Wednesday, June 07, 2006

Sayur Matua



Jangan terburu-buru menyiapkan catatan dan menyalakan kompor. Seolah-olah saya akan mendiktekan resep masakan, dan kemudian meminta Anda mencobanya. Bukan. Sayur Matua yang ingin saya ceritakan ini samasekali tak berhubungan dengan lauk-pauk dan meja makan. Kalau pun ada, hubungannya jauuuuuuh sekali. Sejauh jarak Ciputat dan New York, yang harus dihubungkan aneka moda transportasi dan melintasi aneka zona waktu.

Sayur Matua yang saya maksud adalah Sayur Matua dari khasanah Bahasa Simalungun. Kata itu, menurut kamus, berarti lanjut usia. Panjang umur. Tetapi terjemahan semacam itu sebetulnya tidak memadai. Sebab Sayur Matua mengandung arti yang lebih dalam, yakni semacam hidup yang panjang umur penuh berkat. Karena selain tetap hidup hingga bisa memberangkatkan putra-putrinya ke jenjang rumah tangga, juga masih sempat pula menikmati direriungi cucu-cicit, lengkap dari semua putra-putrinya itu. Itu lah hidup yang Sayur Matua, panjang umur beranak-pinak hingga ke generasi ketiga.

Tidak mengherankan bila menjadi manusia yang Sayur Matua adalah cita-cita semua orang Simalungun dan mereka yang terhimpun dalam rumpun suku Batak pada umumnya. Jika, misalnya, kita sempat menghadiri pesta orang Batak, dan tiba pada acara saling memberi petuah dan ucapan-ucapan penuh berkat, sudah bisa dipastikan harapan yang tak pernah absen disampaikan adalah semoga panjang umur hingga Sayur Matua, hingga beranak bercucu.

Tiap orang Batak merindukan, seandainya bisa, ia dipanggil Tuhan dalam keadaan yang Sayur Matua itu lah. Tampaknya Sayur Matua dianggap sebagai posisi paling puncak yang bisa diraih oleh seorang manusia. Saya kira ini sangat logis. Bukankah yang kita rindukan selalu adalah bisa hidup rukun bersama keluarga? Lantas menunaikan kewajiban kita memelihara mereka hingga dewasa dan menjadi keluarga mandiri? Lalu tambah berbahagia lagi kita bila bisa memastikan bahwa anak-anak kita itu juga sudah punya keturunan, yang menjadi penerus generasi keluarga yang sudah kita bangun?

Betapa istimewanya posisi Sayur Matua dan betapa ia menjadi kerinduan setiap orang Batak, makin jelas bila kita menyimak bagaimana orang-orang 'merayakan' meninggalnya seseorang yang sudah Sayur Matua. 'Kepergiannya' tidak lagi dianggap sesuatu yang pantas ditangisi. Melainkan lebih sebagai perayaan, kemuliaan, dan rasa syukur. Oh tentu, masih boleh menangis. Masih boleh bersedih, terutama keluarga yang ditinggalkan. Tetapi aura dari perayaan itu adalah ucapan syukur kepada Tuhan, rasa terimakasih dan sekaligus juga perasaan mendapat kemuliaan karena tokoh yang 'pergi' itu berangkat dalam posisi Sayur Matua.

Itu sebabnya, untuk orang yang meninggal dalam keadaan Sayur Matua, anak-anaknya merasa wajib menyelenggarakan hajatan 'sukacita.' Kemeriahannya kerap tak kalah dengan pesta perkawinan. Sebab dalam hajatan itu akan ada jamuan akbar, musik tradisionil mau pun modern serta upacara adat yang panjang. Tidak jarang hajatan itu makan waktu dua, tiga bahkan sampai lima hari.

Siapa sih yang pantas mendapat kehormatan sebagai orang yang sudah Sayur Matua itu?

Walau pun secara umum bisa dikatakan orang yang sudah Sayur Matua adalah mereka yang sudah beranak-bercucu, tetapi pada rinciannya ternyata Sayur Matua punya syarat yang lebih saklak lagi. Menurut Mansen Purba SH dan OE Saragih dalam bukunya, Horja Sari Matua (Bina Budaya Medan, 1994) seseorang disebut meninggal dalam posisi Sayur Matua adalah bila semua putra-putrinya sudah berkeluarga dan dia sudah mendapatkan cucu baik dari putra mau pun putrinya.

Itu berarti seseorang yang sudah uzur, belum tentu dikategorikan Sayur Matua bila syarat-syarat di atas tak dipenuhinya. Misalnya, kendati seluruh putra-putrinya sudah menikah, namun bila cucu dari putra atau cucu dari putri belum ada, ia belum dapat disebut Sayur Matua. Seandainya seseorang mempunyai tiga putra dan satu putri, dan ketiga putranya sudah memberi dia cucu, namun sang putri belum memberinya cucu juga, maka ia belum dapat disebut Sayur Matua. Sebaliknya, seandainya saya yang berusia sudah hampir 40 tahun ini, misalnya, mempunyai dua putra dan dua putri, boleh disebut Sayur Matua bila saja putra dan putri saya itu sudah menikah semua setidaknya satu putra DAN satu putri telah memberi saya cucu.

Di zaman dulu, syarat Sayur Matua itu lebih ketat lagi. Seseorang baru dapat disebut Sayur Matua bila seluruh putra-putrinya sudah menikah, dan sudah mendapatkan cucu dari putra mau pun putrinya. Namun sesuai dengan perkembangan zaman, agaknya persyaratan itu disesuaikan. Seorang ayah yang mempunyai tujuh anak, misalnya, dapat dikatakan Sayur Matua walau pun masih ada diantara putra-putrinya itu yang belum menikah. Syaratnya adalah, bahwa anak yang tidak menikah itu memang sudah sepantasnya menikah dilihat dari sisi umur. Juga sudah bisa menafkahi dirinya sendiri. Tentu saja, dari anak-anaknya yang lain, si ayah sudah harus mempunyai cucu, baik dari anaknya lelaki mau pun anaknya perempuan.

Dengan kata lain, ada beberapa kata kunci agar seseorang bisa disebut Sayur Matua. Yakni: (1)mempunyai anak laki-laki dan perempuan (2) semuanya sudah menikah (3) memberinya cucu, (4) cucu dari putra dan cucu dari putri. Tapi jangan salah menafsirkannya. Bukan berarti ia harus mempunyai cucu laki-laki dan cucu perempuan, melainkan mempunyai cucu dari anaknya laki-laki dan anaknya perempuan.

Setelah menimbang-nimbang pengertian Sayur Matua itu, saya bertanya dalam hati, inikah yang disebut sebagai Sukses bagi orang Simalungun dan orang Batak pada umumnya? Apakah ini bisa dianggap sebagai puncak pencapaian seorang Simalungun? Dapatkah kita mengatakan seorang Simalungun akan otomatis mempunyai cita-cita untuk menjadi orang yang Sayur Matua dan menjadikannya cita-cita di atas semua cita-citanya?

Banyak orang mungkin sudah pernah baca bukunya Stephen Covey, buku laris berjudul Seven Habits of Highly Effective People. Buku yang banyak diacu orang dalam menetapkan cita-cita sekaligus jalan mencapainya. Saya sendiri tak membacanya serius dan tak pernah sampai tuntas memamah isinya. Satu hal yang saya ingat dari buku itu adalah frase yang kira-kira bunyinya: mulailah dari akhir. Frasa itu dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana merumuskan tujuan hidup dengan memulai membayangkan bagaimana kelak kita di akhir hayat kita. Ibarat mau membangun rumah, kita akan memulai merumuskan sketsa tentang bagaimana kelak rumah itu ketika ia sudah benar-benar jadi rumah. Ia belum jadi rumah sesungguhnya, tetapi dalam sketsa kita ia sudah tergambar.

Dalam merumuskan tujuan hidup, begitulah Covey menulis (kalau tidak salah), kita mungkin dapat memulainya dengan membayangkan bagaimana kita di akhir hidup kita. Bagaimana kita membayangkan sikap dan penghormatan orang-orang mengantarkan kita ke liang lahat. Bagaimana orang-orang membicarakan kita, setelah kita tak lagi bisa mendengarkan mereka ngerumpi tentang diri kita. Dan sambil mengingat-ingat apa yang ditulis oleh Covey itu, saya lantas teringat pada Sayur Matua itu. Barangkali Sayur Matua memang adalah gambaran ideal bagi bukan hanya orang Simalungun, tetapi semua manusia tentang akhir hidupnya. Tidak harus dan tidak selalu. Tetapi saya yakin tidak ada orang yang menolak untuk mengakhiri hidup dengan cara Sayur Matua.

Tentu menjadi manusia yang Sayur Matua adalah sebagian saja tujuan hidup kita. Boleh dikatakan ia menjadi tujuan hidup ketika membangun bahtera rumah tangga. Dalam hal lain, semisal karier, perjuangan idealisme dan lain-lain, tentu kita masing-masing juga menyimpan tujuan hidup lain.

6 Juni 2006
© Eben Ezer Siadari

Catatan:
Hari ini, 06-06-06, istri saya berulang tahun. Juga sahabat maya, namanya Vi3, yang membuat logo blog ini, menikah. Tulisan ini terinspirasi dari dua kejadian itu.

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...