Thursday, September 21, 2006

Teteh

Ceu Ana dan saya dalam kunjungan terakhir saya ke asrama awal tahun ini

Ruang kuliah itu tiba-tiba senyap. Tak satu pun mahasiswa yang mengikuti kuliah perubahan sosial dan budaya itu mengacungkan tangan. Umar Kayam, sang dosen, berdiri, mengulang pertanyaannya: siapa nama lengkap pembantu kita di rumah masing-masing, dari mana mereka berasal dan kenapa mereka menjadi pembantu. Lagi, tak satu pun peserta kuliah di suatu hari di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogya itu mengacungkan tangan. Mungkin, para mahasiswa itu kaget mendapat pertanyaan yang tak mereka duga samasekali, padahal bahan jawaban itu pada umumnya mereka akrabi sehari-hari. Mereka tak menduga bahwa persoalan sosial dan budaya bisa ‘sedekat’ itu.

( Cuplikan obituari di majalah Tempo mengenang wafatnya Umar Kayam, dengan judul Umar Kayam (30 April 1932-16 Maret 2002), dimuat kembali dalam buku Titipan Umar Kayam, Sekumpulan Kolom di Majalah Tempo, diterbitkan oleh Pusat Data dan Analisa Tempo, 2002).



Ketika dulu pertama kali membaca ini, saya langsung merasa malu dan bersalah. Tersentak. Diam-diam saya membenarkan sinyalemen Umar Kayam, bahwa si Mbak di rumah yang jadi bagian dari keseharian hidup kita, acap kita lupa mengetahui siapa nama panjangnya. Darimana asalnya. Dan mengapa ia jadi bagian dari rumah kita. Mereka itu ada, begitu dekat, bahkan dalam beberapa hal, mereka lebih tahu perihal seluk-beluk rumah kita (semisal dimana letak minyak jelantah, gunting rumput yang terselip di pojok taman, lap buat membersihkan kaca jendela, paku beton yang kita lupa menaruhnya entah dimana). Tetapi kita sendiri hanya tahu sedikit tentang mereka.

Sejak bayi hingga kini, putri kami yang kini berusia 7 tahun, secara berturut-turut diasuh oleh empat orang Mbak-nya. Ipah, Minah, Ati lalu Wanti (adik Ati). Tak satu pun saya tahu nama panjang mereka, bahkan belum pernah melihat KTP mereka. Yang saya tahu, Ipah dulu berasal dari sebuah desa di Pangandaran. Sementara Ati, Minah lalu Wanti, semuanya berasal dari desa yang berdekatan di Purwokerto.

Ipah berhenti setelah bekerja dua tahun di rumah kami. Ia sudah ada di rumah kami sejak Amartya belum lahir. Ia malah sempat ikut ke kampung halaman, Sarimatondang, ketika putri saya berusia 9 bulan untuk dibaptis. Minah, yang paling lama, masih sempat mengantarkan Amartya hingga tahun ketiga sekolah TK. Ia berhenti setelah menikah dan menikah (lagi). Di saat Minah sempat cuti selama setahun (karena pernikahan pertamanya) ia digantikan Ati. Ati kemudian pindah bekerja di rumah seorang kerabat karena Minah ternyata meminta bekerja kembali di rumah kami. Hanya setahun, Minah berhenti lagi karena menemukan suami baru. Ati mengutus adiknya, Wanti, menggantikannya. Hingga kini Ati masih sering mampir ke rumah, bernostalgia dengan adiknya itu sekaligus bernostalgia dengan putri saya. Tapi begitulah. Saya bahkan tak pernah mencari tahu siapa nama panjang mereka, para inang pengasuh yang berjasa itu. Dimana persisnya letak kampung halaman mereka. Dan mengapa mereka terdampar di Jakarta jadi pahlawan-pahlawan bagi keluarga Jakarta yang makin manja akan pekerjaan-pekerjaan domestik.

Tiap menjelang lebaran, saya yakin kita selalu bisa merasakan betapa mereka makin berharga. Ketika mereka bersiap-siap pulang ke kampung halaman masing-masing, kita makin disadarkan betapa besar arti kehadiran mereka. Betapa berat sebetulnya pekerjaan mereka. Tapi ketika mereka ada kita menganggapnya sepele. Hingga kemudian kita benar-benar mencoba sendiri apa yang mereka kerjakan itu di saat mereka tidak ada. Wah, kita jadi benar-benar merasa kehilangan.

Ceu Ana di dapur asrama dengan baju dinasnya

Rasa kehilangan semacam itu lah yang selalu membuat saya tak pernah bisa melupakan seorang wanita bernama Teteh. Itu sebetulnya hanya nama sapaan, bukan nama sungguhan. Tapi begitu lah, lagi-lagi sinyalemen Umar Kayam benar. Walau Teteh saya anggap begitu berarti dalam hidup saya (dan juga bagi banyak kawan-kawan saya), tak pernah terpikir menanyakan apa nama panjangnya dan sudah berapa umurnya. Mungkin karena kami menganggapnya tak penting. Toh dengan nama atau tanpa nama, ia selalu hadir dalam hidup kami, dengan ajek, dengan keceriaan dan juga dengan kegesitannya.

Teteh hadir dalam hidup saya (atau sebaliknya, saya hadir dalam kehidupannya) ketika saya berusia 19 tahun. Di bulan Juli 1985. Ketika itu saya pertamakali menginjakkan kaki di kota Bandung untuk menempuh kuliah. Dan ‘terdampar’ di sebuah asrama mahasiswa di kawasan Dago, Bandung. Lalu berkenalan dengan Teteh, yang kemudian selama lima tahun ke depannya menjadi bagian dekat dari hidup seluruh penghuni asrama itu. Kala itu, Teteh mungkin sudah di usianya yang 40-an tahun.

Sulit menjelaskan siapa Teteh bagi kami, penghuni asrama itu. Resminya dia adalah pembantu. Tetapi peranannya lebih dari itu. Tepatnya, ia mungkin adalah kepala urusan dapur. Sebab ia ‘menguasai’ semua urusan itu. Mulai dari berbelanja bagi kebutuhan makanan bagi 30 orang penghuni, membereskan alat-alat dapur, membersihkan kompor minyak, memanggil tukang bila lemari kayu tempat lauk-pauk rusak dan sebagainya.

Teteh punya beberapa orang staf. Ada Ceuceu, yang usianya lebih muda dari Teteh tetapi lebih sreg dipanggil Ceuceu (bibi). Juga ada si Mak, yang beberapa tahun lebih tua dari Teteh. Ceuceu bertugas all round, mulai dari membantu Teteh memasak lalu mengepel dan kemudian menyeterika. Sedangkan si Mak bertugas mengumpulkan cucian kotor lalu kemudian mencucinya. Setiap pukul 13:00, semua tugas mereka sudah rampung dan mereka pulang ke rumah mereka. Untuk kembali lagi keesokan harinya sebelum matahari terbit.

Di atas kertas, peran Teteh dan kawan-kawan adalah pendukung bagi aktivitas kami penghuni asrama itu, yang datang ke Bandung dengan tujuan ‘maut’ yakni menuntut ilmu untuk meraih gelar sarjana. Tapi pada kenyataannya para pembantu itu, terutama Teteh, seringkali menjadi pusat kehidupan kami. Ia jadi tempat curhat manakala suntuk ketika kita mendapat nilai E ujian tengah semester. Ia tempat berkeluh-kesah di kala kiriman belum sampai-sampai. Ia juga sering jadi penengah ketika kita berkonflik dengan sesama penghuni. Dan semua itu ia jalankan dengan mengalir begitu saja, seperti seorang ibu yang punya anak banyak dengan polah masing-masing. Mungkin karena Teteh memang punya banyak anak kandung, yang beberapa diantaranya sudah seusia kami kala itu.

Sudah tak terhitung berapa kali saya dan kawan-kawan merepotkan Teteh. Mungkin karena Teteh juga senang direpotkan. Tapi dugaan saya, karena Teteh sudah punya karakter untuk selalu membuat sebanyak mungkin orang senang. Sebab saya tidak pernah melihat dia mengeluh untuk direpotkan. Bahkan ia seolah-olah menantang untuk kami repoti dengan aneka permintaan yang aneh-aneh.

Suatu waktu, misalnya, ketika ia melihat selera makan saya turun selama berhari-hari, ia bertanya mengapa saya tak menyentuh makanan yang sudah ia siapkan. Ia bertanya apakah masakannya kurang enak. Apakah saya ada masalah di kampus. Atau ada anggota keluarga yang sakit. Saya tersenyum mesem. Saya hanya mengatakan agak kangen, ingat kedua orang tua di kampung halaman. Lalu bercerita bahwa ibu dulu ketika saya masih SMP, sering memasak tumis jantung pisang. Saya katakan, tumis jantung pisang bikinan ibu enak luar biasa. Diambil dari pohon pisang kepok (pisang sitabar, kata orang Batak) dari kebun di belakang rumah.

Keesokan harinya ketika makan siang, entah bagaimana cara dia mendapatkannya, di kotak ransum plastik jatah saya sudah ada tumis jantung pisang. Siang sudah tinggi ketika itu dan Teteh sudah pulang ke rumahnya. Saya berpikir lama. Sebetulnya saya hanya iseng saja menceritakan tumis jantung pisang itu, semacam upaya melepas perasaan rindu kampung halaman yang tertimbun di hati. Eh, Teteh dengan perasaannya yang peka telah berusaha menyenangkan saya. Dan, sampai hari ini, saya lupa mengucapkan terimakasih untuk tumis jantung pisang yang telah ia siapkan.

Gundah gulana karena ditolak wanita yang kita taksir, adalah keluhan favorit yang biasa ditumpahkan kepada Teteh. Dan Teteh punya banyak cara membesarkan hati. Semisal dengan kata-kata, “Udah, perempuan bukan cuma dia. Masih banyak yang lebih cantik dan lebih baik. Makanya sekolahnya yang rajin, yang pintar, yang cepat lulus. Nanti juga perempuan itu akan luluh hatinya.” Kita biasanya sedikit terhibur dengan kata-kata itu, kendati kita juga sadar, si perempuan yang kita taksir itu menolak kita karena ia kepincut pria lain yang juga mahasiswa, yang lebih pintar, lebih ganteng, lebih prospektif dan kelak juga akan jadi sarjana.



Teteh yang orang Sunda kala lain bisa menghibur kita dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menyebabkan kita serasa tidak sendirian di belantara Bandung. Kepada orang Batak, umumnya ia menanyakan apa saja pekerjaan orang tua di kampung halaman, berapa luas sawah dan kebunnya, kalau lagi menanam singkong, diapakan singkong itu dan seterusnya. Kepada orang Toraja, ia bertanya berapa lama dalam perjalanan hingga sampai ke sana, bagaimana upacara jika ada orang tua yang meninggal, dst. Kepada orang Ambon ia suka bertanya bagaimana membuat kue sagu yang keras itu. Mengobrol tentang hal-hal semacam itu, di dapur pada pagi hari sambil Teteh menyiapkan masakan untuk siang hari (sementara untuk sarapan, para penghuni asrama menyiapkannya sendiri-sendiri, biasanya indomi atau nasi goreng) suasana biasanya jadi riuh. Karena pada saat itu lah para penghuni asrama saling ledek tentang keterbelakangan daerahnya masing-masing. Teteh telah memerankan diri dengan baik sebagai katalisator suasana pagi yang biasanya begitu tegang, begitu tergesa-gesa, di saat semua orang bersiap berangkat kuliah.

Dari Teteh pula kami banyak belajar tentang Bahasa Sunda. Banyak sekali kosa kata Sunda yang kami dapatkan dari dia dari mengobrol ngalor-ngidul dengannya. Semisal apa beda anjeun dan siah, walau pun kedua kata itu sama-sama punya arti: kamu. Suatu kali ketika sepulang KKN dia mendengar ada yang keranjingan menyanyikan sebuah lagu Sunda, Neng geulis, pujaan akang, segera saja ia menukas, “Euleh, euleh, euleh si akang, teu nyangka tiasa nyarios Sunda. Ingat atuh si neung geulis nu di Batak eta.” (E e e e, tidak nyangka si abang bisa bicara Sunda. Ingat dong si gadis cantik yang di Batak sana….”)

Yang paling merepotkan Teteh adalah bila ada upacara-upacara kecil di asrama. Semisal ada penghuni yang berulang tahun dan meminta Teteh memasak agak istimewa dari biasanya. Atau kalau ada yang baru diwisuda dan membuat syukuran kecil-kecilan di asrama kami itu. Wajah Teteh akan sumringah. Sebagian karena ia akan mendapat tambahan uang belanja yang dengan kecermatannya tentu lah juga akan menyisakan serba sedikit untuk uang sakunya. Tetapi sumringahnya yang terutama pasti lah karena ia juga ikut ambil bagian dalam kegembiraan orang yang berulang tahun dan diwisuda itu.

Biasanya acara itu berjalan dengan lancar dan tidak kurang suatu apa. Walau pun para hadirin biasanya lebih banyak dari biasanya, karena umumnya kami juga mengundang kawan-kawan dari luar asrama plus penghuni asrama putri (yang ini selalu tak ketinggalan), tidak pernah terjadi makanan kurang atau piring yang kurang. Kami tak pernah tahu bagaimana Teteh mengusahakan itu semua. Yang jelas, piring-piring dari rumahnya biasanya ikut kami ‘berdayakan.’ Plus anak-anaknya, yang malam itu ikut stand by di dapur.


()()()
Teteh adalah orang yang paling pertama diperkenalkan kepada orang tua siapa saja yang mampir di asrama itu. Kami selalu dengan bangga menceritakan peran Teteh sebagai ibu, sebagai ‘chief of the kitchen staff,’ dan juga sebagai tukang masak yang andal. Kadang-kadang cara memperkenalkannya itu kami lakukan secara berlebih-lebihan, dengan pujian setinggi langit. Bukan tidak ada tujuannya. Sebab kami ingin, selama orang tua kami berada di asrama itu, mudah-mudahan Teteh memperlakukannya dengan baik. Dan terutama, agar Teteh juga bercerita yang baik-baik saja tentang kami. Sebab banyak sekali rahasia kebobrokan kami ada pada Teteh dan jangan sampai dia kelepasan ngomong. Biasanya Teteh memang melaksanakan itu semua dengan sempurna.

Orang-orang yang kemudian meninggalkan asrama itu karena sudah lulus, lalu bekerja di Bandung atau di luar Bandung, biasanya tak pernah bisa lupa untuk datang kembali menjenguk asrama. Untuk orang-orang seperti ini, Teteh lah yang biasanya paling pertama dicari. Sebab dari Teteh lah mereka mendapat informasi, siapa saja kini penghuni asrama, dan apakah masih ada orang-orang yang masih mereka kenal. Kami penghuni asrama biasanya senang bila kedatangan para alumni. Sebab mereka biasanya akan mentraktir kami makan malam atau siang di rumah makan kakilima entah dimana.

Kebiasaan bernostalgia ke asrama makin jarang apabila sang alumni sudah berkeluarga. Memang repot lah untuk bawa-bawa anak-istri berkunjung ke asrama yang semua penghuninya pria. Lagipula, makin kita beranjak tua, makin tak ada lagi yang kita kenal di asrama itu. Jadi seringkali kita hanya mampir sebentar, berbincang-bincang sejenak dengan Teteh, lalu sejenak melakukan ‘inspeksi’ ke bekas kamar kita, lalu meninggalkan asrama itu.

Jika kami selalu merepotkan Teteh, seingat saya, Teteh samasekali tak pernah membuat kami repot. Yah, ada juga lah sekali dua kali kami mengeritik pekerjaannya atau pekerjaan stafnya. Misalnya, apabila kita merasa potongan-potongan ikan yang jadi jatah kita makin hari makin terasa kecil. (Padahal, uang asrama kami kala itu supermurah lho. Tahun 1985, Rp35 ribu per bulan, termasuk makan siang + malam dan cuci, tahun 1986 jadi Rp50.000, dan ketika saya lulus tahun 1990, Rp80.000). Atau kalau sekali waktu stafnya mencuci baju putih kita bersamaan dengan kain lain yang luntur. Yah, kita pastilah sedikit ngomong nyelekit kepada Teteh.

Di luar hal-hal semacam itu, Teteh adalah pahlawan, tulang punggung hidup kami dan juga pemberi semangat. Tak mengherankan bila kami tak pernah bisa membayangkan bila ia sakit. Dan untungnya, ia tak pernah sakit. Kalau pun ia sakit, ia selalu memaksakan hadir di asrama. Semisal bila ia flu, ia tetap muncul di asrama kami seperti biasa, pada subuh, lengkap dengan jaket dan syalnya plus suaranya yang serak. Ia akan bekerja seperti biasa, kendati kemudian ia akan minta izin pulang lebih awal.

Jika sakitnya parah, ia cukup cerdik untuk memasakkan makanan kami di rumahnya. Menjelang siang, ia akan mengutus anaknya mengantar makanan itu mengendarai angkutan kota. Panci-panci besar dibungkus taplak meja diturunkan di asrama. Lalu kemudian makanan di dalamnya dibagi-bagi ke kotak ransum yang sudah tersedia.

Jadi Teteh selama lima tahun saya kenal, saya anggap tidak pernah sakit. Hasil pekerjaannya selalu ada, on time, dan tidak pernah bolos sehari pun, kecuali pada hari lebaran ketika ia libur dan pada hari Natal.


()()()
Dulu saya tak pernah terpikir mengapa Teteh disebut Teteh, padahal usianya sudah separuh baya ketika saya mengenalnya. Sekarang saya baru mencoba mengira-ngira jawabannya. Ia disapa Teteh, karena ia memang sudah bekerja di asrama kami itu sejak ia masih belia, sejak ia masih berperan sebagai Teteh, bukan sebagai ibu. Yang saya dengar, ia mewarisi ‘jabatan’ chief of the kitchen staff itu dari ibunya, yang juga sejak muda sudah bekerja di asrama itu. Itulah alasannya mengapa nama Teteh itu melekat padanya, padahal ia sudah lebih pantas sebagai ibu.

Itu pula alasannya mengapa Ceuceu yang masuk belakangan disapa dengan Ceuceu, karena umurnya memang sudah layaknya seorang Ceuceu ketika mulai bekerja di asrama kami itu. Begitu pula dengan si Mak, yang memang sudah Emak-emak ketika bekerja di asrama kami.

Rumah Teteh berada di sebuah pemukiman padat di Bandung bagian atas. Dulu saya pernah beberapa kali ke sana, ketika merayakan lebaran sambil menikmati ketupat dan kue-kue bikinannya. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi juga cukup asri dibandingkan dengan rumah-rumah tetangganya. Suaminya bekerja sebagai tukang, berkeliling dari satu daerah ke daerah lain mengikuti proyek yang ia ikuti. Saya lupa Teteh punya anak berapa, tetapi seingat saya cukup banyak. Tujuh atau delapan.

Kunjungan terakhir saya ke rumah Teteh adalah pada sebuah peristiwa yang menyesakkan. Hari itu kami tidak melihat Teteh datang ke asrama dan sudah seminggu terakhir ia selalu pulang lebih awal. Kami mendengar suaminya sakit. Dan kian hari kian parah sehingga pada hari itu, Teteh samasekali tidak hadir di asrama.

Dengan beramai-ramai kami kemudian datang ke rumah Teteh, menjenguk suaminya yang ternyata sudah terbaring demikian lemahnya. Teteh menyambut kami di pintu dengan air mata yang meleleh. Ia kelihatan sudah putus asa. Suaminya yang bertubuh tinggi besar, kini kelihatan kurus dan pucat. Nafasnya satu-satu. Paru-parunya bermasalah, sebuah risiko yang biasa ditanggung oleh perokok dan pekerja berat.

Saya terduduk diam di teras rumah yang sempit itu. Tidak pernah saya melihat Teteh setidakberdaya itu. Ia panjang lebar bercerita tentang penyakit suaminya. Sudah dibawa ke poliklinik berminggu-minggu tak kunjung membaik. Usia suaminya yang kala itu mungkin menjelang 60, sebetulnya masih cukup kuat untuk mendapat pemulihan. Tetapi ketidakberdayaan secara ekonomi, membuat semuanya tak pernah menemukan jalan keluar.

Apalah daya kami para mahasiswa, yang sama-sama tidak berdaya juga? Kami sesama penghuni asrama itu saling berpandangan, saling menerawang, saling memutar otak, kiranya apa yang bisa kami akan lakukan. Tetapi dengan sudut mata, saya melihat Teteh makin kuat dengan kehadiran kami. Bahkan kemudian ia berkata, ia sudah lelah, sudah puas merawat sang suami. Dan seandainya pun dipanggil Tuhan, ia sudah rela. Itu dikatakannya dengan usapan terakhir pada matanya yang sudah tak berkaca-kaca lagi.

Sepulang dari asrama itu, kami para penghuni berembuk mencari cara membantu Teteh. Tak ada usul konkrit karena sebetulnya kami pun sama-sama tak punya uang. Salah satu usul yang paling bisa kami jalankan adalah menghubungi para alumni. Yang pertama, para alumni yang terdekat, di Bandung. Lalu alumni yang ada di Jakarta. Lalu menulis surat pembaca di koran. Kami pun berusaha melacak alamat para alumni, yang anehnya, kenapa kami tak pernah terpikir untuk mencatat alamat mereka itu.

Malam harinya, ketika kami baru saja menyusun isi redaksional surat pembaca yang akan kami kirimkan ke surat kabar, kami mendengar kabar, suami Teteh sudah wafat. Kami segera berhamburan keluar kamar dan segera berangkat lagi ke rumah Teteh. Kami ikut menghantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Teteh ternyata cepat pulih, cepat kuat kembali setelah kemalangan yang menimpanya itu. Barangkali pekerjaannya mengurusi kami, para mahasiswa yang kadang-kadang lebih manja dari anak TK, telah turut mempercepat kembalinya kekuatannya. Ia kembali menjadi Teteh seperti sedia kala, yang gesit, yang ceplas-ceplos menyambung ledekan kami. Hanya sesekali ia tersedak, lalu matanya basah, ketika misalnya ada alumni yang datang dan bertanya kepadanya, “Apa kabar Bapak? Sehat?” sebab tidak tahu bahwa sang suami sudah meninggal. Tapi suasana muram itu biasanya hanya sebentar, sebab Teteh dengan segera menenggelamkan diri pada kesibukannya.

Saya meninggalkan asrama itu di awal tahun 1991. Teteh ikut memberes-bereskan barang yang akan saya bawa ke Jakarta, untuk mencari kerja. “Jangan lupa sama Teteh ya,” itu adalah ucapan klise yang selalu ia sampaikan kepada siapa saja yang akan meninggalkan asrama itu. Dan kita selalu menyambutnya dengan senyum yang dibikin-bikin, karena kita pun sebetulnya terharu, ingin menangis karena merasa berat meninggalkan asrama.

Setelah bekerja di Jakarta, manakala ada kesempatan berkunjung ke Bandung, saya masih sering mampir di asrama itu. Pada saat itu biasanya kita masih diterima dengan hangat oleh para penghuninya, karena satu-dua diantara mereka masih mengenal kita dengan akrab. Tetapi lambat laun seiring dengan perjalanan waktu dan usia, makin jarang juga mampir ke sana. Makin tidak banyak lagi penghuninya yang kita kenali. Dan makin lama penyambung memori dengan asrama yang berjasa itu hanyalah bangunannya yang tambah tua dan reot, serta yang terutama, Teteh si wanita baja.

Tahun lalu (2005) saya mengunjungi asrama itu, oleh karena ada sebuah pekerjaan singkat di kota Bandung. Di pintu gerbang asrama, dua ekor anjing menggonggongi saya dengan keras. Pagi masih begitu dini ketika itu, ketika dugaan saya, sebagian besar penghuni asrama masih pulas dalam tidurnya. Itu memang hari Sabtu.

Tiba-tiba saya mendengar suara seorang wanita yang menghardik anjing-anjing itu agar segera diam. Dan, benar, suara gonggongan memang langsung mereda. Saya mencari-cari darimana suara itu datangnya. Dan, saya sedikit kecewa, karena ternyata bukan Teteh yang saya temukan. Suara tadi datang dari Ceuceu, yang dengan segera memeluk saya. “Apa kabar? Bagaimana kabar keluarga?” begitulah ia bertanya. Di belakangnya segera menyusul si Mak, dengan pertanyaan yang serupa.

Ceuceu lantas tanpa saya minta berkisah panjang lebar seperti kereta api tentang perkembangan terakhir asrama. Juga satu-dua ia bercerita tentang kawan-kawan sebaya yang ada juga datang berkunjung ke asrama itu. Ceuceu juga menuntun saya ‘meninjau’ kamar-kamar yang pernah saya tempati dahulu di bagian belakang asrama itu. Sebagian penghuninya terkejut dan berbenah ketika saya melongokkan wajah dari pintu. Mungkin mereka kaget ada tamu sepagi itu. Ketika Ceuceu bercerita bahwa saya pernah tinggal di sana, spontan mereka bertanya tahun berapa. Ketika saya katakan saya pertama kali masuk ke asrama itu tahun 1985, sebagian diantara mereka tertawa. “Wah, kami belum lahir waktu itu Pak.” Sialan. Saya diingatkan bahwa saya sudah tua.

Setelah melongok kesana kemari, saya bertanya kepada Ceuceu kok Teteh belum nongol. Saya melihat wajah Ceuceu keheranan. Sebab menurut dia, Teteh sudah lama tidak bekerja lagi. Teteh sudah tua, dan sudah kurang sehat. Teteh memang ‘pensiun’ secara pelan-pelan. Ketika usianya makin uzur, mula-mula perannya dikurangi. Ia hanya jadi tukang masak saja dan pulang lebih cepat. Lalu kemudian hanya masuk seminggu sekali. Tetapi kemudian berhenti. Atas kebaikan seorang alumni yang harus pindah ke luar kota Bandung demi penempatan baru, Teteh juga pernah bekerja menjaga rumah sang alumni itu. Hingga kemudian Teteh tidak bekerja lagi samasekali.

Saya terpana mendengar cerita itu. Tambah terpana karena jadi ingat apa yang dikatakan Umar Kayam dalam kuliahnya. Bahwa kita, orang-orang berpendidikan, intelektual yang merasa hidupnya mapan, seringkali lupa bertanya siapa nama panjang si Mbak di dapur, lupa untuk bertanya darimana asalnya, dimana rumah atau kampung halamannya. Seperti saya yang mematung di hadapan Ceuceu. Saya samasekali tak tahu mencari Teteh dimana. Sebab saya tidak tahu dan tidak pernah mencatat dimana persisnya rumahnya, walau pernah beberapa kali ke sana.


()()()

Setelah saling bertelepon berkali-kali, pada suatu malam akhirnya jadi juga kami makan bersama. Bas dan Saya, yang pernah sama-sama menghuni asrama itu bertemu di Nasi Goreng Kambing Kebun Sirih di Jalan Sabang. Dulu, Bas yang lulusan ITB bekerja dan tinggal bersama keluarganya di Bandung. Tetapi tiga tahun terakhir ia setiap pekan bolak-balik Bandung-Jakarta, karena ia dipindahkan ke kantor cabang di Jakarta. Sambil dengan lahap menyantap hidangan, nasi goreng yang empuk dan menyeruput es jeruk, kami bernostalgia tentang masa lampau. Lalu kemudian merembet ke cerita soal Teteh. Ternyata ia juga terkejut ketika saya berkata Teteh sudah tak bekerja lagi di asrama.

Lama kami terdiam, sebelum ia menukas, nanti, kalau ia pulang ke Bandung, akan ia coba cari informasi tentang Teteh. Ia juga segera mengangkat telepon selularnya, menelepon kawan lain, alumni asrama itu juga, yang tinggal di Bandung. Cerita tentang Teteh kembali mengemuka pada pembicaraan mereka di telepon.

Ketika Bas dan saya berpisah, sekali lagi ia menekankan akan mengunjungi asrama itu lebih sering, plus menjenguk Teteh ke rumahnya. Bas seingat saya, adalah orang yang paling sering dimanjakan Teteh dengan memasakkan Indomi sekali dua bungkus, plus telur dua. Bas berbadan besar, makan lahap terutama ketika sedang banyak pikiran (berbalikan dengan saya). Mudah-mudahan Bas tahu dimana alamat rumah Teteh. Wanita yang tak pernah terlupakan. Sebagai chief of kitchen staff. Sebagai ibu penampung keluh-kesah. Dan wanita yang menjadi penyambung masa kini dengan masa lalu kami di asrama itu.

Ciputat, 22 September 2006
© eben ezer siadari

Tulisan lain tentang asrama itu bisa di baca di Asrama Kami yang Jenaka dan Pukka yang Selalu Lebih Tua dari Usianya

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...