Tuesday, July 04, 2006

Buah Tangan dari Peluncuran Buku Ortu Kenapa, Sih?

Kota tua Santa Fe. Kapan ke sana lagi ya?

Sepuluh tahun lalu, oleh karena keberuntungan dan kebaikan Kedutaan Besar AS, saya sempat terdampar di Santa Fe. Ibukota negara bagian New Mexico, sebuah kota yang adem tenteram, tidak bergegas dan sibuk seperti New York atau Chicago, yang saya kunjungi beberapa hari sebelumnya. Saya hanya tiga hari di Santa Fe. Dan salah satu yang membekas dalam ingatan saya adalah pemandangan di kota tuanya. Dimana berjejer toko dan restoran beratap rendah, sangat jarang ada bangunan bertingkat. Jalan-jalan di depannya sering berkelok-kelok, toko dan restoran itu selalu tanpa pagar. Dari luar, bangunan-bangunan itu terlihat kecil, tetapi setelah masuk ke dalamnya, ia adalah ruangan yang lapang. Banyak seluk-beluknya. Dan di dalamnya, kita merasa berada di rumah, tidak seperti di dalam aula.

Kenangan di Santa Fe itu terungkit kembali ketika 1 Juli lalu saya dan keluarga bertandang ke MP Books, sebuah toko buku baru di kawasan Cipete Jakarta Selatan. Dari prapatan di Jalan Pangeran Antasari, ke toko buku itu tak lebih dari lima menit. Mendaki jalanan aspal mulus berukuran sedang, kami menikmati perjalanan dengan suasana Jakarta Selatan yang penuh sopan santun. Tak ada hingar bingar klakson walau jalanan macet. Yang ada adalah suara bising istri dan putri saya, yang sudah tidak sabar segera tiba dan kami memang sudah lama berputar-putar mencari toko buku itu.

MP Books dari luar terlihat tidak terlalu menonjol. Beratap rendah, tanpa pagar, pekarangannya sepi dan dihuni hanya satu dua kendaraan. Seperti toko-toko di Santa Fe. Kami bergegas masuk dan segera saja terasa suasana sebuah toko buku yang bukan sekadar tempat membeli buku. Seandainya punya waktu berlama-lama di situ (dan memang sebaiknya harus siap sedia untuk itu) saya yakin dua atau tiga buku bisa saya lahap di situ, tanpa usah membelinya. :-)

Tapi kami memang harus bergegas karena kami sudah terlambat. Hari itu ada acara peluncuran buku Ortu Kenapa, Sih?, buku yang diantaranya berisi dua tulisan saya tentang kenangan semasa kecil di Sarimatondang. Dijadwalkan dimulai pukul 15:00, kami tiba di sana sejam sesudahnya. Kami kemudian dipersilakan ke bagian samping. Dari dalam, melalui dinding-dinding kaca yang jernih yang membiarkan cahaya masuk, saya sudah melihat keramaian di taman samping itu. Dan kami kemudian berjalan melewati hamparan buku-buku dan pintu kaca yang teduh, ke tempat acara itu sudah berlangsung. Ada kolam renang di sebelah kanan. Di samping kolam, sudah ramai pula orang duduk-duduk. Mereka asyik mendengar para pembicara pada peluncuran buku itu.


Duduk di depan sebagai pembicara: Gaby, Rara, Iwok dan Benny

Pembicaranya adalah Rara, Gaby, Iwok, tiga orang yang ikut menyumbang tulisan pada buku itu. Lalu Mas Benny, editor buku itu sekaligus mewakili Penerbit Cinta. Dipandu oleh pembawa acara yang saya lupa namanya. Di bangku hadirin, duduk banyak orang. Dugaan saya, sebagian besar adalah anggota Blogfam, komunitas para blogger Indonesia yang bersama dengan Cinta menerbitkan buku itu.

Berfoto bareng dengan para penulis lainnya. Duh, kelihatan deh pendeknya

Tanya jawab berlangsung santai tapi serius. Mirip-mirip diskusi dengan teman kala kita di kampus dulu. Sayang, tidak pakai pengeras suara. Atau memang disengaja? Mungkin juga. Supaya lebih akrab. Dan jarak antara pembicara dengan audiens memang dibuat begitu dekat. Sayup-sayup dari belakang, saya bisa mendengar materi tanya jawab itu. Misalnya, menjawab sebuah pertanyaan, Mas Benny bilang (ini saya catat benar-benar, karena ada hubungannya dengan insentif untuk menulis) bahwa walau buku nonfiksi agak jarang meledak seperti buku fiksi, namun umur buku Nonfiksi selalu lebih panjang. Atau, mungkin dengan kata lain, ia tidak cepat basi sebab selalu ada saja orang yang merasa mendapatkan manfaat (apalagi kalau manfaat itu praktis) dari sebuah buku begitu. Dan karena itu ia lama bertahan dan dicari orang.

Membubuhkan tanda tangan di sampul buku Ortu Kenapa, Sih?. Seperti petani pada tuaian terakhir panen padinya...

Peresmian peluncuran buku itu ditandai dengan penandatanganan sebuah poster sampul buku yang berukuran agak besar dan sudah dibingkai. Masing-masing penulis membubuhkan tanda tangannya di sana. Sudah ratusan atau bahkan ribuan kali saya (dan semua orang seumur saya) pernah membubuhkan tanda tangan. Entah ketika menandatangani kasbon di kantor. Menandatangani permohonan cuti. Menandatangani slip menyetor atau menarik tunai di bank. Tapi tetap saja membubuhkan tanda tangan di atas sampul buku karya sendiri, menyenangkan dan membahagiakan. Mungkin kah perasaan semacam ini yang selalu saya lihat di wajah seorang petani, ketika menebaskan sabitnya pada tuaian terakhir panen padinya? Atau wajah sumringah penarik bajaj ketika bisa mengantarkan kita ke tempat tujuan? Atau senyum simpul Pak Guru ketika terakhir kali menyalami kita selepas kenaikan kelas?



Banyak lagi yang menyenangkan di acara itu. Tentu saja yang paling saya syukuri adalah, akhirnya buku itu, telah secara resmi diluncurkan. Acara itu juga menandai telah beredarnya buku itu di toko-toko buku di seantero Indonesia. Kata Mas Benny yang jadi editor dan sudah berpengalaman menyunting buku-buku chic lit, ia cukup yakin Ortu Kenapa, Sih? mendapat sambutan hangat dari pasar. Dan ia tampaknya benar. Ketika saya ingin membeli beberapa biji buat dibagi-bagi buat Ortu dan saudara, wah, saya dikagetkan oleh jawaban penjaga toko buku itu. Katanya stoknya sudah habis. Kesal tapi senang. Berarti buku itu bakal dibaca banyak orang. Berarti Sarimatondang yang saya sebut-sebut di buku itu bakal jadi tenar……

Keesokan harinya, saya menyampaikan kesan-kesan saya ke situs www.blogfam.com, sebagai ucapan terimakasih dan juga ungkapan rasa gembira. Begini lah saya mengatakannya.

A letter from a new celebrity

Dear all,
Terimakasih banyak untuk Blogfam dan Penerbit Cinta. Untuk acara launching Ortu Kenapa, Sih? dan kopdar Blogfam yang serius tapi santai. Saya bisa ketemu sama banyak orang. Nggak ingat satu per satu. Ada Yayamz yang menyapa dengan ramah, ada nicegreen yang ceria dan jenaka, ada Andy 'Jagur' yang ganteng dan masih jomblo lho…, ada Dahlia yang sudah saya duga sejak awal 'pasti itu tuh namanya Dahlia,' ada Lili, Rara dan Nunik yang kasih 'PR' untuk tandatangani buku segitu banyak (mau diapain sih buku segitu banyak?), ada Gaby yang sudah dewasa dan nggak gemetaran lagi untuk jadi celebrity (saya bandingkan dengan saya seusia dia, disuruh ke depan kelas ngomong 1 menit, pasti sudah kena sariawan), ada Iwok yang ternyata lebih kalem di darat daripada di dunia maya, ada Mas Benny yang kayak Rano Karno, ada Asty yang kalem, ada Ryu yang kantornya bakal deket2 dengan rumah mertua, ada Sam yang nyantai dan gemulai, ada Rani "Lafrani' Taufik yang mungil dan gak habis2nya tersenyum, juga Syl dan Asty yang semuanya menyenangkan, serta lontong sayur yang menurut istri dan anak saya, ueeeenak tenan (siapa tuh yang masaknya).

Sekarang saya baru tahu, kenapa perusahaan produsen bolpoin yang mahal-mahal tetap eksis di dunia walau pun fungsi bolpoin makin lama makin surut. Ternyata para selebriti selalu membutuhkannya untuk membubuhkan tanda tangan buat fansnya…(seperti para penulis buku itu yang sibuk tandatangan dan meminta tanda tangan. Hehehe, asyik juga ternyata jadi selebriti. Serius).

Sekarang saya tahu, kenapa editor seperti Mas Benny duduknya tenang-tenang (nggak kayak wartawan yang diburu deadline). Waktu saya mau beli buku Ortu Kenapa, Sih?, di MP Books itu, pegawainya bilang stoknya sudah habis. Wah, pantas saja wajah Mas Benny sumringah. Mesti 'nodong' dia nih untuk makan2.

Sekarang saya tahu pula kenapa sore itu jalan ke MP Books macetnya gak ketulungan. Rupanya mereka mau menyerbu toko buku itu untuk beli buku kita2. (hehehe, kalau ini sih ke ge-er an).

Di atas semua itu, saya ingin mengucapkan banyak banyak banyak terimakasih. Sukses untuk Blogfam dan Cinta. Untuk Mbak sa yang jauuuuh, saya kira dia akan seneng melihat saya dan anak-anak asuhnya lainnya pecicilan di MP Books.

Tabik
Eben


Saya kira para penulis buku itu sebentar lagi harus siap-siap untuk direpotkan lagi oleh godaan untuk menulis buku berikutnya. Godaan yang saya yakin tak pernah bisa ditolak. Sebab, menyaksikan tulisan kita dibicarakan orang (baik atau buruk) ternyata sangat menyenangkan. Dan kita akhirnya disadarkan lagi bahwa memang sebaiknya lah perjalanan hidup siapa pun, dapat jadi cerita yang berguna bagi banyak orang. Semoga.

4 Juli 2006
© Eben Ezer Siadari

5 comments:

  1. Huraaaayy .. Bang Eben. Finally datang juga, padahal saya dari awal sudah mencuri2 pandang sekeliling untuk melihat satu persatu sosok calon seleb dan tidak menemukan sosok Abang. hehehe Nice to know and meet you.

    ReplyDelete
  2. Anonymous2:04 PM

    Wah Sarimatondang bakal terkenal nih..soalnya seorang selebriti baru berasal dari daerah ini..
    Salut lae...Kapan desaku Bahsidua dua kecamatan Dolok Masihol bakal terkenal ya?? Hmmm..entahlah...
    Fendi Sinaga,
    Dubai

    ReplyDelete
  3. Congrats atas peluncuran bukunya, Bang. Moga2 taon depan pas saya balik lagi bukunya masi dicetak terus, ga sempat beli sekarang ini karena jauh dari Indo. Moga2 buku2 seperti ini bisa sukses kaya Chicken Soup for the Soul.
    Soal bule aussie yang maen sepakbola, kali2 mereka ga capek2 karena udah 32 tahun lamanya mereka berusaha masuk babak penyisihan dan gagal terus, baru berhasil lagi di World Cup tahun ini. Teman2 kantor aku kecewa berat ketika aussie harus menyingkir, ada yang sempat2 berkomentar, "See you 32 years later." Hahahaha, kasian amat wajah2 mobs yang kecewa berat di depan layar2 TV gede yang dipasang di taman2 dan dekat Opera House, mereka sudah datang pagi2 buta dan melawan dinginnya winter buat menyaksikan tim kesayangannya diluar rumah lagi, tapi kalah lewat penalti. Katanya Aussie dicurangi wasit terus.

    ReplyDelete
  4. alo bang eben..aku juga hadir di launching yang seru itu..jadi gatel banget pengen bia nulis buku juga kayak temen2..ayo dong nulis lagi ditunggu karya terbarunya..yg promosiin sarimatondang lebih dalem...novel boleh tuh...

    ReplyDelete
  5. pipiet dah punya bukunya tapi belum ditanda tanganin sama para penulisnya, mau donk ditanda tanganin...........

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...