Wednesday, July 19, 2006

Laporan dari Konser Inggou Rohani Simalungun

Monica, Hilda dan Christin Girsang, saya foto seusai pagelaran. Di latarbelakang ada Edo Kondologit

Tidak saya tahu darimana dan bagaimana datangnya. Tetapi perasaan itu selalu muncul. Yakni perasaan senang dan bangga manakala melihat seorang wanita bermarga Damanik mampu memukau banyak orang, entah karena ia manis, entah karena ia pandai, entah karena suaranya merdu atau entah karena tutur katanya yang menyenangkan. Dan selalu saya ingin tahu tentang wanita itu. Ingin mengajaknya bicara. Berkenalan. Siapa tahu, ia masih punya hubungan kekerabatan dengan saya. Kalau pun tidak, saya akan punya sesuatu yang dibanggakan. Sebab, jelek-jelek begini, ibu saya juga wanita bermarga (boru) Damanik lho.

Perasaan semacam itu muncul lagi kala Sabtu malam, 15 Juli lalu, saat saya duduk di balkon kiri Balai Sarbini, Jakarta. Dalam acara Konser Inggou Rohani Simalungun, yang tak lain adalah pegelaran lagu-lagu rohani (Batak) Simalungun. Saya datang agak terlambat. Dan ketika saya mulai menyandarkan diri pada kursi yang empuk, saya melihat seorang gadis remaja tengah bernyanyi di atas panggung. Suaranya lembut dan syahdu. Ketika saya tanyakan kepada salah seorang crew yang bertugas, siapa yang yang tengah di atas panggung, sayup-sayup saya mendengar jawabannya: boru Damanik.

Deg. Jantung saya berdegup tambah kencang sambil saya menyimak nyanyiannya, sebuah lagu Simalungun ciptaan St A.K. Saragih, dengan syair begini:

Mantin ni in do hape padan ni Tuhan Yesus
Pamalas uhur tene bai ganup na tinobus
Dear tumang padan nin na gabe sijolomon
Patoguh uhur do in bai na marpangarapan

(Sungguh nikmat janji Tuhan Yesus
Menyenangkan bagi semua yang sudah ditebus
Indah benar janji yang jadi pegangan
Meneguhkan hati bagi siapa pun yang berpengharapan)


Penyanyi itu kemudian saya tahu bernama Monica Damanik. Masih sangat belia. Kelas 1 SMA. Rambutnya ikal, berkulit putih bersih. Tapi itu tak penting benar. Yang saya nikmati adalah caranya menyanyikan lagu itu. Gaya seorang remaja yang begitu alami. Tak neko-neko. Tulus. Tapi tidak grogi disaksikan banyak orang. Di aula yang keren, tempat para kandidat Indonesian Idol mengadu kemampuan. Mongkok betul hati saya, menyaksikan Monica itu.

Di tengah acara ketika saya melihat ada bangku yang kosong di depan saya, saya mencoba berpindah tempat duduk. Tak dinyana, Monica bersama ibunya tak lama kemudian duduk persis di samping saya. Saya baru menyadari ternyata tadinya mereka mungkin duduk di kursi yang saya duduki.

"Anda tadi yang nyanyi ya?" Saya bertanya kepada Monica yang duduk di sebelah saya.

"Ya Bang."

"Suaranya bagus."

"Terimakasih."

Ibu Monica kemudian ikut nimbrung. Ia bertanya saya dari gereja mana. Ia juga menanyakan marga saya. Ketika saya mengatakan saya Siadari dan ibu saya boru Damanik, sang Ibu lantas setengah tertawa berujar, "Pantas saja kamu bilang suaranya bagus." Dan saya lantas menyahut pula, "Kalau saya bilang jelek, saya bisa dimarahi Damanik sedunia."

Sejurus kemudian sang Ibu yang ternyata bermarga Siregar mengatakan pula bahwa suaminya duduk di depan saya. Ia lantas menggamit Bapak di depan saya itu. Kami berkenalan. Saya jadi tahu, keluarga itu ternyata tinggal di Pulo Mas dan anggota jemaat GKPS Salemba. Mereka cukup lama tinggal di Bangka sebelum akhirnya pindah ke Jakarta, karena sang Bapak memang dipindahtugaskan.

Yang membuat saya senang, ternyata si Bapak itu berasal dari Manik Maraja. Ini adalah desa yang hanya kira-kira dua kilometer dari Sarimatondang, kampung halaman saya. Itu berarti saya dan dia sama-sama orang Sidamanik, nama kecamatan di mana dua desa kami berada. Ia sempat menyebut beberapa orang bermarga Siadari yang ia kenal dan berasal dari Sarimatondang. Semuanya saya kenal. Wah, tambah senang saya. Betapa sempitnya dunia ini. Boru Damanik yang saya kagumi itu, tak tahunya putri orang Sidamanik. Keluarga Damanik itu ternyata keluarga yang cukup beken, sebab pernah tampil sebagai pemenang di acara Keluarga Bintang Anteve. Makin mongkok hati saya.


Monica, Hilda, Christin dan Roki Damanik (kakak Monica)


dua

Tiap kali saya menghadiri hajatan adat dan budaya Batak, apakah itu hajatan budaya Batak Toba mau pun Simalungun, saya makin menyadari betapa aneka ragamnya artinya bagi saya. Ambil lah contoh ketika saya menyaksikan acara Konser lagu-lagu rohani Batak Simalungun ini. Tujuan utama saya memang ingin menyaksikan apa yang dijanjikan panitia ketika mempromosikan acara itu. Yakni menikmati lagu-lagu Simalungun yang sebagian besarnya dinyanyikan oleh artis-artis non-Simalungun, seperti Edo Kondologit, Lita Zen dan Andre Hehanusa.

Tapi saya pun sadar, bahwa dalam benak saya, yang saya inginkan lebih dari itu. Tiap kali dihadapkan pada keramaian yang diisi oleh banyak orang-orang Batak, selalu terbersit di hati saya untuk bersilaturahmi, melepas rindu atau marsombuh-sihol. Siapa tahu diantara para hadirin itu ada kerabat, teman, bekas teman atau bekas apa saja, yang sudah lama tak pernah bersua dan kini saatnya untuk melepas kangen.

Ryant dan Debora, istrinya. Tertawa bahagia sekali.

Kali ini, saya bukan hanya dipertemukan dengan kawan-kawan lama. Saya tak hanya bisa berjumpa dengan kawan diskusi di milis, Ryant Saragih dan istrinya. Saya tak hanya bisa saling sapa dengan John Haris Girsang, kawan diskusi di milis juga yang malam itu jadi ketua panitia. Saya tak hanya bisa melepas rindu dengan Pdt. S.A. Purba, pendeta resort Bekasi, yang dulunya adalah pendeta yang berkhotbah pada saat upacara persiapan pernikahan saya (martuppol) ketika di Sarimatondang dulu. Saya ternyata bahkan bisa berkenalan dengan Monica Damanik, gadis remaja yang nyanyiannya merdu, yang ternyata putri dari orang Sidamanik, kampung halaman saya itu.

Saya kira orang akan mengatakan saya sebagai orang Batak yang norak. Udik dan ketinggalan zaman. Datang ke konser untuk bernostalgia. Sebab kalau kita saksikan kelaziman konser yang biasanya merupakan ajang para kalangan crème de la crème unjuk diri, pasti lah perilakunya sangat terjaga. Fokus pada pertunjukan. Fokus pada buku panduan acara. Tidak celingak-celinguk ke sana ke mari (seperti saya yang ingin bernostalgia). Sebab menyaksikan konser adalah urusan yang serius. Sama seriusnya dengan ketaatan para konduktor dan pemain musik pada partitur di hadapannya.

Konser malam itu memang bukan konser musik klasik yang semua penontonnya harus memakai tuxedo dan dasi kupu-kupu. Ia lebih mirip seperti konser anak-anak band, yang ramai dengan aneka tingkah polah penontonnya. Panggungnya sudah menunjukkan itu. Sebagai latar belakang, terpampang tulisan besar judul konser dengan embel-embel dalam rangka pembangunan gereja GKPS Cikarang. Di depannya, para pemain musik lengkap dengan peralatannya. Sebagian berdiri sebagian duduk dengan busana yang sangat kasual. Satu-satunya yang menandakan ini adalah konser lagu Simalungun adalah gendang dan pemain serunai di pojok.

"Lalu apa penilaian kamu tentang konser itu? Bagaimana kira-kira laporanmu?"

Nah, yang ini adalah pertanyaan dari istri saya, ketika saya tiba di rumah. Ia bertanya rada menyelidik, karena sebenarnya saya hampir gagal datang ke konser itu. Alasannya, pertama, ketika kami mengantar putri kami les di kawasan BSD sore sebelum konser itu, jadwal lesnya ternyata diperpanjang untuk membayar ketidakhadiran gurunya pada minggu sebelumnya. Akibatnya, kami sampai sore berada di tempat lesnya.

Alasan kedua, kami baru saja mendapat kiriman duren yang lumayan banyak dari seseorang. Rencananya, kami akan menghabiskan duren itu di rumah malam itu, sambil tergelak-gelak menyaksikan Extravaganza di Trans TV, acara kegemaran putri dan istri saya.

Hanya telepon dari Ryant lah, kira-kira pukul 19:00, yang membuat saya terpaksa dengan sedikit membujuk meminta izin kepada istri dan putri saya agar diizinkan keluar rumah. Tak enak menolak ajakan Ryant, apalagi sebelumnya saya sudah janji akan hadir di konser. Meski pun agak berat, istri saya akhirnya mengizinkan. Untuk membujuknya, saya mengatakan kepada istri saya, ini adalah proyek balas budi. Semacam membayar utang dan investasi untuk Simalungun. Siapa tahu kelak, di masa tua saya, saya bisa pulang kampung dan buka warung kecil-kecilan di Sarimatondang. "Jadi, putri kita yang setengah Jawa setengah Batak tidak lagi seperti orang asing di sana," kata saya.

Istri saya akhirnya membolehkan. Apalagi saya mengatakan telah berjanji pada diri sendiri untuk membuat semacam laporan dari konser itu. Untuk jadi kenang-kenangan buat diri sendiri, syukur-syukur kalau ada orang lain yang mau baca. Lagi-lagi istri saya akhirnya bisa saya yakinkan. Ia bahkan pergi ke kamar, merogoh laci lemari dan membekali saya Rp150 ribu buat beli tiket. Saya tidak tahu duit dari mana itu. Biasanya tanggung bulan begini ia paling susah mengeluarkan uang, bahkan yang receh sekali pun.

"Jadi bagaimana konser itu dalam pandanganmu? Hayo cerita dong. Apakah saya merasa rugi tidak ikut, atau malah beruntung?"

Lagi-lagi istri saya bertanya. Sebab, sejak awal memang ia tidak ingin ikut, karena harga tiket yang ia nilai mahal. Maklumlah keluarga saya hanyalah seperti keluarga orang gajian dimana pun. Harus irit, apalagi ini waktunya tahun ajaran baru. Apalagi apa-apa makin mahal…….

"Kamu mau dengar yang bagusnya dulu atau yang jeleknya?" Saya bertanya kepadanya.

"Yang mana yang paling pendek, itu lah dulukan," kata dia.

"Oke. Berarti yang jeleknya dulu."

Monica, Hilda, Christin dan Roki Damanik (kakak Monica)


tiga

Yang paling mengganggu saya dalam acara pagelaran lagu-lagu rohani Simalungun itu adalah pasangan pembawa acaranya, Nico Siahaan dan mitranya, yang saya lupa namanya. Saya kira mereka terlalu santai, terlalu banyak guyon dalam membawakan acara itu. Saya tahu, itu bukan kesalahan mereka sepenuhnya. Mungkin maksudnya adalah untuk menghidupkan suasana, terutama karena yang hadir menonton acara itu adalah kaum muda. Yang diperkirakan lebih menginginkan acara yang ringan dan riang.

Tetapi walau saya menyadari hal itu, tetap saja cara mereka berbicara di panggung, yang tak ubahnya dengan cara pembawa acara kuis di televisi, membuat saya --dan mudah-mudahan hanya saya-- kurang bisa menghayati lagu-lagu yang dibawakan malam itu. Ketika mereka memperkenalkan penyanyi yang akan menyanyi dan lagu yang akan dibawakannya, misalnya, Nico dan mitranya dalam pandangan saya tidak bisa mengantarkannya secara layak. Mereka bahkan seolah tak berusaha mengajak penonton untuk menghayati tema lagu yang akan dinyanyikan itu. Mereka lebih sering bersenda gurau, berusaha mengingatkan kenangan-kenangan lucu di kampung halaman. Buat saya itu kurang pas, apalagi, misalnya, ini adalah sebuah konser lagu rohani. Dengan lagu-lagu pilihan yang temanya sangat khusyuk.

(Misalnya lagu berikut:
Tandai Ham ma au, pareksa Ham pakon uhurhu
Uji Ham au, papangkei Ham pakon dalanku
Itandai Ham do au on o Tuhan


Terjemahannya:
Kenali lah aku (Tuhan), periksa lah hatiku
Uji lah aku, teliti lah jalanku
Kau mengenalku ya Tuhan)


Mungkinkah karena mereka sendiri tidak mengerti teks lagu dalam Bahasa Simalungun itu? Dugaan saya, ya.

Yang juga agak mengganggu adalah tiadanya tema yang menjadi benang merah dari satu lagu ke lagu lainnya. Alangkah berartinya, misalnya, bila ada semacam upaya membangun suasana sehingga kita dapat meresapkan pesan dari konser ini, yang kalau saya tak salah, adalah dalam upaya mengumpulkan dana bagi pembangunan gereja Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Cikarang.

Lagu-lagu yang dibawakan oleh para penyanyi yang tampil dalam konser ini semuanya disajikan dengan aransemen pop kontemporer dengan anasir yang jazzy dalam sebagian atau keseluruhan lagu. Ini saya tahu maksudnya. Mungkin untuk memberi sentuhan unik, ketimbang warna yang lurus-lurus saja sebagaimana biasanya kita menyanyikannya di gereja. Tapi, saya yang berselera konservatif ini, sesungguhnya mengharapkan ada pula lah lagu-lagu rohani itu yang dibawakan secara by the book, disiplin pada partitur. Dan bukan hanya ketaatan pada suasana yang dibayangkan pencipta lagu itu, melainkan saya juga sesungguhnya membayangkan ada satu dua lagu yang bisa mencerminkan kekhusyukan khas Simalungun. Yang mendayu-dayu. Yang jernih dalam kesederhanaannya. Dan yang hening dalam kesyahduannya.

Untungnya, saya mendapati juga sedikit kekhusukan itu saat Andre Hehanusa menyanyikan I Lobei Mu O Jesus (Di dapan Mata Yesus) dan ketika Lita Zen menyenandungkan Sonang do Uhurhon Ibaen Jesuskin (It Is Well With My Soul). Saya melihat sebagian besar yang hadir terbawa dalam suasana yang digambarkan lagu ini. Seandainya saja Andre Hehanusa tidak bercelana jeans dengan jas kasual, seandainya saja saat itu di layar lebar tertayang gambar-gambar orang-orang desa kita di Simalungun yang khusyuk di hari Minggu, akan menambah terbangunnya suasana yang digambarkan lagu itu.

Saya kira saya juga akan terlalu berlebihan bila mengharapkan semua penyanyi non-Simalungun yang tampil dalam acara itu bisa membawakan lagu Simalungun tanpa membaca teks. Saya kira akan butuh berbulan-bulan berlatih untuk bisa sampai ke tahap itu. Tapi yang sebenarnya cukup realistis bisa terjadi dan sayangnya itu agak tak tampil malam itu, adalah penghayatan mereka pada tiap kata yang mereka ucapkan. Dalam beberapa lagu, saya kok merasa para penyanyi itu hanya bernyanyi belaka. Sama seperti saya ketika menyanyikan, misalnya, Sapu tangan bapucu ampat. Saya tahu irama lagunya. Saya bisa menyanyikannya. Tapi saya tak tahu arti kata demi kata bahkan jiwa lagu itu……

"Sudah, sudah, sudah. Kamu kok cerewet banget sama bangsa mu sendiri. Sekarang yang baiknya saja. Aku ingin dengar….." Istri saya mulai tak sabar.

Monica, Hilda, Christin dan Roki Damanik (kakak Monica)

empat

Nah, ini dia.

Saya bangga sekali bahwa akhirnya konser ini dilangsungkan di Balai Sarbini yang berada di Plaza Semanggi, tempat para kalangan atas dan selebriti Jakarta berplesiran. Salut betul saya kepada para panitia itu. Saya tahu ini akan mengundang kritik. Kenapa harus dilangsungkan di tempat mahal-mahal, dan seterusnya.

Tapi dari sudut pandang orang Simalungun yang harus terus dibangun jiwanya sehingga bangga sebagai orang Simalungun, langkah 'menembus' Balai Sarbini ini adalah tipping point yang penting betul. Dengan begitu, konser-konser budaya Simalungun di masa depan tidak lagi berangkat dari titik nol. Ini, yang di Balai Sarbini ini, sudah bakal menjadi titik ancang bagi perumusan dan perencanaan konser-konser berikutnya, yang saya yakin pasti akan ada.

Saya juga bangga dengan ide menampilkan artis-artis non-Simalungun untuk bernyanyi lagu Simalungun. Ini, bagi saya, semacam upaya membuka kotak pandora yang selama ini susah sekali memulainya dari mana. Orang Simalungun saya kira patut bangga melihat Lita Zen pada akhirnya tahu bahwa ada lho… Batak Simalungun. Bukan hanya orang Batak seperti suaminya itu. Bahwa lagu-lagunya juga oke punya lho… Dan, yang tak kalah penting, orang-orang Simalungun yang hadir pada acara itu juga, mudah-mudahan menunjukkan kualitas orang Simalungun. Yang santun. Yang gemulai. Dan yang tekun.

Seandainya saja ada waktu yang lebih panjang, ada skenario yang lebih padat dan details, saya yakin penampilan artis-artis itu bisa lebih meyakinkan lagi. Saya juga sangat-sangat yakin, mereka pasti bisa menyanyikan lagu-lagu maut, yang inggou (cengkok)nya seperti cacing kepanasan, apabila ada training yang intens. Bila perlu oleh komponis-komponis piawai dari kampung kita di Simalungun sana. Dan saya kira boleh juga Edo Kondologit dan Andre Hehanusa diplonco sekali-kali. Agar mereka taat pada keinginan lagu, bukan mereka sendiri yang mempermak lagu sehingga sesuai dengan warna suara mereka.

Paduan suara GKPS Bekasi patut lah mendapat acungan jempol. Bukan hanya dari saya, saya kira. Semua orang cukup terhanyut dengan buaian lagu yang mereka kumandangan. Ya, berkumandang. Bukan sekadar mereka nyanyikan. Megah, sebagaimana paduan suara seharusnya. Khusyuk mengajak berkontemplasi. Pada saat lain, menghentak manakala lagunya memang menghendaki demikian, seperti dalam lagu, Ham Sipagoluh Au (Engkau yang Menghidupkanku)

Ham si pagoluh au parayak Ham au on
Sai ulang Ham mandaoh. Humbagas uhur hon

(Engkau yang memberiku kehidupan. Carilah aku
Jangan Engkau menjauh. Dari hatiku ini)


Namun, yang paling menggembirakan saya adalah penampilan generasi remaja seperti Monica Damanik itu. Bersama dia, ada tiga orang penyanyi remaja lagi, yakni Christin Girsang, Hilda Girsang dan Rocky Damanik (kakak Monica). Suara mereka, kefasihan mereka melafalkan lagu-lagu Simalungun dan kebersahajaan mereka membawakannya, membuat saya terharu. Dalam hati saya berpikir, pasti anak-anak remaja Simalungun lain di Jakarta ini masih banyak yang bisa bernyanyi seperti mereka. Pasti juga para remaja itu akan bangga menyanyikannya bila sering-sering disodori panggung seperti di Balai Sarbini itu. Dan saya hampir pasti, mereka juga akan dengan senangnya menceritakannya kepada kawan-kawannya. Bahwa sukunya, Simalungun, tak kalah dengan suku-suku lain.

Di akhir pagelaran itu, semua artis menyanyikan sebuah lagu yang tidak diketahui siapa penciptanya, tetapi akan selalu saya ingat, mulai saat ini. Judulnya, Surga do Hasusuranta yang berarti, Surga lah tempat kita berasal. Selalu saya gembira membaca lagu dengan pesan semacam ini. Yang mengatakan bahwa sesungguhnya tak ada perbedaan diantara semua manusia sebab pada awalnya dan pada akhirnya kita berasal dan menuju ke tempat yang sama. Yang kekal itu. Bahwa ada orang Simalungun, ada suku lainnya, bahkan ada yang setengah Simalungun setengah Jawa, ia hanya warna-warni pelangi yang membuat hidup lebih indah.

Surga do hasusuranta in seng adong be na parngit ijin
Sai mamuji naman do ijin pinaluah ni Tuhanta in
Surga in, Surga in. Lang dong be naparngit ijin.
Surga in, Surga in. Lang dong be naparngit ijin.


Mudah-mudahan catatan saya ini ada gunanya. Bila pun tidak, ia saya hadiahkan buat putri dan istri saya di rumah. Sebagai bukti, ayah dan suami mereka tidak sia-sia pergi ke luar rumah di malam Minggu, meninggalkan mereka hanya berdua saja menyaksikan Extravaganza plus pesta makan duren.

Salut buat sobat saya John Haris Girsang dan semua panitia. Terimakasih Simalungun.

19 Juli 2006
© eben ezer siadari

2 comments:

  1. Anonymous6:54 AM

    Horas Bang

    Malas uhur mambasa tulisan-Mu on. Ibagas uhurhu pe dong do sonon : "Wah, si David Indra (voorhanger GKPS Cikarang) rasa-rasanya seorang organisator ulung. Umur masih muda, "berani" ambil inisiatif jadi voorhanger, dan melakukan lompatan cara mencari dana membangun gedung gereja, yang selama ini biasa di GKPS cara "low-profile"(mengembara dari GKPS yang satu ke GKPS yang lain) menjadi "high-profile"(sekali tepuk mungkin GKPS cikarang langsung jadi tuch). Dibutuhkan pride yang tinggi untuk melakukan hal ini. Balai Sarbini coy!

    Salut saya juga dengan segala hormat kepada JHG sebagai ketua panitianya.

    (Dian Matias Saragih)

    ReplyDelete
  2. aku baru baca tulisan mu on dahkam...
    aku masih baru di GKPS Cikarang
    dan baru 2 hari kemarin aku lihat video konser rohani ini.....
    merinding bulu kuduk ku mendengar musik dan lagunya

    untuk tahap selanjutnya kami akan membuat suatu acara yang tidak jauh beda dengan acara sebelumnya...
    kami butuh saran hun bamu....
    ase boi berjalan pakon menampilkon Simalungun yang lebih baik ke depan....

    Salam
    Bobby R Purba
    Ketua Pemuda GKPS Cikarang

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...