah tahu bahwa kita akan sekolah sore paling tidak untuk satu caturwulan dan tinggal di rumah penduduk paling tidak untuk setengah tahun. Ini berarti tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya, tinggal di asrama yang bagus dan mempunyai gedung sekolah yang bagus juga. Tapi apa bolah buat, mungkin seperti kata pepatah “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”

Penjara Kohoman/Wisma pak Radi
Untuk sementara waktu kami dititipkan di dua tempat. Siswi di Kohoman dan siswa di rumah Pak Radi. Semenjak hari pertama, berbagai peraturan dan kewajiban sudah langsung diterapkan. Bangun jam 4 pagi, berbaris dan kemudian olah raga, serapan jam 7 pagi, belajar jam 7.30, latihan fisik jam 9 sampai jam 11.30, mandi, lalu makan siang jam 12, jalan ke sekolah, belajar di sekolah hingga jam 17.30, pulang, mandi, makan malam jam 7 malam, kebaktian malam + pidato bahasa inggris, belajar bersama/sendiri, kemudian jam bebas tapi teratur jam 10-11 malam, dan harus tidur jam 11 malam.

Hampir semua waktu diatur oleh jadwal…….Bah, dalam hati, mendingan di rumah orang tua dah, bebas!!!!!

Rutinitas yang demikian padat tidak diimbangi dengan asupan yang cukup, maklum pada umumnya kita berasal dari kampung, jadi yang namanya makan semua nomor satu. Ditambah lagi latihan fisik yang lumayan berat dari pak Jon Walker…. Tidak ada kompromi. Salah sedikit, maka hukuman wajib diterima. Lari, push-up, jongkok, sit-up, ladam tunggal, Rolling, baris berbaris adalah makanan sehari-hari.

Kadang saat kami latihan di lapangan SMP Negeri 1 Raya, ratusan mata darisiswa/siswi SMPN 1 selalu memandangi dan menonton kami. Alangkah malunya kalau kami sampai kena hukuman. Pria wanita semua sama. Apalagi waktu itu saat latihan hanya menggunakan celana pendek, jadi bisa dibayangkan bagaimana latihannya.

Kadang malu latihan berhadapan dengan wanita, tapi itu menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindarkan.

Penjara Putih
Rupanya tinggal di rumah penduduk bukan hanya 6 bulan tapi 8 bulan, berhubung penyelesaian asrama yang terlambat. Tepatnya memasuki caturwulan ke tiga kami memasuki asrama baru dan saat itu sekolahnya juga sudah masuk pagi. Kami semua senang karena kami akan memiliki kamar masing-masing (tidak seperti saat dirumah penduduk, satu kamar 7 orang). Di asrama (depan kantor pembantu bupati, Sondi
Raya) aturan banyak berubah: bangun pkl 4.30, lari pagi hingga SMP N 1, Serapan pkl 6-6.15, apel pagi pkl 6.20, sekolah pkl 6.30-14, makan siang 14.15-14.30, istirahat pkl 14.30-15, less pkl 15-17.30, makan malam pkl 18.30-19, nonton berita pkl 19-19.30, belajar dikamar masing-masing pkl 19.30-21.30, apel malam pkl 21.30-21.45, acara bebas tapi tertib pkl 21.45-22, tidur pkl 22.

Itulah jadwal kegiatan yang selalu terjadi tiap hari. Kalau makan menghasilkan suara akan dihukum, hukuman tergantung ketua harian, kadang di suruh bernyanyi, push-up, skot jump, dll. Kalau mau makan harus berbaris rapi dan menggunakan kemeja, kalau bel dibunyikan sesegera mungkin harus berbaris di depan asrama di depan kamar pengawas asrama, pagi-pagi kalau air mati, maka setiap orang harus mengangkat air 1 ember dari sungai untuk keperluan dapur, sedangkan untuk mandi urus sendiri. Kadang ladang-ladang yang lewati jadi sedikit rusak, alhasil pemilik ladang jadi marah dan memagari jalan yang harus kami lewati. Ijin pulang kerumah orang tua satu kali satu bulan, kalau keluar dari asrama harus seijin ketua harian dan tidak lebih dari 15 menit, kalau mau lebih lama harus seijin pengawas.

Dilarang membawa alat-alat elektronik. Dan yang paling susah untuk dipatuhi adalah DILARANG PACARAN, bah....but it,s the rules, you must obey it.

Saat jam belajar malam, kita wajib berada di kamar msing-masing dan harus belajar di meja sendiri. Setiap malam dinding kamar yang dicat putih mendapat perhatian….Di tembok putih itulah seolah-olah terlihat orang tua, di tembok putih seolah-olah terlihat si dia, di tembok putih itulah terbayang akan akan masa depan, di tembok putih semuanya tergambar…. Suara sepatu pengawas menyadarkan para penghuni kamar dari lamunannya. Kadang rasa ngantuk tidak tertandingi oleh suara sepatu pengawas, kadang saya lebih rela dihukum dari pada menghidupkan kembali bola mata yang telah padam…..alhasil push-up dan hukuman lain menjadi imbalannya.

Saat itu, kami selalu berontak dalam hati.....selalu berharap agar pengawas tidak mampir ke sel putih kami, selalu berharap agar guru les tidak hadir, selalu berharap agar pak Jon Walker tidak menunjukkan batang hidungnya. Ketidakhadiran mereka menjadi sebuah berkat bagi kami saat itu. Kami ingin bebas, kami ingin lepas, persetan dengan masa depan.

Kini kenangan masa-masa SMU tersebut menjadi kenangan terindah yang pernah ada dalam hidupku. Walau kami sering disindir orang Raya dengan kalimat “naima gan smu plus!!!” (Begitulah konon SMA Plus) tapi kami selalu bersama dan kompak, menanggapi sindiran dengan senyuman. Kata pak Jhon Walker : lebih baik bermandi keringat saat latihan daripada bermandi darah saat pertandingan. Penjara putih itu telah menghasilkan ratusan calon-calon pemimpin masa depan, paling tidak untuk Simalungun. Bagiku penjara putih telah menyambung asa yang hampir terputus.

Bersambung
Jakarta 2006
(c) Ramaijon Purba

3 comments:

  1. Anonymous8:47 PM

    Hi Pak Eben, salam kenal, saya Riyanthi Sianturi. Salah satu penggemar tulisan2 di blog Bapak.

    Saya pernah dengar SMU Plus itu,
    Kalau nggak salah, SMU 1 Pematang Raya ya Pak?
    Ada teman kuliah saya, dua atau tiga orang kalau nggak salah,
    yang dulunya sekolah di sana.

    Kalau ini benar sama dengan sekolah yang Bapak ceritakan,
    saya juga pernah dengar cerita tentang sekolah itu dari teman saya,
    tentang disiplinnya dan juga tentang cerita-cerita lucu di asrama...

    Bravo Simalungun...

    ReplyDelete
  2. Anonymous6:33 PM

    Halo bang Ramaijon,
    kenalkan saya rita. lengkapnya fretty nawarita sinurat. senang sekali membaca tulisan abang tentang smu plus raya. saya juga alumni smu plus kita itu. tapi ngga sempat ketemu dgn abang diasrama karena saya angkatan V. sekarang lagi kuliah di UGM program studi agribisnis. wah lengkap sekali ceritanya, jadi mengingatkan semua kenangan waktu diasrama. terkadang pengen lagi kumpul2 dgn smua teman2 dan kakak2/adek2 spt diasrama dulu. tapi kapan ya... tunggu berhasil dulu kale ya :) sering2 aja ya bang bagi cerita ttg perkembangan smu kita itu, mgkn juga perkembangan alumni2 yg sudah tersebar.
    oce dah
    MERRY X'MAS & HAPPY NEW YEAR
    God bless

    ReplyDelete
  3. Hay Ramaijon,,,
    Nih Dewika S Nasution angkatan I... smoga msh ingat....
    crita ini sangat menarik,,, mngingatkan knangan indah d Asrama... tp 1 hal yg ingin awi tambahkan bahwa kt d bagi atas 3 kelompok yaitu putri asrama kohoman,,putra d rumah pak Hadi dan kami yg islam d Rumah pak HS.Garingging,,, tpatnya d Sondi Raya samping Gereja GKPS.. Jgn d lupakan y rama!!!!!

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...