Thursday, June 15, 2006

Terimakasih Podolski



I

Jakarta, 14 Juni 2006.

Lama Ando duduk tercenung di depan televisi. Sendirian. Anak dan istrinya sudah lama tertidur. Ia duduk di sofa sambil mengarahkan pandangan ke layar kaca. Sebentar lagi Jerman dan Polandia akan berlaga. Para komentator tak berhenti-henti bicara. Tetapi pikiran Ando tak benar-benar mengarah kepada yang dilihatnya itu. Justru cerita di koran Kompas hari itu yang baru saja dibacanya menguasai pikirannya. Ando seakan melihat dirinya sendiri di cerita itu. Layaknya sebuah cermin yang lama hilang tetapi kini ia temukan lagi. Setelah sekian lama ia tak tahu bagaimana rupa dirinya, pelan-pelan ‘cermin’ itu menunjukkannya. Tetapi justru itu lah yang membuat dia gundah. ‘Apakah saya memang begini?’

Sekali lagi, Ando memelototi koran itu. Kompas, 14 Juni 2006, halaman 36. Cerita tentang Lukas Podolski, salah satu anggota kesebelasan Jerman yang akan bertanding malam itu. Turnamen piala dunia memang benar-benar bisa memunculkan cerita dari sudut pandang apa saja.

Podolski adalah pemain Jerman kelahiran Polandia. Sebagian keluarganya masih tinggal di Polandia. Dengan sesama orang Polandia, ia kerap berbicara dengan bahasa Ibunya itu. Walau Podolski warganegara Jerman, tinggal dan mencari makan di Jerman, ia ternyata mempunyai kewarganegaraan Polandia juga.

Tak mengherankan jika pertandingan malam itu terkesan istimewa bagi dia. Bukan hanya karena kedua kakinya seakan berdiri di kedua tim yang akan berlaga, tetapi juga karena latarbelakang sejarah kedua bangsa. Sebab kedua negara tak hanya berlaga di lapangan sepak bola, dulu keduanya adalah musuh bebuyutan di medan perang.

Sekali lagi Ando mengarahkan pandangan pada kalimat-kalimat Kompas mengetengahkan cerita tentang pertandingan itu.

Emosi yang membuncah dalam laga tersebut juga karena faktor sejarah yang bercampur aduk dengan banyak peristiwa tragis dalam 70 tahun terakhir. Invasi Jerman ke Polandia pada September 1939 menjadi awal pecahnya Perang Dunia II.

Pada bagian lain,

Bersama dengan ironi sejarah kedua negara, laga Jerman versus Polandia di Dortmund (malam nanti, ed) bertepatan dengan 60 tahun kedatangan pertama kereta api tahanan –semuanya berisi orang Polandia—ke kamp Auschwitz yang dibangun NAZI di Selatan Polandia.

Dan Ando masih belum bisa menghilangkan ketegangan pikirannya, ketika untuk kesekian kalinya ia membaca komentar pelatih Polandia yang menggugah emosi untuk menggambarkan pertandingan yang akan berlangsung itu.

Pertandingan melawan Jerman adalah partai hidup mati bagi kami.

Ando menghela nafas. Bagaimanakah kira-kira Podolski menghadapi pertandingan ini? Dimanakah kakinya benar-benar ia letakkan? Kemanakah hatinya ia pautkan? Apakah ke kampung halaman yang walau pun telah ia tinggalkan tetapi belum sepenuhnya jadi masa lampau baginya? Atau ke negeri yang memberinya makan dan masa depan, tetapi tak sepenuh-penuhnya bisa membuatnya melupakan yang telah lewat?

Ando menjawab sendiri dalam hati. Katanya kepada dirinya sendiri, sebagai seorang pemain profesional, tentu terlalu konyol bila Podolski tak bisa mengatasi persoalan semacam ini. . Ini adalah olah raga. Tak ada sangkut pautnya dengan politik. Lagipula, ketika sudah berada di lapangan hijau, kemana lagi pikiran diarahkan selain kepada kemenangan tim dimana kita bermain? Pastilah tidak ada waktu untuk jadi melankolik.

Tapi Ando tak puas dengan jawaban itu. Pasti ada sesuatu yang tetap mengganjal di pikiran Podolski, katanya dalam hati. Memang itu tak akan mempengaruhi hasil pertandingan. Mungkin tak akan mempengaruhi penampilannya di lapangan hijau. Tapi pastilah Podolski merasakan sesuatu yang lain dalam pertandingan ini. Sesuatu yang khusus, yang tidak semuanya bisa digambarkan dengan kata-kata. Apalagi Ando kemudian membaca kutipan komentar Podolski sendiri.

Tentu saja itu situasi yang sangat khusus dan pasti ada rasa aneh mendengar lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan bersamaan. Saya tak akan menyanyikan keduanya. Saya merasa di rumah saat berada di kedua negara.

Di dalam hatinya, Ando mengulang berkali-kali kalimat Podolski. Saya merasa di rumah saat berada di kedua negara. Saya merasa di rumah saat berada di kedua negara. Saya merasa di rumah saat berada di kedua negara .Ando berusaha menghafal kalimat ini. Kalimat yang seolah-olah nyanyian yang merdu di telinganya. Bukan hanya merdu tetapi juga dekat. Sedekat jalan hidupnya sendiri sebagai seorang pria yang dilahirkan dan dibesarkan disebuah desa bernama Sarimatondang. Nun jauh di Simalungun, Sumatera Utara.

II


Ando lahir 40 tahun lalu. Ia dilahirkan dan dibesarkan oleh sebuah keluarga dengan dua latarbelakang budaya. Ayahnya orang Toba. Ibunya orang Simalungun. Dan walau pun kedua suku itu termasuk dalam satu rumpun suku Batak, walau pun banyak sekali persamaannya dalam bahasa dan adat-istiadat, perbedaannya juga banyak. Misalnya, Bahasa Simalungun umumnya diucapkan mengalir lembut mendayu-dayu, sedangkan Bahasa Toba penuh tekanan dan lugas menyampaikan maksud. Orang Simalungun cenderung hati-hati dalam berkenalan dengan orang asing. Orang Toba agak agresif dan bahkan selalu ingin tahu.

Paling tidak demikian lah Ando seringkali mendengar ketika orang membicarakan perbedaan karakter kedua suku itu. Ia sudah mendengar hal semacam itu sejak ia masih kecil. Sejak ia sedikit-demi sedikit bertumbuh dan dengar-dengaran kala orang-orang tua di desa Sarimatondang itu berbual-bual di lepau. Di pesta adat atau dimana saja. Tetapi Ando tak pernah begitu tertarik melihat perbedaan itu. Sebab, dalam hidup yang dialaminya sehari-hari ia tak pernah benar-benar melihat perbedaan itu jadi pembeda, apalagi pemisah.

Bagi Ando, Simalungun dan Toba itu seakrab saudara kembar yang kebetulan saja berbeda kelakuan dalam beberapa hal. Wajar, bukan? Bahkan sepasang kembar identik pun, tak selalu ingin sama atau disamakan dalam segala hal. Pasti lah sesekali ada yang ingin potongan rambutnya beda dari saudara kembarnya, paling tidak sesekali.

Atau bisa juga semesra hubungan dua sahabat karib yang sudah seperjuangan selama tak terhitung waktu. Saling melengkapi, saling menyegani, saling menghormati dan saling menguatkan. Saling mentertawakan, saling membuat anekdot tentang kekonyolan masing-masing tetapi tidak sampai saling melukai, apalagi memusuhi.


Ando tahu, salah satu penyebab ia berpandangan begitu pastilah karena Sarimatondang yang jadi tanah kelahirannya itu. Sarimatondang memang mengajarinya berpandangan begitu. Di desa itu, sudah lama orang Toba dan orang Simalungun serta orang dari suku lainnya, hidup berbaur dan beranak pinak. Dan dalam pandangan Ando, hubungan antara orang Toba dan Simalungun lah yang paling dekat bahkan seolah tanpa batas. Itu sangat jelas terlihat terutama dalam hidup sehari-hari orang desa itu yang berpusat pada tiga kegiatan utama: mencari nafkah, beribadah dan menyelenggarakan hajatan-hajatan adat.

Dalam hal mencari nafkah, orang-orang Sarimatondang melakoninya dengan menjadi petani, pedagang dan pegawai negeri. Sepanjang hidup Ando, ia tak pernah melihat latarbelakang suku itu menjadi ganjalan, apalagi penghambat. Kalau Ando ingin membeli pecal, misalnya, sudah pasti lah ia akan mendatangi warung Mak Samir atau Mak Sarah yang orang Jawa. Sedangkan kalau ia beli rokok, ia tak pernah membedakan warung Sidabutar (yang orang Toba) atau warung boru Sumbayak (yang orang Simalungun). Seingat Ando, Pak Guru Tindaon (orang Toba) memperlakukannya sama baik dengan Bu Saragih (orang Simalungun) ketika di sekolah dulu.

Dalam hal beribadah, juga berlaku hal serupa. Di Sarimatondang yang sebagian besar penduduknya adalah kaum nasrani, ada dua gereja suku yang utama yakni HKBP yang merupakan gereja orang Toba, lalu GKPS yang jadi gereja orang Simalungun. Gereja lain ada juga, semisal Katolik, Advent dan Pentakosta. Pada umumnya orang Toba memang bergereja di HKBP dan orang Simalungun bergereja di GKPS. Namun pengelompokan semacam ini, bagi Ando, tak lebih daripada keragaman warna belaka yang dalam hemat dia tidak mengekang, malah membuat hidup lebih ramai.

Itu sebabnya, hal biasa saja baginya, jika Ando yang berayah Toba, bergereja di GKPS. Ayahnya hanya satu dari sekian banyak orang Toba yang bergereja di gereja orang Simalungun itu, dan Ando cukup happy melihat kenyataan itu. Bahkan nama panjang Ando, diambil dari Bahasa Simalungun yakni Andohar, yang berarti Semoga.

Begitu juga sebaliknya. Ada kerabatnya yang orang Simalungun, bermarga Purba dan beristri boru Saragih, bergereja di HKBP, gereja orang Toba. Sejak kecil, orang yang ia panggil Om Purba ini memang sudah bergereja di sana sebab ayah ibunya dulu memang bergereja di sana.

Pelajaran lain yang dipetiknya dari kenyataan hidup di Sarimatondang, yang membuat Ando tak pernah sedetik pun melihat adanya pembatas antara Toba dan Simalungun itu adalah dalam cara bagaimana muda-mudi dari kedua suku itu mencari jodoh. Berpacaran, dan tentu saja pernikahan orang Toba dan orang Simalungun sudah sangat-sangat jamak bahkan sejamak pernikahan sesama orang Toba atau sesama Simalungun sendiri. Belum pernah ia dengar ada orang Toba yang melarang anaknya jatuh cinta kepada orang Simalungun. Begitu pula sebaliknya. Dan entah karena sudah begitu biasa dan rutinnya pernikahan Toba dan Simalungun itu, dalam perkara adat yang bakal dilaksanakan pun para pemuka adat dari kedua suku lazimnya gampang saja mencapai kompromi. Apalagi diantara banyak perbedaan tata cara adat kedua suku itu, rupanya selalu ditemukan banyak persamaannya sehingga persamaan itu lah yang kerap menjadi tulang punggung berlangsungnya upacara adat pernikahan.

Latarbelakang semacam itu menjadi rujukan bagi keluarga yang melahirkan dan membesarkan Ando, sehingga menguatkannya pada pandangannya akan keeratan kedua suku itu. Ando tidak pernah melupakan cerita ayahnya, yang dilahirkan di sebuah desa di pesisir Danau Toba. Sesudah remaja, ayahnya hijrah ke desa lain, juga masih di pesisir Danau Toba. Di sana, ayahnya tumbuh menjadi remaja yang berdarah Toba tetapi bergaul dalam lingkungan Toba beratmosfir budaya campuran Toba dan Simalungun. Ayahnya bahkan sejak remaja sudah beribadah di gereja GKPS, gereja orang Simalungun. Bahkan karena aktivitasnya di gereja orang Simalungun itu lah yang membawa ayahnya berkenalan dengan ibunya, yang orang Simalungun.

Ibu dan ayahnya membesarkan Ando dalam keragaman dua budaya itu. Karena tinggal di Sarimatondang, dimana lebih banyak keluarga ibunya yang tinggal di situ, Ando menikmati kekerabatan keluarga inti yang kental dengan anasir budaya Simalungun. Setiap kali bertemu dengan orang Simalungun, ia usahakan berbahasa Simalungun. Paman-pamannya ketika ia masih kecil, mendongenginya lelucon-lelucon lucu tentang Simalungun. Ia juga sering diajak berjiarah ke makam leluhur di Tanah Simalungun, dan dari situ pula ia sedikit banyak paham kebiasaan-kebiasaan orang Simalungun. Lebih dari itu, karena Ando beribadah di gereja orang Simalungun yang berbahasa Simalungun, banyak ritual ibadah yang hanya bisa ia lafalkan dalam Bahasa Simalungun. Dalam berdoa, Ando samasekali belum pernah berani menggunakan bahasa Toba. Sebaliknya, ia tak pernah rikuh berdoa dalam Bahasa Simalungun manakala diminta.

Pada saat yang sama, Sarimatondang tanah kelahirannya itu, memperlihatkan pada Ando sisi uniknya. Walau pun Sarimatondang berada dalam wilayah Simalungun, popularitas Bahasa Toba sebagai bahasa percakapan rupanya lebih tinggi. Alih-alih Bahasa Simalungun, justru Bahasa Toba lah yang jadi alat komunikasi antarsesama penduduk, disamping Bahasa Indonesia. Bahkan orang Jawa pun yang ada di sana, bisa atau setidaknya mengerti Bahasa Toba.

Ando tak pernah ingin mengerti latarbelakang keanehan ini. Baginya, popularitas Bahasa Toba adalah keniscayaan karena perbedaan karakteristik orang-orang dari kedua suku itu. Orang Toba yang agresif, cepat akrab dengan orang asing dan sering nekad untuk berkomunikasi menggunakan satu-satunya bahasa yang ia kuasai. Sedangkan orang Simalungun yang hati-hati, bertatakrama tinggi, selalu cermat memperhitungkan semua kemungkinan, sehingga cenderung menarik diri bila menganggap tak ada perlunya berbasa-basi.

Begitulah, dalam pikiran Ando, yang membuat orang-orang di Sarimatondang yang ada di wilayah Simalungun itu, jadi lebih fasih menggunakan bahasa Toba.

Lagipula, semua ini bagi Ando jadi seperti sebuah rahmat yang tak pernah berhenti ia syukuri. Ia merasa dapat menikmati keragaman dua budaya yang membesarkannya itu. Ia bisa menggunakan kedua bahasa itu. Ia akrab dengan para kerabat baik dari jalur ayah mau pun jalur ibunya. Ia merasa tersinggung ketika kerabatnya yang Toba mentertawakan orang Simalungun. Tetapi ia juga tersinggung bila kerabatnya yang Simalungun mentertawakan orang Toba. Ando ikut tertawa ketika di lingkungan sendiri orang Simalungun mentertawakan sukunya sendiri. Ia juga turut terpingkal-pingkal manakala di lingkungan orang Toba mereka mentertawakan kekonyolan orang Toba.

Pendek kata, bagi Ando Toba dan Simalungun adalam sama-sama rumah yang pintunya selalu terbuka. Bagi Ando, keduanya sama-sama membuat rindu, sama-sama mengingatkannya akan jatidirinya. Toba dan Simalungun adalah dua nyanyian yang sama merdunya ditelinganya, tempat ia merasa selalu ingin kembali.

III


Jakarta, 14 Juni 2006.

Kata-kata Podolski itu masih terus terngiang di telinganya. Saya merasa di rumah saat berada di kedua negara. Apakah itu berarti Podolski adalah anak Jerman sekaligus anak Polandia juga? Ando memang benar-benar menganggap punya perasaan yang sama dengan Podolski. Ando yang selalu merasa di rumah saat berada di komunitas orang Toba mau pun orang Simalungun. Tetapi apakah ia dengan serta-merta bisa menjadi anak Toba dan anak Simalungun juga?

Ando sekelebat merasakan kepalanya pusing. Sebab ia segera menyadari bahwa kini ia bukan lagi di masa kanak-kanaknya, ketika semua yang manis dari keakraban Toba dan Simalungun gampang ditemukan di Sarimatondang. Oh ya, di Jakarta ini ia memang masih bertemu dengan orang-orang Toba. Ia masih bertemu dengan orang-orang Simalungun. Tetapi kini ia merasa selalu ada yang mengganjal bila membicarkan kedua suku itu. Sebab ia makin menyadari tak lagi bisa melihat hubungan kedua suku itu sebagai saudara kembar, tanpa pemisah tanpa pembeda. Sepertinya ada tirai yang berlapis-lapis, yang selintas gampang ia singkapkan, tak dinyana semakin ia ingin menyingkap lebih lebar, semakin banyak lagi tirai penghalang.

Sambil Ando merenung, menunggu siaran pertandingan Jerman-Polandia itu, tirai-tirai yang ia bayangkan itu satu demi satu terentang di hadapannya. Tirai yang ingin ia tembus tetapi tangannya tak cukup kuat menggapainya. Tirai yang datangnya dari sejarah yang rumit, yang kejam dan yang terpendam jauh di dalam lubuk-lubuk hati yang terluka. Menyebabkan hubungan Toba-Simalungun tergambar tak kalah sengit dibanding Jerman-Polandia. Setidaknya dalam sejarah.

Tirai sejarah itu, antara lain, bermula dari kedatangan para misionaris ke Simalungun. Dengan niat mengangkat kegelapan dari Tanah Simalungun dan meneranginya dengan injil. Para misionaris dari Jerman itu datang bermodal pengalaman melakukan misi yang sama di Tanah Toba, dengan anggapan Simalungun itu adalah bagian lain dari Toba. Lalu para misionaris memaksakan misinya dengan Bahasa Batak Toba, bahasa yang kala itu tidak sepopuler sekarang bahkan ada beberapa katanya yang pengertiannya bertolak belakang dengan Bahasa Simalungun.

Ando ingat pada sebuah buku yang ia baca, yang menceritakan hal itu dengan tanpa tedeng aling-aling. Bahwa, perbedaan arti kata yang sama itu dirasakan orang Simalungun sebagai tidnakan pelecehan dan penghinaan, hingga membuat orang Simalungun cenderung kurang terbuka pada pemberitaan injil. Bahkan menurut buku itu, karena kehadiran orang Toba pula lah orang Simalungun pada mulanya menolak para misionaris. Sebab, dalam kenyataan sehari-hari, orang Simalungun dari Raya sering mengalami perampokan ketika menuju Siantar. Dan yang merampok mereka adalah orang Kristen. Yakni orang Toba yang sudah jadi kristen, yang sudah berdiam di kawasan Siantar.

Ando tertegun, membayangkan isi buku (*) yang pernah dibacanya itu. Betapa pahitnya sejarah. Betapa dalamnya ia membekas. Haruskah ia menyesal telah terlanjur membaca buku ini? Mengapa ia tak mengabaikannya saja dan kembali kepada bagian-bagian yang manis yang diingatnya di Sarimatondang?

Hanya sebentar ia bisa menenangkan diri. Sebab, benak Ando kembali diisi oleh tirai-tirai yang jauh lebih kelam. Ando makin menyadari bahwa ternyata banyak orang Simalungun yang tak pernah bisa melupakan apa yang dinamakan dengan Revolusi Sosial tahun 1947. Ketika kaum bangsawan Simalungun diculik, dibunuh, rumah-rumahnya dibakar, kaum cendekiawannya dibunuh dan ditawan. Yang menyebabkan banyak orang Simalungun percaya, ini adalah pemusnahan etnik didorong oleh kepentingan ekonomi ‘saudara sebangsa’ yang sudah terlanjur mendiami Simalungun. Ando tahu bahwa dalang revolusi itu, yang kerap disebut pasukan Barisan Harimau Liar (BHL), dipimpin oleh Saragih Ras yang orang Simalungun, yang sebenarnya secara resmi hanya dikaitan dengan gerakan Komunis. Namun Ando makin lama makin menyadari, ini adalah salah satu luka yang mengganjal hubungan Toba dan Simalungun.

Makin lama Ando merenung, makin terperanjat dirinya membayangkan betapa Sarimatondang yang kecil itu, hanya potret kecil dari Simalungun yang ia kenal. Hanya sepotong kecil dari Simalungun yang manis. Ingin ia jadikan itu satu-satunya pengisi benaknya, membiarkan yang pahit dan hitam lainnya pergi begitu saja. Tetapi ia terlanjur menyadari bahwa semakin ia ingin mengenali Simalungun, tak bisa tidak, ia harus juga menelisik bagian yang pahitnya, bagian yang tidak menyenangkannya.

Di layar kaca belum juga pertandingan itu disiarkan. Ando bangkit ingin membasuh mukanya di kamar mandi. Menyegarkan diri sekaligus menyegarkan ingatannya. Adakah harapan baginya, untuk bisa seperti Podolski. Dengan enak dan menyentuh mengatakan bahwa Jerman dan Polandia adalah rumahnya?

Ketika keluar dari kamar mandi, Ando menyadari istrinya yang orang Jawa itu baru saja terbangun dan duduk di sofa di depan televisi. Putrinya yang masih balita, rupanya ikut terbangun dan bergabung pula.

“Belum main dari tadi bolanya?” Istrinya bertanya.

“Belum.” Dalam hatinya, Ando bersyukur, istrinya telah menginterupsi perenungannya yang membuatnya pusing itu.

“Kenapa kamu kelihatan suntuk? Bolanya belum main kok sudah suntuk. Kamu dukung Jerman apa Polandia? Eh, aku tahu deh. Kamu kan biasanya dukung tim underdog. Dukung Polandia, kan?”

Ando terdiam. Oh istriku, apa yang kau tahu tentang petualangan batinku yang merana ini?

“Aku dukung Podolski.” Ando kemudian menjawab.

“Negara mana tuh?”

“Negara Jerman tetapi negara Polandia juga. Dia mencintai kedua negara itu. Dan dia tidak ingin melupakan satu pun dari keduanya.”

“Maksud kamu?

“Dia itu orang Polandia, tetapi tinggal di Jerman dan jadi warganegara Jerman. Ia bermain untuk Jerman dan sudah pasti ia ingin memenangkan Jerman. Tetapi di hatinya, Polandia itu tak akan pernah ia biarkan kalah. Ngerti?”

“Oh, gitu. Kayak anak kita dong. Dia orang Batak, tapi dalam hatinya, ia pasti tidak ingin melupakan ibunya yang orang Jawa bukan?

Ando kembali terdiam. Anaknya kini menggelendot di pangkuannya. Sambil begitu, Ando menyodorkan koran ke tangan istrinya, lalu menunjuk pada cerita tentang Podolski itu.

Dengan ogah-ogahan istrinya membacanya. Tetapi tak lama kemudian, sang istri malah seperti menemukan sesuatu.

Tentu saja itu situasi yang sangat khusus dan pasti ada rasa aneh mendengar lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan bersamaan. Saya tak akan menyanyikan keduanya. Saya merasa di rumah saat berada di kedua negara.

Mata istrinya tampak lengket pada tulisan itu.

“Kamu merasa nggak ada yang salah dalam ucapannya ini?” Istrinya bertanya.

“Maksud kamu? Bagian yang mana?”

“Bagian yang mengatakan ia tidak akan menyanyikan lagu kebangsaan Jerman atau Polandia.”

“Apanya yang salah?”

Istrinya terdiam sebentar. Ia mencoba memperbaiki duduknya dan lebih mendekat kepada Ando. “Maksud saya, seharusnya Podolski tak perlu enggan menyanyikan kedua lagu itu."

"Maksud kamu?"


"Kalau ia mencintai keduanya, ia harus menyanyikan kedua lagu itu saat dikumandangkan."

"Lho, nggak. Bisa bahaya dia. Coba bayangkan, ketika lagu kebangsaan Polandia dinyanyikan, ia ikut bernyanyi, apa kata kawan-kawan satu timnya nanti. Ia bisa dibilang penghianat…."

"Nah, kalau itu yang harus dia jaga, kan dia bisa bilang dia dia akan menyanyikan lagu kebangsaan dua negara itu, tetapi di dalam hati.”

“Maksud kamu?”

“Kalau saya jadi Polodski, saya kan berkata: Di dalam hati, saya akan menyanyikan kedua lagu kebangsaan itu pada saat dikumandangkan. Sebab saya merasa di rumah saat berada di kedua negara.”

Ando terdiam. Dalam hati dia mengiyakan pendapat istrinya. Perempuan memang kadang-kadang jenius dalam hal mengungkapkan perasaan. Dan Ando diam-diam berjanji ia juga akan selalu ‘menyanyikan’ Simalungun dan Toba dalam hatinya. Selalu. Dengan segala tirai yang ada. Dengan segala luka yang sudah atau belum sembuh. Lagu itu harus diperdengarkan. Lagu yang baru. Lagu yang membuat Simalungun dan Toba seindah kenangannya di kampung halaman, Sarimatondang.

Terimakasih Podolski….


15 Juni 2006
© Eben Ezer Siadari

(*)TOLE, Den Timorlanden Das Evangelium, Sejarah 100 Tahun Pekabaran Injil Simalungun, 2 September 1903-3003, Juandaha Dasuha dan Martin Sinaga, Kolportase GKPS

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...