Tuesday, May 16, 2006

Soulmate

Tiap kali masuk toko buku dan menyaksikan buku-buku karya penulis remaja, saya kerap bergumam dalam hati, "Oh waktu, kenapa sih Anda berlalu begitu cepat, dan nggak bilang-bilang?" Selalu saya merasa sudah sangat tua.



Bayangkan saja. Pengarang-pengarang muda zaman sekarang begitu kreatifnya memilih tema dan sudut cerita. Saya sering bertanya dalam hati terbuat dari apakah otak mereka untuk bisa mencerna aneka pengetahuan populer begitu cepat dan kemudian meramunya jadi karya fiksi yang rame, alurnya ngebut dan jenaka pula? Yang mereka gali selalu sisi lain dari dunia pancaroba remaja, yang sepertinya kita tak pernah alami di zaman kita. Lalu menyebabkan orang-orang tua seperti saya tak bisa lagi bilang, "Eh, gue kan duluan remaja daripada lu, jangan macam-macam lu….."

Misalnya, Jum'at lalu ketika mampir di sebuah toko buku. Ada dua buku chic lit yang membuat hati saya terhenyak. Dua-duanya bicara tentang SOULMATE, belahan jiwa, pacar atau kekasih sejati.

Edan.

Anak zaman sekarang bahkan untuk menjuluki kekasihnya saja nggak mau lagi ikut-ikutan babe-nyokapnya. Sebutan Darling barangkali mereka anggap sudah kuno atau terlalu genit. Yayang terlalu manja dan makin murahan. Buah hati? Apalagi. Selain terlalu pribumi, bisa ketukar sama buah yang lain. So, why not Soulmate? Kedengaran lebih tulus, agung, ada nuansa beyond everything, dan tentu lebih intim.

Di toko buku itu, sejak awal memang niat saya bukan untuk beli buku melainkan cuma mengintip apa saja yang tengah berkembang di dunia ide di negeri ini. Itu sebabnya dua buku berupa novel itu cuma saya baca sampul depan dan belakangnya. Dari ringkasan ceritanya, saya akhirnya tahu salah satu novel bercerita tentang gadis penyayang kucing. Kecintaannya pada kucing menyebabkan ia bercita-cita hanya akan memilih soulmate pria yang penyayang kucing juga. Kalau tidak, OUT!. Konon, menurut cover belakang novel itu, cerita buku itu akan berkisar tentang petualangan sang gadis mencari soulmatenya. Pertanyaan penggodanya kira-kira berbunyi begini: akankah dia benar-benar menemukan soulmatenya yang penyayang kucing?

Hebat.

Novel lain hampir mirip sudut ceritanya. Kali ini tentang seseorang pengoleksi capung. Si tokoh mengoleksi capung bukan karena asal, tetapi karena ia memahami filosofi hidup capung. (Lupa saya apa inti filosofi hidup capung) Dan novel itu kemudian bercerita tentang penantian si tokoh pada soulmate yang ternyata pengoleksi capung pula. Soulmate yang digadang-gadangnya itu berjanji akan membawakannya hadiah berupa sebuah capung raksasa. Pertanyaan penggodanya mirip seperti yang di atas: akankah seorang pencinta capung akan menemukan soulmate yang juga pencinta capung?

Asyik.

Cuma saya akhirnya berpikir, begitu jelimet dan tidak terduganya ternyata anak muda sekarang membuat kriteria soulmate mereka. Begitu sangat individualistik. Begitu kosmopolitan, begitu melambung seolah tercerabut dari dunia tempat dia dibesarkan dan dilahirkan.

Ataukah saya yang terlalu konservatif?

Saya jadi ingat Baz.

Tentu bukan nama sebenarnya, tapi ia benar-benar ada, hidup, dan masih lajang, meskipun tidak lagi remaja. Dia tinggal di sebuah kota, kira-kira dua jam perjalanan dari Medan. Saya selalu mengingat Baz sebagai bocah kecil yang ketika dia masih balita sering saya gendong, saya cubiti pipinya dan saya ledek dengan menyebut-nyebut nama belakang keluarganya yang memang aneh di telinga saya, orang Batak kampungan yang dibesarkan di Sarimatondang.

Baz bukan orang Batak. Tak perlu saya sebut dia etnik apa. Yang jelas, ibunya orang Batak. Ibu saya marga (boru) Damanik, ibu dia juga boru Damanik. Dan ini lah masalahnya.

Baz yang tumbuh sebagai remaja kota, dan kini menjadi pemuda kota pula, ternyata sejak lama sudah menanamkan dalam dirinya untuk mencari soulmate yang seperti ibunya. Entah darimana ia mendapatkan inspirasi itu, tetapi pokoknya, ia menginginkan soulmate, yang orang Batak, Batak Simalungun dan boru Damanik.

Mula-mula saya mengira dia bercanda tentang niatnya ini. Tetapi ternyata ia serius. Jauh lebih serius dari yang saya bayangkan. Kemana-mana, setiap ada acara perkawinan yang menuntut dia hadir --terutama karena dia harus menyetir menemani ibu dan ayahnya-- ia pasti kelihatan blingsatan bila ia melihat ada Boru Damanik yang menarik perhatiannya. Ia bahkan pernah membuat sebuah pesta rada-rada heboh karena ia menempel terus di dekat-dekat pendamping pengantin perempuan. Semata karena wanita itu boru Damanik dan memang cantik. Saya mengatakan pesta itu heboh, karena wanita itu ternyata sudah ada pacarnya dan si pacar ada di sekitar tempat itu. Untunglah tak ada ketegangan yang lebih besar. Tapi hampir semua orang yang berada di sekitar pengantin tahu aroma ketidaknyamanan yang terjadi. Belakangan saya dengar, si pendamping itu 'tak jadi' dengan pacarnya itu. Tapi saya tidak tahu apakah peran Baz ada dalam hal ini.

Pencarian Baz akan soulmatenya, yang menurutnya adalah orang Simalungun dan boru Damanik, dia awali dengan tak henti-henti mengejar seorang boru Damanik yang jadi paribannya, yang tinggalnya di Negeri Paman Sam. Sebut saja namanya, Dit. Dan, bagi yang tidak akrab dengan adat-istiadat Batak, dapat saya jelaskan bahwa pariban adalah sebutan dari seorang laki-laki untuk putri dari paman. Dan paman di sini adalah adik atau kakak laki-laki dari ibu. Dalam adat Batak, pariban merupakan soulmate yang ideal bagi seorang pria Batak. Bahkan konon dahulu kala, seorang pria mempunyai hak veto untuk mempersunting paribannya.

Saya tidak tahu apakah pencarian Baz akan soulmatenya terpengaruh akan dongeng semacam ini. Yang pasti, Dit yang berbeda kurang lebih tujuh tahun darinya itu, ia 'teror' terus. Ia kirimi surat cinta dengan kertas berwarna pink yang wangi. Tak puas dengan itu, ia kirimi hadiah-hadiah. Tak cukup, ia telepon dengan menggunakan SLI yang menyebabkan rekening taghan mereka membengkak dan telepon sempat diblokir. Ibunya naik pitam tetapi kemudian luluh juga hatinya, sebab Baz menggunakannya memang untuk menelepon si soulmate, yang eh, masih keponakannya juga. Itu kan si Dit, putri dari adik kandungnya sendiri?

Begitulah. Baz terus mengejar Dit sejak Dit masih ABG. Tak terhitung sudah berapa banyak ia memoroti uang ibu dan ayahnya demi si Dit. Bahkan sewaktu Dit dan keluarga pulang kampung, Baz ngotot menjadi tour guide Paman dan sang putri, walau seringkali Baz benar-benar diperlakukan seperti tour guide sungguhan. Dan, Baz tak peduli. Sebab ia merasa soulmatenya sudah pasti Dit, dan bila Dit yang masih ABG itu terlihat selalu takut melihatnya, Baz cuma menganggapnya sebagai ketakutan seorang pengagum kepada yang dikaguminya.

Baz ternyata salah. Lebih tepatnya, tidak beruntung. Dit, sang pariban, kepincut Bule dan menikah tamasya di Toronto. Surat undangan kepada keluarga bahkan tidak ada, cukup dengan sebuah telegram berisi pemberitahuan. Sebab Dit dan suaminya itu menikah sambil terbang karena sang suami ternyata seorang pilot.

Semua keluarga sedih mendengar berita itu. Tetapi Baz lah yang paling terpukul. Ia meraung-raung beberapa lama seperti anak kecil kehilangan mainan yang paling disayanginya. Ia hidup luntang-lantung beberapa minggu, tak pulang ke rumah. Kuliahnya yang terlunta-lunta makin terlunta-lunta.

Tapi hanya sebentar. Sebab, seperti yang selalu saya ingat sejak dia masih kecil, Baz bukan orang yang gampangan. Ia bukan tipe orang yang mudah patah. Diantara dia dan banyak saudara-saudaranya, saya selalu memuji dia sebagai anak yang paling bisa diandalkan dan ditempatkan dimana saja ia pasti bisa hidup. Sebabnya sangat sederhana. Baz adalah orang yang sangat peka. Tak bisa diam untuk tidak melakukan sesuatu apabila ia melihat ada yang harus dibereskan. Mencuci piring. Memanjat kelapa. Mencuci mobil. Dan aneka macam pekerjaan bisa ia lakoni dengan sangat sangat riang. Setiap kali saya singgah di rumahnya, ia selalu dengan cekatan untuk menyenangkan hati saya. Termasuk berlari-lari kecil ke lapo (lepau) di seberang gang rumahnya membelikan makanan khas Batak kesukaan saya.

Setelah momen patah hati itu, ia kemudian konsentrasi pada kuliahnya. Lalu kemudian bekerja walau awalnya pekerjaannya serabutan. Ia akhirnya lulus menjadi sarjana, dengan susah payah, di usia yang tidak muda lagi. Dan, belakangan saya mendengar ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Bekerja di sebuah instansi yang bonafid di kota tempatnya lahir, sambil tetap tinggal sebagai 'penjaga rumah', sebab adik-adiknya pada melanglang buana juga menuntut ilmu.

Dan dua bulan lalu, ia menelepon saya. Tidak mengejutkan kami sekeluarga karena sudah kebiasaannya begitu. Menelepon dan mengirimkan sms di waktu-waktu yang tidak kita harapkan.

Namun kali ini ada yang lain dari nada suaranya. Ia lama sekali ngalor-ngidul tanpa topik yang jelas. Itu menyebabkan saya menyerahkan telepon kepada istri saya, tempat dia sering lebih bebas mencurahkan isi hatinya. Dan benar. Ke istri saya dia berkata begini.

"Kak, carikan saya boru Damanik. Di Jakarta ini juga tidak apa-apa. Sudah capek saya mencarinya di sini. Dan bapak sama mama sudah menyuruh-nyuruh saya kawin'

"Harus boru Damanik?" Istri saya bertanya.

"Ya."

"Tidak boleh yang lain?"

"Tidak."

"Siapa yang bikin aturannya? Mamamu?"

"Tidak. Aku memang dari dulu ingin punya soulmate boru Damanik."

"Soulmate? Sejak kapan kau ngerti apa arti Soulmate?"

"Tak usah diperpanjang Kak. Carikan aku Boru Damanik. Boru Damanik lah soulmateku. Aku yakin itu."

Telepon dia tutup.

Itulah Baz. Dan ingat dia, ingat buku-buku remaja zaman sekarang, saya makin merasa tua. Wah, masing-masing zaman memang menghadirkan tantangannya bagi generasinya. Ada yang merumuskan soulmate dengan orientasi ke depan. Ada yang menggalinya dari tradisi. Dan semuanya, tidak selalu ada jalan yang mudah.

16 Mei 2006
© Eben Ezer Siadari

Catatan:
-Walau tak menyebutkan nama sebenarnya, cerita ini bukan fiksi.
-Beberapa nama tempat disamarkan atau diubah.
-Tulisan ini terinspirasi dari diskusi tentang 'Bolehkah Boru Damanik menikah dengan Boru Purba?' di sebuah milis.

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...