Friday, July 07, 2006

Saya Menang Taruhan di Piala Dunia, tapi....



Teman saya itu namanya Priambodo. Seorang wartawan. Kelahiran Semarang, ia baru saja melepas masa lajangnya. Tapi hanya seminggu saja ia antusias bicara tentang bagaimana enaknya berbulan madu. Selebihnya, ia jadi Priambodo yang saya kenal dengan akrab: penggila bola. Dan sepanjang kami bertemu di warung Bu Sri, di depan kantor, pasti pertandingan di Piala dunia lah yang jadi topik perbincangan.

Saya yang sudah agak berumur ini, makin lama makin tahu diri. Makin berkurang kesukaannya menyaksikan pertandingan Piala Dunia, apalagi bila harus berlelah-lelah menahan kantuk. Saya makin bisa memahami cara pandang orang Amerika kebanyakan, termasuk mantan presidennya, Bill Clinton. Bahwa permainan sepak bola itu alangkah absurdnya. Sebanyak 22 orang laki-laki berkejaran ke sana ke mari di lapangan yang luas. Hanya demi beberapa gol, bahkan sering tak ada gol. Lebih menyebalkan lagi bila kemenangan harus ditentukan lewat adu pinalti. Sering timbul kesal dalam hati, wah, kalau begini jadinya, lebih baik adu pinaltinya saja dijalankan sejak awal. Cukup 10 menit, kita sudah tahu siapa pemenangnya. Dan kita tidak perlu terlambat bangun, dan menguap terus di kantor.

Tapi saya tonton juga lah beberapa pertandingan itu. Secara langsung dan bukan sekadar menonton siaran ulangannya pada keesokan paginya. Pasalnya adalah tawaran Priambodo yang menggiurkan. Yakni ketika pada suatu sore saat ia hendak pulang kantor dan melintas di depan saya, dia menyapa.

"Bang, pegang siapa. Jerman atau Argentina."

Saya tertawa. Tak satu pun diantara kedua tim itu yang jadi pujaan saya. Saya menjagokan Inggris, si Three Lions, tiga singa. Bukan kah singa adalah lambang bintang saya, Leo? Lagipula, jelek-jelek begini, saya pernah tinggal di Inggris selama beberapa bulan. Jadi boleh dong, ngaku-ngaku sebagai pendukung fanatik Inggris.

"Gimana kalau kita taruhan. Aku pegang Argentina," kata Priambodo.

Entah kenapa, saya tak pernah bisa menolak tawaran Priambodo. Dulu ketika Piala Dunia dilangsungkan di Jepang, kami juga taruhan. Saya sudah lupa kesebelasan mana saja yang kami pertaruhkan. Tetapi kalau tidak salah, tak ada diantara kami yang mengambil untung tempo hari. Sebabnya, saya pernah menang, dia juga pernah menang. Impas.

"Oke," kata saya. "Saya pegang Jerman."

Di dalam hati saya mencoba mencari pembenar dalam pilihan saya. Terus terang, saya samasekali tidak menyukai kesebelasan Jerman. Kesebelasan Jerman yang mana pun. Baik yang dipimpin oleh Rumeniegge (sorry, kalau salah spelling), Mattheus mau pun Ballack kali ini. Tim Panser memang pantas jadi julukan mereka. Dan saya samasekali tak menyukai cara kerja panser yang mekanistis. Yang saya sukai adalah cara kerja para seniman. Yang penuh kejutan dan penuh keajaiban…..

Yang sedikit membuat saya bersimpati pada tim Jerman kali ini adalah karena pelatihnya, Klinsmann. Pelatih yang mukanya lucu dan nakal. Tak pernah berjas kala mendampingi pemainnya. Dan yang membuat saya banyak menaruh perhatian padanya adalah cara membagi waktunya melatih tim Jerman. Ia konon bolak-balik AS-Jerman, karena tak mau kehilangan waktu dengan keluarganya yang di California. Sebagian materi latihan bagi timnya ia kirimkan lewat internet. Edan benar pelatih yang satu ini.

Alasan lain kenapa saya serta-merta menyambut tawaran Priambodo adalah karena lawannya adalah Argentina. Argentina kan musuh Inggris? Dulu mereka pernah perang ketika merebut pulau… apa namanya? Malvinas atau apa, gitu. Dan, karena Inggris adalah pujaan saya, maka setiap lawan dari Inggris adalah lawan saya juga lah. Jadi, klop dengan tawaran Priambodo. Saya pegang Jerman.

Memang ada sedikit ngilu rasa di hati. Dulu saya mencintai kesebelasan Argentina karena ada Maradona di sana. Maradona itu pendek, sama seperti saya. Ia orang udik, urakan dan seleranya norak (lihat, dia pakai anting, pakai tatto dan pemakan segala, mulai dari junk food sampai makanan ala istana). Yang lebih mengagumkan lagi dari Maradona, tangan kirinya adalah tangan Tuhan. Bayangkan, orang sependek dia bisa memperdaya penjaga gawang seperti Peter Shilton yang jangkung. Keajaiban apa yang bisa membuatnya begitu jika bukan karena ada 'campur tangan' Tuhan, plus kelalaian wasit (yang bisa jadi, karena campur tangan Tuhan juga, bukan?)

Tapi Argentina yang dulu lain dari Argentina sekarang. Tak satu pun pemain Argentina yang saya kenal. Maradona tak lagi di sana. Dan tidak ada lagi alasan untuk menyukai tim itu, walau pun saya dengar-dengar, tim Argentina muda saat ini penuh 'seniman' dan keajaiban pula. Itu tak cukup lagi membuat hati saya untuk mendukung tim itu. Lebih baik saya mendukung Brasil, yang ada Ronaldinhonya. Pemain gondrong yang kita tidak bisa bedakan sedang bercanda atau serius.

"Taruhannya Rp50 ribu ya Bang?" kata Priambodo lagi.

"Siapa takut?" kata saya.

Deal.

Taruhan saya dan Prananda biasanya tak perlu ribet. Pokoknya, jika kesebelasan jagoan saya menang, apakah itu menang langsung dalam 90 menit, apakah 120 menit atau apakah lewat adu pinalti, ia harus membayar saya Rp50 ribu.

Dan malam pun turun ke bumi. Pertandingan Jerman melawan Argentina pun dimulai. Priambodo mengSMS saya, bahwa dia menonton pertandingan itu di Newscafe di bilangan Kemang, karena ada sebuah perusahaan yang mengundang para wartawan menonton bareng. Duh, enak betul si Priambodo itu. Sedangkan saya terpaksa menontonnya rame-rame di kantor, karena saya terkurung deadline. Saya harus duduk berdesak-desak dengan satpam, dengan office boy, plus nyamuk-nyamuk, memelototi televisi tua yang kadang-kadang monitornya jadi hijau samasekali.

Sewaktu Argentina unggul 1-0, keringat dingin membasahi tubuh saya. Kesal. Apalagi Priambodo kemudian mengSMS saya lagi. "Bang, Jerman tak ada apa-apanya. Suara pendukungnya saja yang rame."

Kurang ajar benar si Priambodo ini. Anak kemarin sore yang ketika pertama kali jadi wartawan dulu, masih saya ajari caranya membuat judul yang benar dan apa artinya 4w+1H. Kini dia sudah berani meledek saya.

Kekecewaan saya ternyata tak berlama-lama. Sebab Klose (istri saya selalu bilang, untung pemain ini bukan orang Indonesia, sebab kalau ya, pasti namanya diplesetkan jadi Kloset) kemudian menjebol gawang Argentina. Kedudukan jadi 1-1. Giliran saya mengirimkan SMS kepada Priambodo. "Pram, taruhannya dinaikkan jadi Rp100 ribu. Mau nggak?"

Tak ada balasan.

Dan akhirnya, seperti semua orang tahu, Jerman memenangkan pertandingan itu. Keesokan harinya, Priambodo diam-diam datang ke meja kerja saya. Menyelipkan Rp50 ribu an ke tangan saya. Diam-diam, sebab ia tidak mau orang sekantor tahu dia kalah taruhan dengan saya.

Dan, itu lah tampaknya akhir dari dayatarik Piala Dunia kali ini bagi saya dan Priambodo. Sebab, setelah itu, ia tidak tertarik lagi bertaruh dengan saya. Menurutnya, wasit dalam Piala Dunia kali ini sering tak terduga. Pilih kasih. Kata Priambodo, seharusnya Argentina lah yang menang ketika bertanding dengan Jerman. Banyak peluang pinalti yang seharusnya dihadiahkan kepada Argentina. Tapi dasar wasit yang sudah 'pro' pada tuan rumah, jadilah Argentina dirugikan. Itu menurut Priambodo. Dan saya dalam hati berkata, emang gue pikirin.

Saya juga terpaksa berkata emang gue pikirin untuk partai-partai selanjutnya. Sebab, Inggris ternyata tersisih setelah adu pinalti yang menyakitkan. Brasil pun takluk oleh Perancis yang sungguh di luar perkiraan saya. Sedangkan Italia, saya tak pernah tertarik melihat permainan mereka. Ganteng-ganteng sih, tapi cara bertahan mereka yang selalu berkerubung di kotak pinalti kala diserang, mengingatkan saya pada kritik para senior kami kala bermain bola di Sarimatondang tempo hari. "Jangan main ikan teri, jangan main ikan teri," kata sang senior itu selalu. Main ikan teri adalah metafora untuk permainan seperti itu: berkerubung ramai-ramai kemana pun bola pergi. Persis seperti ikan teri kala mendapatkan umpan. Apa boleh buat, manusia pun rupanya bisa seperti ikan teri. Dan, menang lagi!

Jakarta, 7 Juli 2006
© eben ezer siadari

1 comment:

  1. Semoga artikel ini bisa berguna untuk masyarakat secara keseluruhannya, juga bagi penulisnya sendiri

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...