Friday, July 14, 2006

Kucing pun Punya Kumis kok....



Kumis, konon, adalah lambang kejantanan. Bagi yang sudah uzur, kumis juga kerap dijadikan simbol kebijakan dan kebajikan, bersama-sama dengan cambang dan brewok. Goenawan Mohammad, penyair yang wartawan itu, pernah bercerita. Sewaktu kecil, setiap kali ia membayangkan rupa Allah, pastilah dalam bentuk seorang yang sudah tua sekali. Duduk. Wajahnya berkumis dan berewokan.

Tapi kumis juga ternyata bisa bikin kesal. Alih-alih membuat orang yang berkumis itu terlihat jadi lebih jantan, atau jadi lebih bijak, kumis malah bisa jadi bahan cemooh. Seperti yang terungkap dalam sebuah lagu, dari khasanah nyanyian populer Batak Simalungun, berikut ini.


Gumis ni Huting

Ija do holong mu O ale calon simatua
In pe pori hupukkah marbuali pakon Borumu
tor marbatuk ham tulang marsuruh borumu modom
nanget-nanget pikkiri ham,asok-asok rimangi ham,
Ham pe ongga do garama

Roh ma nabayak in, manandangi borumu nabodari
Tor i pasipsip ham do, girah homa ham modom
Ai cuek do ham tulang bani ganup namasa
Lang dong ianggap ham marsalah age domma jam
dua borngin
Borumu lang mulak hu rumah

Reff:
Jolma na bujur-bujur do au roh martandang
sedo jolma najapang-japang
hutondur pe borumu in tulang, sedo nalaho
guro-guroku
Ipulos-pulos ham ma gumismu, pa biar-biarhon au
Ai anggo anggar gumis do tulang, Gumis ni huting
pe ganjang do


Lagu ini bercerita tentang seorang pemuda yang meratap karena cintanya tak sampai. Ia kesal, setiap malam ketika ia datang berkunjung dalam rangka wakuncar ke rumah sang pujaan hatinya, si Bapak calon mertua 'pasang badan' dengan wajah galak. Samasekali tak ada ramah-ramahnya. Baru beberapa menit si pemuda mencoba membuka percakapan dengan sang putri, si Bapak biasanya langsung saja batuk-batuk (pura-pura) sebagai isyarat bahwa dia 'ada' di situ. Lebih parah lagi, ia biasanya langsung menyuruh putrinya tidur. Betul-betul lah seorang bapak yang tak tahu diri. Seolah ia tak pernah remaja. Begitu lah keluhan si anak muda.

Sebenarnya ini tak terlalu jadi masalah bagi si anak muda itu jika saja sang Bapak tidak diskriminatif. Persoalannya, bila yang datang bertamu adalah pemuda lain yang kaya, si Bapak malah cuek, membiarkan saja si pemuda kaya itu merayu-rayu putrinya dengan leluasa. Bahkan si Bapak cepat-cepat tidur. Putrinya dibiarkannya berdua-duaan dengan si pemuda kaya. Sampai pukul dua malam…..

Maka di bagian reffrain lagu itu, si anak muda mencoba membuat perhitungan kepada si calon mertua.

Katanya:

"Saya ini orang baik-baik,
datang ingin bertamu kepada putri Bapak.
Saya bukan pemuda nakal
Saya datang merayu putri Bapak
Bukan ingin mempermainkannya
(Sayangnya setiap kali saya datang)
Anda memelintir-melintir kumis di hadapan saya
Menakut-nakuti saya
Padahal, kalau soal kumis yang panjang
Kucing juga punya kumis kok…."




***

Pertama kali saya mendengar lagu ini adalah dalam sebuah konser lagu-lagu Simalungun tahun lalu. Dinyanyikan seorang penyanyi yang populer di Simalungun, namanya John Eliaman Saragih, ia terdengar sentimentil tetapi sekaligus lucu (kecuali bagi mereka yang berkumis, mungkin). Ia jadi lucu karena dalam kesentimentilannya, si Pemuda masih bisa 'melawan,' masih bisa protes dan protesnya itu sangat telak. Ia menonjok langsung ke bagian yang paling dibanggakan si Bapak. Yakni kumisnya……

Para komponis selalu punya jawaban standar bila ditanya, mengapa mereka menciptakan lagu-lagu bertema cinta. Yakni karena cinta bersifat universal. Setiap orang memahaminya. Setiap orang selalu tersentuh pada kisah-kisah asmara. Dan itu sebabnya lagu-lagu bertema cinta tak berhenti lahir. Dinyanyikan. Populer. Lalu memberi inspirasi untuk kemudian mendorong orang menciptakannya lagi.

Lagu-lagu Batak yang paling populer pada umumnya juga bercerita tentang cinta. Dan walau tanpa ada survei, saya yakin sebagian terbesar dari lagu Batak yang populer adalah lagu-lagu cinta bernada sentimentil. Cerita tentang cinta yang tak sampai. Entah karena si pujaan hati menolaknya karena ia miskin. Atau mungkin karena si gadis dijodohkan kepada orang lain yang lebih hebat. Benar-benar lah seperti Rambo berhati Rinto. Tampang sih macho menjurus sangar. Tapi hati benar-benar seperti ongol-ongol….

Yang membuat lagu-lagu itu kerap mengundang lelehan air mata adalah karena para penciptanya demikian pintar dalam menggambarkan rincian cinta yang tak sampai itu. Jika lagu tentang 'kumis kucing' tadi bercerita tentang suasana menegangkan di ruang tamu, lagu-lagu lain bisa mengilik-ngilik perasaan dalam suasana yang lain. Misalnya, ada lagu lain yang menggambarkan bagaimana hancurnya perasaan seorang pemuda, yang baru tahu kalau pujaan hatinya bakal menikah dengan orang lain, saat ia mengikuti ibadah di gereja. Dan dalam ibadah itu diumumkan bahwa minggu depan, si pujaan hatinya bakal dipersunting oleh pemuda lain.

Banyak sekali lagu-lagu dari khasanah Batak yang bercerita tentang ketidakberdayaan seorang pria miskin untuk mempersunting wanita yang kaya. Saya kira ini sebetulnya bukan khas lagu-lagu Batak. Lagu-lagu dari daerah lain juga sering bernada begitu. Seolah para penciptanya adalah Marxist sejati yang sedang ingin meniupkan pertentangan kelas. Dan, anehnya, kita senang-senang saja mendengarnya. Menikmati keharu-biruan yang diciptakannya. Dan diam-diam, ketika duduk di bis kota, atau sehabis bersendawa setelah makan siang di lepau tuak, pandangan kita menerawang. Lantas ingat kampung halaman. Dan siapa tahu, mungkin ingat pula seseorang di sana yang kita tinggalkan. Kita jauhi. Entah karena alasan apa….

Salah satu favorit saya adalah sebuah lagu Batak Simalungun yang justru bukan bercerita tentang seorang pria yang patah hati karena ia ditolak bersama kemiskinannya. Lagu favorit saya itu justru meninggalkan misteri. Sebab, cinta yang digambarkan di sana, terputus oleh sebab yang tidak jelas. Putus begitu saja. Putus tanpa sebab. Putus tanpa karena.

Podas gale dokah tarpodom botou
Mardingat hata mu tarutang
Lambin lambin ma bagas borngin
Angkula loja uhur pusok o botou

Toguh hinan namin padanta botou
Mambahen hita ulang sirang
Hita sirang seng dong halani
Hita sirang seng dong halani o botou

O inang, inang, inang oi
Salah ija pangajarimu
Ajar ham ahu maruhur
Asal ulang gabe naborit, inang oi.


Lagu ini sebuah lagu lama, pertama kali saya dengar sewaktu saya masih di awal masa remaja saya. Seorang wanita yang merupakan personil dari sebuah grup vokal bernama Panastas menyanyikannya. Suara wanita itu melengking, meratap, menyuarakan kegelisahannya.

Katanya,

"Badanku selalu ingin cepat rebahan tapi susah terlelap
Bila ingat pertanyaanmu yang belum terjawab
Makin larut malam
Badanku lelah hatiku suntuk, sayang

Dulu janji kita begitu teguh
Membuat aku yakin kita tak terpisah lagi
Tapi kita berpisah tanpa sebab
Kita berpisah tanpa sebab, sayang

Ibu, ibu, ibu,
Dimanakah salah ajaranmu
Ajarkanlah kebijakan padaku
Kebijakan yang tak menyakiti…"


Saya tidak tahu kenapa lagu ini begitu membekas di hati saya. Mungkin karena saya tidak pernah percaya sebuah cinta bisa ditolak hanya karena seseorang begitu miskin. Sama halnya saya tak percaya seseorang akan otomatis bisa mendapatkan pujaan hatinya bila ia kaya. Setahu saya cinta itu penuh nuansa. Itulah yang menyebabkan Richard Gere dan Cindy Crawford yang sama-sama kaya, sama-sama ganteng/cantik, sama-sama tenar dan sama-sama orang bule, bisa putus di tengah jalan. Dan, (dugaan saya) itu pula lah yang menyebabkan Pangeran Charles bisa kesengsem sama seseorang yang dalam ukuran kencantikan jaaaaaaaaauh di bawah mantan istrinya.

Dan karena cinta yang penuh nuansa itu lah, lagu-lagu Batak, lagu-lagu Simalungun dan lagu-lagu mana saja, tak akan pernah lenyap. Ia tetap ada. Mengalun sepanjang masa. Apakah ia cengeng atau elegan. Apakah ia kampungan atau intelek. Apakah ia murahan atau gedongan. Ia selalu bisa mengilik-ilik perasaan. Mungkin sebagai cerminan ketidaksempurnaan pengetahuan kita akan cinta. Yang kalau kita percaya, datangnya dari si Pencipta. Yang konon penuh cinta.

Maka selamat mengeksplorasi lagu-lagu Batak. Lagu-lagu Simalungun. Pasti asyiik. Jika tidak tahu mencarinya dimana, coba datang ke Pasar Senen Jakarta. Setiap lima menit, pasti Anda mendengar lagu-lagu yang melolong itu diputarkan di sana. Atau pergi ke lepau orang-orang Batak. Di sana pasti ada serombongan orang memegang gitar dan bernyanyi sepanjang malam. Atau coba naik mikrolet, dan cermati wajah supirnya. Kalau wajahnya menjurus ke arah Rambo berhati Rinto, kemungkinan besar, lagu-lagu yang diputar di mobil itu adalah lagu-lagu sentimentil ala Batak.


Ciputat, 14 Juli 2006
© eben ezer siadari


Terimakasih untuk Ramaijon Purba yang mengirimi syair lengkap lagu Gumis ni huting. Tulisan ini dipersembahkan untuk mengantarkan siapa saja yang bakal ikut dalam hajatan budaya Simalungun dengan tajuk Konser Doding Haleluya di Balai Sarbini, 15 Juli 2006.

1 comment:

  1. Bang, aku yakin, Abang pasti satu diantara Rambo yang berhati Rinto itu. Ngaku deh......hihihi

    Wid

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...