Wednesday, August 30, 2006

Kapan Anda Terakhir Kali Menangis?



Menangis sering menjadi senjata putri saya ketika meminta apa saja. Semisal ketika ibunya asyik menonton acara masak-memasak di televisi, tetapi putri saya itu ingin melihat acara kartun di saluran lainnya. Kalau remote control ada di tangan sang mami, menangis lah ia jika keinginannya tak dipenuhi.

Tetapi bukan menangis seperti ini yang saya maksudkan kali ini. Maksud saya adalah menangis dari hati. Menangis bukan karena kelilipan, misalnya, atau karena mata kemasukan asap. Melainkan menangis karena dorongan perasaan. Haru. Sedih. Didera derita yang amat berat. Atau malah kegembiraan yang amat besar. Menangisnya orang dewasa. Menangis bukan karena show off (seperti yang makin kerap kita lihat di televisi hanya karena ingin disorot kamera), melainkan menangis diam-diam. Seolah tanpa sadar. Berlinang air mata. Semacam luapan perasaan yang tak bisa dibendung.

Orang Batak yang kerap digelari Rambo berhati Rinto pada dasarnya adalah orang-orang yang terbiasa dengan air mata semacam ini. Pada banyak acara perhelatan, menangis adalah bagian yang kerap muncul. Di balik wajah-wajah yang keras seperti pohon jati itu, tersimpan hati yang seakan mudah meleleh.

Tetapi bukan hanya orang Batak, saya kira, yang sering menangis secara demikian. Saya sering memergoki istri saya yang orang Jawa berlelehan air matanya ketika menyaksikan serial film Korea yang mengharu biru. Pada saat semacam itu, bila saya meledeknya, ia sering marah dan mengusir saya. Lantas menyentak, "Sana, sana pergi. Kalau nggak suka nonton, jangan nonton." Seakan televisi pada saat-saat seperti itu hanya lah miliknya. Padahal, film yang ditontonnya itu sebetulnya boleh minjam dari tetangga.

Beberapa hari lalu di suatu hari Sabtu, diam-diam saya mengintip film Korea yang ditontonnya itu. Ada adegan yang memang sangat dramatis. Seorang pria memohon-mohon agar kekasihnya mau menikah dengannya. Di bawah siraman hujan yang lebat di depan sebuah restoran di tepi jalan raya yang ramai. Si wanita yang juga mencintai sang pria menolak dengan alasan ia lebih tua dari si pria itu. Si pria mendesak terus. Dan karena si wanita tak bergeming juga, si pria melemparkan diri ke jalan raya. Seakan ingin menghabisi hidupnya dengan menyediakan badannya ditabrak oleh mobil yang bersiliweran. Si wanita akhirnya luluh hatinya. Begitu juga istri saya. Saya melihat istri saya berulang kali menyeka air matanya.

Televisi memang kerap menyediakan adegan-adegan yang mengharukan. Entah karena jalan ceritanya, entah karena mimik aktor dan aktris yang berakting tetapi kerap juga karena nilai-nilai yang terkandung dari adegan yang muncul di sana.

Walau tidak rutin, saya sering terpaku menonton sebuah reality show di SCTV, bertajuk Toooolong. Acara dengan kamera tersembunyi yang merekam bagaimana reaksi orang ketika dimintai pertolongan. Apakah ada yang tergerak atau malah acuh belaka. Dengan kata lain, acara ini mencoba menelisik dan mengabadikan kebaikan-kebaikan sederhana tetapi tulus, yang mungkin sudah sering hilang dari muka bumi.

Sekali waktu, misalnya, dalam acara itu ada seorang ibu tua memerankan diri sebagai penyapu jalanan. Lalu kepada setiap orang yang lewat, ia meminta tolong menggantikan tugasnya menyapu jalan itu, dengan alasan ia perlu pulang segera. Sebab anaknya sakit.

Wajah ibu tua itu demikian memelas, benar-benar wajah orang yang butuh pertolongan. Tetapi tak banyak yang tergerak untuk menolongnya. Setiap kali dia menyetop seseorang yang lewat dan meminta pertolongannya, kala itu pula ia mendapat penolakan. Bahkan dengan tatapan curiga. Kadang-kadang ada juga yang merasa prihatin, ingin menolong. Tetapi kemudian tak berapa lama meninggalkannya. Mungkin karena tak punya waktu. Atau mungkin mereka menganggap pekerjaan menyapu jalanan itu terlalu sederhana untuk mereka lakukan.

Sampai kemudian sang ibu ketemu dengan seorang ibu setengah baya. Agak membungkuk sebab ia menggendong barang bawaan yang cukup berat. Habis berdagang entah darimana. Jika dilihat dari penampilannya, ia tidak lebih beruntung dari si ibu yang meminta tolong. Kumuh, berpakaian rombeng dan sedang tertatih-tatih membawa beban yang banyak. Tetapi ketika ia disetop oleh ibu penyapu jalan itu dan mengatakan ia harus pulang untuk menengok anaknya yang sakit, si ibu setengah baya itu akhirnya menyediakan diri menolongnya. Menggantikan tugas si ibu penyapu jalan itu.

Kamera kemudian menayangkan secara perlahan adegan itu, diiringi kemudian dengan sergapan kru televisi yang menyatakan si ibu telah tertangkap kamera ketika melakukan kebaikan. Untuk itu ia mendapat hadiah uang tunai entah berapa juta rupiah. Si ibu berkali-kali keheranan dengan wajah bingung untuk selanjutnya sujud mengucap syukur. Dan lagu You Raise Me Up yang tenar itu berkumandang. Diam-diam biasanya mata saya berkaca-kaca. Mengapa setiap kebaikan kerap mengundang rasa haru? Apakah karena kebaikan sudah demikian langka? Atau karena kita menyaksikan wajah-wajah polos dan lugu itu yang seolah mengimbau dan mengilik-ngilik keharuan kita?

Di Alkitab (tetapi di kitab suci lain pun saya kira kisah serupa bertaburan juga) ada kisah perumpamaan tentang seseorang yang terluka di pinggir jalan. Banyak orang yang melewati jalanan itu tetapi tak satu pun yang tergerak menolong. Sampai kemudian seorang Samaria, the stranger, yang kastanya sangat rendah dalam strata sosial masyarakat kala itu, datang menolong. Orang yang tak pernah terbayangkan akan melakukan pertolongan, tetapi justru dia lah satu-satunya yang menolong orang terluka itu. Kebaikan yang tulus. Tanpa syarat. Dari seseorang yang justru kelas sosialnya dianggap rendah. Apakah justru diantara-orang-orang terbuang lah kebaikan-kebaikan yang tulus itu ada?

Selain kebaikan, peristiwa sukses juga tak sepi dari air mata. Siapa saja yang nonton Susi Susanti mendapat kalungan medali emas tempo hari di Olimpiade, pasti tak bisa menahan keharuan melihat Susi yang berkeringat meleleh air matanya di hadapan bendera Merah Putih yang dikibarkan dan Indonesia Raya yang berkumandang. Jerih lelah itu akhirnya berbuah. Setelah melewati latihan berbulan-bulan. Melalui aneka pertandingan yang menegangkan. Diselingi tepuk dan cemooh penonton. Siapa yang tak terharu ketika aneka ujian itu akhirnya terlewati sudah? (Hayoooo, ngaku deh, Anda juga menangis kala itu, kan?)

Saya ingat sewaktu di asrama dulu. Bagi calon penghuni baru, ada masa perpeloncoan. Yang paling menakutkan adalah pada hari H masa plonco itu, yakni ketika sejak sore pukul empat, hingga kadang-kadang sampai pukul 1:00 dinihari kita sendirian diinterogasi. Disuruh-suruh, dicemooh, dijadikan bahan tertawaan, diperintah melakukan hal-hal aneh, semisal menyanyikan lagu Potong Bebek Angsa tetapi dengan irama Dimana-dimana Anak Kambing Saya, lengkap dengan pakai gitar segala. Kadang-kadang disuruh menunduk-nunduk di hadapan para senior yang pada malam itu terlihat semuanya galak ketika kita meminta tanda tangannya. Ingin rasanya berhenti saja. Tak usah tinggal di asrama itu juga tidak apa. Toh masih banyak tempat kost yang lain. Yang malah lebih bebas. Lebih dekat dengan kampus. Tapi tidak. Hati berkata lain. Bahwa, ujian ini harus dilalui. Seberat apa pun. Sekeji apa pun. Sebab di hadapan kita telah menanti asrama yang sederhana dengan bayaran yang murah. Yang mungkin hanya disinilah kiriman dari kampung bisa dengan aman menyokong hidup.

Lalu ketika plonco itu dinyatakan usai, dengan peluh yang masih membasahi kemeja, para senior itu satu per satu menyalami kita. Senyum mereka terasa mendamaikan hati. Diam-diam kita menyadari bahwa yang tadi itu hanyalah salah satu ujian dari orang-orang yang sesungguhnya mencintai kita. Lalu kita diminta pula menutup acara itu dengan doa. Betapa berat berkata-kata. Bayangkan, kita berdoa mengucap syukur, atas acara yang baru saja meluluh lantakkan hati kita dengan maki dan cerca. Kita bahkan berdoa, mendoakan agar senior-senior yang dengan sadis itu menggojlok kita, juga diberkati, sama seperti kita yang meminta agar jalan kita juga diberi terang. Seingat saya, sepanjang saya diplonco dan memelonco, saat-saat berdoa seperti itu selalu berurai air mata. Bukan hanya dari yang diplonco tetapi juga yang memelonco…

The Man from Galilea (Anda tahu, siapa yang saya maksud, bukan?) diceritakan pernah juga tersedu-sedan. Di sebuah taman bernama Getsemani, pada hari-hari terakhir sebelum ia digantung dan dipaku di kayu berpalang. Digambarkan, ia merunduk sendirian, berdoa, menangis, menghiba agar penderitaan itu sekiranya bisa dilalukan darinya. Keringatnya bercucuran seperti bulir-bulir padi.

Betapa berat beban yang menghimpit itu. Mungkin bukan seberat ketika dulu, seingat saya, saya merasakan hal serupa. Ketika putri saya yang semata wayang itu, di usianya yang masih dua bulan sudah harus masuk rumah sakit karena demam dan batuk yang panjang. Menyaksikan tubuhnya ditempeli slang infus, di ruang ICCU yang aneh dan penuh peralatan mengerikan, hati siapa yang tak seperti disayat-sayat.

Di rumah malam harinya, ketika kami pulang sebab tak diizinkan menjagainya di ruang itu, malam terasa begitu sepi tanpa suara isak bayi. Mungkin sesepi taman Getsemani di malam dahulu kala itu. Dan sepanjang malam mata tak bisa tidur. Meminta dan menghiba dalam doa agar sang penyakit dilalukan. Dengan mata yang entah sudah keberapa kali berair dan bahkan seperti kehabisan cairan. Serta keringat seperti bulir-bulir padi bahkan di dinihari yang dingin dan sunyi.

Jadi, kapan Anda terakhir kali menangis?

Ah, tidak harus oleh hal-hal gawat dan maut-maut. Banyak sekali momen-momen membahagiakan ketika kita tak bisa menutupi keharuan. Mungkin tak perlu sampai sesunggukan. Tetapi terasa ada yang hangat di mata. Ketika, misalnya, di kantor instansi tertentu kita sudah dipimpong kesana kemari oleh urusan yang tak pernah kelihatan ujungnya, eh tahu-tahu ada Pak Tua yang menyodorkan Aqua gelas. Lantas mengajak kita mengobrol tentang anak cucunya. Tentang kampung halamannya. Dan bahkan menyabar-nyabarkan kita pula, bahwa berurusan dengan instansi semacam ini butuh kesabaran panjang. "Sing saaaabbar ya Nak, sing sabbar. Pasti ada jalannya...." Wah, siapa yang mengutus si Pak Tua itu meneduhkan hati saya, yang membuat mata saya berkaca-kaca di balik kaca mata minus tiga ini?

Para pakar psikologi pasti tahu bagaimana menjelaskan apa arti dan fungsi tangis. Mengapa ia bisa berhubungan dengan perasaan dan emosi manusia. Sayangnya otak saya yang sudah tua ini suka langsung menyuruh mata saya mengantuk kala disodori buku-buku psikologi. Saya sungguh-sungguh ingin tahu bagaimana menjelaskan arti tangis, dan mengapa ia selalu hadir justru pada saat yang kontrakdiktif: sedih-gembira, senang-susah dan lucu-pedih. Mudah-mudahan ada psikolog yang membantu.

Beberapa pekan lalu, istri saya dikejutkan oleh telepon dari Dusseldorf. Dari seorang tua bermarga Damanik. Mencari saya dan ingin bicara dengan saya. Tetapi karena saya belum pulang, ia akhirnya mengobrol dengan istri saya. Pak Damanik adalah seorang Simalungun yang sudah lama bermukim di Jerman sana. Dan entah bagaimana ceritanya ia menemukan The Beautiful Sarimatondang. Lalu katanya, rasa rindunya kepada Sarimatondang, rasa rindunya kepada Simalungun sedikit terobati membaca tulisan-tulisan di blog itu. Apalagi kemudian ia bercerita bahwa salah seorang almarhum kakaknya pernah tinggal di Sarimatondang. Ia sendiri mengenal ayah dan ibu saya. Juga ia mengenal beberapa orang kerabat.

Seminggu kemudian ia menelepon lagi pada saat saya belum pulang juga. Ia mengobrol lagi dengan istri saya. Pak Damanik, yang dugaan saya usianya sudah menjelang 70, bercerita sudah puluhan tahun ia tinggal di Jerman. Sudah puluhan tahun pula tak pulang ke Indonesia. Dua putra-putrinya, seperti yang ia ceritakan, tak bisa lagi berbahasa Simalungun sebab ia masih muda ketika bersama istrinya yang orang Simalungun, merantau ke Jerman sana.

Ketika saya tiba di rumah dan istri saya menceritakan itu, saya tak bisa menahan keharuan. Apalah yang lebih berharga dari seorang penulis amatir seperti saya, selain bila menemukan orang yang merasa mendapat manfaat dari tulisan-tulisannya? Dan Pak Damanik, yang menurut tatakrama Batak Simalungun harus saya panggil Tulang (Om) yang dari Jerman itu, kerinduan sebesar apa gerangan yang menyebabkan dirinya menelepon, sekadar menyatakan terobatinya rasa kangennya pada kampung halaman yang ribuan mil jauhnya dari tempatnya tinggal? Sudah tak terhitung email yang saya terima dari orang-orang yang pernah membaca The Beautiful Sarimatondang dari luar negeri. Dari orang Batak mau pun orang Bule. Tapi yang menyempatkan diri menelepon, baru Om Damanik.

Akhirnya kami jadi juga mengobrol. Di suatu hari Minggu. Panjang lebar si Om bercerita tentang bagaimana rasa rindunya pada Simalungun, pada Sarimatondang. Pada udara dingin pegunungan di kampung halaman. Pada makanan-makanan khasnya. Dan juga pada lagu-lagunya. Tak lupa ia berkata tentang kerinduannya suatu saat kelak, untuk dapat bertemu dengan kami sekeluarga. "Kalau kalian datang ke Jerman, nggak usah nginap di hotel. Nginap di rumah saja. Sudah banyak orang Simalungun yang nginap di sini," kata dia sambil menyebut sejumlah nama tenar orang Simalungun. Saya hanya tertawa tapi mengaminkannya. Saya baru sekali ke Jerman dan itu pun dulu sekali ketika masih muda. Tetapi tidak ada ruginya, bukan, berdoa akan keajaiban sehingga suatu saat kelak ada nasib yang membawa kita ke Dusseldorf?

Di akhir pembicaraan, si Om memberi nasihat yang penuh dorongan, membangun dan mendewasakan. Seakan-akan ia ayah saya. Seakan-akan ia paman-paman saya yang tak pernah tidak memanjakan saya. Dan oleh karena itu, diam-diam mata saya berkaca-kaca sambil memegangi telepon. Saya kira bukan hanya saya yang akan cengeng begini di saat seperti ini. Tiap orang Batak udik yang masih ‘tembak langsung’ dari mBatak sono, pasti terharu bila ada orang yang sudah demikian berumur, lalu memberi nasihat, memberkati dan berjanji berdoa akan masa depan kita.

Saya pun selalu terharu oleh ungkapan-ungkapan begitu. Seperti diingatkan lagi pada masa-masa dulu ketika kita akan berangkat dari rumah menuju tanah rantau. Lalu dipetuahi dengan aneka nasihat yang sebetulnya itu-itu juga, tapi sering kita lupa. Dan ini, si Om Damanik, dari Dusseldorf yang saya tak tahu bagaimana rupanya dan bagaimana kota yang dia tinggali itu, menyempatkan diri menelepon. Menyempatkan diri mengirimi email. Bahkan belakangan hari berkata dalam surat-enya, "Seandainya kita suatu saat bertemu, aku ingin kita bertemu di Sarimatondang saja, bukan di Jakarta. Sebab kalau makan di Sarimatondang rasanya enak saja karena hawanya dingin. Di Jakarta panas, bawaannya hanya ingin minum terus." Mungkinkah saya bisa menahan keharuan dari sapaan tulus yang sedemikian?

Masih banyak lagi hal-hal yang membuat orang dewasa sering menangis. Diam-diam atau di depan umum. Diantara orang-orang biasa mau pun orang luar biasa.

Salah satu keuntungan menjadi wartawan (ehm, ehm, sekali-kali menghibur profesi sendiri, boleh, bukan?) adalah mendapat undangan untuk hadir di acara-acara tertentu. Semisal dalam upacara penobatan Guru Besar. Saya suka sekali acara seperti ini, walau pun sebetulnya ritual dan pidato pada saat itu panjang dan membosankan.

Diantara pidato pengukuhan yang panjang, serius dan datar itu, saya pasti akan segera tersentak manakala sang Gurubesar hampir tiba di ujung pidatonya. Ketika ia satu per satu menyebut orang yang berjasa dalam hidup dan kariernya. Dan saya bisa pastikan, ketika ia tiba pada bagian untuk mengucapkan terimakasih kepada ibunya, profesor seserius dan sejenius apa pun akan berhenti. Suaranya melemah dan serak. Lantas mengusap air matanya. Sungguh, ini sudah saya lihat pada pengukuhan sejumlah orang. Baik pada Prof.Dr. Soedradjad Djiwandono, orang Yogya yang berwajah dingin. Pada penobatan Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, orang Rangkas Bitung yang bermimik serius. Pada pengukuhan Prof. Dr. Iwan Jaya Azis yang berwajah innocence.

Dan, ketika melihat orang-orang luar biasa itu mengusap airmatanya, bisakah kita menahan keharuan untuk tidak ikut hanyut dalam perasaan serupa?

Seperti kalau kita menonton Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Dari acara itu yang paling menegangkan adalah ketika menginjak pada pengumuman siapa yang tereliminasi. Lalu ketika akhirnya kita disodori gambar siapa yang tereliminasi, serentak saja kawan-kawannya yang lain berebut memeluk kandidat yang bakal meninggalkan arena itu. Mereka menangisinya. Meratap seolah mereka tak akan bertemu lagi.

Yang mengherankan, calon bintang yang tereliminasi itu biasanya tegar. Ia justru yang menenangkan kawan-kawannya agar tak usah tersedu-sedan begitu. Sampai kemudian ia diminta bicara, mengucapkan kata-kata terakhir. Dan, saya yakin tidak sendirian (Anda juga kan? Ah, jangan bo'ong ah) yang biasanya berurai air mata. Sebab, kala dia bicara itu, pasti lah kita juga ikut terbawa dan mencoba menyelami perasaannya. Seseorang yang sudah berusaha sekuat tenaga. Sudah mengerahkan semua yang ia bisa. Diikuti oleh doa dari orang-orang yang dicintainya. Tetapi ia akhirnya gagal juga. Siapa yang tak menangis membayangkan kegagalan yang demikian itu?

Dan, tiap kali si bintang yang tereliminasi itu berbicara, setegar apa pun ia berusaha, pastilah ia akan tersendat, manakala ia mengutarakan ucapan terimakasihnya kepada ibunya --yang mungkin menonton di rumah. Yang paling saya ingat adalah ketika seorang bintang AFI yang entah keberapa, yang ketika tereliminasi begitu lancarnya mengucapkan kata-kata perpisahannya di awal-awal. Tetapi kemudian ia langsung seperti tersedak, ketika ia berkata, "Mama, akhirnya saya pulang. Maafkan saya. Saya ternyata hanya bisa sampai di sini. Jangan marah ya?"

Berapa kali kita dalam hidup, seringkali diharuskan mengatakan yang seperti ini. Entah diucapkan secara verbal atau hanya kita lantunkan diam-diam dalam hati? Ketika gagal menempuh ujian, ketika tak berhasil mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan, ketika akhirnya kita dikeluarkan dari pekerjaan yang kita cintai? Bahkan ketika menghadapi himpitan dan kegagalan aneka rupa dalam hidup?

Tiap tanggal 1 September ibu saya berulang tahun. Seorang ibu yang biasa-biasa saja. Pensiunan guru SD yang kariernya tak terlalu mencorong dan itu sebabnya sebagian besar masa kerjanya dihabiskan mengajar kelas 1 dan 2 saja. Saya sering bicara tersendat manakala menelepon dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Sebab ingat ia sudah sebegitu tuanya. Sudah sebegitu lamanya jadi ibu kami. Jadi ibu bagi anak-anaknya sejak masih orok hingga sudah beranak pinak. Dan peran itu ia jalankan begitu saja. Tak berubah. Tetap cerewet. Tetap menasihati. Dan tetap menggurui. Tetapi karena sifatnya yang demikian itulah kita mengingatnya sebagai ibu.

Saya tidak janji. Mudah-mudahan saya tidak menangis nanti. Selamat ulang tahun, Omak.

© eben ezer siadari
30 Agustus 2006

3 comments:

  1. menangis..
    semua rasanya pernah menangis
    aku terakhir menangis ketika si kecil sakit flu, gak tahan lihat dia demam dan nangis terus..ya aku menangis menyesali kenapa gak bisa mencegahnya :)

    ReplyDelete
  2. kirain mau ngebahas seara teknis kedokteran... kalaow keluar airmata itu gak cuman karena sedih atau senag, atau terharu,.. tapi karena rangsangan terhadap kelenjar mata.. saya maalah pengentahu gemana mekanism rangsangan terhadap elenjar mata itu

    ReplyDelete
  3. Kapan terakhir kali menangis? Barusan saja sewaktu aku mengakhiri membaca tulisan ini lae. Sae ma nalungun ini ro ma nature. Horas lae. Salam kenal ma sian hami

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...