Sunday, July 30, 2006

Keajaiban dalam Sekantong Roti



Sia-sia saja saya membayangkan seperti apa rasa dan rupa roti jelai. Istri saya yang pernah kuliah tata-boga dan pernah bekerja di perusahaan bakery pun tak tahu seperti apa roti itu. Mungkin kah maksudnya adalah roti jala, sebagaimana pernah saya makan di hajatan seorang kolega yang orang Gorontalo?

Ah, sudahlah. Tak usah membayangkannya seperti apa. Yang penting adalah jumlahnya 20. Lalu bersama dengan gandum baru, roti itu dimasukkan ke dalam sebuah kantong. Lalu seseorang membawanya ke hadapan Elisa, seorang nabi di zaman Perjanjian Lama. Yang di dalam kantong itu disebut sebagai roti hulu hasil, yakni ‘oleh-oleh’ yang lazim diberikan kepada seseorang yang dianggap abdi Tuhan bila musim panen usai. Dan orang itu menganggap Elisa adalah salah satu abdiNya.

Lalu Elisa pun menerimanya dengan senang hati.

Tetapi cerita tak selesai sampai di situ. Bahkan ini baru sebuah awal. Sebab, Setelah sang pemberi pergi, Elisa kemudian memanggil salah seorang pembantu terdekatnya. Ia mengatakan agar roti itu dibagi-bagikan kepada seluruh jajaran staf dan pengikutnya. Semua harus kebagian, tak terkecuali.

Tentu saja pembantu itu kelabakan mendapatkan perintah seperti itu. Bayangkan saja. Roti itu hanya 20 buah. Bagaimana mungkin ia bisa membagi-bagikannya kepada seluruh staf Elisa yang jumlahnya 100 orang? Pembantu itu benar-benar masygul. Dan ia tak bisa menyembunyikan kemasygulannya. Makanya langsung saja ia tanyakan kepada Elisa, bosnya itu. Kira-kira dia bertanya begini: “Yang benar aja, Bos. Masa’ roti segini aja harus dibagiin kepada 100 orang? Bisa malu kita. Apa kata dunia entar?”

Tapi Elisa sang nabi tak ingin berdebat. Permintaannya memang kedengarannya tak masuk akal. Dan, tak ada penjelasan yang lebih berarti kecuali mengutip janji Yang Mengutusnya, yang pernah berkata, “Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya.” Itu pula yang dikatakannya kepada pembantunya itu.

Benar saja. Setelah 20 buah roti itu dihidangkan kepada 100 orang, semuanya kebagian. Dan roti itu masih tersisa.



***

Kisah tentang roti hulu hasil ini adalah sepotong kisah dari Perjanjian Lama. Tepatnya ada di 2 Raja-raja 43-44. Ia jadi nats khotbah Pendeta Samuel Kristiono di gereja GKI Kwitang, 30 Juli kemarin. Sehari-hari Pdt Samuel ‘berdinas’ di GKI Kelapa Cengkir, Jakarta. Tapi pagi itu, karena ada pertukaran mimbar GKI Klasis Jakarta I, ia kebagian melayani di gereja kami itu.

Dulu saya punya seorang dosen favorit. Ia mengajar Ilmu Ekonomi Industri. Ilmu ini, antara lain, menjadi basis pengambil kebijakan bagi orang-orang yang bekerja di badan-badan seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) itu. Sebab dengan mempelajari ilmu ini, kita jadi tahu bagaimana dunia korporasi merumuskan strateginya dalam memperluas pangsa pasarnya. Dan dengan begitu, kita bisa belajar, kebijakan apa yang dapat dirumuskan agar strategi korporasi itu bermanfaat optimal bagi perekonomian secara keseluruhan.

Misalnya, Pak Dosen itu mengajari kami bagaimana mengukur apa yang disebutnya konsentrasi pasar. Konsentrasi itu dapat diukur dari seberapa dominannya sebuah perusahaan di industri yang digelutinya. Dari tingkat konsentrasi itu lah kita bisa mengukur apakah pasar di industri dimaksud sudah menjurus kepada persaingan yang monopolistik atau tidak. Dan, jika persaingannya sudah monopolistik dapat dicari pula penyebabnya. Apakah posisi monopolistik yang dicapai oleh satu atau beberapa perusahaan itu diperoleh dengan cara yang wajar dan alami atau sebaliknya, yakni cara yang melawan hukum pasar, atau bahasa ‘maut’nya, distortif.

Tak usah pusing dengan penjelasan ini, sebab yang saya tahu dari ilmu ini sebetulnya hanya sepenggal itu. Yang mengesankan saya –dan itu barangkali sebabnya saya tidak pernah lupa tentang yang sepenggal itu—adalah cara dosen itu menjelaskannya. Di papan tulis ketika ia bercerita, akan terpampang aneka kurva, aneka diagram, aneka defenisi dan juga rumus-rumus matematis. Tapi kurva-kurva itu jadi begitu hidup karena contoh-contoh yang ia tunjukkan begitu dekat dalam hidup sehai-hari. Ia ‘membawa’ kami bukan ke dunia korporasi di gedung-gedung pencakar langit di negeri kapitalis, melainkan ia mengajak kami ‘melongok’ pasar tahu dan tempe sebagai bagian hilir dari perdagangan kedelai. Ia memperkenalkan kami pada industri batu bata dan genteng untuk menggambarkan bagaimana pasar menentukan harga. Contoh-contoh yang membuat kami menyadari, betapa banyak hal yang kedengarannya ‘maut’, ternyata begitu dekat dalam kehidupan kita sehari-hari.

Gaya Pdt Samuel menyampaikan khotbahnya mengingatkan saya pada dosen favorit saya dulu. Cara dia menceritakan kisah roti hulu hasil itu seolah membawa saya ke ruang kuliah ketika belajar Ilmu Ekonomi Industri di masa silam. Bedanya, jika dosen favorit saya dulu mengejawantahkan ilmu yang datangnya dari negeri modern itu ke contoh-contoh kasus di negeri yang rada ‘terbelakang’ seperti negeri kita, Pak Samuel sebaliknya. Ia justru membawa kisah roti hulu hasil dari zaman ‘kuda gigit besi’ di negeri Israel sono, ke dunia modern sekarang, di dunia dimana saat ke peturasan pun kita tak perlu memencet tombol sebab air dari kran bisa keluar sendiri saat sensor di toilet itu menangkap sinyal dari tubuh kita. Ia menghadirkan kembali kisah di zaman baheula, zaman ketika orang mandul hanya bisa diam dan pasrah, ke zaman ketika bayi tabung dan teknologi kloning bukan lagi sekadar wacana.

Dan kisah Elisa bersama roti hulu hasilnya, setidaknya di benak saya yang duduk diam dan adem di belakang kelompok paduan suara, pagi itu, benar-benar terpatri. Tak mau lekang. Saya tak bisa mengelak untuk mencoba mereka-reka, seperti apa sih hidup nabi Elisa itu? Bagaimana peranannya di tengah bangsanya?



***

Elisa sebetulnya bukan ‘nabi baru’ dalam hidup saya sekeluarga. Saya kira, begitu juga dalam hidup setiap orang yang pernah duduk di Sekolah Minggu di masa kecilnya. Elisa termasuk nabi yang populer. Salah satu yang paling banyak diingat orang tentang kisahnya adalah penyembuhannya atas penyakit panglima perang raja Aram, bernama Naaman, cukup dengan menyuruhnya mandi di Sungai Yordan.

Elisa lebih dekat lagi dalam kehidupan keluarga kami, ketika tujuh tahun lalu, putri saya lahir. Saya dan ibunya, sudah mempersiapkan nama baginya. Saya menyodorkan nama Amartya, karena kekaguman saya pada seorang ekonom kelahiran India, yang meraih hadiah nobel untuk ketekunannya mengembangkan ilmu ekonomi kesejahteraan. Istri saya setuju karena dalam Bahasa Jawa Kuno, Amartya itu ternyata punya arti yang tak kalah indah: Rezeki yang mahabesar.

Ayah saya, di ujung telepon, ketika saya minta sumbangan nama bagi cucunya, entah serius atau tidak, ingin menyumbang nama Cinta. Wah, saya ketawa terbahak-bahak ketika mendengar jawaban itu. Sebab, ayah saya yang dulu pernah jadi wartawan amatiran memang kadang-kadang rada nyentrik kalau kasih pendapat. Dan dugaan saya, ia tak begitu serius dengan pendapatnya itu. Sebab ibu saya, yang kala itu sudah berada di Jakarta bersama kami jauh sebelum sang cucu lahir, serta-merta menolak nama yang rada genit itu.

Ibu saya kemudian membuka-buka Susukkaranya, semacam buku catatan harian bagi pekerja gereja di kampung halaman saya. Setelah itu, ia juga membuka alkitab, sambil ia berbicara seolah kepada dirinya sendiri, “Siapa ya nabi yang banyak menolong orang dengan mujizatnya…..” Dan tak lama kemudian ia menyebut nama Elisa. Ya Elisa, kata dia. Itu nabi yang banyak menolong orang yang susah. Nabi yang selalu memberikan pengharapan di zaman ketika bangsaNya hidup menderita. Dan jadi lah nama putri saya, Amartya Elisa Siadari. (Sebetulnya, awalnya saya yang Batak norak ini ingin memberi putri kami itu nama Amartya Elisa Putri Hasian Siadari. Tapi orang-orang bilang kalau sudah begitu panjang, itu bukan nama, melainkan kereta api. Lagipula dengan nama sepanjang itu ia akan kesulitan bila mengisi daftar hadir manakala ujian di sekolah. “Kawan-kawannya sudah menyelesaikan dua soal, putrimu masih sibuk mengisi kolom nama,” kata si kawan. Saran yang benar, menurut saya.)

Di zamannya, seperti dapat kita baca dalam kitab Raja-raja, Elisa seolah hidup dari keajaiban demi keajaiban. Ia, misalnya, pernah menolong seorang janda yang jatuh miskin yang ditinggal mati suaminya. Sang suami adalah seorang yang taat dan merupakan karib Elisa. Tapi si janda demikian miskinnya, sampai-sampai hendak menggadaikan kedua anaknya untuk membayar utang.

Untuk membantu sang janda, Elisa bertanya apa saja yang tersisa sebagai peninggalan sang suami. Dan si janda menjawab ia hanya punya sebuah buli-buli berisi minyak. Lalu Elisa meminta janda itu meminjam sebanyak mungkin bejana yang bisa ia pinjam. Setelah itu, Elisa meminta dia mengisikan minyak dari buli-buli itu ke bejana-bejana yang ada. Ajaib, minyak yang hanya satu buli-buli itu, tak habis-habisnya hingga semua bejana yang ada itu terisi penuh. Janda itu pun menjual minyak yang berlimpah itu untuk membayar utangnya.

Kala lain Elisa juga berdoa ketika orang-orang mengeluhkan tentang tidak sehatnya air Sungai Yerikho, yang menyebabkan wanita di sana sering keguguran. Sungai itu kemudian jadi ‘sehat’ hanya dengan Elisa menaburkan garam di hulu mata airnya. Pernah pula Elisa menolong seorang perempuan daerah Sunem yang baik hati. Perempuan yang tak punya anak hingga sebegitu tua, bukan hanya mendapat berkah dengan lahirnya seorang anak laki-laki. Elisa bahkan menyembuhkan sang anak ketika sakit dan sudah hampir dekat dengan maut.

Maka ketika Pdt Samuel bercerita dengan menarik tentang Elisa dan roti hulu hasil tadi, ia sebenarnya menceritakan sebagian saja dari serangkaian keajaiban yang dihadirkan Elisa di tengah dunia. Roti hulu hasil yang hanya 20 biji dalam sebuah kantong yang tak terlalu besar, ajaibnya, dapat digunakan menjamu 100 orang dan masih bersisa pula. Sebuli-bulil minyak milik seorang janda miskin yang dikejar-keja debt kolektor, ajaibnya, bisa memenuhi puluhan bejana dan hasil penjualannya bisa melunasi utang sang janda.

Alangkah tak terduga dan tak masuk akalnya.



***

Namun, di saat termangu-mangu membayangkan nabi Elisa, pikiran saya sekelebat meragukan pikiran saya itu tentang keajaiban roti jelai itu. Kata saya dalam hati, apakah itu masih dapat disebut keajaiban di zaman sekarang? Beberapa sachet bubuk Nutri Sari sudah bisa ‘disulap’ jadi seteko besar air jeruk di zaman sekarang. Dan tak perlu seorang nabi. Anak saya yang masih kelas dua SD pun sudah dengan sigap bisa melalukannya. Bahkan sejemput bubuk Energen, dalam hitungan tak sampai lima menit, sudah bisa ia siapkan jadi sepiring susu sereal yang cukup kuat membekali kita bekerja hingga tengah hari.

Lalu seandainya waktu bisa saya putar ulang, kemudian cerita tentang Nutri Sari dan Energen itu saya sampaikan kepada orang-orang di zaman Elisa, bukankah mereka juga akan mengatakannya sebagai keajaiban?

Seolah keajaiban jadi relatif. Seolah keajaiban-keajaiban di zaman lampau ini bagi hidup manusia di zaman modern sekarang tidak ada lagi artinya. Ketika dunia terasa makin kecil oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, semua hal seakan bisa terjadi yang menyebabkan kita tak bisa lagi membedakan keajaiban dan hal yang biasa-biasa.

Sudah lama kita tahu orang dapat berbicara lintas benua hanya dengan sebuah benda kecil bernama telepon selular. Dan itu bukan keajaiban. Sudah jadi berita basi jika untuk mengirimkan beribu-ribu dokumen, kita bisa mengirimkannya lewat surat-e, dan sipenerima tinggal mendownloadnya saja dalam hitungan beberapa menit. Itu pun bukan keajaiban. Apalagi bila hanya membayangkan sebuli-buli minyak yang bisa berganda jadi berpuluh-puluh bejana. …



***
Yang membuat hati saya tersentuh dan merasa dicerahkan oleh khotbah Pak Samuel pagi itu adalah penjelasan bahwa keajaiban bukan pada soal besar-kecilnya sebuah kejadian. Sebab sang Khalik sumber keajaiban itu bisa bekerja dalam hal kecil mau pun besar. Seperti yang terlihat lewat buah karya Elisa itu. Ia bisa bekerja lewat hal-hal remeh seperti minyak dan roti yang bisa berlipat ganda. Tapi pada saat lain, ia juga bisa bekerja lewat perkara genting, seperti dalam soal hidup-matinya manusia.

Keajaiban menjadi sebuah keajaiban, menurut Pak Samuel, terletak pada ketaatan dan iman pada sang Empunya keajaiban. Elisa tahu dan yakin 20 roti jelai itu akan bisa mengenyangkan 100 orang, meskipun ia sendiri mungkin juga belum tahu bagaimana keajaiban itu bekerja secara teknis. Apakah 20 roti itu dibagi rata potongan demi potongan kecil kepada 100 orang sehingga ia bisa bersisa? Atau ketika Elisa berdoa, serta-merta roti itu mengembang jadi roti raksasa sehingga sisanya adalah kelimpahan? “Jangan berspekulasi,” kata Pak Samuel. Dan, memang, kata saya dalam hati, keajaiban bukan keajaiban lagi, bila ia bisa dirunut-runut dengan logika.

Menurut Pak Samuel, keajaiban itu terjadi karena Elisa tahu, sang Sumber Keajaiban itu akan bekerja karena ia percaya dan yakin sang Sumber itu pernah berjanji bahwa “Orang akan makan, bahkan ada sisanya.” Elisa percaya, Yang Mahabesar itu akan membantu dia karena yang dia lakukan itu itu bukan untuk kemuliaan dirinya melainkan demi kemaslahatan orang banyak. Demi menunjukkan kasih si Empunya Keajaiban itu.

Saya jadi ingat seorang kenalan bernama John, yang menurut saya, baru saja menjadi alat bagi sebuah keajaiban. Dulu ia berkali-kali menelepon saya ketika mendengar ada inisiatif kawan-kawan untuk menggalang dana kecil-kecilan bagi penyediaan beasiswa untuk anak-anak Simalungun, tanah kelahiran saya. “Kita mulai saja. Dari yang sederhana saja,” katanya di ujung telepon. “Tidak perlu rencana muluk-muluk, sambil jalan nanti akan ketemu jalan yang lebih besar,” kata dia lagi.

Saya tertawa belaka. Tak tergerak.

Belakangan karena tak ada yang bergerak dalam soal beasiswa itu, ide itu akhirnya lenyap begitu saja. Saya pun lama tak mendengar suara John. Tahu-tahu, saya jadi malu hati dan iri pada dia, sebab siapa sangka, dia yang pernah saya debat bertubi-tubi, belakangan saya saksikan sendiri mampu jadi bagian penting dari sebuah hajatan besar. Ia bersama banyak kawan-kawannya yang lain, mampu mengorganisir sebuah konser lagu Simalungun, di Balai Sarbini yang mentereng. Sesuatu yang tak pernah saya bayangkan, ternyata, bisa lho, muncul dari seseorang yang kita remehkan. Semacam keajaiban yang datang dari keyakinan bahwa apa pun akan ada jalannya sepanjang itu demi Dia.

Saya pun jadi ingat Jansen Sinamo, yang beberapa kali mentraktir saya minum kopi di Hotel Mandarin dan menyodori saya bukunya, 8 Etos Kerja Profesional, Navigator Anda Menuju Sukses. Saya jadi ingat satu diantara delapan etos dalam buku itu. Yakni etos yang merupakan pengakuan bahwa pekerjaan adalah rahmat dan karena itu kita harus bekerja tulus penuh syukur.

Dengan mempercayai pekerjaan adalah rahmat yang datang dari Sang Maha Pengasih, maka kita akan mengakui pula bahwa kita adalah kekasihNya yang menyebabkan kita percaya hidup kita pasti terpelihara. Sebab, tulis Jansen Sinamo, “Karena Tuhan bersifat rahman dan rahim, maka seharusnya kita bisa merasa tenang dan mantap bahwa apa pun yang kita butuhkan untuk hidup secara bermartabat akan disediakanNya.”

Tak lupa ia mengutip industriawan Jepang yang legendaris, Konosuke Matsushita, yang pernah berkata, “Kalau kita selalu baik dan menjadi rahmat bagi sesama, maka kebaikan dan rahmat akan selalu bersama kita.” Bukan kah sebetulnya itu kata lain dari pengakuan bila kita percaya kita bekerja demi kebaikan, maka kita juga percaya keajaiban akan selalu hadir bersama dan di dalam pekerjaan baik itu?

***

Kisah keajaiban dalam kisah sekantong roti itu, menurut Pak Samuel, terjadi mengiringi ucapan syukur Elisa atas berkat yang diterimanya. Elisa menerima 20 buah roti jelai dan gandum baru itu, tidak dengan bersungut-sngut, walau pun itu sangat sedikit bila dibandingkan jajaran stafnya yang demikian banyak.

Lebih hebat lagi, rasa syukur Elisa tidak hanya ditunjukkan lewat kata-kata terimakasih kepada si pemberi dan pujian kepada Sang Pemberi. Ia bersyukur dan membagi-bagikan rasa syukur itu dengan perbuatan. Dengan tindakan. Ia bersyukur dengan menjadikan dirinya bagian dari ucapan rasa syukur itu. Dalam kata-kata yang lebih populer (dan sudah cenderung jadi klise, ya?) ia menjadi berkat bagi banyak orang. Dan karena itu pula, keajaiban itu jadi ada dan terasa.

Wah, kata saya dalam hati, betapa hebatnya rasa syukur. Betapa kuatnya hati yang selalu berterimakasih atas nikmat-nikmat yang hadir dalam hidup sehari-hari. Sebab, sejauh yang saya tangkap dari khotbah Pak Samuel itu, justru dengan rasa syukur yang begitu, dengan hati yang selalu berterimakasih yang demikian lah, maka manusia bisa melihat keajaiban dalam hidup. Dengan kacamata syukur, mata kita bisa melihat bahwa keajaiban itu demikian banyak. Hadir dan ada. Setiap hari. Di sini di sekitar kita.

Saya jadi ingat-ingat pula aneka kisah, aneka peristiwa, aneka orang yang ada di sekitar saya. Bukankah mereka itu sebenarnya keajaiban-keajaiban, bila mata kita memandangnya dengan kacamata ucapan syukur?

Barangkali mereka memang hadir tidak sedramatis keajaiban-keajaiban yang pernah kita bayangkan. Tidak dengan kejadian-kejadian ekstrim, seekstrim layar kaca menggambarkannya lewat sinetron dan akting para pemainnya. Tetapi lihat lah, aneka ketidakmungkinan yang dulu menghinggapi kita, dan ketika kini telah menjadi kenyataan yang bahkan kita anggap sangat biasa, bukankah itu sebenarnya sebuah mujizat?

Saya ingat sewaktu kecil, manakala mencangkul di kebun belakang rumah. Setiap sore ada saja pesawat terbang melintas jauh di langit di atas kami. Lantas saya berkhayal yang ditimpali oleh celutukan adik-adik. Seandainya kami suatu saat bisa naik pesawat terbang, kami akan mengabari semua orang yang bisa kami kabari. Kami akan mengenakan pakaian kami yang terbaik. Kami akan mandi sebersih-bersihnya. Kami akan berfoto sepuas-puasnya. Di pintu pesawat. Di tempat duduk. Di tempat pilot dan seterusnya. Hingga kemudian kami tersadar lagi pada kenyataan. Sambil meratap dalam hati dan mentertawakan diri sendiri. Ah, itu cuma khayalan. Tak mungkinlah. Darimana uang datang untuk beli tiket semahal itu. Uang siapa yang bakal kami pakai. Wong untuk pergi ke Pematang Siantar yang jaraknya hanya 20 km, untuk makan mi yang ueeenak tenan itu saja, kami harus menunggu kenaikan kelas…

Eh, khayalan itu menjelma jadi kenyataan juga, akhirnya, beberapa puluh tahun kemudian. Tapi justru bukan dengan cara yang sedramatis yang saya bayangkan. Tidak dengan pakaian terbaik yang saya punya. Tidak sempat mengabari siapa pun. Dan juga tidak perlu dengan memakai uang siapa pun.

Sebab kesempatan terbang itu datangnya begitu saja secara tiba-tiba, ketika suatu hari di awal pekerjaan saya sebagai wartawan, saya pulang ke kantor dari liputan di lapangan pada sore hari menjelang malam. Keringat masih bercucuran, kemeja sudah kumal, bau matahari di sekujur badan, ketika si Bos memanggil ke meja kerjanya. Lalu ia muncul dengan perintah, “Besok kamu berangkat ke Gresik, naik pesawat paling pagi. Ada undangan meliput peresmian pembangkit listrik di sana. Ini tiketnya. Sudah, kamu nggak usah pulang ke rumah. Nginap di kantor saja, sebab subuh kamu sudah harus di bandara. Dari sini saja kamu berangkatnya.”

Aneh menjalari perasaan saya kala itu. Beginikah impian naik pesawat terbang pertama kali itu bakal saya jalani? Dengan baju kumal yang sudah dipakai dua hari, dengan badan yang lelah dan bau matahari, tak sempat pula mengabari orang-orang sedunia untuk mengatakan: “saya bakal terbang lho… saya bakal terbang lho….”

Tapi dengan mengikuti telaah Pak Samuel, agar melihatnya dengan kacamata ucapan syukur seperti Elisa memandang sekantong roti jelai dan gandum baru, jelas lah itu sebuah keajaiban. Keajaiban yang datangnya tak terduga dan tak seperti yang kita bayangkan. Bahkan dalam khayalan kita semasa kecil sekali pun.

Dan keajaiban demi keajaiban itu tak pernah berhenti. Bukan hanya pada saya, tetapi saya yakin pada banyak orang. Pada banyak bangsa. Bahkan juga pada alam semesta. Keajaiban yang bahkan bisa menular, seperti kejadian pada beberapa pekan lalu. Ketika untuk hajatan 1000 hari meninggalnya seorang kerabat, istri saya kebagian tugas membeli jeruk 20 kg. Lalu kami pergi ke Pasar Ciputat, dan melihat ada tulisan, Rp6000/kg, kontan saja kami menghampiri lapak jeruk seorang ibu tua. Menurut istri saya, harga segitu sudah murah dan lantas kami mengatakan kami akan membeli jeruknya 20 kg.

Tak terkira senang hati si ibu, sebab semua jualannya itu habis kami beli. Dan ia masih harus lagi meminta jeruk kawannya untuk memenuhi permintaan kami. Senyumnya sumringah. Tak henti-hentinya ia mengibas-ngibaskan uang Rp100 ribuan di tangannya ke lapaknya yang sudah kosong itu. “Penglaris… penglaris,” katanya sambil berkali-kali menyalami istri saya dan saya.

Bagi kami yang itu hanya transaksi biasa, dan bukan pula dari uang kami sendiri, ternyata bagi si ibu tua itu adalah keajaiban. Senyumnya yang indah dan penuh sukacita itu, pada gilirannya keajaiban juga bagi kami. Sebab kami berdua yang sudah kelelahan dan sempat bertengkar pula di jalan karena macet, justru bisa mengembalikan senyum di wajah kami yang dari tadi sudah cemberut luar biasa.

Betapa keajaiban bisa juga menularkan keajaiban….

Maka sepulang ibadah itu, saya berjanji dalam hati akan mencatat dan menularkan keajaiban demi keajaiban dalam hidup. Kecil mau pun besar. Remeh temeh mau pun kolosal. Diantara orang-orang yang saya kenal mau pun tidak saya kenal. Keajaiban yang hanya bisa tampak manakala memakai kacamata ucapan syukur.

Semisal, di saat bulan Agustus yang kini menjelang, kita patut memandangnya sebuah keajaiban. Sebab negeri ini pernah dianugerahi tokoh-tokoh ajaib seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir dan banyak lagi. Sebab seperti kata Ignas Kleden dalam sebuah perbincangan tempo hari, orang-orang itu, bahkan dengan ukuran orang zaman sekarang, adalah manusia langka yang tingkat kemajuan pemikirannya jaaaaauh melampaui zaman.

Jangan lupa, di Simalungun tanah kelahiran saya, juga pernah dan akan masih terus lahir keajaiban. Semisal ketika seorang seorang bernama Jaulung Wismar Saragih dilahirkan di sana. Tokoh yang perjuangan dan semangat pantang menyerahnya, ikut membuat bahasa dan budaya Simalungun itu masih tetap eksis hingga sekarang. Sehingga istri dan anak saya masih bisa bernyanyi-nyanyi kecil di pesta perkawinan manakala ada lagu Pos ni Uhurmin

Dan tentu keajaiban demi keajaiban juga telah dan akan terus lahir di rumah kami. Kadang-kadang memang keajaiban itu bisa merepotkan, semisal lewat celotehan aneh dan menggelikan dari anak-anak kita. Seperti putri saya yang mulai bandel dengan pertanyaannya suatu hari, “Pa, kalau suatu hari nanti saya bermain sinetron, Papa mau nggak jadi produsernya?” Wah, kalau soal keinginannya jadi artis sinetron sih, itu benar-benar membuat hati saya dongkol dan sepenuhnya tidak saya setujui (Sorry kepada para pemain sinetron). Tapi kata-katanya tentang ‘produser’ itu, bagi saya adalah sebuah keajaiban. Produser? Darimana dia petik kata-kata itu oleh anak sekecil itu?

Dengan kacamata syukur, saya akan memandangnya sebagai sebuah keajaiban. Dan menjawabnya, di dalam hati, saya akan berkata. Nak, sampai jungkir balik pun, saya akan bekerja dan berdoa, dan akan jadi produsermu untuk hal apa saja. Asalkan itu berguna bagi dirimu. Bagi sesamamu. Dan, bagi sang Pencipta Keajaiban itu.

Terimakasih Pak Samuel. Mungkin mulai hari ini saya akan mencoba mencatat dan menularkan keajaiban. Terlebih di tengah negeri yang penuh bencana seperti sekarang. Dan saya percaya, banyak sekali orang yang mau ikut serta.

Ciputat, 30 Juli 2006
© eben ezer siadari

3 comments:

  1. Anonymous9:41 PM

    Bang, ngomong-ngomong soal naik pesawat terbang. Sampe sekarang aku mikir itu benar2 keajaiban. Dulu, mikir bakal bisa ngelihat pesawat dari dekat pun kayak mimpi. hehehe. dan aku sampe skrang tiap kali lihat anakku, aku slalu bilang dia itu adalah keajaiban bagiku.

    Ola

    ReplyDelete
  2. Kalo dulu pas dari Solo-Jkt naek pesawat terbang sudah merupakan keajaiban sampai2 sekeluarga foto2 di depan pesawat *beneran loh Bang*, sekarang saya sering naik pesawat Sydney-Jkt sudah engga menganggap keajaiban meskipun ada games, movies dan makanannya enak. Yang saya pikir sebagai keajaiban justru adalah bisa di Indo dah bertemu keluarga lagi.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...