Tuesday, August 15, 2006

August 17th That Never Be The Same



Untuk memperingati 17 Agustus, Majalah Berita Tempo menyajikan judul sampul berbunyi, Bisakah Kita Hidup Bersama. Di dalamnya ada banyak judul-judul yang berat. Semisal, Sulitnya Hidup Bersama. Lalu, Soal 'Kita dan 'Mereka' ketika Indonesia 61 Tahun (Oleh Goenawan Mohamad). Lalu, Negeri Seribu Konflik. Lalu, Toleransi yang Mengkhawatirkan. Lalu, Merdeka dalam Kemajemukan (oleh Ignas Kleden). Lalu, Kor Sedih kelompok Minoritas. Lalu, Luka itu Bernama Ahmadiah. Lalu, Kepahitan Pengikut Sanghyang Kersa. Lalu…. wah, capek nih. Semuanya berat. Dan berbahagia lah orang yang senang membaca tulisan-tulisan yang berisi. Karena majalah itu, dugaan saya, akan bisa memberi kepuasan.

Merdeka, atau memperingati hari kemerdekaan, memang bukan hal biasa. Ia sesuatu yang sangat bermakna. Semacam waktu untuk merenung kembali perjuangan yang menentukan. Bahkan sering disandingkan dengan kematian (ingat, kan, semboyan, Merdeka atau Mati?). Juga sering dihadapkan pada pilihan dijajah kembali. Untuk semua itu, kita harus berterimakasih kepada para pahlawan. Yang masih hidup mau pun yang sudah berlalu.

Tapi, putri saya, Amartya Siadari, yang kini sudah duduk di kelas dua SD, rupanya sama saja dengan ayahnya, ketika masih seumur dia. Bagi anak sekecil itu, 17 Agustus adalah sebuah perayaan. Karnaval. Hura-hura. Merdeka dari yang susah-susah.

Semula saya berujar dalam hati, ah payah nih anak. Sudah anak zaman milenium, anak seorang wartawan yang bacaannya maut-maut (ehm, ehm), kok pikirannya masih sama lho, sama ayahnya sewaktu kecil, yang jebolan desa di ujung dunia, Sarimatondang yang tak ada di peta? Kok nggak ada kemajuan sih?

Tapi kemudian pikiran saya yang lain berkata lain pula. Ah, Namanya juga anak-anak. Pikirannya memang tak jauh-jauh dari yang enak-enak belaka. Tidak adil juga, bukan, kalau saya menuntut dia jadi seorang patriot sebelum waktunya? Dan berharap dia akan berbicara tentang yang hebat-hebat tentang kemerdekaan?

Maka saya tertawa saja ketika tiga hari yang lalu, ketika kami bekerja menyiangi trotoar di depan rumah dalam rangka kerjabakti selingkungan RT, ia sudah buru-buru mewanti-wanti saya untuk jangan lupa menyetop tukang jual bendera jika lewat. Rupanya pikirannya begitu terganggu ketika di rumah kami belum terpancang juga tiang dan bendera. Padahal beberapa tetangga sudah mengibarkannya.

Dengan nakal saya mencoba menggodanya. "Emang kenapa sih, kalau kita tidak pasang bendera?"

"Nggak enak Pa. Entar, kalau kita gak pasang, aku gak diikutkan lomba anak-anak. Padahal, aku kan pengen ikut. Biar nanti dapat hadiah." Putri saya menjawab.

Betul kan? Bahwa bagi anak sekecil itu 17 Agustus adalah pesta, yang akan diisi oleh lomba dan ada hadiah? Dan saya, membeli juga bendera itu, lengkap dengan tiangnya. Harganya, Rp23 ribu, dapat nawar dari harga semula, Rp30 ribu.

Di Sarimatondang dulu ketika saya masih kecil, 17 Agustus memang adalah pesta. Sejak SD sampai SMP, saya selalu menikmatinya dengan perasaan begitu. Malam sebelum hari H, kita sudah dalam keadaan siaga 1. Baju dan celana putih sudah diseterika lebih rapih dari biasanya. Lipatan lancip di lengan baju, seolah bakal bisa mengiris pepaya, karena begitu licin dan tajamnya. Sepatu putih yang terbuat dari kain, juga telah diangkat dari jemuran. Sudah dicuci bersih beberapa hari sebelumnya. Juga kaus kaki yang terbaik. Demikian juga topi putih yang esok bakal kita pakai. Tergantung menonjol di dinding.

Dan kini waktu ternyata telah membawa saya ke usia 40. Waktu yang tak mungkin diputar ulang sehingga saya bisa menikmati lagi 17 Agustus yang dulu-dulu. Ketika saya tak perlu direpotkan oleh judul-judul yang berat, semisal Negeri 1000 Konflik atau Toleransi yang Mengkhawatirkan. Waktu saat dimana saya menikmati ratusan bahkan ribuan 'kemerdekaan' dalam arti yang paling menyenangkan, paling membahagiakan.

Sudah banyak orang yang mencap saya sebagai orang yang melankolis, pemuja romantisme masa lalu. Tapi risiko itu, entah kenapa, selalu saya pikul dengan senang hati. Termasuk kali ini, ketika saya mencoba berpikir-pikir apa yang kiranya bisa saya katakan tentang 17 Agustus kali ini. Tanpa banyak pikir, saya memutuskan untuk menjejerkan lagi kenangan 17 Agustusan di masa kecil, yang tak mungkin terulang lagi. Jumlahnya mungkin ribuan, tapi biarlah 10 ini saja yang saya jejerkan.
Yakni:

1.Waktunya jajan besar-besaran
Waktu di pagi 17 Agustus itu rasanya lambat berlalu. Pada pukul 5 pagi saya dan teman sebaya sudah berada di sungai, mandi pagi. Pulang dari sana, langsung bersalin pakaian seragam putih-putih. Walau sudah tersedia sarapan di atas meja, kita hanya menyentuhnya sekenanya. Ada perasaan tegang. Ingin segera kabur saja ke sekolah. Bersiap-siap untuk pawai.

Pada pagi seperti itu, ketika kami pamit kepada ayah-ibu, biasanya kami sudah akan mendapatkan bekal uang jajan yang lain dari biasanya. Bayangkan, ketika masih kelas 2 SD, kami sudah diberi jajan Rp50, ketika harga sepiring mi gomak (dari bahasa Batak, artinya mi sekepalan karena pedagang mi memang mencomotnya dengan kepalan tangannya dan menaruh ke dalam piring) masih seharga Rp5. Diberi uang jajan sebesar itu tentu sangatlah membuat hati senang.

Belum lagi dari kakek (oppung) yang di depan pintu sudah siap pula dengan 'sumbangan'nya. Paling apes kita mendapat Rp25. Kalau panen cengkehnya lagi bagus, atau jualan beras nenek memberi untung lumayan, tak jarang saya bisa mengantongi Rp50 hanya dari kakek-nenek saja. Total sehari itu uang jajan mencapai Rp100, yang berarti bisa membeli 20 piring mi.

Maka 17 Agustusan adalah pesta jajan bagi saya dan kawan seusia. Ketika kami sudah berbaris di lapangan Sarimatondang yang rumputnya baru saja dipotong, kami biasanya sudah tak sabaran untuk segera berlari meninggalkan upacara. Dan saatnya tiba ketika para pembesar berpidato, itulah waktu yang tepat berkeliaran di pinggir lapangan. Jalan sana jalan sini. Celinguk sana celinguk sana. Beli Mi gomak. Beli Pisang goreng. Cendol. Kacang goreng. Permen. Mainan. Semuanya jadi serbuan kami sesuka hati.
Alangkah nikmatnya 17 Agustus.

2.Boleh minum es sepuasnya
Minum es adalah dosa berat, sampai saya kelas 4 SD. Tapi dosa itu bisa dan hanya bisa dilanggar pada dua kesempatan: kala 17 Agustus dan kala Ibu mengizinkannya (sebab dia juga sedang minum es). Maka Pada 17 Agustus itu kami benar-benar menikmati dosa itu. Es macam apa pun kami coba cicipi. Es potong, yang di Jakarta mungkin namanya es mambo. Es kelapa. Sirop pakai es. Limun (semacam minuman bersoda ala Sarimatondang) pakai es. Tak ketinggalan sirup dengan aneka rasa. Anehnya, jarang sekali kami sakit walau pun kami sudah minum es sedemikian banyak pada hari itu. Apakah 17 Agustus juga merdeka dari sakit?

3.Berbaris di belakang penabuh drum
Sejak kelas tiga SD, setiap murid diwajibkan ikut pawai keliling desa hingga ke perkebunan. Dan itu adalah kesempatan yang membahagiakan. Kakak-kakak siswa SMP biasanya berbaris dengan pasukan drum band di depan. Barisan kami anak-anak SD mengikuti di belakangnya. Nikmat dan penuh semangat berpawai di belakang pasukan yang hingar bingar itu. Apalagi perut sudah kenyang oleh jajanan aneka rupa. Sekali-kali kami mencuri pandang pada majorettnya yang pasti lah anak-anak perempuan remaja yang cantik dan trengginas. Sementara di pinggir jalan, orang-orang tua sekampung ikut menyaksikan, melambai bahkan sering menggoda kami sambil berteriak, "Oooooi, lihat ke depan. Barisan kau sudah mencong itu…."

4.Berdebar-debar menyaksikan Jaran Kepang
Desa saya Sarimatondang adalah bagian dari kecamatan Sidamanik. Dan penduduk di kecamatan ini begitu majemuk. Ada macam-macam suku dan agama. Tak mengherankan bila kawan-kawan dari komunitas Jawa yang umumnya bermukim di perkebunan, ikut berpawai. Salah satu atraksi mereka adalah Jaran Kepang (atau Jarang Kepang?). Ini semacam pasukan berkuda tetapi kudanya adalah kuda kepang yang terbuat dari anyaman bambu. Ada pula reog yang seram. Kami menyaksikannya dengan takjub bercampur deg-degan. Sebab ada kalanya pasukan itu berjalan oleng seperti orang mabuk. Wajahnya dihitam dan merahkan. Iiiiih serem, tapi suka.


5.Merdeka dari kewajiban ke ladang
Tidak ada libur yang sebebas 17 Agustusan. Tak ada kewajiban menjenguk ladang. Tak ada kewajiban mencuci piring. Pada hari libur biasa, justru itulah hari yang 'murung' karena kami akan diwajibkan ke ladang. Pada 17 Agustus tidak.

6.Pergi ke Siantar tak perlu bilang-bilang
Sewaktu menginjak SMP adalah masa waktunya mencoba aneka hal yang menantang. Termasuk pergi ke P. Siantar, kotamadya terdekat, beramai-ramai dengan kawan-kawan. Untuk hal ini tentu tak bilang-bilang kepada bokap-nyokap karena ini adalah pelanggaran berat. Bukan karena dipantangkan tetapi mereka khawatir kita akan nyasar di kota besar itu. Belum lagi kekhawatiran bahwa kami akan terjatuh dari atas bis. Sebab pada 17 Agustus itu tak pernah ada tempat duduk kosong. Anak-anak sekolah harus naik ke atap bis, duduk bergelantungan bersama barang-barang bawaan bis.

'Dosa' itu kami langgar juga. Dan saya benar-benar menikmati 17 Agustus di kota, kendati itu berarti hanya singgah di terminal, lantas ke taman bunga yang tak jauh dari terminal, lalu balik lagi ke kampung halaman.

7.Pesta nenas di ladang Oppung
Ladang kakek tak jauh dari sekolah kami. Manakala sudah lelah setelah pawai dan kantong makin cekak, ada saja pikiran nakal untuk mengisi perut dengan cara 'kreatif.' Salah satunya adalah pergi ke ladang nenek yang ditumbuhi nenas. Kami mengadakan pesta nenas di ladang Oppung.

Karena program ini dadakan dan kemungkinan besar tak diizinkan Oppung bila kami meminta izinnya, biasanya kami pergi ke ladang tanpa peralatan apa pun. Tanpa pisau untuk mengupas nanas. Akibatnya, nanas kami bobok begitu saja. Dibanting ke dahan pohon, lalu dikerat langsung dengan memakai mulut. Persis tikus yang sudah kelaparan. Asyiik juga lho makan nenas dengan cara begitu.

8.Jadi supporter nomor wahid
Menjelang senja, biasanya akan ada pertandingan sepak bola antarkampung. Dan pada 17 Agustus adalah pertandingan final, perebutan juara 1. Sarimatondang dulu mempunyai kesebelasan kebanggaan, bernama Persesa 80 (Singkatan dari Persatuan Sepak Bola Sarimatondang, mungkin meniru nama Perkesa 78). Persesa tentu lah jagoan saya. Salah satu pujaan saya namanya Minggu, seorang Jawa yang merupakan kiper jempolan. Ia bisa terbang. Aksinya tak kalah dengan Kahn, kiper Jerman itu. Jadilah saya ikut-ikutan supporter nomor wahid bagi kesebelasan kebanggaan. Sedangkan kesebelasan lawan, kami soraki dengan 'makian' yang kurang ajar.

9.Seharian bersama 'si dia'
Yang ini adalah sewaktu SMP. (Hmmm, perlu diceritakan nggak, ya?) 'Si Dia' itu adalah seorang murid pindahan dari kota. Manis dengan rambut sebahu, dikriting kecil-kecil seperti Indomie. Tapi yang paling menyenangkan dari dia adalah keriangannya dan keterusterangannya. Ia pandai membuat saya tertawa dan saya senang berada dekat-dekat dia.

Dan pada 17 Agustus itu seharian saya bersama dengan dia (tentu bersama dengan teman-teman lain). Di hari-hari bisa, tentu kami bersama juga ketika belajar, ketika istirahat. Tapi pada saat 17 Agustusan itu kok terasa lebih indah. Lebih terasa dekat dan waktu terasa lebih panjang walau pun terasa cepat berlalu juga. Dugaan saya karena kebersamaan itu bukan dalam rangka belajar, tetapi untuk bermain-main, bercengkerama, saling ledek sekaligus saling memberi isyarat perasaan yang terpendam. Lalu hati ikut terhanyut dan membayangkan 'si dia' sebagai orang yang ada dalam lagu:

Sepasang mata bola
Dari balik jendela
Datang dari Jakarta
Nuju Medan Perwira


Orang barangkali menyebutnya cinta monyet. Cinta anak-anak. Cinta sebatas pandang, main mata, bisik-bisik, saling bagi-bagi dan saling traktir jajanan, tidak lebih. Tapi aneh, kenapa ia tak bisa lupa?

10.Mimpi jadi Pahlawan
Lalu pada malamnya, kerap kali di lapangan bekas upacara itu diputarkan pula film tentang perjuangan. Layar tancap yang ramai ditonton oleh penduduk desa. Lengkap dengan para penjual jajanan juga. Sambil menyaksikan film itu yang biasanya dilengkapi dengan adegan tembak-tembakan dan pekik Merdeka, diam-diam air mata saya berlinang kala melihat 'penjajah' menyiksa penduduk. Terharu melihat sang pahlawan menyelamatkan gadis cantik yang terluka. Diam-diam pula, dalam hati saya menyimpan tekad, 'saya suatu saat akan jadi pahlawan.'

Herannya, kini ketika aneka film perjuangan sudah dibuat orang, dan kita dengan bebas menyaksikannya lewat VCD, DVD mau pun di televisi yang begitu canggih, keharuan seperti itu sudah jarang muncul. Kemana perginya cita-cita ingin jadi pahlawan itu, ya?

***

Hari-hari 17 Agustusan seperti itu tentu tak kan terulang lagi. Tapi tak berarti tak ada yang tetap abadi. Tetap ada dan tetap bertambah. Saya kira tidak perlu seorang yang saleh benar untuk mengatakan bahwa tiap 17 Agustus kita masih terus dan akan terus memelihara rasa bersyukur bahwa negeri ini, yang besar, yang penuh warna dan yang selalu kita rindukan, masih tetap menjadi tanah tumpah darah kita yang kita cinta. Semacam cinta yang sudah ditakdirkan. Cinta yang seolah membelenggu tapi kita suka dan aminkan. Karena di Tanah Air ini kita merasakan hidup demikian berarti. Direriungi orang-orang yang menjadikan kita benar-benar merasa sebagai seorang manusia sekaligus sebagai bangsa.

Dirgahayu Indonesia.

Jakarta, 15 Agustus 2006
© eben ezer siadari

1 comment:

  1. Hoi,

    Jadi ingat acara 17an waktu anak2 dulunya di Sarimatondang, juga jadi ingat ttg si Minggu itu (dia msh buka warung di Sarimatondang, kalau engga salah}.

    Salam buat Istri dan anak yah!!!

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...