Monday, May 22, 2006

Soulmate (4)

Semua Sudah Diatur Yang Diatas*

Urusan jodoh jangan dibikin rumit. Semua orang pasti akan mendapatkannya— pada waktunya. Tuhan telah mengaturnya. Manusia, jika mau bersabar, akan mendapatkan soulmate yang tepat baginya, belahan jiwa pendamping hidup hingga di ujung hayat nanti. “Maka tekun lah kau belajar. Nanti kalau kau sudah sarjana, gampanglah itu mencari belahan jiwa. Semua sudah diatur Yang Diatas.”

Nasihat semacam itu sudah klise di kalangan orang Batak, terutama di kalangan Nasrani yang menganggap tiap manusia sudah ada suratan hidupnya, sudah diatur Yang Maha Kuasa. Kalau di kampung saya di Sarimatondang, nasihat semacam ini bisa kita dengar dimana saja. Di atas bis, di pasar, di gereja bahkan di sungai tempat kita mandi, selalu ada orang yang dengan murah hati memberi petuah gratis semacam itu.

Walau sudah bosan mendengarnya, saya tetap tak bisa tidak untuk memikirkannya dalam-dalam, ketika suatu hari mendengar lagi nasihat seperti itu, di sebuah lepau, di kampung saya itu. Waktu itu, saya masih ingat, adalah pertamakalinya saya pulang ke kampung setelah ‘merantau’ ke Pulau Jawa dan kuliah di Bandung. Ketika itu saya masih di tahun pertama kuliah saya. Di lepau itu, saya bertemu juga dengan teman sebaya yang ternyata kuliah di belahan lain pulau Jawa. Sambil bernostalgia dan bertukar kabar, kami asyik berceloteh tentang soulmate, belahan jiwa.

Tak ada yang perlu diherankan sebenarnya jika kami berbual antusias. Maklumlah anak muda yang belum lama terbebas dari hidup dekat-dekat dari pengawasan orang tua. Jadilah perbincangan kami sangat seronok dan merembet kemana-mana. Dan karena keasyikan semacam itu lah, ditambah mungkin rasa sayang sekaligus sedikit khawatir bahwa saya dan kawan saya itu akan terbuai oleh pencarian soulmate, seorang tua yang duduk dekat-dekat kami menasihati kami dengan nasihat tadi. Bahwa jangan terlalu ngoyo mencari soulmate. Sebab, semuanya sudah diatur Yang Diatas. “Nanti kalau sudah jadi sarjana, gampang lah mencari soulmate itu. Pelajaran kalian dulu lah kalian pikirkan.”

Benarkah?

Terus terang, ketika itu hati kecil saya langsung berontak dan menjawab ‘tidak.’ Tetapi demi basa-basi dengan orang tua yang kawan sekampung pula, saya dan si kawan hanya tertawa sembari mengangguk seolah setuju. Namun, bukan hanya saya, kawan saya itu pun dugaan saya tak setuju dengan pendapat yang begitu itu. Sebab, ketika itu pun di kampus kami masing-masing, kami sudah sering bertemu dengan para kakak-kakak senior yang sudah lulus mendapatkan gelar sarjananya, bekerja dengan posisi yang sudah mapan, toh tak begitu mudah bagi mereka mencari soulmatenya. Terbukti, bukan, bahwa soulmate itu tak mungkin datang sendiri melainkan harus dikejar dan dicari?

Ada lagu dari khasanah musik Batak yang sangat populer dan dengan bagus menggambarkannya. Cerita tentang seseorang yang sudah lelah mencari soulmate kemana-mana. Padahal dia sudah berusaha jadi orang baik, berperilaku terpuji, toh soulmate itu tak bersua, sehingga ia meradang:

Didia rokkap hi
Nungnga tung loja au
Mangalului i,
dang juppang au nahot di au
So pambahenan na humurang
Alai boasa ikkon sirang


(Dimanakah soulmateku
Sudah sangat lelah ku
Mencarinya
Tak berjumpa yang benar-benar milikku

Bukan karena perbuatanku yang bercela
Tetapi kenapa harus berpisah)


Kisah Toras menemukan soulmatenya, ternyata berkebalikan dari lagu yang populer itu. Ia tak pernah mengalami kegetiran dalam berburu soulmate. Ia tak pernah, atau lebih tepatnya tak ingin, membuat perburuan soulmate itu jadi rumit dan berliku. Buatnya soulmate adalah selogis rumus Matematika. Karena itu Toras bisa digolongkan sebagai contoh sukses dari nasihat yang mengatakan: “Maka tekun lah kau belajar. Nanti kalau kau sudah sarjana, gampanglah itu mencari belahan jiwa. Semua sudah diatur Yang Diatas.”

Dan Toras memang benar-benar sukses. Dalam karier dan dalam perburuan soulmate. Toras, yang kini kira-kira di usia menjelang 50, bekerja sebagai dosen di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di pulau Jawa ini. Disamping itu, ia banyak menduduki beberapa jabatan di institusi swasta, baik sebagai konsultan mau pun komisaris. Hidupnya mapan dan rumahnya menjadi tempat persinggahan sementara (mau pun permanen) dari banyak kerabat, entah itu kerabat dari pihaknya mau pun pihak istrinya. Ia dan istrinya dikaruniai lima orang anak, tiga putra dan dua putri. Kelihatannya mereka adalah keluarga yang berbahagia.

Agar tak dikira saya sok akrab, saya harus buru-buru memberitahu bahwa saya tak mengenal Toras. Saya juga belum pernah berjumpa dengan dia. Tetapi sekilas dulu sekali ketika saya masih mahasiswa, saya pernah bertemu istrinya di sebuah pesta di Bandung. Istrinya itu merupakan kerabat jauh dari keluarga kami. Juga saya belum pernah berbicara dengan sang istri, yang seharusnya saya panggil Ito atau kakak, karena marganya masih serumpun dengan marga ayah saya.

Yang saya kenal cukup dekat adalah adik sang istri. Seorang perempuan yang baik dan ramah dan sering saling curhat tentang apa saja. Ia teman sebaya saya, dan dalam sebuah perjalanan pulang kampung entah beberapa tahun lalu, kami sempat berbincang-bincang panjang di atas KM Kerinci yang membawa kami dari Tanjung Priok menuju Belawan. Di situ lah saya tahu kisah Toras menemukan soulmatenya.

Toras lahir dan besar di sebuah desa di tepi Danau Toba. Ia sulung dari delapan bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai guru. Ibunya berladang sekaligus berdagang hasil-hasil pertanian. Sebagaimana juga anak-anak pada keluarga Batak lainnya di daerah itu, dengan cepat Toras segera menyadari dirinya adalah tumpuan harapan ayah dan ibunya. Ia sadar, suatu saat kelak, ayah-ibunya bakal kehabisan tenaga dan gilirannya lah yang akan menjadi tulang punggung keluarga, termasuk membiayai sekolah adik-adiknya itu kelak.

Itu sebabnya Toras benar-benar jadi Anak Mama yang baik. Pagi dia sekolah, sore menjelang malam ia bekerja di ladang. Kalau tidak, pada Kamis sore ia akan mendampingi ibunya ke kota menjual hasil pertanian mereka. Malam hari, sebelum matanya begitu berat minta tidur, ia selalu menyempatkan diri belajar.

Pendek cerita, Toras tumbuh jadi anak yang dewasa lebih cepat dari sebagian besar teman-temannya. Di sekolah di desanya ia selalu juara, sehingga ketika lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia mendapat kehormatan untuk bebas testing masuk ke salah satu SMA Negeri favorit di kota. Di SMA ini pun kebiasaanya hidup tekun tak berubah. Pelajaran sekolah semua dilahapnya dengan serius. Dan, akhirnya, ia kembali lagi tanpa perlu mengikuti ujian seleksi masuk, diterima di sebuah perguruan tinggi negeri paling bonafid di Bandung.

Sehari sebelum Toras berangkat ke Pulau Jawa untuk pertamakalinya, ada sebuah upacara kecil di rumahnya, diprakarsai ibunya. Semacam pemberian makanan istimewa, seekor ayam panggang yang ditata sedemikian rupa sehingga semua perangkat tubuh sang ayam lengkap di atas sebuah piring. Diberikan kepada Toras, pertanda ucapan selamat jalan, doa restu dan juga harapan, agar perantauan Toras mengejar cita-citanya di negeri seberang diberkati Tuhan, mulus, teratur seperti ayam panggang yang tertata rapi di atas piring itu.

Berbagai nasihat diberikan kepada Toras, tapi yang paling umum adalah agar ia rajin belajar, rajin berdoa, ingat Tuhan, dan tentu, ingat juga akan sanak-saudara di kampung halaman yang setiap detik selalu mendoakannya. Ibunya berpesan, pandai-pandailah bergaul di ‘sono’, jangan terpengaruh oleh hidup yang tidak berkenan pada nilai-nilai tradisi kita. Ingat akan adik-adikmu, yang kelak akan menjadi tanggung jawabmu. Dan camkan, biaya sekolahmu adalah hasil dari keringat, kerja keras, samasekali bukan dari kelimpahan apalagi kelebihan. Lalu ayahnya menambahkan pula, nasihat yang sudah sangat klasik itu tentang soulmate. Bahwa jangan mau tergoda untuk berpacaran sebelum sekolahmu rampung. Sebab, belahan jiwa, soulmate itu, telah Tuhan atur. Kau akan mendapatkannya bila kau jadi anak yang baik dan berhasil.

Toras selalu mengingat itu semua. Dan, karena itu, ia tumbuh jadi pemuda yang tampak sangat serius, kendati bukan berarti ia menutup diri dari pergaulan. Kawan-kawan laki-lakinya banyak, demikian juga kawan perempuannya. Tetapi entah karena pembawaannya yang terlihat serius, plus wajahnya yang biasa-biasa saja bahkan cenderung menakutkan, membuat tidak terlalu banyak gadis-gadis yang ingin menyapanya. Dan, anehnya, Toras merasa nyaman jika tak perlu berada dekat-dekat dengan para lawan jenisnya itu.

Toras menyelesaikan studinya tepat waktu. Prestasi akademisnya yang baik, menyebabkan ia berkali-kali mendapat beasiswa. Beasiswa ikatan dinas pula yang membuatnya dengan cepat mendapat tempat di sebuah PTN di belahan lain Pulau Jawa, dan menjadi staf pengajar tetap di sana. Setelah lebih dari dua tahun di sana, dan dengan hidup prihatin sebagaimana ayah dan ibunya mengajarkannya kepadanya, ia akhirnya bisa memapankan hidupnya, termasuk dengan mengundang dua adiknya untuk tinggal bersamanya untuk dibiayai hidup dan sekolahnya. Lambat tapi pasti, Toras telah merintis jadi ayah bagi adik-adiknya, seperti yang pernah ia cita-citakan ketika masih kecil dulu.

Tahun berganti tahun, waktu berlalu tanpa pamit, suatu hari Toras merasa sudah waktunya menemukan belahan jiwanya. Makin hari ia makin merasakan hidupnya yang tak lengkap tanpa pendamping. Lebih dari itu Toras merasa ia juga harus menjadikan dirinya sebagai orang Batak yang utuh, menjadi kepala dari sebuah keluarga, seperti ayahnya mengepalai keluarga mereka.

Maka Toras memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, menagih janji ayah-ibunya yang mengatakan bahwa setiap orang sudah ditentukan siapa yang bakal menjadi soulmatenya. Sekarang waktunya bagi Toras untuk meminta ayah-ibunya membuktikan janji itu. Maka pada dini hari setelah beberapa hari ia tinggal di rumah orang tuanya, ia bangun dan menjumpai ibunya yang tengah menjerang air di tungku kayu di dapur. Ia memeluknya dan berbisik, “Ibu, tampaknya sudah waktunya bagiku menemukan belahan jiwaku. Carikanlah aku istri untuk jadi menantumu. ”

Ibunya terdiam lama sebelum akhirnya bertanya perempuan seperti apakah gerangan yang diinginkan putranya. Ibunya dengan sedikit rendah diri bahkan menanyakan apakah tidak lebih baik Toras mencarinya sendiri agar sesuai dengan seleranya. Apalagi ibunya merasa pergaulannya tidak seluas Toras yang sudah sekolah sampai ke seberang. Yang bisa dikenalkannya paling banter putri dari kerabat atau kenalannya saja. Tak lebih dari itu.

Namun Toras tampaknya sudah teguh hatinya, bahwa ia akan membiarkan ibunya lah yang mencarikan soulmate baginya. “Carikan lah saya Bu. Kalau dia sudah baik menurut Ibu, baiklah itu buat aku,” Toras berkata.

“Seperti apa maumu. Apakah harus cantik? Cantiknya seperti siapa?”

“Terserah Ibu. Kalau Ibu sudah tidak malu melihat dia berjalan bersamaku, berarti baiklah itu buat ku,” kata Toras lagi.

“Paribanmu sebenarnya banyak. Tapi saya tidak tahu apakah anak perempuan zaman sekarang masih mau dijodoh-jodohkan. Lagipula apakah diantara diantara paribanmu, ada yang engkau suka?. Sebab tak baik bagiku segera mencari perempuan lain sebelum mengajak bicara pariban-paribanmu itu.”

Toras terdiam. Tetapi kemudian ia menyahut. “Ya. Sebetulnya dulu aku suka sama putri Paman yang tinggal di Siantar itu. Tapi aku tak tahu, apakah ia mau sama aku. Ibu lah yang mengurus. Tidak sama dia pun tidak apa-apa. Pokoknya, carikanlah aku belahan jiwa.”


Paman yang dimaksudkan Toras adalah adik laki-laki ibunya, yang tinggal di P. Siantar, lebih kurang tiga jam perjalanan dari kampung halaman Toras. Sedangkan putri sang Paman bernama Lusi. Usianya terpaut lima tahun dengan Toras. Dulu sekali, sewaktu masih anak-anak, mereka pernah berkenalan ketika sang Paman yang adalah polisi, baru saja dipindahkan ke Siantar dari belahan Timur Indonesia. Tetapi kemudian waktu, jarak tempat tinggal dan perantauan Toras menjauhkan mereka.

Lusi adalah anak pertama dari empat bersaudara, semuanya perempuan. Di Pematang Siantar Lusi segera saja tumbuh segesit dan sebandal ‘anak kolong’ lainnya. Ia tomboi dan ia juga dikenal jagoan menundukkan pria. Sejak masih di sekolah menengah sudah tak terhitung berapa kali ibunya berurusan dengan sekolah gara-gara ulah Lusi, si tomboi nan penggoda.

Puncak ‘kenakalan’ Lusi adalah ketika di ujung kuliahnya ia berpacaran dengan seorang pria dari seberang. Pria yang bicaranya lemah gemulai dan tak punya marga pula. Seisi keluarga pusing keliling dibikin Lusi karena tak seorang pun menyetujui pergaulannya ini. Tetapi Lusi tak perduli. Walau kerap dilanda pasang surut, on and off, hubungannya dengan sang pria tak bermarga itu berlangsung lama, bahkan hingga Lusi menamatkan kuliahnya dan bekerja sebagai pegawai administrasi sebuah perusahaan di Medan.

“Apa yang kau cari pada laki-laki itu, Lusi?” Sekali waktu ibunya bertanya padanya.

“Apa yang Mama cari pada Bapak, itulah yang kucari padanya.”

“Bah, kau balikkan pertanyaanku. Kau pikir, apa rupanya yang kucari pada Bapakmu?”

“Lho, Mama tak tahu apa yang Mama cari pada Bapak? Wah, sudah bertahun-tahun Mama kawin, masa Mama tidak tahu?” Lusi balik bertanya.

Begitulah selalu tiap kali bunya mencoba membuka dialog dengan Lusi, si putri sulung yang tomboi tetapi juga penakluk. Selalu ada saja cara Lusi untuk berkelit, sehingga pembahasan mengenai jodoh bagi dirinya tak pernah bisa berlangsung serius. Dan ia memang ingin demikian. Sebab, Lusi pun sebenarnya belum siap untuk memberikan jawaban setiap kali ada yang bertanya tentang jodoh dan akhir petualangannya. Walau pun ia sering berpacaran lama dengan seorang pria, ia belum pernah benar-benar merasakan orang itu lah bakal jadi belahan jiwanya. Baginya berpacaran adalah romansa yang biarlah mengalir untuk dinikmati. Sampai kemana pun ia membawa. Ia menyenangi kejutan demi kejutan yang dihadirkan romansa itu, entah itu kejutan yang menyenangkan mau pun kejutan yang mengecewakannya.

Sudah banyak sanak famili yang bicara kepadanya, memberinya petuah, bahkan sampai yang mengguruinya. Namun, satu-satunya orang yang mencuri sedikit respek darinya adalah ibunda Toras, yang menurut adat Batak ia panggil Namboru atau tante. Lusi pernah mendengar cerita bahwa di masa ayahnya masih sekolah dulu, si Namboru lah salah satu diantara saudara-sadaura ayahnya yang rela berkorban, ‘mengalah’ untuk tidak melanjutkan sekolah demi ayah Lusi yang ingin jadi polisi. Tak mengherankan bila sampai sekarang, Ayah Lusi tak sedetik pun bisa menghilangkan rasa berhutangnya kepada adiknya, termasuk di hadapan anak-anaknya yang sudah dewasa.

Tapi ada satu hal lain yang membuat Lusi menaruh hormat lebih besar lagi kepada si Namboru itu. Dalam pandangan Lusi, hanya si Namboru itu lah satu-satunya saudara perempuan dari ayahnya yang tidak terlalu jauh mencampuri urusan dirinya. Memang Lusi juga tahu, dalam tradisi Batak seorang namboru atau saudara perempuan dari ayah, kedudukannya kerap diidentikkan sebagai ‘inang pengasuh,’ tempat mengadu dan curhat yang tiada duanya bagi seorang anak perempuan. Namun, dalam pandangan Lusi, mereka itu kerap kali overacting, terlalu sadar akan haknya sebagai inang pengasuh sehingga kelewat batas dalam mengatur dan berkomentar.

Lusi sudah terlalu sering mendengar para tantenya setengah bercanda setengah mencela, berkata “Lusi, mbok kurangi lah bandal-bandal kau itu. Tak ada nanti paribanmu yang mau sama kau.” Kala lain, tantenya yang lain berkata pula, “Ah, kalau kau begitu terus, tak mau diatur, jadilah kau diambil orang yang tak punya marga.”

Lusi sadar, komentar-komentar sengak itu mungkin didasari oleh rasa sayang. Tetapi di sisi lain ia merasa ia sudah dewasa dan ia sudah mengerti apa yang seharusnya dia lakukan. Lagipula komentar semacam itu menyentil harga dirinya. Seolah-olah lelaki terbaik di dunia ini hanya lah para paribannya, yakni anak-anak para tantenya itu.

Si Namboru, ibunda Toras itu, agak berbeda. Ia selalu memperlakukan Lusi dengan hormat, bahkan cenderung seperti merendah-rendahkan dirnya di hadapan Lusii. Tiap kali ia bertemu dengan si Namboru, percakapan mereka selalu berlangsung santun, seperti dua orang yang ingin saling meraba pikiran masing-masing tetapi sekaligus pula diliputi kehati-hatian, takut ada tutur kata yang menyakitkan.

Maka sangat lah mengejutkan bagi Lusi bila pada suatu hari, si Namboru itu datang tanpa diduga-duga ke tempatnya mondok. Membawakan oleh-oleh berupa mangga dan buah pepaya, si Namboru begitu saja sudah duduk di ruang tamu, menunggui Lusi yang belum pulang kerja. Lusi samasekali tidak tahu darimana si Namboru tahu alamatnya di kota Medan dan siapa yang mengantarnya hingga sampai ke tujuan. Dan belum sempat habis rasa kaget di hatinya, bertambah lagi kejutan yang ia dapatkan setelah ia mendengar si Namboru mengungkapkan tujuannya mengunjunginya.

“Lusi, aku tahu aku semestinya datang kepada ibu-bapakmu untuk mengatakan ini. Tapi aku tahu juga, bukan zamannya lagi memaksa anak-anak muda mencarikan jodohnya. Maka aku datang kepadamu, walaupun kalau ayahmu tahu, mungkin aku akan dimarahinya.” Dengan hati-hati si Namboru membuka pembicaraan.

“Dua bulan lalu si Toras pulang kampung. Dan dia meminta saya mencarikan perempuan untuk jadi istrinya, menjadi belahan jiwanya. Dia ingin sekali menjadikan kau istrinya dan dia meminta aku menyampaikannya. Itu sebabnya aku datang kepadamu sekarang ini. Maafkan aku kalau aku terlalu lancang. Tetapi aku tak bisa tidak meneruskan permohonan anakku. Lagipula, tak tertahankan senang hatiku mendengar anakku menyukai kau. Pikirkanlah. Aku tidak ingin memaksa. Tetapi semoga Tuhan membuka hatimu.”

Tidak ada jawaban dari Lusi kala itu. Dan ia juga melihat, si Namboru tak meminta jawaban hari itu juga. Lebih dari itu, ia sangat menghormati wanita di hadapannya sehingga seandainya pun ia ingin memberikan jawaban, ia ingin jawabannya itu benar-benar dari hatinya. Dan ia ingin melakukannya dengan cara sehormat dan seelegan mungkin sehingga tak ada yang merasa disakiti.

Samar-samar ia ingat Toras. Laki-laki dengan wajah yang kaku, serius dan sedikit menakutkan. Dulu setiap kali ia mengunjungi rumah si Namboru, Toras selalu bersembunyi di dapur, sebelum ayah Lusi memanggilnya dan menyuruh dia memanjat mangga untuk Lusi. Seperti apa wajah Toras, sekarang? Pikir Lusi dalam hati.

Ia selama ini tak pernah berpikir Toras ada hati kepadanya, seperti dirinya juga tak pernah berpikir Toras bakal jadi soulmatenya. Tetapi mengingat kesantunan sang Namboru, mengingat bagaimana rasa hormat ayahnya kepada adiknya itu, berbohonglah Lusi kalau permintaan sang Namboru tidak jadi bahan pikirannya. Dan, apa pula yang akan dia katakan tentang si pemuda tak bermarga yang kini masih jadi kekasihnya, meskipun datangnya seperti angin; kadang hanya selintas, kadang menderu, sesudah itu pergi?

Manusia memang tak pernah bisa diduga. Selalu penuh kejutan. Juga dalam hal perburuan mencari soulmate. Sebab perkembangan selanjutnya menunjukkan ada harapan baik bagi Toras. Tak lama setelah kedatangan si Namboru, pada suatu kesempatan pernikahan seorang kerabat, Toras menyempatkan pulang kampung untuk menghadiri hajatan itu bersama keluarganya. Lusi dan keluarga juga ternyata datang ke hajatan itu.

Dan, pertemuan kedua keluarga itu ternyata tak hanya sekadar melepas kangen-kangenan. Merasa sudah tak punya waktu lagi berleha-leha, plus merasa sudah cukup lah sounding yang telah dilakukan ibunya kepada Lusi, Toras lantas memanfaatkan kesempatan untuk segera menyatakan isi hatinya kepada Lusi. Di sela-sela pesta itu, dengan alasan ingin keluar sebentar melihat-lihat suasana kampung halaman, Toras mengajak Lusi menjauh dari keramaian.

Satu jam berlalu, dua jam pun berlalu, tiga jam kemudian pun terlewat, Toras dan Lusi tak menyadari bahwa mereka telah berbicara sedemikian lama. Dari hati ke hati yang dipertautkan oleh darah dan persaudaraan dua keluarga. Toras banyak bicara, kendati tak terdengar seperti merayu. Sementara Lusi, dengan keterusterangannya, sesekali tak bisa menghindar untuk menjawab secara nakal, kendati makin lama ia makin merasa mungkin sudah waktunya mengakhiri petualangan asmaranya dengan seseorang yang lebih sungguh-sungguh. Dan lelaki yang ada di hadapannya, yang baru kali itu bertemu setelah ia dewasa, mungkin bakal jadi soulmatenya.

Dan diantara banyak sekali pembicaraan dari hati ke hati itu, diantaranya adalah dialog ini.

Toras: “Aku sudah tak punya waktu lagi untuk main-main. Tapi aku berjanji, kalau kau mau jadi istriku, belahan jiwaku, aku tak akan pernah berhenti menyayangimu. Seperti orang tua kita saling menyayangi.”

Lusi: “Tak tahulah aku Bang. Sampai sekarang aku tak tahu, kalau aku bilang ya, apakah karena aku sayang Abang atau karena aku sayang sama Namboru. Tapi aku memang sudah capek dengan perasaanku. Aku sudah capek menyayangi orang secara sembunyi-sembunyi. Menjauhkan diri dari keluarga. Aku ingin menyayangi orang dengan cara normal. Direstui.

Toras: “Apakah itu berarti kau ingin mengatakan ya?”

Lusi: “Abang, aku mungkin tidak sebaik yang kau bayangkan. Aku sudah mengenal banyak laki-laki. Maukah kau menerima aku dengan masa lalu begitu?.”

Toras: “Aku telah mengenalmu jauh sebelum kau mengenal semua laki-laki sesudahku. Apakah itu belum cukup?”
Lusi: “Dan, maukah kau tak hanya mencintaiku, tetapi juga ayah-ibuku, dan juga adik-adikku yang masih perlu biaya sekolah?”

Toras: “Aku akan mencintaimu dan seluruh keluargamu. Sama seperti aku berharap kau juga mencintai keluargaku.”

Lusi: “Kalau begitu, Abang, bawalah aku bersamamu kemana pun kau pergi.”

Toras: “Oh, Lusi, jadilah kau belahan jiwaku. Jadilah pendamping hidupku. Dan jadilah kau menantu ibuku.”

Lusi: “Ya, Abang. Sejak hari ini sampai selamanya.”


Tiga bulan setelah itu, Toras dan Lusi melangsungkan pernikahannya. Toras memboyong Lusi menuju pulau Jawa. Lusi memutuskan meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga. Tak lama kemudian, susul-menyusul anak-anak mereka lahir. Karier Toras menanjak dan rumah mereka benar-benar menjadi rumah persinggahan yang teduh bagi sanak keluarga mereka.

Konon, tiap pemuda yang pernah singgah di rumahnya dan sempat berbincang lama dengan Toras, pasti akan mendapat nasihat klasik tentang bagaimana mencari soulmate. Bunyinya: “Urusan jodoh jangan dibikin rumit. Semua orang pasti akan mendapatkannya— pada waktunya. Tuhan telah mengaturnya. Manusia, jika mau bersabar, akan mendapatkan soulmate yang tepat baginya, belahan jiwa pendamping hidup hingga di ujung hayat nanti. Maka tekun lah kau belajar. Nanti kalau kau sudah sarjana, gampanglah itu mencari belahan jiwa. Semua sudah diatur Yang Diatas.”

21 Mei 2006
© Eben Ezer Siadari


* Walau nama dan tempat dalam cerita ini disamarkan, ini adalah benar-benar kisah nyata.

Lebih jauh tentang Pariban, lihat di sini

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...