Thursday, June 01, 2006

Ayam Panggang Bikinan Istri Saya



Ini mungkin berita remeh-temeh. Apalagi bagi mereka yang menganggap urusan dapur adalah urusan picisan, cerita saya ini bisa menjadi bahan tertawaan. Tapi risiko itu saya tanggung lah.

Begini. Hari Sabtu tiga minggu lalu, karena saya sudah pulih dari serangan flu dan pilek dan sudah bisa makan yang pedas-pedas dan berminyak, maka istri saya nekad ‘membawa’ saya ke masa lampau. Mungkin dengan tujuan menyegarkan lagi semangat saya. Caranya adalah menyuguhkan masakan ‘masa lalu’ saya, yakni manuk namaratur (atau bisa juga manuk nabinatur).

Rupanya sudah lama istri saya mengintip ibu mertuanya ketika membuat manuk namaratur atau ayam panggang khas ala Simalungun itu. Maka hari itu, setelah berbelanja ayam kampung dan minta dipotongkan di pasar modern Bumi Serpong Damai (BSD), dia pun kemudian bekerja di dapur. Saya duduk-duduk di ruang depan, sambil sesekali mengintip, apakah dia memang serius dengan niatnya.

Pendek cerita, menjelang makan siang, jadilah ayam namaratur itu.

Semula saya skeptis untuk mencicipinya karena saya menduga, rasanya pastilah tak jauh-jauh dari ayam kota yang biasa dibikinkannya. Dan, maaf buat istri saya, saya belum pernah memberi nilai A untuk masakan ayamnya atau ayam siapa pun. Di Jakarta ini, saya belum pernah menyukai masakan ayam ala rumahan.

Di meja makan di dapur, saya  mencicipi ayam panggang buatan istri saya. Istri saya memotret sambil juga menggerogoti paha ayam kesukaannya

Tetapi ketika mencicipi ayam namaratur kali ini, eh, ternyata enak lho. Memang tak seenak bikinan ibu mertuanya, tetapi tidak jauh-jauh benar. Kalau lidah saya tak salah, 90% sudah mendekati suguhan yang biasa saya dapatkan bila saya pulang kampung. Warnanya coklat tua dengan bumbu yang menyengat dan memelintir lidah. Ho-ah ho-ah karena kepedasan, biasanya segera saya balas dengan menambah nasi putih yang masih hangat berkali-kali. Dan, dengan makan tanpa sendok, makin nyuuuuuus lah rasa masakan bikinan istri saya itu. Kali ini, ia saya hadiahi nilai A, yang menyebabkan dia tak henti-hentinya menceritakannya kepada kawan-kawannya. Bahkan ia mendorong-dorong saya agar saya menelepon ibu saya. "Beritahu dong dia, saya sudah bisa bikin ayam namaratur," katanya. Serius betul dia mengatakannya. Samasekali tak ada nada canda.

Satu-satunya yang bikin 'makanan masa lalu' saya itu tidak sempurna hanyalah cara menghidangkannya. Istri saya belum bisa membuat ‘atur manggoluh’. Yakni diatur sedemikian rupa, sehingga elemen-elemen tubuh ayam lengkap tersaji seperti ayam yang hidup. Konon, dalam tradisi keluarga Batak Simalungun, ketika kita disuguhi ayam ala 'atur manggoluh' atau diatur seperti ayam hidup, itu adalah semacam 'alat bantu' agar dengan adanya ayam di hadapan kita itu, dalam berdoa kepada Tuhan kita dengan cepat bisa merumuskan permintaan kepada Yang Maha Kuasa yakni hidup dan cita-cita kita kiranya bisa tercapai dengan baik, teratur, lengkap seperti keteraturan dan kelengkapan ayam panggang di hadapan kita.

Biasanya kita disuguhi masakan semacam ini hanya manakala momen penting. Semisal akan ujian, akan berangkat ke perantauan, mau menikah, memperkenalkan cucu kepada ayah-ibu kita dan sebagainya.

Selain potongan-potongan ayam di atas piring, biasanya ada juga 'assesories' lain. Misalnya, ada 'namatah' yakni potongan-potongan kecil daging ayam yang masih mentah, tetapi diambil dari bagian yang paling eksklusif. Saya sendiri tidak tahu bagian mana ini. Potongan-potongan ini biasanya kita makan bersama dengan potongan jahe, bawang, cabe rawit dan garam. Demi alasan kesehatan, ayah saya biasanya merendam dahulu potongan-potongan daging itu ke dalam air panas selama beberapa menit, sebelum dihidangkan. Dalam menghidangkannya, 'namatah' disuguhkan di dalam daun.

Dalam menikmati hidangan ini yang lazimnya kepada kita disuguhkan lewat acara manurduk (menyuguhkan secara khusus dengan mengulurkan ayam dalam piring ke tangan kita, diiringi nasihat dan harapan), kita mengawalinya dengan 'manjomput' atau mencomot. Caranya hidangan ayam panggang kita comoti menurut bagian yang kita suka (misalnya, secomot hati, secomot paha, secomot ampela dst) hingga tangan kita penuh segenggaman berisi kombinasi antara potongan ayam panggang, namatah, cabe, jahe dll. Kemudian sekaligus kita masukkan ke dalam mulut (tanpa nasi). Wah, air liur saya sudah menetes nih, bahkan ketika masih menceritakannya belaka.

Assesories lainnya adalah bunga raya yang berwarna merah, biasanya diletakkan di atas atau disamping ayam panggang yang disuguhkan itu. Lalu ada juga tetelan daging yang dipotong halus sekali yang telah dicampur dengan aneka bumbu yang rasanya tak jauh beda dengan ayam panggang itu.

Sayangnya, ayam panggang suguhan istri saya tempo hari itu, tidak mengikuti tata cara begitu karena suguhannya kali ini memang tidak dimaksudkan sebagai ritual semacam itu. Kali ini ia hanya bermaksud membuat intermezzo di tengah rutinitas makanan di rumah kami yang begitu-begitu saja. Itu sebabnya begitu saja diletakkannya potongan-potongan ayam itu di atas piring. Walau tidak selengkap yang resminya, tetapi tetaplah saya memberi acungan dua jempol kepadanya. Hebat lho… Istri yang orang Jawa sudah bisa bikin manuk namaratur. Sementara saya, ngomong Kulonuwun saja masih sering salah, jadi Kolonuwon, yang menyebabkan di sebuah milis berisi para penulis-penulis nasrani saya diketawai dan diledek habis-habisan.

Malamnya, saya tanya istri saya, apakah masih ingat resepnya. Sebab saya khawatir, jangan-jangan ketika memasaknya tadi dia sedang 'kesurupan' oleh roh nenek-moyang lantas tiba-tiba bisa membuat masakan aneh itu. Atau siapa tahu mendapat wahyu entah dari mana. Kalau ini yang terjadi, itu berarti ia tidak bisa mengulangnya, bukan?

Jawaban yang saya dapatkan tentu saja rada sengak. Sebab menurut dia, dia sudah lama mencatat resep-resep masakan khas Batak. Cuma dia belum punya waktu mempraktekkannya. Alasannya adalah soal ribetnya. Sebab untuk memasak manuk namaratur ini, harus ayam kampung yang tidak terlalu tua, plus dipanggang di atas arang. Juga harus ada andaliman, semacam rempah yang unik dan di pasar BSD hanya tersedia bila Jumat dan Sabtu saja. Alternatifnya, harus dibeli ke Pasar Senen Jakarta.

Sambil saya duduk di belakang komputer saya, ia kemudian mendiktekan resepnya. Ini dia, bagi yang ingin mencoba:

Ayam Panggang ‘Manuk Namaratur’

Bahan:
* Satu ekor ayam kampung ukuran sedang, tidak terlalu tua, dipotong dan dibersihkan.
*Jahe seukuran ibu jari, dicincang.
* Kemiri 10 butir, dicrush.
* Bawang putih 4 siung, dicincang
* Sereh satu batang, ambil batang putihnya saja.
* Andaliman segar (bukan yang hitam) 2 sendok makan
* Cabe rawit 10 butir * Garam secukupnya
* Air jeruk nipis dai satu buah seukuran bola pimpong
* Darah ayam -/+ lima sendok makan, direbus

Cara Membuat
* Lumuri daging ayam yang sudah dipotong menjadi delapan dengan satu sendok makan garam. Lalu dipanggang di atas arang sampai matang.
* Jahe, kemiri dan bawang putih dibakar/ditumis tanpa minyak sampai berwarna kecoklatan. Lalu haluskan bersama dengan bumbu lainnya serta darah yang sudah direbus. Jangan lupa menambahkan satu sendok makan garam
* Di atas bumbu yang sudah halus, tambahkan air jeruk nipis dan diaduk sampai rata.
* Selanjutnya oleskan bumbu pada ayam panggang yang sudah matang. Bila perlu, ayam panggang dimasukkan langsung ke dalam ulekan yang berisi bumbu lalu diaduk hingga bumbu meresap ke dalam daging ayam panggang.

Ayam panggang siap dihidangkan.

Catatan: Untuk mereka yang tidak suka memakai darah ayam, bisa diganti dengan kelapa yang digongseng sampai hitam lalu kemudian dihaluskan atau diulek.

2 Juni 2006
(C) Eben Ezer Siadari

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...