Tuesday, June 20, 2006

Nyanyian Baru= Doding Nabayu

Kisah Matinya Ribuan Pohon Pisang di Kampung Kami




Orang Simalungun menyebutnya doding nabayu. Doding = nyanyian. Nabayu = yang baru. Doding nabayu berarti nyanyian yang baru. Kebalikannya adalah doding namardokahan. Atau doding nabasaia.

Doding nabayu atau nyanyian yang baru seringkali dipakai sebagai metafora. Untuk menggambarkan harapan dan optimisme. Agar kita melihat ke depan. Dengan semangat untuk melakukan hal yang lebih baik. Untuk berpikir positif. Dan tidak lagi dikurung oleh hal-hal suram di masa lalu.

Tidak mudah untuk selalu bisa menyanyikan nyanyian baru. Kadang-kadang kenyataan hidup sering memaksa kita menatap ke belakang. Dan kita kembali pilu dan mengurut dada dengan nyanyian lama itu.

Saya ingin sekali menyanyikan nyanyian baru tentang kampung halaman saya, Sarimatondang. Itu lah salah satu alasan mengapa ada The Beautiful Sarimatondang. Saya ingin selalu mengenangnya sebagai The Beautiful Sarimatondang.

Sayangnya, sekuat apa pun saya menanamkan persepsi itu di benak saya, di benak sahabat-sahabat saya, tetap saja ia tak selalu bisa menutup kenyataan yang ada. Nyanyian-nyanyian yang mengecewakan, membuat sedih, satu-dua pasti lah melintas. Nyanyian lama dengan format-format baru. Seperti kejadian beberapa hari lalu.

Sabtu, 16 Juni lalu saya menerima telepon, kerongkongan saya terasa tersekat. Berada di ujung telepon adalah Kaliamsa Sidabutar, sahabat saya ketika di SMP dulu. Dari Sarimatondang nun jauh itu, ia memaksakan diri menelepon saya dengan SLJJ, bercerita tentang 'musibah' yang melanda tanaman pisang di kampung kami, Sarimatondang khususnya, dan kecamatan Sidamanik umumnya. Selain dia, berbicara pula Pantas Manurung, ketua kelompok tani Mandiri di sana, untuk menyampaikan berita serupa. Kata mereka, ribuan pohon pisang mati begitu saja. Hangus daunnya. Tidak berbuah. Dan banyak orang putus asa. Sudah hampir setahun, tetapi tak ada yang tahu bagaimana mengatasinya.

Oalah, Sarimatondang yang permai itu. Bagaimana mungkin saya melupakanmu?

"Jadi apa yang saya bisa perbuat?" tanya saya, kepada kawan-kawan di ujung telepon.

"Kami langsung ingat ternyata punya kawan yang wartawan di Jakarta. Itu kau. Tolong lah, tulis, atau minta kawan-kawanmu menulis ini. Mudah-mudahan yang di Pusat tahu soal ini. (Mereka sadar, saya bekerja di sebuah majalah kecil, yang tidak mungkin memuat berita Sarimatondang, jadi mereka mengharap saya meminta bantuan teman-teman saya."

"Oke, akan saya usahakan," kata saya. Saya pun mencatat nomor telepon mereka. Juga mencatat siapa yang kelak kira-kira bisa dihubungi, jika ada wartawan yang minta keterangan.

"Terimakasih ya?" kata mereka.

Dalam hati saya berkata saya lah yang harus berterimakasih, karena masih dianggap sebagai orang Sarimatondang. Sekilas saya membayangkan Kaliamsa. Teman sebaya yang tak melanjutkan sekolahnya setelah SMA. Terhambat karena tak ada biaya. Lantas pernah jadi penjaga pompa bensin di P. Siantar. Lalu jadi supir mobil jenazah (Yayasan Kamboja) di Jakarta. Lalu pulang kampung, meniti hidup berkeluarga dan kini ia jadi pengusaha kecil, memasok barang ke perkebunan, disamping tetap bertani untuk menghidupi anak, istri dan ibunya. Saya tak pernah usai mengagumi perjuangan hidupnya. Kaliamsa yang kalau menyanyi suaranya tak kalah bergelombang dari Victor Hutabarat. Kalau bicara lembut tapi mentalnya sekeras baja….

Sore itu juga, ada lebih dari 10 orang kawan yang saya telepon. Lima diantaranya wartawan. Ada yang di media cetak ada yang di televisi.

Lalu kemudian saya ingat Dr. Sarmedi, dokter yang kepeduliannya kepada Kabupaten Simalungun begitu besar. Dan saya sudah sering berdiskusi dengannya di sebuah milis. Beliau tinggal di Pematang Siantar, 20 kilometer dari kampung halaman saya. Selama ini ia banyak sekali membagi-bagikan pandangannya tentang membangun Simalungun. Dan saya suka dengan cara pandangnya. Karena itu, saya yakin suaranya didengar banyak orang. Pandangan-pandangannya yang visioner membuat saya yakin ia memang sungguh-sungguh ingin memajukan tanah kelahirannya itu.

Dr. Sarmedi Purba dan keluarga, foto ini saya ambil dari blognya

Saya kemudian memberanikan diri mengSMS beliau. Saya katakan, ada berita buruk di kampung saya. Dan kalau Pak Sarmedi berkenan, kiranya sudi menganjurkan media lokal di sana untuk membuat liputan tentang itu. Saya juga memberitahu beliau kalau beberapa wartawan Jakarta sudah pula saya mintai tolong.

Jawaban Pak Dokter itu singkat. "Akan saya coba hubungi wartawan untuk menulis tentang 'pisang' di kampung mu itu."

Saya tak berharap akan ada hasilnya yang cepat.

Eh, Pak Sarmedi ternyata tak sekadar berbasa-basi. Minggu keesokan harinya, ketika saya masih belum usai beribadah di gereja, handphone saya bergetar. Ada SMS masuk. Dari Pak Sarmedi Sarmedi. Ia mengabarkan bahwa koran Metro P. Siantar hari itu juga memberitakan musibah pisang itu.

Almighty God. Pak Sarmedi ternyata bukan hanya The Man of Ideas. Ia juga The Man of Actions. Bahkan tidak saya bayangkan ia bisa secepat itu.

Tak hanya sampai di situ. Setelah berita itu tersiar, ia juga masih ingin membeberkan lebih jauh masalah itu di milis tempat kami berdiskusi, yang menyebabkan saya tak henti-hentinya berterimakasih. Begini dia menulis di milis itu:

Tiga hari yang lalu saya di-sms Eben Siadari,
ada berita yang kurang baik dari Sidamanik yaitu pohon
pisang milik rakyat bermatian. Eben minta agar
diexpose di media. Saya jawab akan
mengusahakannya.

Kebetulan anak kami Jordi Purba, domisil Jakarta
yang sedang berkunjung di Siantar, menceritakan
bahwa dia kenal dekat dengan wartawan Metro
Siantar,
Hasiholan Siregar. Maka jadilah dikirim wartawan
ke
Sidamanik. Di sini dapat kita buka berita Metro
Siantar hari ini yang saya terbitkan di www.baritasimalungun.com sbb


Berita aslinya saya turunkan di sini:

Ribuan Pohon Pisang Diserang Virus
Dari Sidamanik Meluas Ke Raya
> >
> > SIMALUNGUN-METRO (18/6)
> > Selama 8 bulan terakhir, ribuan pohon pisang di
> > Sidamanik diserang virus yang belum diketahui apa
> > jenisnya. Virus itu menyebabkan kematian pohon
> > pisang, yang diawali dengan proses pengeringan
> daun
> > dan pembusukan batang.
> >
> > "Virus itu sudah menyerang hampir segala jenis
> > pisang milik warga petani Sidamanik ini. Karena
> > serangan virus, para petani terpaksa menebang
> > tanaman pisang mereka," kata seorang petani,
> > Ramiah br Damanik di Sidamanik Simalungun, kepada
> > Metro, Sabtu (17/6).
> >
> > Rumiah menunjukkan tanaman pisang yang tumbuh di
> > pematang sawah miliknya, yang bermatian tanpa tahu
> > apa penyebabnya. Dikatakannya, akibat serangan
> virus
> > itu, sudah hampir setahun terakhir dirinya tak
> > pernah lagi menjual hasil panen pisang.
> >
> > "Serangan virus itu diawali dengan tanda-tanda
> > pengeringan pada daun, meskipun masih muda. Akibat
> > serangan virus, buah yang masih setengah tua
> > membusuk, akhirnya tidak bisa dipanen. Yang lebih
> > parah, kadang pisang belum berbuah, sudah layu
> > duluan," katanya.
> >
> > Ia mengaku pernah menebang pohon pisang miliknya
> > untuk mencari tahu apa yang terdapat di batang
> pohon
> > pisang tersebut. Ternyata di batang pohon pisang
> > terjadi pembusukan. "Kami belum tahu apa virus
> > yang menyerang ini. Tapi kami menyebutnya virus
> > pisang," katanya.
> >
> > Di tempat terpisah, salah seorang penasehat
> > Kelompok Tani Mandiri Kecamatan Sidamanik
> > Simalungun, Kaliamsa Saragih mengatakan, virus
> yang
> > menyerang segala jenis pohon pisang milik petani
> di
> > Sidamanik, membuat warga resah. "Memang petani
> di
> > Sidamanik jarang menanam pohon pisang khusus dalam
> > satu tempat. Seperti di Sarimatondang, para petani
> > umumnya menanami pisang persis di pematang sawah
> > milik mereka. Saat virus belum menyerang ke daerah
> > kami, hasil panen pisang dari pematang sawah ini
> > cukup membantu perekonomia kami," akunya.
> >
> > Dalam seminggu untuk Sarimatondang saja, bisa
> > dipanen satu truk untuk satu jenis pisang saja.
> > Pisang ini biasanya dikirim ke daerah lain,
> seperti
> > Pekan Baru.
> >
> > Namun setelah adanya serangan virus, untuk
> > memenuhi kebutuhan pisang di Sarimatondang saja,
> > petani di Sidamanik tak mampu lagi. "Virus yang
> > menyerang pisang ini kurang lebih sama seperti
> virus
> > yang menyerang ikan mas di Danau Toba, belum lama
> > ini. Virus ini menyerang hampir menyeluruh hingga
> ke
> > semua jenis pisang di Sidamanik," katanya.
> >
> > Ia menjelaskan, hal itu sudah pernah disampaikan
> > kepada pemerintah. Namun hingga sekarang belum ada
> > penyelesaian. "Memang dari sekian banyak jenis
> > pisang yang terserang, ada satu jenis pisang yang
> > dapat bertahan, yaitu pisang Bantam atau
> Siminak,"
> > jelasnya.
> >
> > Pada kesempatan tersebut, ia berharap pemerintah
> > secepatnya mencari obat pencegah atau tindakan
> untuk
> > melakukan pencegahan terhadap serangan virus
> pisang
> > tersebut. Karena saat ini, serangan virus tidak
> > hanya menyerang pohon pisang di Sidamanik, tapi
> juga
> > sudah meluas sampai ke Pematang Raya.
> "Pemerintah
> > harus bertindak cepat. Jangan menunggu sampai
> pohon
> > pisang musnah dulu, baru ada tindakan," tegasnya
> > (tr-15)
Sarmedi Purba
> >
> >
> >
> >

Saya tahu, jalan untuk memperbaiki tanaman pisang itu mungkin belum tentu ketemu. Dan belum tentu ada obatnya. Tetapi yang membuat saya terharu, seorang Pak Sarmedi, yang waktunya serbasibuk termasuk mengurusi rumah sakitnya Vita Insani yang besar di P. Siantar, yang hanya saya kenal lewat internet, lewat milis tempat banyak orang berdebat (bahkan saya pernah juga sesekali mendebat beliau), ternyata masih menyempatkan diri memikirkan kampung halaman saya yang kecil dan tak ada di peta itu. Ia dengan sigap memberi pertolongan.

Saya tak habis pikir apa alasan beliau untuk meluangkan waktu menolong saya yang tak punya apa-apa untuk membalasnya itu. Saya menduga, satu-satunya alasan dan yang paling utama adalah karena kecintaannya kepada Simalungun, tanah kelahirannya, tanah tempat ia dibesarkan. Kecintaan itu sudah banyak ia buktikan. Dulu ia pernah dikirim ke Jerman, mendalami ilmu kedokteran. Dan ketika ia menyelesaikan studinya, ia memilih pulang ke Indonesia, pulang ke kampung halamannya, walau pun kalau ia mau, ia sebenarnya bisa bekerja di negeri kaya raya itu(apalagi istrinya berkebangsaan Jerman).

Maka, dalam hati saya berpikir, saya akan tetap menyanyikan nyanyian baru, doding nabayu, walau pun 'musibah' yang dialami pisang di Sarimatondang itu membuat sedih kawan-kawan sekampung, yang membuat kesedihan itu mengingatkan lagi akan nyanyian-nyanyian lama yang suram. Saya patut tetap berpengharapan. Patut menatap masa depan dengan riang. Apalagi bila banyak orang yang peduli, seperti Pak Sarmedi itu.

Hello orang Sarimatondang, hayo....

20 Juni 2006
(c) Eben Ezer Siadari

4 comments:

  1. Anonymous7:40 PM

    Usul nih, gimana kalau orang Sarimatondang ngumpulin alumni-alumni ahli pertanian untuk bicarain ini. Usul aja lho....

    ReplyDelete
  2. Salut untuk orang2 Simalungun seperti Eben yang masih bercita-cita membangun kampung halaman nya. Sebagai wartawan mungkin lebih punya akses untuk memperbaiki setiap masalah. Cuma adik saya yang juga punya cita-cita yang sama, sejak lahir di Jakarta, hijrah ke siantar, 3 tahun ini, sampai sekarang masih belum jelas hasil nya, mengeluh terus tapi heran nya dia masih mau bertahan tinggal disana entah sampai kapan. Saya khawatir saja, kalau dia sakit karena frustasi tidak bisa merubah keadaan di sana dan kalaupun bisa mungkin belasan tahun lagi...he..he....(sory bukan pesimis cuma realistis aja)

    Juga buat Pak tongah Sarmedy ini,salut karena masih bertahan di kampung halaman.

    Good luck ! semoga ada solusi & perubahan di Sarimatondang khusus nya dan Simalungun Umumnya.

    Dari setengah Simalungun setengah Karo, kelahiran Jakarta :-)yang bisanya ngedoain dari jauh aja!

    ReplyDelete
  3. Dear orang setengah Sim setengah Karo,

    Adduh, saya jadi ge-er nih. Tetapi trimakasih atas supportnya. Nggak. Saya juga bisanya cuma cuap2 di blog ini. Mudah2an ada orang Sarimatondang yang dengar. Makin banyak yang tergerak, makin cepatlah maju kampung kita itu.

    Kalau lagi berdoa, doakan juga Sarimatondang ya?

    Tabik

    ReplyDelete
  4. harga pisang disana jadi naik dong? Aussie juga kehilangan ribuan pohon pisangnya yang di Queensland karena kena imbas cyclone Larry, akibatnya 2 tahun kedepan Aussie bakal ga bisa menikmati pisang ambon dan harga pisang yang ada bakal mahal sekali karena cuma dari pertanian kecil2 dan kebanyakan bukan pisang ambon tapi mirip2 pisang raja yang kulitnya tebal sekali. Yang, hilanglah pisangku...

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...