Friday, June 30, 2006

Mompreneur



Mompreneur adalah sebutan keren untuk ibu rumah tangga yang memiliki dan mengelola usahanya sendiri. Gabungan dari dua kata, yakni ibu (Mommy) dan wiraswasta (Entrepreneur). Yah, apa boleh buat. Khasanah kewirausahaan, seperti juga banyak bidang lain, masih dunianya lelaki, ternyata. Sehingga untuk ibu yang berwiraswasta harus ada sebutan khusus. Sedangkan pria, tidak perlu. Tak ada, misalnya, istilah Dadpreneur. Di Indonesia, ada istilah wanita pengusaha untuk menyebut perempuan yang jadi pengusaha. Tetapi tidak ada sebutan pria pengusaha. Ada wanita karier, tetapi tak ada pria karier dst.

Sekali lagi, maafkan lah dunia ini. Yang selalu menganggap pria lah pemiliknya....

Di Amerika Serikat, menurut situs majalah Entrepreneur (www.entrepreneur.com) jumlah wanita yang memutuskan untuk mendirikan dan menjalankan usahanya sendiri kian hari terus bertambah. Kini, katanya, jumlahnya mencapai 10,6 juta orang. Diantara yang jutaan ini, jumlah Mompreneur juga terus bertambah. Tidak disebutkan berapa banyak, namun cukup signifikan untuk jadi bahan pembicaraan.

Salah satu motif wanita untuk jadi Mompreneur adalah demi keleluasaan mengatur waktu. Maksudnya, mengatur waktu untuk keluarga dan waktu untuk aktivitas usaha. Jika mereka memilih bekerja, pada perusahaan, pada instansi pemerintah, atau pada organisasi tertentu, mereka harus terikat waktu untuk berada di luar rumah sepanjang jam kerja. Padahal, para ibu kian kuat keinginannya untuk merawat, membesarkan dan mendidik sendiri anak-anak mereka, terutama yang masih kecil.

Ini bukan hanya karena gaji pembantu (baby sitter) di sana tergolong mahal. Tetapi juga karena ada kesadaran untuk tak menyerahkan perawatan anak-anak mereka kepada ‘orang asing.’ Seorang ibu dimana pun, saya kira, pasti tak ingin melewatkan detik demi detik pertumbuhan anaknya, kalau bisa. Tiap perkembangannya, termasuk ketika ia mulai bisa mengatakan, “Ma, pengen pipis,” adalah saat-saat yang, kalau dapat, harus disaksikan, dicatat sebagai sebuah peristiwa bersejarah.

Tentu tidak semua wanita mempunyai kemewahan untuk dapat memilih menjadi Mompreneur. Tetap saja ada wanita yang harus bekerja di luar rumah, walau anak-anaknya yang masih kecil terpaksa harus dijagai oleh orang lain atau kerabat. Alasan lain, tidak semua pula wanita punya cukup modal, cukup keberanian dan cukup bakat (nah, soal bakat sering jadi perdebatan) untuk memilih jadi Mompreneur. Tak boleh pula diabaikan bahwa banyak juga wanita yang menganggap bekerja, menjadi wanita karier, sama mulianya dan malah tidak berkonflik dengan peranannya sebagai ibu rumah tangga.

Dengan kata lain, memilih atau tidak memilih menjadi Mompreneur ada banyak alasan dan motivasinya.



MOMPRENEUR ITU NENEK SAYA
Nenek saya, seingat saya adalah seorang Mompreneur juga. Ia meninggal tiga tahun lalu, dalam usia 82 tahun. Ia sudah sangat tua ketika berpulang. Di tahun-tahun terakhir hidupnya ia sudah pikun, tak lagi mengenali siapa saja. Ia meninggalkan delapan putra-putri, 26 cucu dan 2 cicit. Semasa masih hidup, saya memanggilnya Oppung.

Saya tidak tahu persis kapan Oppung memulai jadi Mompreneur. Dan apa alasannya. Dugaan saya justru karena ia tidak punya pilihan. Ia ibu rumah tangga, tetapi ia juga harus ikut mencari pendapatan tambahan bagi suaminya yang guru SD. Sepanjang yang masih bisa saya ingat, Nenek sudah jadi Mompreneur ketika saya masih kelas 1 SD. Itu berarti 34 tahun yang lalu. Ketika itu, diantara putra-putrinya, baru ibu saya yang menikah. Yang lainnya, tersebar dimana-mana. Ada yang kuliah di Jakarta dan Siantar. Ada yang sekolah di Pematang Raya. Yang bungsu, kala itu, sedang di sekolah lanjutan di kampung kami.

Pendidikan Oppung tak dapat dikatakan tinggi, terlihat dari kemampuannya menulis yang sangat rendah. Karena itu, tak ada tempat baginya untuk pekerjaan formal, yang di kampung kami, di Sarimatondang, itu berarti adalah guru atau pegawai. Yang tersedia bagi dirinya berarti hanya dua lapangan: bertani dan berdagang. Dan ia melakoni kedua-duanya.

Selain berkebun, Oppung berdagang beras. Di pasar Sarimatondang, ia punya kios tak jauh dari pintu masuk. Sebelum pasar itu terbakar, kiosnya ada di bagian sebelah dalam pasar. Setelah pasar itu dibangun kembali, kiosnya berada pada posisi lebih ke bagian luar. Tiap orang yang akan masuk ke pasar lewat pintu masuk sebelah kanan, pasti bisa melihat kios Oppung.

Jika hari pekan tiba, saya yang masih kecil waktu itu, bisa melihat berkarung-karung beras dijejerkan di dalam kiosnya. Bisa lima sampai 10 karung, masing-masing berisi 100 kilogram. Stok beras lainnya masih ada disimpan di rumah. Sebagian besar didatangkan dari kota Siantar. Sebagian lagi, hasil membeli dari para petani yang menggilingkan berasnya di penggilingan padi yang bertebaran di kampung kami.

Tidak setiap hari pasar di Sarimatondang beroperasi. Pasar itu hanya beroperasi penuh pada hari Jum'at dan Minggu. Pada hari Kamis, pasar buka mulai dari tengah hari hingga sore. Pada tiga hari itu lah nenek selalu terlihat duduk di 'kursi kerajaannya' yang terbuat dari plastik, sebagai Mompreneur. Seharian ia akan meladeni pembeli yang datang silih berganti. Sesekali pandangannya ia longokkan kepada pedagang beras lainnya. Mungkin untuk 'mengukur' seberapa laku dagangannya dibanding para 'pesaing'nya itu. Aktivitasnya baru selesai ketika sore sudah hampir usai. Ketika pasar itu makin lama makin sepi. Dan Nenek 'memerintahkan' anak-anaknya untuk segera menutup kiosnya. Sambil begitu, ia biasanya sibuk berhitung serta membubuhkan catatannya pada buku kecilnya yang kumal dan bau keringat.

Saya pernah mengintip apa isi catatannya itu. Ternyata sangat sederhana, dengan huruf-huruf yang hanya sedikit lebih jelek dari tulisan seorang siswa kelas 2 SD. Di tiap lembaran, ada judul yang agak besar. Biasanya berisi nama-nama orang atau marganya. Bisa juga nama warungnya. Lalu ada catatan angka-angka di bawahnya.
Semisal:
Tukang Bunga = 5000
7000
4000
-------
16000
bayar 10000
---------
utang 6000

Yang mengherankan saya, catatan-catatan sederhana itu begitu berguna. Tidak pernah ada dispute dengan orang yang tercatat di situ. Tidak ada catatan mengenai tanggal, tidak ada catatan mengenai kuantitas. Tetapi ingatannya yang akurat ternyata membuat catatan yang sederhana itu begitu efektif.



MIMPI YANG SELALU DIKATAKAN
Sebelum subjektivitas saya terlanjur menggunung, sebelum puja-puji saya kepada oppung melantur ke sana kemari, saya harus mengingatkan diri sendiri bahwa Oppung adalah mompreneur biasa-biasa belaka. Maksud saya, bila dilihat dari skala bisnisnya, usaha yang dia jalankan itu sebenarnya receh. Tak kan ada majalah bisnis yang mau menulis tentang dia, bahkan untuk rubrik Usaha Kecil Menengah sekali pun. Tidak ada badan usahanya. Tidak ada papan nama. Petugas pajak pun pasti menghindar menagihnya. Dan karena itu, jangan dibandingkan dia dengan Martha Tilaar, Mooryati Soedibyo, Dewi Motik atau Mbak Tutut. Barangkali lebih mudah menyejajarkan dia dengan Mbok jamu yang setiap pagi singgah di depan pintu rumah kita….

Tetapi dengan segala remeh-temeh yang ia punya dan ia rintis itu, saya membayangkan Oppung tetap lah Mompreneur. Ibu yang jadi pengusaha. Ibu yang tidak bisa membelah peranannya sebagai ibu yang memomong anak dan ibu yang mencari duit. Dua-duanya berpadu dan menyatu dalam dirinya. Karakter ibu dan karakter pengusaha juga bercampur pada pribadinya.

Lebih dari itu, di mata saya ia adalah Mompreneur yang tangguh. Kewirausahaannya adalah paduan dari ketekunan, kerja keras, semangat pantang menyerah, mau belajar apa saja dan kepada siapa saja. Juga semacam perjuangan hidup-mati, a matter of survive. Dan yang paling istimewa, menurut saya, sebagaimana juga ibu-ibu lain di kampung kami, sumber energinya yang tak habis-habis adalah pengharapan akan masa depan yang lebih baik. Bagi dirinya dan terutama anak-anaknya. Ia adalah fan fanatik dari lagu daerah Batak yang populer, yang berjudul, Anakkon hi do hamoran di au, yang berarti, anakku adalah kekayaanku.

Hugogo pe maccari
Arian nang botari
Lao pasikkolahon gellenghi
Naikkon do sikkola
Satimbo ni timbo na
Na sa tuk ni gogokki

(Aku bekerja keras
siang dan malam
untuk menyekolahkan anakku
haruslah (mereka) sekolah
setinggi-tinggiya
sekuat daya yang ada padaku)


Konon seorang pengusaha atau orang yang ingin menerjunkan diri sebagai pengusaha, mempunyai beberapa karakter. Salah satunya adalah memiliki motivasi dan impian yang kuat. Impian yang bukan sekadar melintas beberapa menit setelah itu hilang. Melainkan mimpi yang terus menghantui, justru ketika ia terjaga. Dan menurut para pakar, pengusaha biasanya tak pernah lelah membicarakan mimpinya itu. Ia dengan senang hati --bahkan kerap kali membuat kita jengkel-- membicarakannya berulang-ulang. Kepada siapa pun dan dimana pun.

Impian Oppung, sepanjang yang saya ingat, sangat besar dan sangat luhur, tetapi sekaligus biasa-biasa saja. Yakni itu tadi, yang juga mimpi sebagian besar ibu mana pun di kampung kami: agar anak-anaknya kelak mempunyai masa depan yang baik. Sekolah yang tinggi. Hidup mandiri. Bisa mencari makan dengan cara yang terhormat. Kalau bisa, jadi pegawai negeri. Jadi guru. Jadi orang berpangkat. Dan sebagainya.

Mimpi-mimpi itu kerap kali tak hanya ia ucapkan tetapi juga dalam wujud perlakuan. Saya masih ingat, setiap kali saya sehabis mandi, bila lupa sisiran, ia akan serta merta mencegat di depan pintu, dan mengingatkan saya agar menyisir rambut saya. Setelah saya merapikan rambut, baru lah ia melontarkan pujian, "Sonin ma parsebakmu namin tiap ari. Songon parsebak ni guru zending." Artinya, begitu lah seharusnya cara bersisirmu setiap hari. Seperti gaya bersisir guru zending.

Saya tidak tahu apakah ia benar-benar mengharapkan saya jadi guru zending. Tetapi saya menduga, hidup yang ia bayangkan di masa depan saya adalah hidup yang lebih teratur, lebih mapan, seperti hidup para guru zending kala itu. Dan bukan hanya untuk saya, saya kira itu lah mimpinya bagi semua anak-anak dan keturunannya.

Di ujung hayatnya, setelah 10 tahun sebelumnya suaminya mendahului dia, sebagian besar mimpi Oppung sudah tercapai. Semua putra-putrinya sudah hidup mandiri, berkeluarga dan memberinya cucu dan cicit. Semuanya jadi pegawai. Entah itu pegawai negeri, pegawai swasta mau pun jadi guru zending. Memang tidak ada yang melesat jadi pejabat tinggi atau jadi eksekutif top. Keluarga besar itu tetap lah sebuah keluarga yang sangat biasa. Keluarga yang tetap harus berjuang, berpeluh dan capek untuk bisa melanjutkan hidup. Tapi Oppung tidak perlu lagi mengkhawatirkannya.

Yang sedikit saya sesalkan adalah tidak ada satu pun diantara anak-anaknya yang mengikuti jejaknya jadi Mompreneur atau pun jadi entrepreneur. Usaha beras itu berhenti begitu saja seiring dengan menurunnya kesehatan Oppung. 'Angsa emas' yang dulu memanjakan saya dengan baju baru, jajanan pasar aneka warna, plus uang saku bila berangkat ke pawai 17 Agustusan, kini tinggal kenangan.

Tetapi memang tidak baik menyesali yang sudah pergi. Saya kira bukan salah siapa-siapa. Oppung memang tak memasukkan 'kelanggengan' usahanya jadi bagian dari mimpinya. Barangkali itu sebabnya pula tak ada anak-anaknya yang berniat meneruskan hidup si 'angsa.' Dan untuk itu, tak senoktah pun kekaguman saya berkurang padanya. Hanya saja, mungkin ini bisa jadi sebuah chapter bagi siapa saja yang ingin berbisnis. Cantumkan juga 'kelanggengan usaha' sebagai bagian dari mimpi dan motivasi. Dan, saya sangat yakin, akanlah sangat meriah dan hiruk pikuk bila dalam sebuah reuni keluarga, berkumpul Mompreneur yang direriungi anak-anaknya yang Mompreneur juga, dan para cucu yang juga mompreneur. Antik, bukan?

30 Juni 2006
© Eben Ezer Siadari
Bagian pertama dari serangkaian tulisan tentang Oppung sebagai Mompreneur.

1 comment:

  1. menarik juga ketika dad yang membahas mom :)

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...