Monday, July 10, 2006

Soulmate (6)

Ladang Tuhan, Ladang Cinta



Gereja itu sudah sangat tua. Berdinding setengah bata, setengah kayu. Menghadap ke jalan raya tanah berdebu, di sisi kiri dan kanannya menghampar sawah. Hijau oleh padi seukuran lutut. Dan, gereja itu kini kembali sepi setelah tadi riuh oleh suara. Upacara pemberkatan pernikahan baru saja usai. Pengantin dan orang-orang yang mengantarkannya masih terlihat berarak di kejauhan, menuju tempat pesta akan dilangsungkan. Di kediaman mempelai wanita, sejauh satu kilometer dari gereja ini. Suara terompet dan tambur yang berdentam, lirih terdengar mengiringi langkah-langkah yang bergegas itu.

Saya duduk di bangku kayu di sisi gereja. Tak ingin bersegera ke tempat hajatan itu. Saya tahu, pesta pernikahan di desa seperti ini, dalam tradisi Batak yang kental, pasti lah masih akan melewati banyak ritual adat sebelum akhirnya makan siang. Arloji saya menunjukkan pukul 13:17. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum tiba bersantap. Keringat membuat kemeja di dalam jas saya lengket. Desa yang terkenal sebagai lumbung padi ini memang berhawa panas.

Setelah ritual upacara pemberkatan yang panjang dan molor dari yang ditentukan itu, keteduhan pohon ini terasa menghibur. Sambil mencoba menggali lagi kesadaran yang selalu saja seperti menghilang setiap kali saya berada di tempat sepi seperti ini. Dimana saya sekarang berada?. Oh ya, di sebuah desa yang mungkin tak ada di peta, sejauh enam jam perjalanan dari Medan. Ribuan kilometer dari Jakarta tempat saya tinggal. Untuk menghadiri pernihakan putra dari kerabat dekat. Sang mempelai.

Saya mengarahkan pandangan ke menara gereja. Bangunan berbentuk kubus yang di bagian atasnya ada kubah lancip tempat salib terpancang. Menara yang dilapisi seng yang sudah tampak berkarat. Sudah berapa banyak orang menikah di gereja ini? Sudah berapa ayat dibacakan untuk tiap mempelai? Berapa nyanyian yang telah dikumandangkan?

Dalam hati saya membenarkan ocehan seorang kawan ketika dulu di Jakarta kami menghadiri resepsi pernikahan seorang kolega. Kata dia, tiap kali kita menyaksikan orang memadu janji nikah, menyaksikan prosesi pengantin entah dalam bentuk yang bagaimana, kita selalu diingatkan pada saat-saat serupa saat kita menjalaninya dulu. Diingatkan pada saat deg-degannya. Diingatkan pada rasa lega, bahwa akhirnya tambatan hati itu benar-benar telah tertambat kini. Diingatkan akan perpisahan dengan orang-orang tercinta untuk melaju menuju dunia baru dengan orang tercinta juga. Dan saya pun diingatkan pada istri dan putri semata wayang yang saya tinggalkan di Jakarta. Tak bisa ikut karena pertimbangan ekonomi. Budget rumah tangga hanya cukup untuk membeli tiket saya seorang. Sedang apa mereka sekarang?

Lalu saya mendengar suara langkah kaki mendekat. Langkah kaki seorang tua. Pak Tua itu memecahkan lamunan saya, ketika ia ikut bergabung duduk di sebelah saya. Berteduh di pohon yang rindang itu.

“Tak banyak yang berubah pada gereja ini. Desa ini pun masih seperti yang dulu,” kata si Pak Tua. Satu tangannya merogoh sakunya. Mungkin mencari geretan untuk menyalakan rokok yang terselip di bibirnya.

Saya menoleh kepadanya sambil mengangguk dan tersenyum. Membalas senyumnya yang sudah lebih dulu ia torehkan. Rambut si Pak Tua sebagian besar telah memutih. Sudah berapakah umurnya? Seusia ayah saya? Atau lebih tua lagi?

“Saya dulu menikah di gereja ini.” Ia bicara lagi, seperti pada dirinya sendiri.

“Tahun berapa itu?” Saya bertanya, mencoba mencari cara agar ada topik yang kami bicarakan.

"Kira-kira 30 tahun lalu. Anda dimana kala itu? Sudah lahir?,” kata dia.

Saya pasti masih kanak-kanak kala itu.

“Jalan di depan kita ini sudah ada. Belum selebar sekarang. Tapi, dari dulu tetap begitu. Berdebu di musim kemarau dan becek kalau musim hujan. Mengherankan, ya, kok tidak pernah ada yang tergerak memperbaikinya?” si Pak Tua masih terus bicara.

Saya tersenyum kepadanya, tak ingin ikut nimbrung pada nada kritik dalam ucapannya. Saya samasekali tak tahu latar belakang sejarah desa ini. Dan, saya merasa tidak pantas memberi penilaian. Lebih baik diam daripada nanti salah bicara.

“Seingat saya, sudah banyak yang berhasil dari sini. Sudah banyak yang jadi orang besar di Jakarta yang dulunya menikah di gereja ini. Seandainya mereka diingatkan akan jasa-jasa semacam itu, saya yakin, mereka mau dan mampu memajukan desa ini. Tapi…..yah….., saya sendiri cuma bisa bicara. Tidak bisa juga berbuat apa-apa.”

Kali ini saya melepas tawa saya, seolah menyetujui apa yang dikatakannya. Memang mudah sekali kita tersentuh oleh apa yang kita anggap memberi sumbangan pada hidup kita. Tapi yang sulit adalah mengambil tindakan untuk membalas rasa berutang itu.

Dan, sambil berpikir begitu, saya mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Pak Tua, yang kemudian saya tahu, ia bermarga Sitompul. Lengkapnya, ia bernama Banua Sitompul. Ia juga ternyata datang dari Jakarta. Sama seperti saya, ia datang sendirian, tidak dengan sang istri. “Tidak cukup uang untuk beli tiket berdua,” katanya.

Sitompul kemudian bertanya apa yang saya lakukan untuk menyambung hidup di Jakarta. Saya pun menjawab bahwa saya hanya lah seorang wartawan di sebuah majalah kecil. "Wah, aku harus hati-hati bicara kalau begitu," kata dia, dalam nada canda. Lalu ia dengan lancar bercerita bahwa dia adalah pensiunan kepala sekolah sebuah SMP swasta di Jakarta. Ia memaksakan diri menghadiri pernikahan ini karena alasan yang sangat mulia. Kakek si mempelai wanita adalah induk semang Sitompul ketika dulu ia menjadi guru di desa ini. Ayah sang mempelai adalah teman sebayanya. Dan karena itu lah Pak Tua selalu merasa berutang budi kepada si sahabat mau pun orang tuanya, yang menjadi induk semangnya itu.

“Kakek si mempelai perempuan dulu adalah guru juga. Dia ikut mendirikan gereja ini dan menjadi pengurusnya. Tiap orang yang menumpang di rumahnya dia haruskan aktif dalam kegiatan gereja. Terutama menjadi guru Sekolah Minggu,” kata si Pak Tua.

Dari kejauhan, sayup-sayup kami masih mendengar suara terompet dan dentaman drum, musik pengiring pengantin itu. Lagu-lagu riang yang dikumandangkannya terasa akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang populer untuk mengantarkan sepasang manusia yang ingin membentuk mahligai rumah tangga.

Berbahagia tiap rumah tangga
Dimana Tuhan tamu yang tetap


“Lagu itu juga yang dulu dinyanyikan muda-mudi di sini dalam upacara perkawinan saya.” Pak Tua bicara lagi. Ada nada senang dalam suaranya. Nada yang seolah tak ingin melupakan sekejap pun kenangan lama itu. “Selalu tak bisa saya lupakan saat-saat itu bila mengunjungi desa ini. Saya benar-benar merasa berutang.”

Sambil mengatakan itu, wajah si Pak Tua menatap ke menara gereja. Saya pun tidak bisa menahan diri untuk menyelidik lagi tentang cerita yang tidak ingin dilupakannya itu. Mungkin karena matahari makin terik dan pohon rindang itu seolah menahan saya untuk berlama-lama menikmati keteduhannya. Mungkin juga karena saya juga ingin mendapatkan keindahan yang sama dengan yang dirasakan si Pak Tua. Bukankah keindahan sebuah kenangan justru makin bertambah ketika ada orang yang mau berbagi mendengarkannya?.

Maka saya membetulkan duduk saya, mengisyaratkan keinginan untuk mendengar si Pak Tua lebih seksama. “Ceritakan lah kepada saya, amangboru (1), yang membuat Anda merasa berutang. Tampaknya menarik betul.”

Ia pun mulai bercerita.



***
Gadis itu berdiri di depan saya, setelah ia membukakan pintu rumahnya. Minggu pagi begitu saya memang selalu bergegas ke rumah itu yang terletak di samping gereja. Untuk mengambil aneka perlengkapan yang biasa saya dan kawan-kawan gunakan mengajar Sekolah Minggu. Semua peralatan itu selalu diambil dan disimpan kembali ke rumah Pak Pendeta. Jadi sesungguhnya tak ada yang luar biasa dari apa yang saya lakukan pagi itu.

Kecuali kehadiran gadis itu…..

Ia begitu cantik. Bersih. Matanya bulat cerdas dan bersahabat. Sejenak saya terpana sekaligus terperanjat. Biasanya bila saya mengetuk pintu rumah Pak Pendeta pada Minggu pagi seperti itu, yang membukakan pintu adalah anak lelakinya yang masih remaja. Sekali dua kali, Bu Pendeta atau Pak Pendeta lah yang muncul di depan pintu.

Sekejap kemudian baru saya tersadar. Samar-samar saya mulai bisa menebak. Yang di hadapan saya pasti lah putri sulung Pak Pendeta yang kabarnya sekolah di Jakarta. Raut wajahnya itu mulai bisa saya kenali sebab ketika sesekali saya berkunjung ke rumah Pak Pendeta, saya bisa juga melihat foto-fotonya yang banyak tergantung di dinding rumah. Yang tak saya duga adalah ia ternyata sudah sebesar dan sedewasa itu. Tidak seperti rupa di foto-fotonya yang tampak kekanak-kanakan.

“Maaf. Saya mau mengambil perlengkapan Sekolah Minggu,” suara saya terdengar terbata-bata.

“Oh. Silakan. Ambil sendiri saja. Sudah tahu kan tempatnya?” kata si Gadis. Saya melihatnya memperhatikan saya menuju rak buku tempat perlengkapan itu biasanya disimpan.

“Ito (2) pasti Bintang ya?” Saya mencoba menetralisir suasana.

“Ya, Ito. Baru tadi malam tiba di rumah ini. Oh ya, Sekolah Minggu-nya mulai jam berapa?” Ia bertanya.

“Sebentar lagi. Kira-kira pukul delapan,” kata saya. Sialan. Dia tidak menanyakan nama saya. Dia sama sekali tak ingin tahu siapa saya.

“Oh. Kalau begitu mungkin saya masih sempat bersiap-siap. Boleh kan, ikut bantu? Di Jakarta saya mengajar Sekolah Minggu juga. Sekalian saya bertemu kawan-kawan pengajar yang lain. Siapa saja guru Sekolah Minggu di sini sekarang?”

Saya kemudian menyebutkan empat kolega saya lainnya, dua pria dan dua perempuan. Ternyata keempatnya ia kenal. Katanya mereka itu semua kawan sepermainannya ketika dulu ia masih tinggal di desa ini. Berarti cuma saya orang baru baginya. Dan ia samasekali tak menanyakan nama saya.

“Baiklah kalau begitu. Saya akan menyusul, Ito,” kata dia.

Saya pun meninggalkan rumah Pak Pendeta. Di belakang saya, saya mendengar pintu ditutup.

Sesungguhnya saya memang orang baru di desa ini. Belum genap lima bulan. Setelah menyelesaikan pendidikan di sebuah Institut Keguruan di Pematang Siantar, 40 kilometer dari desa ini, saya melamar menjadi pegawai negeri. Dan beberapa bulan kemudian saya mendapat penempatan di sini.

Awalnya agak membingungkan sebab saya berharap akan ditempatkan di Pematang Siantar, kota yang sudah saya akrabi. Tetapi lulus menjadi pegawai negeri, menjadi guru, sudah merupakan impian saya sejak kecil sehingga itu bisa mengatasi kebingungan saya. Ditempatkan di mana pun saya sudah berbesar hati. Satu-satunya yang membuat saya gelisah kala itu adalah saya samasekali belum pernah dan belum kenal dengan desa ini.

Beruntung, seorang kawan memperkenalkan saya dengan adik kelas yang tiga tahun lebih muda dari saya. Pria itu sekolah di Siantar dan ia berasal dari desa ini. Ia kemudian menganjurkan agar saya tinggal menumpang di rumahnya. Ia memperkenalkan saya kepada kedua orang tuanya. Ayahnya ternyata guru SD di desa ini. Pendiri dan pengurus gereja pula.

Sejak itu lah saya tinggal di rumah itu. Ada aturan besi bagi setiap pemuda yang menumpang di rumah itu. Yakni harus aktif dalam kegiatan gereja, terutama mengajar Sekolah Minggu. Dua orang pemuda yang sebelumnya menumpang di rumah itu, diwajibkan untuk hal yang sama. Mereka juga guru yang berasal dari desa lain dan ditempatkan di desa itu. Sekarang mereka sudah tak menumpang disitu lagi karena mereka sudah menikah dengan wanita dari desa itu juga. Dan diingatkan akan sejarah semacam itu, tak ada lagi alasan bagi saya untuk tidak turut dalam aturan itu. Apalagi di kampung halaman saya dulu, saya juga sudah cukup aktif mengajar Sekolah Minggu.


Peran sebagai guru Sekolah Minggu lah yang membawa saya setiap Minggu pagi harus mengetuk pintu rumah Pak Pendeta, seperti pagi itu. Dan kali ini lain daripada biasanya. Sebab, seperti janjinya, Bintang si gadis Jakarta, yang putri sulung pendeta, datang menyusul saya. Tak sampai 10 menit setelah ibadah Sekolah Minggu itu mulai, Bintang bergabung dengan kami para guru Sekolah Minggu. Ia menyalami kawan-kawan saya. Saya melihat mereka bercanda dan bertukar kabar. Saya juga melihatnya dengan mudah berakrab ria dengan anak-anak Sekolah Minggu itu. Bernyanyi dengan nyaring, seolah ingin memberikan panduan kepada anak-anak yang belum hafal benar syair dan irama lagu yang dinyanyikan.

Kehadiran Bintang pada pagi itu benar-benar memberi suasana baru. Barangkali karena penampilannya yang lebih ceria dan lebih cerah dibandingkan guru-guru lainnya. Mungkin juga dari cara berpakaiannya yang selangkah lebih maju dari kami-kami. Selain itu, ia mengajarkan anak-anak itu sebuah lagu baru, yang konon sudah sering dinyanyikan di Sekolah Minggu di Jakarta.

Gereja bukan lah gedungnya
Dan bukan pula menaranya
Buka lah pintunya, lihat di dalamnya
Gereja adalah orangnya


Anak-anak itu dengan antusias mempelajarinya. Dilengkapi pula dengan gerak jari tangan yang dilipat-lipat menggambarkan gereja, gedung, orang dan menara gereja. Suasana jadi hidup. Kami berlima, guru Sekolah Minggu desa yang merasa lebih udik dari Bintang yang dari Jakarta, senang-senang saja dengan kehadirannya. Apalagi ia tampaknya tak canggung dengan suara anak-anak desa yang riuh seperti kicauan ribuan burung.

Seusai ibadah Sekolah Minggu itu, Bintang dan kami para guru Sekolah Minggu masih sempat mengobrol banyak. Dari perbincangan itu saya jadi tahu bahwa Bintang kini di tahun ketiga kuliahnya di sebuah akademi kedinasan di Jakarta. Ia tinggal di rumah Om nya, yang merupakan kakak dari ibunya. Terakhir kali Bintang pulang ke desa ini adalah dua tahun sebelumnya. Dan kali ini, ia tampaknya akan mengambil libur yang cukup panjang.

Kehadiran Bintang juga ikut menyegarkan suasana desa. Sebab, kabar kehadirannya begitu cepat tersiar. Dan banyak pula lah anak-anak muda desa itu dan desa-desa tetangga yang berdekatan, ingin tahu sudah seperti apa wajah Bintang, putri Pak Pendeta yang 'sekarang jadi gadis Jakarta.'

Minggu-minggu selanjutnya adalah pemandangan biasa bila saya melihat rombongan pemuda dengan mengendarai sepeda datang berkunjung ke rumah Pak Pendeta. Kadang-kadang rombongan itu punya alasan yang manis untuk bisa membuat Bintang tampak ceria menikmati suasana desa. Entah dengan alasan membakar singkong di halaman gereja, memotong rumput dan macam-macam kegiatan lainnya.

Saya juga melibatkan diri pada kegiatan paduan suara. Anggotanya adalah para remaja dan pemuda. Sebagian besar bersekolah di kota Pematang Siantar dan kota kabupaten lainnya, sebab belum ada SMA di desa ini. Setiap hari Sabtu mereka pulang, dan malamnya kami berlatih paduan suara. Sejak kehadiran Bintang, latihan paduan suara juga jadi lebih ramai. Makin banyak pemuda-pemudi desa ini yang kuliah di kota, pada pulang kampung. Bintang benar-benar jadi kembang desa, yang setiap pemuda ingin mengisap madunya.

Saya tidak munafik. Saya tentu ingin juga bisa dekat-dekat Bintang. Bahkan seandainya dia mau, saya ingin jadi kekasihnya. Karena itu, saya tak bisa menahan diri untuk tidak ikut pada keriuhan acara muda-mudi mana pun dimana ada Bintang. Kadang-kadang saya malah menjadi 'sok pahlawan,' nekad memanjat kelapa dan membawa buahnya ke halaman gereja, mengupas dan membelahnya untuk kami minum airnya bersama-sama. Sebagai orang yang dilahirkan di desa di pesisir Danau Toba, memanjat kelapa adalah keahilan yang harus dipunyai seorang lelaki, sebelum ia disebut lelaki. Dan keahlian ini ternyata cukup berguna di desa ini.

Kala lain, saya juga sering mempergunakan 'kemapanan' saya sebagai guru yang sudah makan gaji. Pada hari Minggu selepas ibadah, saya ajak lah para rombongan pemuda itu makan pecal dan mi goreng di pasar desa, walau pun biasanya setelah pulang ke rumah, jantung saya degdegan melihat isi dompet yang terkuras lumayan banyak.

Saat-saat yang tak pernah saya lewatkan dan saya tunggu-tunggu adalah setiap Minggu pagi, manakala saya harus mengetuk rumah Pak Pendeta untuk mengambil perlengkapan Sekolah Minggu. Menit-menit seperti itu selalu jadi bagian terindah dari tujuh hari sepekan dalam hidup saya, sebab di setiap ketukan, pasti Bintang lah yang membukakan pintu. Selalu saya habiskan beberapa menit untuk mengobrol bersama dia, sebelum saya benar-benar mengambil perlengkapan itu dan mengajar Sekolah Minggu.

Bintang ternyata menikmati juga menjadi guru Sekolah Minggu desa. Tak sekali pun ia absen. Dan yang membuat saya malu hati, Bintang ternyata dengan seksama mengikuti perkembangan beberapa anak yang ia anggap menonjol. Selama ini, saya yang sudah lebih dulu jadi guru Sekolah Minggu pun tak pernah memberi perhatian khusus seperti itu. Tapi Bintang ternyata melakukannya. Hal-hal semacam itu kerap membuat saya dan dia terlibat dalam percakapan serius.

"Bang Tompul, aku kasihan lah melihat si Rita itu," katanya suatu kali, menyinggung seorang anak kelas 4 SD yang jadi murid kami di Sekolah Minggu.

"Kenapa?" Saya bertanya, sambil menyeruput cendol di hadapan saya, di warung di dekat pasar ketika saya dan Bintang menghabiskan suatu siang selepas beribadah di gereja.

"Aku lihat dia itu pintar. Setiap selesai aku cerita, dan mengajukan pertanyaan, pasti dia bisa jawab. Dengan cepat pula. Rupanya ia selalu mencatat semua yang aku ceritakan."

"Terus, kenapa harus kasihan?"

"Tampaknya ada pertanyaan yang selalu mengganggu pikirannya."

"Apa itu?"

"Waktu aku tanya, nanti kalau sudah besar kau mau jadi apa, dia balik bertanya padaku. Perempuan bisa jadi pendeta nggak Kak?"

"Jawab kau?"

"Lama aku terdiam. Tapi aku menghibur dia saja. Aku katakan, yang penting sekolah dulu. Untuk jadi pendeta, harus sekolah pendeta dulu."

"Terus?"

"Dia tanya lagi, apakah perempuan bisa masuk sekolah itu?"

"Terus?"

"Aku balik bertanya, kenapa Rita menanyakan itu?.

'Apa jawab dia?"

"Ternyata, ketika dia bilang kepada Bapaknya tentang cita-citanya itu, ia mendapat jawaban bahwa perempuan tidak boleh jadi pendeta (4) ."

"Lalu apa jawab kau?"

"Aku hanya bilang, yang penting belajar dulu yang pintar. Nanti pasti ada jalan."

Saya terdiam mendengar cerita itu. Agak mengagetkan juga bagi saya jika seorang anak kelas 4 SD sudah mempunyai cita-cita yang nekad begitu. Sebab saya tahu, aturan gereja kami memang belum memperbolehkan wanita menjadi pendeta.

"Kenapa kau menjawab begitu? Apa kau yakin, wanita akan bisa jadi pendeta?"

"Aku tak tahu, Bang. Tapi di beberapa gereja tetangga yang kudengar, wanita sudah boleh menjadi pendeta. Aku tak ingin membuat anak-anak yang masih kecil itu kehilangan semangat karena hal-hal semacam itu."

"Bagus lah," sahut saya. Jawaban seperti itu saya berikan sebenarnya karena ingin agar diskusi kami akan hal-hal pelik semacam itu segera selesai. Eh, tak dinyana, Bintang malah menyodorkan usul yang menurut saya lebih gila lagi.

"Bang, bagaimana kalau sekali-kali kita berkunjung juga ke rumah para murid-murid kita itu? Memang tidak mungkin semua mereka dapat kita kunjungi. Tapi kita kan bisa bagi-bagi tugas. Aku terutama ingin benar bicara dengan bapak-ibunya si Rita itu. Kita kan bisa bagi-bagi pandangan tentang cita-cita murid kita. Mungkin saja dengan begitu pikiran para orang tua jadi lebih terbuka," kata Bintang.

Usul Bintang itu kemudian kami bicarakan diantara sesama kami guru Sekolah Minggu. Kawan-kawan guru yang lain ternyata menyetujuinya. Maka jadilah Minggu sore selalu kami habiskan dengan lawatan ke rumah-rumah orang tua murid. Kunjungan itu kadang-kadang singkat belaka, 5-10 menit, sekadar menceritakan perkembangan Sekolah Minggu. Sekali-dua kali, kami menyambangi orang tua ke sawah, karena mereka ternyata menghabiskan sore di sawah juga pada hari Minggu.

Selama tiga bulan lebih Bintang berada di desa itu, dan selama itu pula kami sering mengadakan lawatan ke rumah-rumah. Ia tampak seolah tak lelah, karena menurut dia, bekerja di 'Ladang Tuhan' seperti ini justru membuat kita akan makin kuat. "Bapak selalu mengatakan kepada saya, jangan pernah mengeluh bekerja di ladang yang sudah disediakanNya untuk kita kerjakan. Dan lagipula, pekerjaan ini menyenangkan, bukan?" kata Bintang suatu ketika.

Saya tak bisa membantahnya. Sebab saya memang selalu merasa senang berada dekat-dekat dia. Bahkan, makin lama saya makin sadar bahwa pekerjaan di Ladang Tuhan itu ternyata menumbuhkan benih cinta dalam hati saya. Makin lama saya tak dapat menampik perasaan saya kepada Bintang. Saya makin sering merindukan dia. Saya merindukan kehangatan sikapnya. Mengagumi kepekaannya melihat segala sesuatu yang menyentuh. Tapi pada saat yang sama, ia bukan orang yang pemurung melainkan periang. Sikapnya dewasa dalam menanggapi keluhan-keluhan yang sekali-dua kali saya lontarkan.

Keakraban di ladang Tuhan itu, membuat saya bisa melupakan rasa minder saya sebagai guru desa yang sedang berhadapan dengan gadis Jakarta yang saya belum tahu, kelak di masa depan dia akan menaruh hati kepada siapa. Lambat laun saya tak lagi melihat dia sebagai gadis Jakarta yang hebat, cantik dan modern. Lambat tapi pasti, saya bisa melenyapkan anggapan bahwa saya tak ubahnya sebagai pungguk merindukan bulan. Saya makin hari makin bisa memusatkan pikiran bahwa Bintang adalah wanita yang baik, wanita yang kalau diizinkan Tuhan pasti lah akan mau menjadi tambatan hati saya.

Maka pada satu Minggu malam ketika saya mengantarkan dia pulang ke rumahnya seusai lawatan dari rumah salah seorang murid kami, dengan begitu saja saya mengatakan isi hati saya kepadanya. Saya katakan bahwa saya mencintai dia. Saya ingin suatu saat kelak ia akan jadi menantu ibu saya. Bahwa dengan keberadaan saya, sebagai seorang guru desa, mungkin tak begitu pantas bagi dia yang kelak mungkin akan menapaki karier di kota. Tapi untuk itu saya akan mau melakukan apa saja.

Ia terdiam lama, duduk di ruang tamu rumah itu. Bapak dan Ibu Pendeta rupanya sudah cukup mengerti untuk membiarkan kami duduk berduaan saja.

Saya tak mendapat jawaban, hingga saya beranjak dari tempat duduk saya dan melangkah meninggalkan pintu. Saya kira memang ia mungkin akan butuh waktu lama untuk bisa memberikan jawaban.

Namun, tak berapa lama suara Bintang saya dengar setelah beberapa meter saya meninggalkan rumah itu.

"Bang, jangan pulang dulu," katanya, setengah berteriak setengah menahan suara.

Saya menghentikan langkah dan membalikkan badan, mendekat ke arahnya.

"Kata orang, guru dan pendeta itu banyak persamaannya. Sama-sama membentuk orang hidup di jalan yang benar. Dari dulu aku ingin sekali seperti ibuku yang dipersunting oleh pendeta. Maka kalau sekarang aku jatuh cinta pada seorang guru, tidak kalah-kalah amat kan dibanding ibuku?"

Suaranya itu terdengar jelas di telinga saya. Tapi saya membutuhkan beberapa saat untuk bisa mencernanya dan untuk mempercayainya. Sebelum akhirnya dengan nekad saya memeluknya. Memeluknya dengan perasaan yang sangat dalam. Dengan janji di dalam hati tak akan mengecewakannya. Akan menjagainya. Akan menyayanginya.



***

Pak Tua itu kembali merogoh sakunya, mengambil geretan dan menyalakannya untuk membakar rokok yang terselip di mulutnya. Ia menatap saya sekilas, yang masih melongo mendengar ceritanya.

"Jam berapa sekarang? Mungkin pesta itu sudah dimulai. Sebaiknya kita pergi," kata si Pak Tua.

"Wah, tanggung, Amangboru. Ceritanya masih setengah jalan, tadi. Asyik betul itu kalau ditulis jadi novel."

"Ah, kau itu. Dasar wartawan. Cerita cinta anak kampung begitu saja mau kau tulis. Siapa yang akan membacanya," kata dia. Kami bersua tampaknya sudah makin akrab satu sama lain. Ia menyapa saya dengan 'Kau'.

"Tak apa itu Amangboru. Semua orang berhak menceritakan yang indah-indah," saya membual pula.

"Sudah lah, ayo kita berangkat."

Saya masih agak malas-malasan beranjak.

"Ayo lah anak muda. Aku lanjutkan ceritanya sambil kita berjalan ke sana. Tak enak sama yang punya pesta kalau kita tidak dilihatnya di pestanya," kata dia.

Kami pun beranjak pergi dari rimbunnya pohon di samping gereja itu.



***

Seminggu setelah kami jadian itu, Bintang berangkat ke Jakarta karena masa liburannya telah usai. Saya ikut bersama ayah dan ibunya mengantarkannya ke pelabuhan Belawan, dan melambaikan tangan hingga kapal yang membawanya ke Jakarta berangkat. Saya bersyukur dan merasa beruntung manakala mengetahui ayah dan ibunya tampaknya tak keberatan dengan hubungan kami.

Semenjak itu, tak terhitung lagi surat-surat yang saya kirimkan kepada Bintang, begitu pula surat yang saya terima dari dia. Sebagian besar berisi curahan hati, ada juga cerita-cerita lucu. Tetapi tak sedikit pula surat-suratnya yang membuat saya cemburu. Misalnya, ceritanya tentang kawan-kawan prianya sesama guru Sekolah Minggu yang juga kerap menggodanya.

Kala membaca suratnya yang demikian, ingin rasanya saya segera terbang ke Jakarta kota yang jauh itu. Ingin cepat-cepat berada di dekat-dekatnya, menjagainya, menghalanginya dari panah cinta pria mana pun kecuali saya. Malam-malam seperti itu adalah malam yang sangat menyiksa yang membuat sekujur badan saya berkeringat dan mata tak bisa lelap.

Sekali-dua kali saya nekad pergi ke Pematang Siantar hanya untuk menelepon dia dari satu-satunya kantor jawatan telepon di kota itu. Saya seringkali harus bermalam karena saya hanya bisa menghubungi Bintang malam hari setelah dia berada di rumah sepulang kuliah.

Untuk mengobati rasa rindu, saya menghabiskan waktu dengan menekuni pekerjaan saya sebagai guru. Saya juga terus melanjutkan lawatan-lawatan ke rumah murid-murid sekolah Minggu. Kadang-kadang, saya juga menemani ayah dan ibu Bintang, sekadar bertukar informasi tentang putri sulungnya itu. Tidak jarang hal itu saya lakukan sambil memberes-bereskan pekerjaan-pekerjaan kecil di rumah mereka. Entah dengan menyiangi taman di samping gereja atau membakar sampah di belakang rumah.

Di akhir tahun kedua hubungan kami, ketika Bintang dalam proses menyelesaikan studinya, sebuah suratnya mendorong saya mengambil salah satu pilihan tersulit sepanjang hidup saya. Surat itu terbungkus dalam sebuah amplop biru, sudah lecek karena mungkin melewati perjalanan panjang sebelum tiba di desa yang agak terpencil itu. Seperti biasa saya terima dari pegawai kantor kepala desa, tempat dimana semua surat-surat harus mampir sebelum tiba kepada alamat yang dituju.

Jakarta, 16 November 1974

Bang Tompul yang tersayang,
Sewaktu aku menulis surat ini sesungguhnya pikiranku tak bisa tenang. Sebagian karena aku sedang menyelesaikan tugas akhirku. Sebagian lagi karena sudah dua tahun kita tidak bertemu. Ayah dan ibu memang tidak ingin memaksakan aku untuk pulang karena mereka berharap lebih baik aku secepatnya menyelesaikan sekolahku.

Pikiranku juga tak bisa tenang karena makin hari aku makin rindu sama Abang. Tapi banyak lagi sebetulnya persoalan yang bikin aku tambah bingung. Tapi jangan langsung panik, ya Bang? Bacalah surat ini pelan-pelan. Aku tetap sayang sama Abang, apa pun keputusan Abang setelah membaca surat ini.

Setelah lulus nanti, sesuai dengan perjanjian ikatan dinas, aku akan ditempatkan di Jakarta. Aku sebetulnya meminta agar aku ditempatkan di Pematang Siantar supaya bisa dekat dengan Abang dan Bapak-Mamak (5) . Tetapi ternyata sudah begitu keputusannya. Aku tak bisa lagi berbuat apa-apa. Aku harap Abang bisa berpikir bijak mengenai hal ini.

Kedua, yang ingin aku sampaikan kepada Abang, ada hubungannya dengan masa depan kita. Akhir-akhir ini ada pariban (6) ku yang rajin datang ke rumah. Dia ini anak namboru yang tinggal di Medan. Dia tentara dan dulu berdinas di Magelang. Sekarang dia ditempatkan di Bandung. Makanya dia sudah lebih dekat ke Jakarta dan makin sering datang ke tempatku.

Dia baik sama aku. Dan nampaknya ada hati kepadaku. Tapi aku anggap saja dia abang kandungku. Tidak apa-apa kan? Abang tidak cemburu, kan? Percayalah, hatiku tetap sama Abang. Yang membuat aku sering menangis adalah kenapa Abang tidak ada di dekat-dekat aku. Aku selalu memikirkan Abang tapi makin sedih lagi jika aku menyadari apakah mungkin kita bersama kalau tempat sudah memisahkan kita begini.

Mengenai yang terakhir ini, aku belum sampaikan kepada ayah dan ibu karena khawatir akan menggangu pikiran mereka. Tetapi Ibu memang pernah menceritakan dalam suratnya, namboru (7) yang di Medan beberapa kali datang ke rumah menanyakan kabarku. Kalau Abang ke rumah, tak usah tanggapi kalau Ayah dan Ibu bicara tentang ini. Anggap saja Abang tidak tahu-menahu.

Aku tetap sayang sama Abang. Aku selalu percaya bahwa cinta di Ladang Tuhan adalah cinta yang terbaik. Karena itu aku berdoa mudah-mudahan kita diberikan jalan.

Salam sayang,

Bintang


Surat itu membuat saya sangat sedih. Seolah-olah bakal kehilangan Bintang yang saya kasihi. Saya menangis. Dalam hati saya bertanya, sampai kapan Bintang bisa bertahan dari godaan seperti itu, sementara saya jauh dari jangkauannya? Dapatkah saya menyalahkan dia, jika suatu saat hatinya berpaling, sementara saya hanya bisa menyayanginya lewat surat-surat yang isinya hanya setingkat saja di atas rayuan gombal? Sekuat apa hati seorang wanita untuk bisa tak bergeming pada seorang pariban, tentara, dan "baik sama aku" seperti yang ia tuliskan dalam suratnya? Mungkinkah kebaikan-kebaikan itu akan berhenti pada kebaikan seorang kakak kepada adik, sedangkan saya yang jadi kekasihnya tak kan pernah bisa menjangkaunya? Dapatkah saya menyalahkan Bintang, bila si 'orang baik' itu kelak bisa meluluhkan hatinya, sementara saya yang guru desa ini tak berdaya dan tetap terpuruk di desa ini?

Beberapa hari setelah kedatangan surat itu saya merasa menjadi orang yang paling malang di dunia. Seperti orang yang kehabisan akal yang membuat beberapa murid saya di sekolah dan Sekolah Minggu sampai bertanya-tanya apakah saya sedang sakit. Berhari-hari, berminggu-minggu, saya memutar otak untuk memecahkan masalah yang bagi saya seperti tak punya jalan pemecahannya.

Semula saya telah membayangkan, Bintang kelak akan pulang dan mengabdi di kota yang tak jauh-jauh dari desa ini. Sebab akademi kedinasannya itu akan bisa menempatkan dia di berbagai kantor pemerintahan di kota terdekat. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Ditambah pula dengan kehadiran si pariban yang tentara, yang pasti ganteng, dan yang dalam kata-kata Bintang, "baik pula sama aku," membuat makin lengkaplah penderitaan batin saya.

Dalam kebimbangan dan nyaris putus asa, sekali waktu saya datang berkunjung ke rumah Rita, si anak Sekolah Minggu yang bercita-cita jadi pendeta itu. Saya berpikir, di tengah kepedihan seperti ini, bertukar kabar dengan para orang tua murid Sekolah Minggu barangkali bisa menjadi obat yang menghibur. Dan, ternyata memang benar-benar pikiran saya terbuka, justru ketika Rita si anak pintar itu menemani saya ngobrol mendampingi ayah-ibunya.

"Bagaimana kabar Kak Bintang, Bang?" tanya dia.

"Baik-baik saja, Rita."

"Aku rindu sama kakak itu," kata dia lagi.

Saya diam saja.

"Kakak itu baik. Suka mengajari aku. Suka menceritakan yang membuat aku senang. Abang rindu nggak, sama Kak Bintang?"

Pertanyaan itu sebenarnya tak perlu saya jawab. Tapi apakah mungkin membiarkan sebuah pertanyaan berlalu dari hadapan seorang anak kecil seperti Rita?

"Rindu lah," saya menjawabnya dengan jujur.

"Kalau rindu, kenapa Abang tidak menyusul saja, ke Jakarta? Kak Bintang saja berani ke Jakarta. Kok Abang kalah sama perempuan?"

Anak-anak memang kadang kala bisa berpikir melampaui orang dewasa. Mereka tak jarang bisa melihat jawaban dari sisi yang tak pernah terlintas di otak mereka yang lebih tua. Seperti saran Rita, yang menyarankan saya menyusul Bintang ke Jakarta. Ini samasekali belum pernah ada dalam bayangan saya. Ke Jakarta? Ke kota yang besar itu, yang konon kejam tak tanggung-tanggung?

Tapi kali ini saran anak kecil itu, anak Sekolah Minggu yang sangat disayang oleh Bintang itu, benar-benar memenuhi pikiran saya. Kini saya melihatnya sebagai sebuah harapan. Bahwa mungkin hanya inilah kesempatan saya untuk bisa bersama dengan Bintang. Pujaan hati dengan siapa saya memupuk cinta di Ladang Tuhan.

Sejak itu saya mencoba menyurati beberapa orang saudara di Jakarta yang pernah saya kenal untuk menjajaki apakah ada kemungkinan sekolah yang dapat menampung saya di Jakarta. Kadang-kadang memang ada rasa sesal, apakah saya tidak menyia-nyiakan karier saya sebagai guru di desa ini, yang sudah mapan, yang sudah bakal lempang menuju masa depan? Apakah tidak lebih baik melupakan Bintang dan mencari lagi tambatan hati lain yang lebih dekat dan lebih terjangkau?

Tidak sedikit yang memberikan tentangan akan niat saya. Ketika saya pulang kampung dan menghadap ayah dan ibu saya, lalu menceritakan keputusan saya untuk kemungkinan menjajaki karier di Jakarta, mereka serta-merta tak bisa menutupi rasa terguncang mereka. Mereka menganggap tak patut lah mengorbankan kedudukan prestisius sebagai guru, guru yang digaji negara, demi seorang kekasih yang belum terikat apa-apa. Rupanya yang mereka bayangkan adalah ketidakpastian nasib saya kelak di Jakarta. Dan lagipula, kata mereka lagi, apakah Bintang mau menerima saya, bila kelak hidup saya tak menentu di Jakarta?

Tapi keputusan saya sudah bulat. Setelah pamit kepada ayah ibu di kampung, juga pamit kepada Bapak dan Ibu Pendeta yang tampaknya mendukung keputusan saya, saya akhirnya berangkat ke Jakarta. Kawan-kawan guru Sekolah Minggu menyelenggarakan acara perpisahan kecil, yang membuat hati saya sedih. Tak sanggup berkata apa-apa karena justru Sekolah Minggu ini lah yang jadi 'ladang' tempat suburnya cinta saya dengan Bintang. Dan ladang ini pula yang harus saya tinggalkan. Bukankah ini sebetulnya sesuatu yang absurd?



***

Pak Tua dan saya akhirnya tiba di tempat pesta itu. Tikar-tikar yang digelar di halaman rumah-rumah yang berbaris di sepanjang jalan, telah dipenuhi orang yang duduk menantikan pembagian piring. Kami ternyata belum begitu terlambat untuk bergabung bersantap siang. Saya dan Pak Tua segera menyelipkan diri diantara keramaian itu.

"Ayo, kau duduk jangan jauh-jauh dariku. Nanti cerita itu kita lanjutkan. Kau masih ingin dengar, kan? Nah, makan dulu, biar ada tenagamu mendengarnya." Si Pak Tua menggamit punggung saya. Orang-orang di sekitar sepertinya acuh saja akan kehadiran kami. Saya kira makan siang kali ini memang agak terlambat dari seharusnya. Semua orang tampaknya sudah tak sabar ingin segera mengisi perut. Si Pak Tua pun begitu. Tapi sambil ia memasukkan suapan demi suapan ke mulutnya, ia lanjutkan juga ceritanya.



***
Sehari setelah saya tiba di Jakarta, saya menemui Bintang di rumah Omnya. Tidak terlalu bebas untuk menumpahkan rasa rindu di tempat itu. Tapi saya sudah bersyukur karena setelah dua tahun, kini dapat bersua dengan pujaan hati. Wajahnya saya lihat agak kurus, tapi tetap, bahkan bertambah cantik. Dalam sekejap, saya tersadar betapa udiknya penampilan saya, dengan pakaian yang saya pakai. Tapi tatap mata Bintang yang teduh, menenteramkan hati saya.

Lalu kepada Bintang saya menceritakan kembali tekad saya, yang sebelumnya sudah saya beritahu dia melalui surat. Bahwa saya akan mencari kerja di Jakarta. Saya juga mengatakan kepadanya saya sudah melupakan kebanggaan sebagai guru pegawai negeri karena untuk mengurus perpindahan dinas, akan makan waktu lama. Sedangkan saya merasa, saya harus secepatnya dekat-dekat dengan dia, karena takut dia akan disambar si pariban. Lelucon saya ini dia sambut dengan cubitan kecil di pipi saya.

Saya juga bercerita kepadanya akan mencari sekolah swasta yang masih bisa menampung saya sebagai guru. Tidak perduli digaji berapa, asalkan cukup untuk hidup seadanya. Dan entah kenapa, air mata saya tak bisa saya tahan ketika seperti orang yang tak berdaya saya mengatakan ketakutan saya akan kehilangan dia. Bintang hanya menjawabnya dengan kecupan di pipi saya. Ia berbisik, "Sssssst, jangan cengeng. Malu dilihat orang. Gimana bisa menang lawan si Tentara kalau gampang menangis begitu."

Dua Minggu pertama di Jakarta, saya menumpang secara berpindah-pindah dari rumah saudara yang satu ke rumah saudara yang lain. Hanya seminggu saya lewatkan di Jakarta tanpa ke gereja, sebab setelah itu Bintang sudah membawa saya mendampinginya mengajar di Sekolah Minggu. Kepada siapa pun ia memperkenalkan saya sebagai kekasihnya, yang bekas guru desa, dan kini sedang mencari kerja. Bintang ternyata tak banyak berubah. Bintang yang saya kenal dua tahun lalu adalah juga Bintang yang sekarang. Bintang yang cekatan, menjalani hidup dengan riang dan selalu ingin mencari pemecahan masalah.

Sekali lagi, Bintang dan saya kembali bersama bekerja di Ladang Tuhan meskipun dengan keadaan yang sedikit berbeda. Seringkali saya merasa malu dan begitu rendah diri, ketika harus dihadapkan pada kenyataan bahwa sekarang saya begitu tergantung pada dia. Tapi Bintang dengan segera bisa menghalau perasaan demikian dari benak saya manakala ia tahu saya begitu terganggu oleh hal itu.

Tak sampai dua bulan kemudian, salah seorang orang tua murid Sekolah Minggu itu mengabari Bintang bahwa ada sebuah sekolah swasta yang membutuhkan guru. Lalu saya memasukkan lamaran saya ke sekolah itu. Dan ternyata rekomendasi dari orang tua murid tadi cukup manjur, sehingga dengan cepat lamaran saya diproses. Saya mulai mengajar di sekolah itu seminggu setelah saya bertemu dengan Kepala Sekolah. Mulanya hanya mengajar untuk SMP, tetapi kemudian tenaga saya ternyata dibutuhkan pula untuk SMA. Untuk ukuran Jakarta, gaji saya tak bisa dikatakan berlebih, tapi itu sudah saya syukuri untuk bisa menyambung hidup. Apalagi sisa tabungan yang saya bawa dari desa sudah makin tipis.

Kabar menyenangkan ternyata tak berhenti sampai disitu. Sebab tak lama kemudian, Bintang menyelesaikan studinya dan langsung bekerja di sebuah instansi di Jakarta. Kedua orang tuanya datang dari desa untuk menjenguk dia, dan saya pun ikut menyambutnya.

Pada suatu kali Bintang dan saya membawa mereka mencari udara segar ke Kebun Raya Bogor, berjalan-jalan di antara pohon-pohon yang luas itu untuk kemudian beristirahat di ujung taman. Sambil menyeruput es kelapa, Bintang membuka pembicaraan yang saya samasekali tak menduga, tapi justru menyenangkan hati saya.

"Pak, Mak, aku mau tanya. Tapi jangan terkejut," kata dia memulai pembicaraan.

Hening sebentar. Bintang melanjutkan lagi.

"Anak namboru yang Tentara itu sekarang ditempatkan di Bandung. Belakangan ini dia sering datang menemui aku. Dia itu baik sama aku. Kelihatannya dia juga sayang sama aku."

Diam lagi. Bintang seolah ingin menunggu reaksi Ayah dan ibunya, tapi karena yang ditunggu diam saja, ia melanjutkan.

"Yang ingin aku tanyakan, apakah Bapak dan Mamak, pernah menjanjikan sesuatu kepada mereka? Sebab, aku tak ingin di belakang hari hubungan Bapak dan Mamak dengan keluarga terputus karena salah pengertian. Aku tak ingin anak Namboru itu berharap sama aku lantaran Bapak dan Mamak sudah pernah ada janji (8) . Padahal, seperti Bapak dan Mamak tahu, aku juga sudah punya hubungan dengan Ito Tompul," kata Bintang sambil melirik saya.

Ayah Bintang menatap saya. Lama sekali.

Lalu kemudian dengan wajahnya yang tenang berujar: "Tidak ada itu, Boru(9) . Kalau paribanmu itu datang kepadamu dan dia suka kepadamu, itu wajar. Tapi bukan karena kami yang mendorong-dorongnya dan bukan pula karena kami telah berjanji kepada keluarga mereka. Tetap lah pada pilihanmu kalau kau memang sudah yakin."

Sambil berkata begitu ayah Bintang menoleh kepada saya. Menepuk pundak saya. Lalu menukas, "Eh Tompul, aku senang kau sudah berani menembus Jakarta ini. Jangan kau sia-siakan pengorbananmu itu."

Saya menunduk tersipu tapi merasa mendapat penghargaan. K

etika saya mengangkat wajah, saya mendengar Ibu Bintang berkata:"Bintang, kami sudah mengenal si Tompul ini sejak dia jadi guru Sekolah Minggu di gereja kita. Jadi tidak ada keraguan kami pada pilihanmu. Kalian pelihara lah yang sudah kalian temukan di Ladang Tuhan. Berdoa selalu."



***
Piring-piring di hadapan kami satu demi satu dikumpulkan. Saya mendengar si Pak Tua bersendawa beberapa kali, pertanda ia sudah kenyang. Saya juga begitu. Sambil saya mengibaskan-ngibaskan debu yang lengket di kaki celana saya, saya berdiri dan beranjak dari tempat itu.

"Ayo Amangboru, kita cari warung kopi dulu," ajak saya kepada Pak Tua. Saya kira ritual adat berikutnya masih akan panjang. Dan peranan saya dan si Pak Tua tidak terlalu penting benar. Maka lebih baik kami duduk-duduk di warung yang tak jauh dari tempat itu. "Aku dengar, kopi di sini katanya enak," kata saya.

Kami pun duduk di warung itu. Si Pak Tua mengambil rokok dari sakunya, menyalakannya dengan geretannya dan dengan sedikit terbatuk-batuk ia bicara lagi, melanjutkan ceritanya yang tadi terputus.

Menurut si Pak Tua, tak sampai dua tahun kemudian, dia dan Bintang menetapkan hati untuk menikah. Walau pun mereka berdua tinggal di Jakarta, mereka memutuskan untuk melangsungkan pemberkatan dan pesta perkawinanya di desa ini.

Menurut si Pak Tua, pesta perkawinan itu berlangsung meriah. Orang-orang desa itu ikut bergembira karena ingin berbagi kebahagiaan dengan Pak Pendeta. Apalagi sudah terdengar kabar, beberapa bulan lagi Pak Pendeta akan dipindahkan ke daerah lain karena sudah lebih dari delapan tahun ia melayani di desa itu. Berduyun-duyun umat menunjukkan rasa sukacitanya. Pesta itu benar-benar pesta orang seisi desa dan semua orang berusaha ingin ikut berperan.

Kini, pesta pernikahan yang diceritakannya itu sudah jadi kenangan. Kenangan selama 30 tahun. Tetapi rincian demi rinciannya, seolah tak bisa dilupakan si Pak Tua. Hingga kini ketika hampir semua rambutnya memutih, ketika kedua anaknya sudah memberinya cucu, kenangan itu tak bisa lenyap. Dan tak akan lenyap.

"Maka itu lah sebabnya saya tak pernah bisa melupakan desa ini. Desa ini mengajarkan kepada saya, bahwa Ladang Tuhan adalah juga Ladang yang baik untuk cinta. Dan kalian anak-anak muda, kalian ajarkanlah itu kepada anak-anak kalian. Suruh dan biasakan lah mereka bekerja di ladang itu sejak muda," kata si Pak Tua.

Menurut si Pak Tua, anak-anaknya juga mendapat jodoh di ladang yang sama.

Saya menghirup kopi di hadapan saya. Dalam hati saya berkata mungkin petuah dan cerita si Pak Tua itu terdengar terlalu manis. Terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Tapi, dalam hidup memang tak melulu yang pahit-pahit, bukan?

Saya dan si Pak Tua berpisah ketika senja sudah turun. Ia menginap di desa itu, sementara saya pulang ke kampung halaman saya, di Sarimatondang.

Ciputat, 10 Juli 2006
© eben ezer siadari

-Walau didasarkan pada kisah nyata, cerita ini adalah fiktif. Bila ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan belaka.
-Catatan Kaki:
(1)Amangboru adalah kakak atau adik ipar dari ayah. Tapi panggilan semacam ini lazim pula digunakan untuk seorang yang kita baru kenal dan seumuran dengan ayah kita
(2)Ito adalah sapaan akrab seorang perempuan kepada laki-laki yang sebaya, begitu pula sebaliknya.
(3)Adik laki-laki dari ibu biasanya dipanggil Tulang.
(4)Wanita diperbolehkan jadi pendeta di gereja Batak pada umumnya baru beberapa dekade belakangan
(5) Mamak adalah panggilan akrab untuk Ibu.
(6)Bagi seorang perempuan, pariban adalah putra dari adik atau kakak perempuan ayah. Pariban adalah orang yang menurut adat jodoh yang paling tepat bagi seseorang.
(7)Namboru adalah adik/kakak perempuan ayah. Dia adalah ibu dari pariban
(8) Dalam tradisi adat Batak, konon seringkali ada perjanjian jodoh menjodohkan diantara dua keluarga bahkan sejak putra-putri mereka masih kecil.
(9)Boru secara harfiah berarti perempuan. Tapi bisa juga panggilan sayang seorang ayah kepada putrinya.

1 comment:

  1. Ningsih9:56 AM

    Bang, gue sampe tiga kali baca cerita ini. Nggak bosan-bosan. Kenapa ya? Too good to be true atau too late to be true? Hahahaha. Slamat ya, bukunya udah jadi akhirnya.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...