Wednesday, October 04, 2006

Do the Little Things

What you do may not seems important
But it is very important that you do it

(Mahatma Gandhi)

Saint David

Setiap pagi sambil berolah raga di tempatnya tinggal, Pak Gunadi punya kebiasaan aneh. Sambil berjalan ia selalu menunduk, seolah ia tak mau melewatkan setapak pun jalan yang ia lalui tanpa mengamatinya dengan seksama. Kadang kala ia berhenti dan memungut sesuatu, untuk kemudian melanjutkan perjalanannya.

Bu RT yang berpapasan dengannya keheranan. Mengapa Pak Gunadi selalu merunduk dan tampaknya asyik mencari dan memungut sesuatu. “Ada apa Pak, kok kelihatannya asyik betul? Lagi mencari apa sih, kok setiap pagi saya lihat selalu menunduk-nunduk di jalan ini?” Begitulah Bu RT memberondongnya dengan pertanyaan.

“Oh, tidak apa-apa Bu. Sambil berjalan saya hanya mencari paku-paku yang banyak bertebaran di jalan ini.” Pak Gunadi menjawab.

“Lho, untuk apa paku itu Pak?”

“Untuk dibuang dan disingkirkan. Kasihan orang yang naik motor atau mobil. Mungkin mereka sedang buru-buru ke kantor atau kemana, eh, bannya kempes terkena paku. Maka sambil berolah raga, saya singkirkan saja paku-paku yang mungkin ada di jalan ini. Supaya makin sedikit yang terkena musibah karena paku yang disebar di jalanan.”

Bu RT manggut-manggut. Dan keesokan harinya, Bu RT sambil berjalan di kompleks itu, ikut-ikutan menunduk: mencari paku. Kebaikan-kebaikan kecil, yang terlihat tidak begitu penting, tetapi ketika ia terjadi dalam dunia nyata, kerap kali menular, berdampak dan membarui sikap.


***
Katedral St David di kota St David

Cerita itu saya dengar beberapa minggu lalu. Tepatnya pada 10 September 2006. Di gereja tempat kami beribadah, GKI Kwitang, Jakarta. Kisah itu dijadikan sebagai ilustrasi untuk khotbah hari itu yang bertema Yesus Menjadikan Segala-galanya Baik (Markus 7:31-37). Yang berkhotbah hari itu, ya, Pak Gunadi tadi. Sehari-hari dia adalah pendeta di GKI Halimun.

Menurut Pak Gunadi, banyak cara untuk melakukan kebaikan. Tak perlu kelihatan besar. Tak perlu kelihatan penting. Mungkin bisa lewat cara-cara yang kelihatan remeh-temeh, seperti memungut paku yang sering menjadi ‘ranjau’ di jalanan. Yang terpenting dalam melakukan kebaikan itu, menurut Pdt Gunadi, adalah kesadaran karena dan untuk siapa kita berbuat baik. Dan dari perspektif iman Nasrani, menurut dia, kebaikan yang kita lakukan adalah sebagai wujud dari rasa syukur. Rasa terimakasih. Karena Dia telah lebih dulu berbuat baik kepada manusia. Dia telah terlebih dahulu menjadikan segala-galanya baik pada awalnya. Dan, karena itu lah seharusnya manusia berbuat baik. Yakni kebaikan yang datang sebagai rasa terimakasih, rasa syukur. Bukan kebaikan demi, tetapi kebaikan karena. Kebaikan yang tulus. Kebaikan tanpa syarat. Kebaikan tanpa agenda tersembunyi.

***
Jalan Katedral di kota Cardiff, tempat penginapan kecil berbaris di pinggir jalan

Syahdan, pada suatu masa 12 tahun lalu, saya ‘terdampar’ jauh sekali dari kampung halaman saya Sarimatondang. Saya seperti dilemparkan begitu saja ke negeri antah-berantah. Negeri yang belum pernah terpikirkan di otak saya, bahkan dalam mimpi sekali pun. Dan, kepergian saya itu untuk sebuah tujuan yang kedengarannya maut pula, yakni belajar. Belajar jurnalisme. Dan setelah terbang selama lebih dari 16 jam, saya tiba di sebuah negeri bernama Wales.

Wales, sebagaimana kita tahu, adalah sebuah ‘negara bagian’ dari Inggris Raya (Great Britain). Ibukotanya bernama Cardiff, yang kalau saya tak salah, kira-kira enam jam perjalanan mengendarai bis dari London.

Yang saya suka dari wilayah ini adalah sifat ‘udiknya’ yang masih terasa. Setidaknya bila dibandingkan dengan London atau Jakarta sekali pun. Orang-orang di sini masih asyik dan bangga dengan bahasa daerahnya, bahasa Wales. Di kebanyakan restoran, daftar menu makanan dituliskan dalam dua bahasa: Inggris dan Wales. Buku-buku panduan wisata yang resminya berBahasa Inggris, banyak sekali dibumbui oleh bahasa Wales. Bahkan nama saya, yang disematkan menjadi sebuah nama gereja, di papan namanya saya lihat ditulis dalam bahasa Wales: Eglwys Annibynnol EBENESER, Caerdyd Selydlwyd 1826. (Note: Saya tidak tahu arti persisnya).

saya berfoto di depan gereja EBENESER di Cardiff

Di kota Cardiff (Caerdyd) itu, kita tak selalu dihadapkan pada orang-orang yang bergegas sebagaimana kesan yang umum di negara-negara kapitalistik. Lonceng gereja masih setia berbunyi setiap pukul 12:00. Jika kita nyasar dan menyetop seseorang menanyakan alamat yang kita tuju, si orang itu akan berusaha menjelaskan sampai serinci-rincinya, jika ia memang tahu. Patokannya selalu: perempatan, lampu merah, kastil, dan seterusnya. Kastil kuno di atas bukit memang mudah terlihat dari arah mana pun.Tua dan seperti kesepian, namun kastil itu terkesan kokoh, diam dan setia mengawal kota, yang makin menguatkan perasaan betapa adem dan tenteramnya kota ini.

Para pria Wales yang tampangnya sering terkesan norak (lagi-lagi bila dibandingkan dengan orang-orang di London) justru dengan asyik mentertawakan sekaligus membanggakan kenorakan mereka. Misalnya, para pria itu bisa berhari-hari memperbincangkan tim rugby kesayangannya, seolah-olah tiada topik lain yang lebih menyenangkan ketimbang olah raga yang keras itu. Jangan heran bila masih banyak orang Wales yang tidak pernah menginjakkan kaki di London dan memang tidak merasa perlu dan tidak merasa akan ketinggalan zaman bila tidak menginjakkan kaki di kota itu. Mereka tahu, kota besar memang menyilaukan. Tapi mereka juga sadar, dunia mereka adalah dunia udik, dunia yang alon-alon waton kelakon, dunianya orang Wales. Mereka bahkan kadang-kadang menganggap orang Inggris adalah orang-orang yang sok kota, sok modern dan sok beradab seperti yang tergambar dari sosok agen 007 itu. Mereka sering meledek gaya berpakaian orang Inggris yang dikesankan gentlemen, klimis itu dalam kalimat teedy like a goat!.

Kalau boleh ge-er, menurut saya, pembawan orang Wales yang easy going dan nyeleneh itu hanya lah setingkat saja di atas gaya kebanyakan petani di Sarimatondang, kampung halaman saya yang norak. Mungkin karena itu pula saya juga ikut-ikutan kesengsem akan gaya orang Wales itu. Mereka begitu senangnya meledek orang Inggris (baca: orang kota). Mereka bahkan menganggap Inggris itu adalah dunia yang asing, dunia yang berada entah di belahan mana. Itu, misalnya, bisa terlihat dari sebuah gelas cinderamata yang saya beli di kota ini. Di gelas itu ada kalimat khas yang tampaknya sangat umum digunakan orang Wales untuk mentertawakan orang Inggris sekaligus mentertawakan diri sendiri. Bunyinya: A real Welshman thinks England is abroad!

Ha…ha…ha…, saya ingat lelucon tentang orang Batak di tahun 70-an. Yang kalau tengah diberangkatkan ke Jakarta, pasti dikira akan melanglang buana ke ujung dunia. Orang sekampung umpel-umpelan naik bis, mengantarkan sang pemuda sampai ke pelabuhan Belawan, sejauh lima jam perjalanan dari kampung. Lalu para pengantar itu, yang sesungguhnya mungkin kelaparan karena lupa sarapan tadi subuh, juga belum mandi dengan aroma mulut seseram mulut naga, masih juga tegar berdiri melambaikan tangan. Sampai kapal Tampomas (sudah almarhum) yang membawa si perantau itu menghilang di ujung laut. Dan suara penyanyi di kapal itu masih terdengar sayup-sayup, Vaya Condios..... Seolah-olah Jakarta itu adalah negeri asing.

Begitulah orang Wales yang saya kenal. Setidaknya yang bisa saya ingat dari persinggahan sejenak di sana. Dan, itu, sebagian besar saya dapatkan ketika di Cardiff, di tanah Wales dengan atmosfirnya yang khas itu, saya beruntung mendapat tempat tinggal di rumah sepasang orang Wales yang ternyata sangat real Welshman pula. Suami istri itu bernama Glenn dan Gwenda Jones. Suami istri ini mengusahakan sebuah penginapan yang sekaligus mereka tinggali. Penginapan yang asri, teduh, adem, seperti kita berada di rumah kita sendiri. Penginapan itu diberi nama Llety Cymro. (Nasib penginapan ini akhirnya tragis, saya kehilangan kontak dengan Glenn dan Gwenda. Dari pengunjung blog ini pula saya tahu kalau Llety Cymro ternyata kini sudah tidak ada, digantikan sebuah hotel milik orang Korea. Tragedi ini lain kali akan saya ceritakan).

Glenn dan Gwenda jadi tuan rumah yang sempurna bagi kami, tiga orang wartawan dari Indonesia yang tinggal di rumah mereka itu. Setiap pagi, Gwenda memasakkan sarapan. Biasanya berupa English breakfast, yang terdiri bacon and fried egg, sausage (sosis), baked potato serta segelas jus jeruk. Glenn bertugas menghidangkannya di meja kami, sebelum ia berangkat ke tempat kerjanya di sebuah stasiun televisi di sana. Glenn dan Gwenda dikaruniai dua orang putra. Keduanya kuliah di kota lain, tak jauh dari Cardiff.

Sebagai seorang real Welshman, Glenn fanatik berat kepada semua yang berbau Wales. Dari dia lah serba sedikit saya tahu tentang kebiasaan orang Wales, dan mengapa orang Wales begitu cinta pada budaya dan negeri mereka sendiri. Glenn pernah berkata kepada saya, bahwa ia sangat yakin suatu saat Wales akan jadi negara tersendiri. Sambil mengatakan itu senyumnya mengembang. Seperti senyum yang menyimpan banyak rahasia dan bahasa sandi. Saya pun ikut tersenyum, seakan-akan mengerti arti senyuman semacam itu. Sebab saya memang sedikit-sedikit tahu rahasia pria seperti Glenn, seorang real Welshman. Kecintaan pada bangsa sendiri kerap kali mengatasi cinta yang mana pun.

Pemandangan di kota St David

Diantara banyak yang saya ingat selama berada di Wales, bersama keluarga Glenn dan Gwenda, adalah sebuah perjalanan ke sebuah kota kecil bernama St David. Waktu itu kami berangkat dari Cardiff mengendarai mobil yang disetir sendiri oleh Glenn. Disamping Glenn di jok depan, duduk putranya, Dafydd, sementara di jok belakang, kami, tiga orang Indonesia, duduk dengan anteng seraya cengar-cengir memandang pemandangan yang kami lalui. Perjalanan itu lumayan panjang. Kami berangkat agak siang dan tiba di St David sudah lumayan sore.

Di kota kecil itu, yang dingin dan sepi di hari Sabtu (hanya beberapa toko yang buka), kami dibawa ke sebuah gereja yang besar, katedral St David. Katedral itu berada di sebuah lembah. Berdiri kokoh, bangunan itu benar-benar khas Eropa. Semua bangunannya terbuat dari batu-batu yang berwarna hitam abu-abu. Menaranya yang tinggi, plus dingin di dalamnya (terutama di musim dingin, dan ruangan itu tanpa pemanas) mengingatkan saya pada apa yang oleh guru-guru dulu disebut sebagai zaman batu.

Katedral St David di kota St David


Saya kira katedral itu sudah agak jarang digunakan. Saya membaca di buku panduan wisata, orang Wales konon bukan lah orang yang relijius. (Bukan berarti bukan orang baik lho…) sama seperti kebanyakan orang Barat umumnya. Dan Glenn membawa kami ke tempat itu, bukan untuk misa. Melainkan untuk menyaksikan dia bermain flute dalam sebuah pagelaran orkestra. Hari itu Glenn yang tergabung dalam sebuah grup orkestra memang sedang diambil gambarnya oleh sebuah stasiun televisi. Pagelaran mereka itu beberapa hari kemudian akan ditayangkan untuk perayaan St David Day.

St David Day? Apa itu?

Ketika itu saya tidak terlalu antusias untuk tahu apa itu St David Day. Siapa itu St David yang menyita satu hari penuh untuk dirayakan dan mengapa orang Wales begitu bersemangat merayakannya. Belakangan baru saya sadar bahwa hari St David memang sebuah hari yang baik, yang mulia, hari yang patut dirayakan oleh siapa saja. Terutama oleh orang-orang yang masih percaya pada keajaiban, pada kebaikan-kebaikan kecil mau pun besar, yang membuat hidup jadi lebih berarti.

St David Day lebih penting lagi, menurut saya, bagi orang-orang norak seperti saya, yang begitu merindukan bangkitnya rasa cinta akan kampung halaman, yang mengajari kita banyak sekali kebajikan-kebajikan luhur, yang sayangnya oleh ketergesaan kota besar, kita sering melupakannya. St David Day adalah hari memperingati seseorang yang, selalu melakukan hal-hal kecil yang mungkin tidak penting di mata orang. Tetapi sangat penting untuk tetap dilakukan. Dan, dia itu bernama David. Santa David.

***
Saint David

Santa David, atau dalam bahasa Wales disebut Dewi Sant, adalah santa pelindung (patron) orang Wales. Ia hidup di abad ke enam. David adalah seorang rahib berkebangsaan Celtic dan kemudian menjadi bishop, satu dari sejumlah santa di zaman awal yang mengabarkan nilai-nilai luhur kristiani di kalangan kekuasaan Celtic di bagian Barat Inggris.

Pemandangan di kota St David

St David Day jatuh setiap tanggal 1 Maret, yang merupakan hari diresmikannya nama David sebagai orang suci (Santa) oleh Paus Callistus II pada tahun 1120 (beberapa abad setelah ia meninggal). Di Wales 1 Maret adalah hari libur resmi, hari untuk saling mengucapkan salam dan hari untuk pesta dan perayaan.

Banyak kisah menarik yang dilekatkan pada David, walaupun sesungguhnya sangat sedikit riwayat hidupnya yang diketahui orang. Buku pertama mengenai biografinya, ditulis oleh Rhigyfarch di abad 11, lima abad setelah David tiada. Tak mengherankan kisah-kisah dalam biografinya itu setengah dipercaya setengah tidak. Sementara kalangan menempatkannya sebagai legenda, yang sudah sulit dibuktikan kebenarannya tetapi juga tak bisa ditolak begitu saja. Bagi yang mengidolakannya, bukan faktualitas kisah itu yang penting, melainkan nilai-nilai yang dikandungnya lah yang dianggap lebih utama.

David yang digambarkan masih keturunan dari kaum bangsawan, bertahun-tahun mendapat pendidikan di biara Hen Fynyw oleh Paulinus, seorang biarawan buta. Setelah itu ia kemudian memulai perjalanan misinya di seantero Wales. Ia juga menjelajah Inggris bahkan kemungkinan juga menjejakkan kaki di Irlandia. Bersama dua rekannya, Padarn dan Teilo, ia diduga pernah juga ke Jerusalem berjiarah.

David kemudian mendirikan biara di Rose Vale, di dekat sebuah sungai bernama Alun, tak jauh dari kota St David sekarang. Peraturan di biara yang dia dirikan itu sangat ketat. Semua penghuninya harus bekeja keras disamping berdoa dan memuji Tuhan. Mereka harus bangun sangat pagi untuk berdoa, kemudian bekerja di ladang untuk kebutuhan hidup mereka. Para biarawan itu harus menghidupi diri mereka sendiri, disamping juga harus menyediakan kebutuhan orang yang datang berjiarah. Yang tidak kalah penting, mereka menyantuni orang-orang miskin di sekitar biara tersebut.

David sendiri hidup sangat sederhana. Ia dikabarkan hanya memakan roti dan (hanya) minum air. Itu sebabnya gelar Dewi Ddyfrwr (David the Water Drinker) disematkan juga kepadanya. Sebab air adalah bagian penting dalam hidupnya. Ia hanya dan hanya meminum air. Di abad 9, ia digelari sebagai Aquaticus berkat disiplin dirinya dan para biarawannya yang hanya meminum air. Konon, dalam rangka mendisiplinkan diri, dia kerap berdiri di dalam danau hingga badannya terbenam sampai sebatas hidung. Sambil begitu, ia menghafal ayat-ayat suci.

Dengan pola hidup disiplin dan sederhana yang demikian, David digambarkan sebagai pria yang sehat dan penuh kasih. Ia hidup sampai 100 tahun, manakala usia orang kala itu rata-rata hanya 35 tahun.

Diantara banyak legenda tentang David, ia dikabarkan pernah menghidupkan seorang pemuda yang sudah meninggal. Ia juga diceritakan pernah memunculkan mata air. Begitu penting dan populernya santa ini, tak heran jika kisah-kisah ajaib David diceritakan secara turun-temurun di kalangan anak-anak Sekolah Minggu di Wales. David juga dikisahkan pernah memakan roti yang sudah diisi racun, tetapi ia kemudian memberkati roti itu, memakannya, dan ia tidak apa-apa.

Namun, keajaiban David yang paling familiar bagi orang Wales dan menjadi ciri khas santa ini adalah kisah dalam sebuah muktamar gereja. Kala itu sidang akan memutuskan apakah David layak atau tidak jadi archbishop di Wales. Ketika David diminta bicara di hadapan orang ramai pada muktamar itu, salah seorang peserta menyelutuk, “Kami tak bisa melihat dia dan mendengar dia.” Rupanya orang ramai di sana telah menyebabkan tidak semua orang bisa menyaksikan rupa David dan mendengarkan apa yang dia bicarakan.

Setelah suara celutukan itu, keajaiban konon terjadi. Tiba-tiba saja tanah tempat David berdiri terangkat sehingga semua orang dapat melihat dan mendengar David. Tak mengherankan bila dalam waktu singkat David diterima secara aklamasi sebagai archbishop. Dalam berbagai lukisan, David kerap digambarkan berdiri di atas bukit dengan burung dara (simbol perdamaian) bertengger di bahunya.

Bila nama David kemudian sangat populer oleh pekerjaan-pekerjaannya, bagi orang Wales, ia lebih dari itu. Ia bukan hanya dipandang sebagai santa pelindung, tetapi juga menjadi ikon bagi budaya dan kepribadian Wales. Dibanding orang suci Wales lainnya, nama David lah yang paling banyak disematkan pada gereja-gereja di sana.Ketika saya berada di Cardiff 12 tahun lalu itu, tengah memuncak rasa cinta yang sangat tinggi kepada semua yang berbau Wales oleh orang Wales. Makin banyak anak-anak muda yang belajar berbahasa Wales, makin banyak acara televisi yang berbahasa dan mengangkat cerita dari Wales. Bahkan sebuah stasiun televisi bernama SC4 melesat karena semua program dan bahasa yang digunakannya adalah bahasa Wales.
(Saya selalu cemburu pada Wales, bila mengingat suku Batak Simalungun, suku ibu saya, yang tengah berjuang keras agar generasi mudanya sudi mencintai bahasa Simalungun... )

Bacalah bagaimana seorang Wales, menggambarkan David dan St David Day. Rhys James Jones, dalam sebuah tulisan di websitenya (http://www.sucs.org/~rhys/stdavid.html), menulis begini:

"St David himself spoke an old form of Welsh fourteen centuries ago, and the Saint has become synonymous with keeping the language alive, and all that is good in the Welsh way of life. Welsh is one of the oldest living European languages, and although it has been oppressed for centuries, it has refused to die and is alive and growing today."

Pada bagian lain tulisannya, Rhys James Jones mencurahkan pengalaman pribadinya:

"St David was and is, a very important figure to the Welsh. Naturally, then, St David’s Day is a time of great celebration in Wales. Societis all over Wales celebrate with special meetings and events. In St David’s Hall, Cardiff, each March 1st there will be a concert featuring a 100 member male voice choir, specially formed for the occasion. Male voice choirs are flown to all corners of the globe on St David’s Day, to entertain Welsh communities."

Dan bagi orang norak seperti saya, kata-kata Jones yang paling menyentuh adalah ini:

"I have my own happy, vivid and very special memories of St David’s Day as a child, which are typical of how St David is celebrated in Welsh Schools. I should say that I was fortune to be born into Welsh speaking family. My mother tongue is Welsh, and it is only when we have English speaking visitors that any English is heard with my home. Naturally, I attended a Welsh medium primary school, where all subjects except English are taught through medium of Welsh."

***
Alkisah, beberapa hari sebelum David meninggal, ia memberi pesan-pesan terakhir pada sebuah pertemuan (sermon) dengan para pengikutnya pada suatu hari Minggu. Pesannya singkat dan sederhana, tetapi mungkin karena itu lah pesan itu tak pernah pudar. Kata David:

"Be joyful, and keep your faith and your creed. Do the little things that you have seen me do and heard about it. I will walk the path that our fathers have trod before us.”

Pesan ini sangat populer, sehingga frasa Do the little things (Gwnewch y pethau bychain) sangat dikenal di lingkungan orang Wales sampai sekarang. Kata-kata itu terbukti telah memberi inspirasi bagi banyak orang untuk berkarya. Dari hal-hal kecil. Dari hal-hal yang paling mungkin kita lakukan.

Maka dalam hati saya bertanya, apakah Do the little things dari David itu yang menginspirasi Pdt Gunadi untuk mencari paku setiap kali ia berolah raga pagi? Apakah Do the little things itu juga yang mendorong Mahatma Gandhi berkata, What you do may not seems important, But it is very important that you do it?

Saya kira tiap orang dari kita sudah punya Do the little things-nya masing-masing.


Ciputat, 4 Oktober 2006
© Eben Ezer Siadari

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...