Wednesday, September 13, 2006

Yang Tersisa dari Perpustakaan yang Hilang



Dulu di tempat saya memulai bekerja sebagai wartawan, ada sebuah perpustakaan. Isinya buku-buku dan debu. Juga tumpukan majalah yang menggunung, dokumen-dokumen, bundel laporan kantor berita, buku tahunan perusahaan go public dan sebagainya.

Kala itu fungsi komputer masih sebatas memproses naskah dan sedikit menyimpan data. Internet belum mewabah. Mencari referensi untuk penulisan berita masih mengandalkan laporan-laporan teleteks dari kantor-kantor berita dan juga buku. Kertas adalah bagian terpenting dari pekerjaan menulis kala itu.

Lalu kemajuan teknologi informasi mengubah semua. Data makin banyak disimpan dalam komputer. Internet jadi sumber referensi. Perpustakaan itu makin sepi peminat, kecuali manakala kita lelah sehabis deadline. Lalu duduk di ruangan yang dingin itu, membaca-baca buku tua sebelum akhirnya kita rebah tertidur.

Ruangan itu luas. Dan makin lama makin banyak yang berpikir alangkah baiknya jika ia digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna. Setelah rapat dan perdebatan yang panjang, akhirnya diputuskan perpustakaan itu dilenyapkan saja. Koleksi buku itu disumbangkan kepada perpustakaan-perpustakaan umum yang sudah eksis.

Banyak yang sedih. Lagi-lagi kita disadarkan pada absurditas manusia memandang buku. Ketika ia ada di hadapan kita, kerap kita biarkan ia bertumpuk begitu saja. Tidak disentuh. Membuat berantakan suasana ruang, seperti meja kerja saya di kantor dan lemari buku saya di rumah yang kacau. Tetapi ketika kita akan berpisah dengannya, mendadak sontak muncul rasa sentimentil. Rasa sayang. Rasa tidak ingin kehilangan.

Saya ingat cerita tentang Dr. Sjahrir, ekonom terkenal yang mendirikan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB). Saya baca disalah satu buklet memperingati ulang tahunnya tempo hari, bahwa kegemaran Sjahrir manakala bepergian ke luar negeri adalah belanja buku. Lebih tepatnya, kulakan buku, karena buku-buku yang dia beli itu demikian banyaknya.

Kata istrinya, setiba di rumah di Jakarta, buku-buku itu ditimang-timang, dielus-elus, bahkan sampai dibawa-bawa ke tempat tidur. Apakah semuanya dia baca? Belum tentu karena Sjahrir adalah orang sibuk. Tetapi penghargaannya akan buku, tampaknya adalah simbol apresiasinya pada kegiatan intelektual. Plus, mungkin kerinduan pada masa-masa ketika mahasiswa dulu, saat mana kita merindukan begitu banyak buku bagus, tetapi kita hanya berkesempatan membaca fotokopiannya. Itu pun tidak utuh semua isinya. Sebab kadang kala Pak Dosen hanya memfotokopi bab-bab yang dianggap penting. Apalagi memfotokopi keseluruhan buku pastilah menguras isi kantong.

Sebelum perpustakaan kami itu dilenyapkan dan buku-buku koleksinya disumbangkan ke perpustakaan lain, tiap kami diberi kesempatan mengambil dan memilih 10 buku untuk dimiliki. Saya juga ikut kebagian. Bahkan, sebelum kebijakan membagikan 10 buku kepada tiap orang itu benar-benar final, satu demi satu buku itu sudah sempat saya ambil. Karena saya tahu, kelak koleksi-koleksi itu mungkin tak kan pernah lagi dapat saya baca.

Diantara banyak buku yang saya dapatkan itu, satu yang paling berharga, menurut saya, adalah sebuah buku berjudul, Readings for Writer. Pengarangnya Jo Ray McCuen dan Anthony C. Winkler diterbitkan oleh Harcourt Brace Jovanovich Inc. Yang di tangan saya itu adalah edisi keempat, tahun 1983.

Dari sampulnya sendiri yang sudah lecet, saya jadi tahu bahwa buku ini mampir ke perpustakaan kami adalah karena sumbangan pihak lain juga. Sebab ada stempel di halaman kedua buku itu, berbunyi, A Gift of The Asia Foundation, Books for Asia, San Fransisco, California USA, lewat Yayasan Asia.

Buku tebal (605 halaman) ini tak pernah bisa selesai saya baca. Selain karena berbahasa Inggris (dan bahasa Inggris saya pas-pasan) buku ini memuat banyak topik teknis tapi dengan bahasa yang mengalir tentang kepenulisan. Ia membahas secara mendasar dan menusuk ke bagian terdalam dari teknik dan bentuk tulisan.

Bagaimana menulis retorika, bagaimana memasukkan ‘jiwa’ kepada sebuah tulisan, bagaimana menyodorkan sebuah tesis dengan sangat meyakinkan, bagaimana mengorganisasikan tulisan, bagaimana pidato yang bagus, bagaimana membuat sesuatu penjelasan masuk akal, bagaimana menulis perihal sains dengan enak dan bisa dibaca banyak orang –bukan hanya oleh pakar di bidang itu—hanya lah beberapa contoh dari pokok-pokok bahasannya.

Tapi yang paling membuat saya menempatkan buku ini demikian berharga adalah karena selain mengajarkan teknik, ia juga menyodorkan contoh-contoh tulisan yang ideal, paling tidak menurut penulisnya. Buku ini penuh dengan cuplikan-cuplikan puisi, narasi, artikel dari pengarang-pengarang terbaik. Mulai dari yang bertema sains, bahasa, pria dan wanita, nilai-nilai Amerika, pendidikan, sastra, filosofi dan agama, hingga persoalan-persoalan sosial ada di dalamnya. Dan, sampai hari ini, saya belum bisa menyelesaikan membaca semua tulisan itu.

Ada beberapa tulisan yang jadi favorit saya. Semisal A Good Man is Hard to Find, karya Flannery O’Connor, Thinking as a Hobby (William Golding), A Jerk Can’t See Himself as Others Do (Sidney J. Harris), The Effifacy of Prayer (C.S. Lewis), The Unhappy American Way (Bertrand Russel), The Satisfaction of Life (H.L. Mencken) dan beberapa lainnya.

Namun yang sering saya baca berulang-ulang dan tak pernah habis memberi saya inspirasi menulis tentang masa kecil, adalah cuplikan otobiografi Floyd Dell yang dalam buku ini diberi judul We’re Poor. Nada tulisan ini memang murung (Istri saya tak pernah mau membacanya sampai selesai). Tapi saya benar-benar menikmatinya karena dengan membacanya, saya makin hari merasakan bahwa hidup adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.

Setiap menjelang Natal, saya selalu punya niat menerjemahkannya dan mengirimkannya entah ke Surat Kabar mana. Soalnya cerita ini mengambil setting hari Natal. Tetapi sudah beberapa kali Natal terlewat, saya malah lupa akan niat saya itu. Daripada untuk kesekian kalinya saya lupa, lebih baik saya kerjakan sekarang dan saya bagikan melalui blog ini. Idealnya, naskah ini saya hadirkan saja dalam bahasa aslinya, Bahasa Inggris. Tapi saya terjemahkan juga akhirnya, sebab, mengetik naskah Bahasa Inggris ternyata lebih ribet daripada langsung membahasakannya ke dalam Bahasa Indonesia. Mudah-mudahan terjemahan saya ini tidak terlalu menyimpang dari nada aslinya. Saya juga berusaha menampilkannya dalam format yang persis seperti yang tampil di buku itu.



Kami Orang Miskin
Oleh Flyod Dell


Floyd Dell (1887-1969) adalah penulis profilik, editor dan kampiun pasifis dan isu-isu radikal. Pada tahun 1920-an dan 1930-an, ia menulis 10 novel, enam buku nonfiksi dan sejumlah naskah teater, dan Homecoming (1933), otobiografinya. Narasi berikut ini diambil dari otobiografi Dell, tentang penemuan seorang anak kecil akan rasa malu dan rasa terhina ketika mengetahui dia dan keluarganya memang miskin.

Di musim dingin itu, ketika kedua sol sepatu saya belum bolong sedemikian parah, saya masih tetap pergi ke Sekolah Minggu. Dan, pada suatu hari, guru Sekolah Minggu menyampaikan pengumuman kepada kami. Katanya, sekarang adalah masa yang sulit dimana banyak anak-anak miskin yang tidak punya makanan. Itulah pertamakalinya saya mendengar berita semacam itu. Lantas Guru itu meminta tiap kami untuk membawa sumbangan makanan pada Minggu depan, untuk diberikan kepada anak-anak miskin. Saya sungguh sedih dan bersimpati pada anak-anak miskin yang diceritakannya itu.

Juga, amplop-amplop kecil dibagikan kepada seluruh murid. Diharapkan kami juga menyumbang sedikit uang pada Minggu depan untuk para kaum miskin. Guru Sekolah Minggu yang cantik itu mengatakan di tiap amplop kami, kami harus menuliskan nama kami, atau meminta orang tua kami menuliskannya di sudut kiri..... Saya menyampaikan itu semua kepada ibu saya ketika tiba di rumah. Dan, ketika Minggu depan itu tiba, ibu saya membekali saya sebungkusan kecil kentang untuk dibawa ke Sekolah Minggu. Saya membayangkan ibu anak-anak miskin itu akan membuat sup kentang untuk mereka.... Sup kentang yang enak. Ayah saya, yang suka melucu, selalu berkata seolah-olah ia terkejut, “Ah, kita ternyata punya sup kentang yang lezat hari ini!”. Sangat menyenangkan menikmatiknya setiap hari. Ayah saya ketika itu di rumah saja sepanjang waktu, dan sekarang bahkan ia setiap hari di rumah saja (saya suka itu) walaupun terkadang ia sering marah-marah ketika sambil duduk membaca ‘Memoirs’ karya Grant. Kedua orang tua saya benar-benar hanya milik saya. Tidak ada siapa-siapa lagi yang memilikinya. Kakak lelaki saya bernama Quincy, dan saya tidak ingat dimana lagi dia sekarang, mungkin ikut kerabat di desa lain.

Sambil membawa tas kecil berisi kentang ke Sekolah Minggu, saya memperhatikan sekitar saya mencari-cari siapa tahu ada anak-anak miskin. Saya kecewa karena tidak menemukannya. (Padahal) saya sudah sering mendengar anak-anak miskin dalam cerita. Ketika tiba di Sekolah Minggu saya diminta mengumpulkan tas kentang saya ke sebuah meja besar di samping ruangan, disatukan dengan sumbangan dari anak-anak lain.

Saya juga membawa amplop kuning yang berisi uang untuk disumbangkan kepada para anak-anak miskin. Ibu saya telah memasukkan uang ke dalamnya dan merekatkan tutup amplop dengan lem. Dia tidak memberitahu saya berapa jumlah uang yang ia masukkan, tapi saya kira beberapa dime. Ibu tidak mengizinkan saya menuliskan nama di amplop. Saya sebenarnya sudah bisa menuliskan nama saya sendiri dan saya bangga bisa menulis. Tapi ibu saya, dengan halus berkata, “jangan.” Saya dilarangnya menuliskan nama. Tidak dia berikan apa alasannya. Di jalan menuju Sekolah Minggu saya meraba-raba amplop itu dan ternyata saya bisa menebak, jumlahnya bukan beberapa dime, tetapi hanya beberapa penny.

Ketika saya menyerahkan amplop itu, guru Sekolah Minggu mendapati bahwa tidak tertera nama saya di sana, lalu dia memberi saya sebuah pinsil; kamu bisa menuliskan namamu disitu, kata dia. Maka saya tulis. Tapi saya agak bingung sebab ibu saya tadinya melarang, dan ketika saya tiba di rumah, hal itu saya beritahukan kepada ibu saya. Saya melihat ibu saya cemas. “Kan sudah saya bilang jangan menuliskan nama....,” kata dia. Tapi dia tidak menjelaskan mengapa harus begitu.....

Setelah Minggu itu, saya tidak ke Sekolah Minggu lagi pada musim dingin itu. Ibu saya mengatakan saya tidak pergi karena saya sakit. Saya terkena demam, karena bermain-main di salju tanpa alas kaki, karena sol sepatu saya bolong. Ayah saya kemudian mengganti sol sepatu itu dengan kertas dan saya pun bisa memakainya kembali. Selama saya masih berada di dalam rumah, sepatu itu masih cukup enak dipakai.

Saya mengurung diri di rumah tanpa teman. Kami tak lagi berlangganan koran Minggu tetapi Adage masih rutin hadir di kotak surat kami; dan kendati saya tidak bisa membaca huruf-huruf kecil, saya masih bisa melihat gambar Santa Claus di halaman iklannya.

Di dapur kami ada sebuah kalender. Tanggal berwarna merah adalah hari Minggu dan hari-hari libur; dan tanggal 25 yang merah adalah hari Natal. (yang kala itu jatuh pada hari Senin). Saya tahu hari ini adalah hari Minggu karena ketika saya melihat lewat jendela, saya dapat melihat anak-anak tetangga berpakaian rapi, hendak pergi ke Sekolah Minggu. Saya segera tahu bahwa Natal akan segera tiba.

Tapi ada yang membuat saya bingung. Ayah dan ibu tak bicara apa-apa tentang Natal. Dan ketika suatu waktu saya pernah mengingatkannya kepada mereka, tiba-tiba saja suasana jadi hening, mereka terdiam. Karena itu lah saya tidak lagi mau mempercakapkan Natal. Tapi tetap saja dalam hati saya bertanya-tanya, bingung, mengapa mereka tidak pernah bicara tentang Natal? Apakah saya telah meminta hadiah yang terlalu mahal kepada mereka?

Setelah itu saya jadi tak terlalu banyak bicara lagi. Saya jadi pendiam dan cemas. Apa sebenarnya yang jadi masalah? Kenapa ayah dan ibu saya tak pernah membicarakan apa pun tentang Natal? Semakin dekat hari itu, dada saya semakin sesak dengan kegelisahan.

Dan kini adalah hari Minggu. Besok hari Natal. Saya pasti tak salah lagi. Tetapi tak satu kata pun keluar dari ayah dan ibu saya mengenai itu. Saya menunggu dengan masygul sepanjang hari. Dan ketika makan malam tiba, saya diizinkan duduk bersama mereka. Saya menunggu lama untuk bisa mengatakan sesuatu. “Sudah saatnya kamu pergi tidur, Nak,” ibu saya berkata dengan halus. Tapi saya merasa harus mengatakan sesuatu.

“Sekarang kan malam Natal?” saya bertanya, seolah-olah saya tidak tahu.

Ibu dan ayah saya saling berpandangan. Kemudian ibu saya menatap menerawang jauh. Wajahnya kuyu dan beku. Ayah saya berbatuk untuk menjernihkan suara, lalu memasang wajah lucunya. Dia berlagak seakan baru tahu sekarang adalah malam Natal karena dia belum baca koran. Lalu dia berkata akan pergi ke kota untuk mencaritahu.

Ibu saya bangkit dan pergi ke luar kamar. Karena saya tidak ingin ayah saya terus melucu tentang Natal saya pun pergi tidur. Saya pergi sendiri dan merebahkan diri di tempat tidur.

Saya merasakan badan saya pegal. Seperti saya terkena pukulan. Sangat sulit bernafas. Sakit terasa di sekujur tubuh. Kebingungan untuk menemukan kebenaran.

Tubuh saya akhirnya menemukan jawaban sebelum pikiran saya. Dalam beberapa menit, di saat saya bisa berpikir, otak saya akhirnya tahu. Dan seiring dengan sakit yang saya rasakan di badan, rasa sakit di pikiran saya pun mulai. Saya belum menemukan kata-kata untuk menjelaskannya. Tapi akhirnya saya mengerti mengapa saya hanya membawa sebungkus kecil kentang ke Sekolah Minggu pada musim dingin itu. Saya juga jadi paham mengapa saya hanya membawa beberapa penny di amplop kuning itu. Saya juga makin tahu mengapa saya tidak sekolah lagi –mengapa saya tidak punya sepatu baru—mengapa kami setiap hari hanya makan dengan sup kentang. Semua ini memenuhi, saling sambung-menyambung dan mengisi pikiran saya yang memberi saya jawaban.

Lalu kata-kata itu muncul di dalam pikiran saya dan saya membisikkannya dalam gelap:

“Kami orang miskin.”

Ya, itu dia. Saya lah satu diantara anak-anak miskin yang ceritanya saya dengar di Sekolah Minggu. Ibu saya tak mau mengatakannya pada saya. Ayah saya diberhentikan dari pekerjaannya dan kami samasekali tak punya uang. Itulah sebabnya tidak ada Natal di rumah kami.

Lalu saya ingat sesuatu yang membuat saya malu--mulut besar saya. (Bukankah saya pernah berkata kepada seorang kawan, “Saya akan jadi presiden Amerika suatu saat?” Atau kepada seorang kawan wanita, “Saya akan menikahimu nanti kalau saya sudah besar?” Itu adalah bualan yang membuat saya malu jika saya ingat sekarang).

“Kami orang miskin.” Di tempat tidur di dalam gelap, saya membisikkannya lagi dan lagi dan lagi.

Sebetulnya hal itu tidak begitu menyedihkan, kata saya dalam hati. Yang jadi masalah adalah mengapa saya tidak tahu sebelumnya. Sehingga saya sempat membayangkan hal-hal bodoh; semisal saya akan sekolah di Ann Arbor -–menjadi pengacara hebat—-berpidato di lapangan besar, menjadi presiden.

Sekarang saya telah tahu masalahnya.

Jika sebelumnya saya ingin mendapat hadiah pada hari Natal. Sekarang tidak lagi. Saya tidak ingin apa-apa lagi. Saya berbaring di dalam gelap, merasa jadi orang terbuang.

Itu menyakitkan. Tapi tak kan mungkin ada yang lebih sakit lagi. Saya tidak akan pernah membiarkan diri saya menginginkan apa-apa lagi.


Pagi kemudian tiba setelah malam buruk yang tak sepenuhnya bisa saya ingat. Walau setahu saya, saya tidak menggantungkan kaus kaki apa pun di kamar saya (yang di malam Natal konon akan diisi hadiah oleh Santa Claus, Red), anehnya saya melihat ada sepatu tergantung di tempat tidur saya. Juga ada sekantong popcorn dan sebuah pinsil untuk saya. Saya kira mereka (ayah dan ibu saya, Red) telah melakukan apa yang terbaik yang mereka bisa, bahwa mereka menyadari bahwa saya tahu tentang Natal. Tetapi mereka sebenarnya tak perlu menghadiahi saya apa-apa. Sebab saya tidak menginginkan apa-apa.

***
Cuplikan cerita ini memang muram. Tapi saya yakin otobiorafi Floyd pastilah berakhir dengan happy ending. Sembari membayangkan serta membandingkan Floyd kecil dan Floyd ketika menulis otobiografinya, dalam hati saya selalu berkata. Alangkah berharganya hidup. Dan alangkah banyaknya hal yang patut disyukuri. Perayaan seperti Natal (atau Ramadhan, misalnya) bisa datang tiap hari. Perayaan tanpa hadiah pun bisa terjadi pada tiap kita. Tapi seperti pernah saya baca di sebuah artikel bisnis, nasihat yang penting adalah: Tidak penting siapa Anda hari ini. Tetapi....

Memang penting untuk membayangkan dan memperjuangkan siapa kita kelak. Selamat menjelang Ramadhan bagi yang akan merayakannya.

(c) eben ezer siadari

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...