Wednesday, June 14, 2006

SCTV, Tolong lah Ayah Saya.....



Di umurnya yang sekarang 69 tahun, ayah saya sebenarnya orang yang tak banyak lagi menuntut. Ia sudah cukup puas dengan apa yang ia capai. Setelah lima tahun lalu pensiun dari guru desa yang hidupnya pas-pasan, ia kini menikmati masa tuanya dengan mengirit uang pensiunnya. Dan kadang-kadang mengirimkannya kepada cucu-cucunya, termasuk putri saya.

Ibu saya, saya yakin juga mengurus ayah dengan baik. Ibu yang pensiunan guru, guru SD yang masih sering memperlakukan semua anggota keluarganya seperti murid-muridnya yang perlu diatur sampai pada hal sekecil-kecilnya. Dan tentu kerap lah ada pertengkaran-pertengkaran kecil diantara pasangan itu. Semisal karena ayah yang masih suka ngotot makan yang berlemak-lemak, padahal asam uratnya sering kambuh. Kala Ibu bertindak sebagai polisi bagi pantangan-pantangan itu, terjadilah 'perang' yang, menurut dugaan saya, selalu dimenangkan ibu saya.

Sebenarnya tak banyak kebiasaan ayah saya yang berubah setelah pensiun, kecuali ia tak mengajar lagi. Ke ladang, masih rutin ia lakukan. Menyiangi kebun kami yang hanya sepetak kecil, memetik kopi kala berbuah, menyuruh keponakan-keponakan memanjat kelapa, menutup kandang ayam pada sore hari dan kegiatan sejenisnya. Malam hari, ia habiskan waktunya dengan membaca apa yang bisa ia baca, menulis catatan hariannya, melihat tanggalan, apakah ada pesta adat kerabat dalam waktu dekat, apakah minggu ini ia bertugas di gereja, lalu sesudah itu, menonton televisi. Acara yang paling ia gemari adalah itu tuh…. Kalau ada tayangan tentang kehidupan satwa. Namun yang paling favorit baginya, tentu saja….. pertandingan SEPAK BOLA.

Dengan keadaan yang begitu, saya cukup tenteram membiarkan ayah dan ibu hanya berdua saja di kampung halaman itu, direriungi tante dan keponakan saya yang tinggal di sebelah rumah. Saya sangat yakin tidak terlalu banyak lagi tuntutannya dalam hidup, selain mendengar kabar baik dari anak-anaknya (yang harus saya akui, jarang-jarang pula menelepon) dan diberi kesehatan serta umur panjang.

Maka saya iba, ketika Minggu Malam, 11 Juni lalu, ia mengirimkan SMS ke handphone saya. Dalam Bahasa Batak, bunyi SMS itu membuat saya terenyuh. Saya ingin menolong tapi benar-benar tak berdaya.

Percakapan SMS kami itu terjemahannya kira-kira begini.

Ayah: Selamat hari Minggu. Apakah kalian sehat? Lagi ngapain? Kau nonton bola ya….

Saya: Selamat hari Minggu juga, Ayah. Kami sehat semua. Cucumu dan ibunya sudah tidur. Saya memang sedang nonton bola. Kenapa? Mau ngajak taruhan?

Ayah: Wah, enak sekali kau ya? Di sini kami tak bisa menyaksikan siaran piala dunia. Kata orang siarannya dilacak.

Saya: Dilacak? Kan antenenya sudah tinggi. Ada parabola pula. (Di kampung kami, Sarimatondang, pada umumnya antena televisi dibikin tinggi dan parabola sudah sangat umum dan bukan barang mewah). Di sini kami tak perlu pakai parabola.

Ayah: Ya, begitulah. Soalnya parabola kita abal-abalnya. (Maksudnya barangkali, parabola murahan, kuno). Yang kelihatan cuma gambar semut. Sedih kali saya rasa. Sudah berapa-berapa? (Maksudnya menanyakan skor pertandingan).

Saya: Masih 0-0.

Ayah: Tolong sms kan dulu hasil pertandingannya ya?

Saya
: Ok.

Ayah: Setiap hari ya?

Saya: Setiap hari? Untuk apa?

Ayah: Untuk saya catat saja. Biar saya tidak ketinggalan dari kalian yang di Jakarta.


Saya terenyuh mendengar itu. Apa yang bisa saya perbuat? Saya sungguh tak habis pikir. Mengapa tontonan semeriah itu, harus pakai diacak segala? Oh ya, saya memang pernah mendengar pertimbangan komersial, menyangkut hak siar, permintaan pemasang iklan dan sebagainya. Tapi membayangkan ayah saya yang termangu di depan televisi, tanpa tontotan yang selalu tak pernah ia lewatkan setiap empat tahun sekali, saya benar-benar merasa seperti anak yang berutang mahabesar kepadanya.

Jadi segar dalam ingatan saya ketika kami pertamakali mempunyai televisi. Kalau saya tak salah di awal tahun 1980. Saya masih di SMP, ketika televisi itu diantarkan oleh seorang saudara ke rumah. Sebuah televisi 17 inci, bentuknya seperti lemari kecil. Ada pintu penutupnya.

Itu adalah televisi setengah pakai, yang dijual secara kekeluargaan oleh kerabat kami itu, yang datang dari Medan. Karena aliran listrik belum ada, televisi itu dihidupkan dengan memakai aki besar, seukuran aki truk. Aki itu aki bekas juga.

Ketika piala dunia berlangsung kala itu, televisi kami benar-benar jadi hiburan yang tak ternilai harganya. Saya dan ayah menggelar tikar di depan televisi. Berjaket dan bersyal untuk menahan dingin angin Sarimatondang, kami siksa diri kami dengan duduk terkantuk-kantuk menunggu ditayangkannya pertandingan itu yang umumnya berlangsung dini hari. Beberapa orang tetangga ikut bersama kami.

Karena aki televisi itu aki bekas, maka setiap dua hari saya dan ayah harus merechargenya ke tukang aki, kira-kira satu kilo dari rumah kami. Aki itu sebenarnya harus diisi sehari-semalam. Namun kala itu, kami memaksakan, agar pada sore hari sudah bisa kami ambil, setelah diantarkan pagi harinya. Saya duduk di belakang sambil memegangi aki, ayah di depan mengemudikan motor yang kami kendarai. Begitulah setiap dua hari sekali, sebagai bagian dari ritual menonton piala dunia itu.

Sayang, dasar aki bekas yang makin lama makin soak, dayanya ternyata makin hari makin lemah. Saya sudah lupa ketika itu kesebelasan mana yang beradu, tapi ketika seru-serunya pertandingan berlangsung, saya melihat gambar di televisi makin lama makin mengecil. Bergoyang-goyang, buram dan akhirnya redup. Televisi itu padam. Ayah mencoba menghidupkannya lagi. Sebentar menyala, tampak gambar sekelebat, untuk kemudian meredup lagi dan padam pula.

Saya melihat ayah kesal, tapi benar-benar tak berdaya. Dengan muka menyesal, ia menoleh kepada saya dan kepada kawan-kawan tetangga yang ikut menonton. "Bagaimana lagi. Akinya memang sudah tak benar. Padahal tadi pagi baru diisi," kata dia.

Untunglah kami tak kehabisan akal. Tidak ada yang mengomando, satu per satu kami bangkit dan berjalan ke arah pintu. Pergi keluar dari rumah, berjalan beriringan di jalan raya. Tujuan kami sudah jelas, menuju rumah di seberang jalan yang juga punya televisi.

Ketika tiba di depan pintu, kami terhenyak karena kami tak mendegar suara apa-apa. Wah, kok tidak ada bunyi televisi ya?

Ayah tak mau kompromi. Ia mengetok pintu. Sekali. Duakali. Dan akhirnya pintu terbuka. Ibu yang punya rumah membuka pintu dan bertanya ada apa. Ayah saya dengan terbata-bata mengatakan bahwa rombongan kami ingin menonton siaran piala dunia. Ia minta tolong agar kami diizinkan karena ini adalah pertandingan penting.

Si ibu kemudian menghidupkan televisi. Di depan televisi itu, di atas tikar, saya melihat beberapa orang cucunya yang masih kecil tertidur pulas. Suami si ibu akhirnya ikut bangun menemani kami. Ia rupanya bukan penggemar sepak bola. Di ruang tamu rumah yang luas itu, teronggok padi berkarung-karung, juga kacang tanah. Keluarga itu memang saudagar hasil bumi yang berhasil.

Maka kami pun menyaksikan pertandingan itu dengan perasaan lega. Si tuan rumah akhirnya ikut asyik juga, meskipun keasyikannya mungkin lebih karena melihat orang-orang tak tahu diri seperti kami. Dan, makin lama rumah itu makin penuh karena pintunya kami biarkan terbuka. Beberapa orang malah terpaksa berdiri.

Ingat semua kenangan itu, bertambah sedih hati saya bila membayangkan betapa desperatenya ayah saya tak bisa menyaksikan pertandingan piala dunia kali ini.

Apa yang saya bisa perbuat? Apa daya saya? Membawa spanduk dan berunjuk rasa di depan kantor SCTV? Menyurati perusahaan itu? Menulis surat pembaca di koran besar di Jakarta?

Ah tidak. Apalah saya ini untuk didengar oleh perusahaan sebesar itu? Lagipula, Sarimatondang yang kecil itu, yang hanya sebesar noktah di peta, tak perlu lah masuk hitungan bagi percaturan piala dunia. Siapa pula orang penting di kampung yang kampungan itu?

Hari ini, saya kembali mengSMS ayah saya.

Saya: Bagaimana Ayah, apakah televisi kita belum bisa juga menangkap siaran piala dunia itu?

Ayah
: Belum bisa juga. Saya terpaksa pergi ke rumah tukang kantor pos (maksudnya rumah kepala kantor pos yang kira-kira 200 meter dari rumah kami).

Saya
: Lho, memang televisinya bisa menangkap siaran itu?

Ayah: Bisa, tetapi parabolanya harus ditarik-tarik pakai kawat. Salurannya saluran luar negeri. Pakai Bahasa Inggris. Bukan dari siaran Indonesia.

Syukurlah. Ayah saya ternyata samasekali tak kehilangan momen penting itu. Tapi saya tetap belum bisa terima, mengapa saya yang di Jakarta, harus lebih beruntung dari ayah saya di kampung halaman. Sama-sama orang Indonesia lho, sama-sama punya televisi, sama-sama tidak bayar kok. Kok ayah saya tidak bisa menyaksikannya, sedangkan saya bisa? Apa salah ayah saya? Apa salah kampung saya?

14 Juni 2006
© Eben Ezer Siadari

5 comments:

  1. Bukan kampung yang salah, tapi pembangunan negeri masi belum merata terus menerus. Semuanya dipusatkan di Pulau Jawa, ga heran banyak yg belum merasakan kemakmuran Indonesia dan rasa saling memiliki antar suku dan penduduk pulau satu sama lainpun ngga begitu erat.

    ReplyDelete
  2. Ini ada jawaban dari salah satu direktur TV, yang pada intinya memang bisnis aspect, jadi masih lama kayanya Sarimatondang untuk menyaksikan piala dunia dengan baik! : Mereka terpaksa harus beli decoder yg waktu itu di pasarin oleh SCTV. Memang SCTV scramble siaran bolanya, Indovision and kabelvision pun di scramble, apalagi yg pake parabola. Seharusnya kalau biaya right World Cup sdh ke tutup sama sponsor, SCTV tidak harus menutup siaran bola dunianya, tetapi gue engga jelas betul apakah akhirnya biayanya ketutup or engga. Kalau mereka claim nya sih ketutup, tapi kalau ditonton banyak juga spot promonya, jadi maybe masih kurang.

    Fyi, biayanya itu $ 11juta, itu baru rightnya, belum biaya satelit dan lain2nya, mungkin seluruhnya bisa sekitar 13-14 juta. Empat tahun yg lalu Rightnya cuma $ 5jut

    ReplyDelete
  3. Dear Lilia dan Pia,
    Thanks sudah mampir. Thanks juga atas pendapatnya. Sekarang saya cuma berharap, putaran finalnya semoga siarannya tidak diacak lagi. Minimal siaran final itu lah yang bisa ditonton orang sekampung saya tanpa perlu repot2 pergi ke rumah tetangga.

    Thanks

    ReplyDelete
  4. Anonymous11:46 PM

    salam kenal.. saya suka sekali membaca tulisannya, kebetulan hari ini saya sedang tidak mood kerja... jadi bisa mampir di blog ini lama....

    ReplyDelete
  5. Itu sih memang dah rutin kalau dah piala dunia bg, tapi aku ga tw klu pak tua kemarin ga dapat siarannya padahal aku bisa lho kemarin ngambil siarannya malahan itu jadi salah satu kegiatanku setiap hari selama piala dunia berlangsung. Memasang kawat dan melacak signal yang sudah ada tulisan berupa kode-kode siarannya, yang aku dapat dari salah seorang temanku di P. Siantar dia anak elektro jadi aku belajar dikitlah dari dia...
    Mudah-mudahan aja untuk piala dunia berikutnya ga begitu lagi...

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...