Wednesday, May 17, 2006

Soulmate (2)

Cinta yang tak Pandang Apa-apa



Adakah cinta yang tak pandang apa-apa? Tak pandang harta, tak pandang kasta dan tak pandang rupa?

Saya selalu menganggap cinta yang begitu itu cinta semasa kita masih sekolah rendah. Ketika kita masih begitu lugunya, memandang semua hal benar-benar dari hati. Yang sayangnya, seperti dikatakan Chairil Anwar dalam sajaknya, makin lama kita hidup makin jauh dari cinta yang demikian itu:

Hidup hanya menunda kekalahan
Makin jauh dari cinta sekolah rendah
Dan tahu ada yang tak pernah diucapkan
Sebelum akhirnya kita menyerah


Cinta yang begitu itu hanya sesaat. Mungkin hanya sedetik dalam hidup. Sebab setelah itu, kita mungkin akan menggunakan otak kita. Lalu bertanya dalam hati,
bagaimana mungkin saya mencintai seseorang tanpa melihat wajahnya; cantikkah dia? Hitam manis? Kuling langsat? Bening seperti kristal?



Bagaimana mungkin saya mau berjudi, memperistri seorang wanita yang kelak akan menjadi beban? Bukankah lebih baik mempersunting seorang putri saudagar, atau anak pejabat, atau siapa pun itu, yang kelak bisa membuat kita menggapai masa depan lebih mudah?

Tetapi tiap kali saya naik kereta rel listrik (krl) menuju kantor, saya selalu bertemu dengan pasangan yang saya anggap, benar-benar mencinta dan dicinta tanpa memandang apa-apa. Pasangan itu sama-sama buta. Sama-sama mencari nafkah sebagai pengamen. Sama-sama bernyanyi. Dan dalam nyanyian-nyanyian mereka, saya menemukan arti hidup yang penuh makna. Menjalani hari demi hari, tanpa sedetik pun terpisah dari orang yang paling kita sayangi, dan bisa bernyanyi-nyanyi tentang cinta pula, bukankah itu hidup yang sangat membahagiakan?

Saya ingat, salah satu pasangan yang kerap saya temukan di atas kereta itu, selalu menyanyikan lagu Ikke Nurjanah dan Aldy Bragi:
"memandangmu……"

Oh, apakah mereka saling pandang di dalam kebutaan mereka?



Saya bukan pakar cinta. Pengalaman dan pengetahuan saya tentang ini sangat sedikit. Itu sebabnya, saya coba-coba mengajak banyak orang mendiskusikannya, di sebuah forum diskusi maya, bernama Blogfam. Beginilah diskusi kami berjalan:

Eben: dulu saya tak pernah bisa percaya ada cinta yang tak pandang apa-apa. tak pandang rupa. tak pandang harta. tak pandang kasta.

sekarang saya percaya. sewaktu setiap hari di krl yang bawa saya ke kantor setiap hari, ketemu dengan pengamen buta. sepasang suami istri. dua-duanya buta. dua-duanya ngamen, saling bergandengan. suami menggendong tape karaoke. si istri menyanyi. (yang saya suka, pas mereka nyanyi lagunya ike nurjanah dan bragi).

Oh, begini toh, cinta yang tak pandang apa-apa itu......

Umina: Ya iya dong .... Gimana bisa memandang, wong mata mereka buta gitu... Tapi kok lagunya memandangmu ya ?

Wasugi: Yang tidak punya mata, mungkin pandangan dia jauh lebih sempurna dari pada pandangan kita.. kita yang bermata lengkap saja kadang memandang sebelah mata.. Kalau ternyata dikabulkan Tuhan untuk punya mata sebelah.. gimana coba???

Zawa: Kurang satu Om... cinta tak pandang bulu 

Syafrina: Buatku sih, cinta memandang bulu. Karena...tanpa bulu, aku tak bisa jatuh cinta


Dimas
: Wuaduh ... manusia bigfoot ato manusia pra-sejarah ya Mbak? (menanggapi Syafrina)

Buih: Kita harus bisa bedain antara :
"Cinta apa adanya" dengan "Cinta ada apanya"

adhie_ragazzo: Pepatah Prancis mengatakan....."L'amour n'est pas parce que mais malgre"....yang artinya...cinta itu bukan "karena" tapi "meskipun".... bukan karena kaya, bukan karena miskin. Tapi meskipun dia jelek, meskipun dia begini, meskipun dia begitu....je t'aime

Snhadi: Yups bener banget! mata hati kadang lebih tajam dari mata lahir (menanggapi Wasugi)

Gondhez: Cinta pandang Isi Dompet

dhonatneth
: cinta nggak bisa beli gorengan, ngak bisa beli mie ayam, kalo isi dompet bisa beli bakso, bisa beli nasi goreng

Wasugi: waw.. cinta memang mempunyai kekuatan hebat.. cinta bisa membelah lautan, cinta bisa menembus dimensi.. tapi cinta juga bisa menembus ... hehehehe... photonya keren banget..(menanggapi foto yang saya posting yang menggambarkan pasangan tunanetra mengamen di atas kereta)

Lilsista26: Wuih si Mas.. keren juga story-nya.. ga kepikiran ya.. hehehe

Phrostypoison: Nah, sekarang, apakah cinta dapat memandang?

Mynameisnia: hooo..ternyata ini "tanpa pandang apa2" dalam konotasi yang sebenernya toh? kirain perumpamaan

Mynameisnia: cinta akan menjadi logika dan dapat memandang ketika lo lagi sakit. kalau elo lagi menikmati cinta, kesalahan yang nyata pun akan ditutupi. Mantaff (menanggapi phrostypoison)

Eben: Mungkin ada gunanya kita buatkan kategori hitam-putih sbb, walau pun di dunia nyata dugaan saya lebih banyak abu-abu.
Cinta tak pandang apa2 vs cinta buta
cinta apa adanya vs cinta ada apanya (thanks to buih)
cinta karena vs cinta meskipun

Ada komen?

Leviathan: koq cinta jadi definitif banget ?
Mynameisnia: iya..

padahal cinta jangan dikriteriakan seperti itu..
rasakan sajalah

Leviathan: setuju.
Cinta adalah merasakan, terlepas dari paradigma apapun.

Eben: Ini mungkin benar. Sayangnya, bukankah ini juga sudah merupakan paradigma?

Leviathan: kan baru 1, enggak pake berjubel-jubel tidak jelas yang diteriakin laskar cinta ora mudeng macam :
cinta itu a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z dst...

Shofa: Ehh naik krl apa?
bks bukan?
heuheuheu..
soalnya waktu saya naik krl bekasi juga pernah liat suami istri yg spt km ceritain..

huhuhu..
mereka saling melengkapi dg sgala kekurangan&kelebihan yah. (menanggapi foto pasangan tunanetra)

Pritha: Pandang mata...
Pandang bulu...
yang jelas-jelas mesti dipandang tuh orang yang qta cinta, ikutan cinta apa enggak...
Kalo dari qta nya mau nggak mandang apa-apa juga, ternyata dia nggak respon, kan menderita tuuuhh

Mynameisnia: iya seh.. menderita..
untuk orang yang cinta ama dia.. pasti itu jadi menderita
kalo dia sayang.. dia pasti ngga menderita..
kenapa?
kalo kata gue.. cinta itu lebih berupa obsesi untuk memiliki seseorang.. passion.. lbh mengikat.. kalo sayang ngga.
heuheuheue.. jadi definitif lagi kah?

nyohohohoh..
memang sebaiknya tidak bertepuk sebelah tangan ya (jadi thread baru lagi doms?
tapi sebagian orang.. dengan ia sayang aja ama tu orang, ngga peduli dia sayang pa kaga,, itu udh cukup.


***

Bicara tentang cinta mungkin tak akan pernah berhenti. Tapi yang paling saya suka dari diskusi itu adalah kata-kata mutiara dari Perancis yang dikemukakan Adhi:
"L'amour n'est pas parce que mais malgre". Cinta itu bukan "karena" tapi "meskipun". bukan karena kaya, bukan karena miskin. Tapi meskipun dia jelek, meskipun dia begini, meskipun dia begitu....je t'aime

Mudah-mudahan saya bisa mengatakan ini kepada orang-orang yang saya cintai.
19 Mei 2006
© Eben Ezer Siadari

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...