Friday, June 23, 2006

Ratih van Ngawi



(satu)
Saya belum pernah bertemu Ratih Sanggarwati. Lihat fotonya sering. Baca berita tentang dirinya beberapa kali. Pak Syahrir Wahab, bos saya dulu di tempat kerja yang lama, sekali dua bercerita juga tentang adik iparnya itu. Namun itu tak terlalu penting. Yang membuat Ratih Sang, begitu ia akrab dipanggil, menjadi penting, adalah ketokohannya. Ia peragawati senior yang kini jadi public figure. Ibu dari tiga anak ini menjadi kolomnis di beberapa media, pembicara talk show tentang banyak hal, juga punya perusahaan pelatihan model. Perjalanannya sebagai peragawati ditandai dengan aneka prestasi. Termasuk pernah menjadi Putri Remaja tahun 1980 dan None Jakarta tahun 1983.

Sudah lama Ratih Sang mencuri perhatian saya. Bukan hanya karena sederet prestasi dan ketokohannya yang membuat celutukannya didengar orang. Melainkan karena kecintaannya yang habis-habisan kepada Ngawi. Ia memang dilahirkan di kota itu, tanggal 8 Desember 1962. Ia juga dibesarkan di sana. Dan tampaknya dalam setiap kesempatan Ratih selalu berusaha 'menyebut-nyebut' Ngawi bila memungkinkan. Dan selalu bangga mengatakan dirinya berasal dari Ngawi.

Sayangnya saya juga belum pernah ke Ngawi. Sehingga saya tidak bisa menggambarkan seberapa kecil kota itu. Tetapi yang saya dengar, Ngawi itu adalah kota kabupaten yang sejuk tetapi tidak terlalu menonjol. Letaknya di ujung Barat Jawa Timur, di sebelah Utara Gunung Lawu dan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah.

Almarhum Umar Kayam, budayawan yang juga kelahiran Ngawi, punya lelucon yang elegan untuk menggambarkan betapa kecilnya kota Ngawi. Sewaktu masih remaja, ia masih ingat, tiap menjelang subuh para pensiunan di kota itu ramai berolah-raga di alun-alun. Dan bila mereka batuk-batuk pada dini hari yang masih sunyi, menurut Kayam, seantero kota bisa mendengarkannya. Begitulah Kayam, idola saya dalam gaya menulis dan mencintai budaya nenek moyangnya, menggambarkan bagaimana mungilnya kota Ngawi.

Dan, Ratih benar-benar jatuh cinta pada kota Ngawi yang kecil itu, yang berada di wilayah perbatasan dua propinsi yang high profile. Kecintaan yang sangat jelas, tidak dibuat-buat, tapi juga tidak disembunyikan. Seperti cinta seorang anak kepada ibunya, yang membuat sang anak tak malu menciuminya setiap bertemu, memamerkan kemesraan kepada siapa pun. Dan semua orang yang melihatnya, ikut senang, ikut bahagia karena cinta yang demikian itu memang didamba siapa saja. Kita seolah diundang untuk dapat merasakan betapa manisnya rasa mencinta.

Saya tahu hal itu pertama kali kira-kira 12 tahun lalu, dari cerita seorang rekan, wartawan asal Yogya yang rupanya banyak juga mengikuti gerak-gerik Ratih. Kata sang wartawan itu, sejak remaja Ratih sudah cinta berat sama Ngawi. Bahkan ketika ia sudah sukses jadi peragawati top di Jakarta, Ratih selalu menyempatkan pulang ke Ngawi manakala ada waktu. Ratih tak pernah malu mengaku sebagai Ratih van Ngawi. Ia selalu dengan bangga bercerita tentang Ngawi. Tentang keindahan dan keagungan alun-alunnya. Ratih malah suka mengajak kawan-kawannya ikut berlibur ke Ngawi.

Dalam berbagai forum yang mendaulatnya sebagai pembawa acara mau pun pembicara, ia kerap menyelipkan Ngawi sebagai bahan perbincangan. "Kalau pulang ke Ngawi, sekarang ini saya lebih suka memilih naik kereta api. Soalnya kalau naik pesawat, ongkosnya sudah sangat berat. Bayangkan, saya harus membawa dua orang anak, dua baby sitter, lalu saya dan suami. Sudah berapa itu kalau saya harus naik pesawat Jakarta-Solo," kata dia, ketika ia menjadi pembicara dalam sebuah seminar tentang prospek industri penerbangan di tahun 1999. Kala itu ongkos pesawat terbang masih tergolong mahal dan momongan Ratih baru dua orang.

Dalam hati saya berpikir. Cerdas benar Ratih ini. Sudah mendapat honor untuk jadi pembicara, masih pula bisa melontarkan 'agenda tersembunyinya' mempopulerkan kota kelahirannya.

Bersama Umar Kayam, Ratih juga sangat bersemangat menggalang orang-orang sekotanya, entah dimana pun, untuk memberi perhatian terhadap kota kelahirannya. Dulu saya masih ingat, Ratih sampai bicara berkali-kali di koran untuk menolak dibongkarnya alun-alun kota Ngawi. Di televisi, saya melihat matanya sampai berkaca-kaca ketika diwawancarai wartawan. Ratih yang matanya bulat berbinar, benar-benar mengundang simpati kala itu. Saya tidak tahu kelanjutan perjuangannya. Apakah alun-alun itu masih dilestarikan.

Dan yang paling membuat saya mengagumi dia adalah ketika ia menikah. Pesta dan resepsi pernikahannya dilaksanakan di kota kelahirannya yang kecil itu. Dan ia memang dengan sangat-sangat sengaja mengambil keputusan itu. Katanya, sebagai ucapan terimakasihnya kepada Ngawi yang dicintainya. Konon kota kecil itu mendadak sontak jadi macet total, dipenuhi oleh pembesar dan selebriti dari Jakarta. Betapa tidak. Ratih Sang yang peragawati top, adalah juga wanita yang punya hubungan luas di Jakarta. Tak kurang dari beberapa gubernur datang menghadiri pestanya itu. Juga Menteri (kala itu) sekretaris negara Moerdiono. Juga kawan-kawan peragawatinya. Artis film. Para seniman. Dan tentu saja, Umar Kayam sahabatnya, hadir dalam pesta yang akbar, yang membuat Ngawi seakan-akan lebih kecil lagi…..



(dua)

Kampung saya, Sarimatondang, jauh lebih kecil lagi dari Ngawi. Tidak punya alun-alun. Lapangan sepak bola yang tak jauh dari rumah kami, rumputnya sering lupa dipotong. Dan kerbau-kerbau dibiarkan saja merumput dan buang hajat di sana. Kantor kepala desanya sederhana sekali. Catnya sering tak diganti-ganti selama bertahun-tahun. Tetapi herannya, saya kok begitu sayang sama itu kampung. Seperti suara yang selalu memanggil-manggil bila ada waktu melamun.

Bila lebaran tiba dan kawan-kawan sekantor riuh rendah bersiap-siap mudik entah ke Garut, ke Palembang, ke Surabaya, ke Solo dan sebagainya, saya kok ikut-ikut jadi melankolik mengingat-ingat The Beautiful Sarimatondang. Lebih parah lagi bila di bulan Desember. Melihat pohon cemara bergoyang-goyang, langsung ingat suasana Natal di Sarimatondang. Mendengar nada dering handphone Jingle bells, jingle bells, langsung terbayang Sarimatondang. Melewati Jalan Imam Bonjol sore hari dan lonceng Gereja Ayam sayup-sayup berdentang, ingat pula lah Sarimatondang itu. Lebih parah lagi bila ingat, bahwa dompet sudah kosong melompong, tak bisa pulang kampung tahun ini. Makin lekat lagi bayangan tentang Sarimatondang.

Apakah ini cinta yang berlebihan-lebihan? Sifat chauvinistic yang tak rasional? Semacam penyakit mengagumi kampung sendiri yang tak terkendali? Atau sebetulnya sebentuk rasa bersalah, karena merasa berutang dan ingin membayarnya, tapi tak mampu atau tak sempat? Atau semacam perbincangan kepada diri sendiri, semacam wanti-wanti, agar tetap ingat, tidak lupa, sehingga tidak sesat dan tahu jalan pulang?

Ada sebuah lagu yang saya baru tahu setelah saya melanjutkan SMA di Pematang Siantar, lebih kurang 20 kilometer dari kampung halaman saya. Saya lupa siapa penciptanya, apakah Ibu Sud, Pak Kasur entah siapa. Maafkan saya. Lagu itu ada dalam sebuah kaset berisi sekumpulan lagu anak-anak. Penyanyinya seorang dewasa, bernama (Kak) Yenni, dengan suaranya yang lirih, sedikit manja, tetapi lafalnya jelas dan jernih. Kaset itu setiap kira-kira jam 5 pagi, disetel oleh tante saya, yang menjadi induk semang saya selama bersekolah di kota itu. Disetel keras-keras, maksudnya untuk membangunkan saya dengan keponakan-keponakan yang masih duduk di bangku SD. Lagu yang jadi favorit saya itu salah satu baitnya berbunyi begini:

Sungguh indah kampung halamanku
Di kaki gunung yang tinggi
Dimana pun kuberada
Kampung halaman tak kan ku lupa.


Dengan mata yang sepenuhnya belum melek, dengan belek yang masih nempel di sana-sini, saya dan keponakan-keponakan biasanya langsung terbangun mendengar lagu itu. Dan makin lama, saya makin terbiasa mendengarnya. Makin menikmatinya. Makin menangkap pesannya. Dan makin tahu, memang betul bahwa kampung halaman tak kan bisa lupa.

Ratih Sang mungkin punya cara lain untuk mengingatkan anak-anaknya untuk mencintai kampung halamannya, Ngawi yang kecil tetapi ia cintai dengan sangat. Ratih Sang juga mungkin punya caranya sendiri untuk senantiasa mengingatkan orang lain bahwa ada lho, sebuah kota bernama Ngawi. Dan berbahagialah orang Ngawi yang punya peragawati top seperti Ratih Sang. Saya benar-benar iri. Seandainya Sarimatondang punya orang seperti dia. Yang bisa bicara dengan siapa saja. Yang bisa memanfaatkan kesempatan membicarakan kota kelahirannya kapan saja. Mungkin bencana matinya ribuan pohon pisang di kampung halaman saya akan segera menemukan jalan keluarnya. Setidaknya bencana itu jadi bahan omongan orang dimana-mana.

Dan jika karena ini muncul tuduhan narcist, chauvinist, kampungan, norak, yah… tidak apa-apa. Pada dasarnya, kita semua dulu lahir di kampung, bukan? Bahkan, mungkin sedang berada di dalamnya. Global Village. Kampung World Cup dan entah apa lagi…..

Ciputat, 24 Juni 2006
© eben ezer siadari

2 comments:

  1. Mas Eben
    Aku van Ngawi juga lho. Aku juga fanatik sama Ngawi. Tapi aku ndak selebriti kayak Ratih. Sama sapa saja aku suka crita tentang Ngawi. Aku trimakasih lho udah dicritai Ngawi di blog Mas ini. Ntar, kalau Mas Eben mau ke Ngawi, bilang2 saya. Tak antar....Hehehe.

    Aku juga akan crita-crita tentang Sari, eh sari apaan ya? Oh, ya, SARIMATONDANG sama kawan-kawanku.
    Senang nemu blog ini. Aku tau dari temennya Mas Eben.

    Sasa

    (Mas, aku panggil Mas yo..? Bojonya kan orang Jawa. Boleh yo.. panggil Mas?)

    ReplyDelete
  2. Ngawi...
    I love it so much.
    Lahir dan besar disana.
    Rumah Ratih Sang aku juga tau.
    Strategis bgt deh.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...