Monday, October 16, 2006

Paduan Suara paling 'Kacau' di Dunia

Paduan Suara Sekolah Minggu. Sudah lebih teratur, tetapi unsur lugu, polos dan 'kacau'nya masih tetap ada. Marty di barisan paling depan, nomor empat dari kiri berbaju biru lengan panjang dan celana jeans biru


Agak aneh juga bila baru tadi malam saya terpikir mencari tahu apa dan bagaimana asal mula orang menyanyi dalam bentuk Paduan Suara (PS). Dan, saya harus berterimakasih untuk Wikipedia, yang ternyata memberi penjelasan yang lumayan membantu. Yang membuat saya jadi sedikit paham tentang apa yang ingin saya ketahui dari PS.

Menurut definisinya yang saya baca di situs ensiklopedia gratisan itu, yang dinamakan PS adalah sebuah kelompok vokal yang terdiri dari sedikitnya delapan orang. Para anggota kelompok ini bernyanyi dalam bentuk dua atau lebih kelompok suara atau nada yang berbeda. Masing-masing kelompok suara dalam Paduan Suara (PS) itu lazim dibagi-bagi menjadi Sopran, Alto, Tenor dan Bariton (SABT). Atau orang Batak seperti saya pada umumnya akan menyederhanakan pembagian ini dengan mengatakan: suara 1, suara 2, suara 3 dan suara 4.

Sebetulnya pembagian kelompok suara pada PS tidak harus terpaku hanya empat. Bahkan sesungguhnya tidak ada batasannya. Dan mungkin di sini lah keunikan dan kemegahan PS. Eksplorasi para komposer yang menciptakan lagu untuk jenis ini seringkali begitu mengagumkan. Misalnya, masih menurut Wikipedia, komposer Thomas Tallis pernah menciptakan lagu yang terdiri dari 40 bagian. Diberi judul Spem in Alium, lagu ciptaannya itu dibikin untuk dinyanyikan delapan PS, yang masing-masing terbagi atas lima kelompok suara atau nada. Sementara itu komposer lainnya, Krzysztof Penderecki, menciptakan Stabat Mater untuk dinyanyikan tiga PS yang masing-masing terdiri dari 16 kelompok suara.

Paduan Suara juga  tidak harus bernyanyi dengan beragam suara sepanjang waktu. Ada kalanya juga mereka bernyanyi dengan satu suara. Bila begini, mereka disebut bernyanyi dengan cara unisono.


Penelusuran sejarah menunjukkan tradisi bernyanyi bersama secara akapela sudah berlangsung sejak di abad 4, yang berarti sudah hampir 2000 tahun. Nyanyian Eropa yang pertama kali menggunakan not adalah nyanyian-nyanyian Gregorian atau kantata Gregorian (Gregorian chant) disamping nyanyian tipe lain yang kemudian diadopsi oleh gereja. Tak mengherankan jika pada mulanya PS diartikan sebagai kelompok penyanyi yang secara khusus menyanyikan lagu-lagu sakral, lagu-lagu gereja. Tetapi kemudian menyanyi secara PS, dengan berbagai variasinya, rupanya telah berkembang melampaui definisi awalnya. Dewasa ini kita bisa menjumpai aneka ragam PS dengan berbagai gaya dan juga ciri khasnya. Juga dengan aneka latarbelakang orang di dalamnya.

Paduan Suara Balita di GKI Kwitang, dengan kepolosan dan keluguannya yang kadang-kadang terlihat 'kacau' tetapi selalu menghibur dan memukau para hadirin
***
Mengapa saya begitu ngotot ingin tahu apa dan bagaimana sejarah PS? Tak lain karena saya ingin mengundang Anda mengenal sebuah PS yang menurut saya sangat unik. Bahkan saya percaya--tentu dengan sedikit mendramatisir-- PS yang akan saya ceritakan ini bisa digolongkan jadi salah satu PS paling 'kacau' di dunia. Paling tak beraturan dan paling semau gue.

Bayangkan, kalau sesama anggota PS itu bertemu, pastilah mereka saling bersilaturahmi dan melepas kangen dengan begitu riuh-rendahnya. Kadang-kadang bisa berakhir dengan saling cubit dan saling ledek. Sementara manakala bernyanyi, mereka akan bersuara menurut kemauannya masing-masing dengan polah masing-masing dan dengan nadanya masing-masing pula. Mereka tidak perlu memakai partitur, karena semua anggota PS itu memang tak bisa membaca not. Dan yang lebih menarik, ketika kita berada diantara lautan penonton PS yang kacau itu, kita justru tidak akan menyaksikan wajah-wajah yang kesal dan mau marah. Melainkan justru wajah gembira, senang dan puas. Para penonton itu bahkan bertepuk tangan kepada PS yang semau gue itu, yang seusai tampil, malah begitu saja berlari-lari pergi meninggalkan arena!!!!

Sungguh saya tidak bercanda dan mengarang cerita. Sudah berkali-kali saya melihat PS itu manggung. Dan saya menyaksikannya lagi kemarin, 15 Oktober 2006, di tempat yang selalu menjadi arena manggung mereka, yakni di gereja kami, GKI Kwitang, Jakarta. Ibadah yang dimulai pukul 8:30 itu sudah hampir setengah jalan, tatkala para hadirin mendengar Pak Pendeta mengatakan bahwa PS itu bakal tampil sebentar lagi. Sekelebat saya melihat sekeliling dan saya menyaksikan wajah para hadirin jadi bersinar seperti gelas kristal tertimpa sinar. Semua penasaran, tak sabar menunggu kehadiran PS yang legendaris itu. Yang reputasinya membuat kacau sudah terkenal di gereja kami.

Paduan Suara Sekolah Minggu. Sudah lebih teratur, tetapi unsur lugu, polos dan 'kacau'nya masih tetap ada. Marty di barisan paling depan, nomor empat dari kiri berbaju biru lengan panjang dan celana jeans biru



Para hadirin itu segera mengarahkan pandangan ke pintu samping gereja, tempat mana yang biasanya akan jadi jalan masuk bagi PS yang kami nanti-nantikan itu. Dan, benar saja. Rombongan PS itu sudah siap-siap masuk ketika pintu terbuka. Saya mengira jumlah mereka ada 50 orang lebih. Berdesak-desakan, saling dorong, dan ada pula yang berlari menghambur memasuki gereja. Diantara anggota PS itu bahkan ada yang nekad naik ke atas mimbar, tempat dimana Pak Pendeta akan bersiap-siap berkhotbah. Untung saja ada petugas gereja yang mengingatkan bahwa tempat bernyanyi PS itu bukan di mimbar, melainkan di depan altar. Lalu mereka diarahkan agar berdiri di sana. Wah, kacau juga paduan suara ini, batin saya dalam hati.

Barangkali perlu beberapa menit bagi sang konduktor untuk ‘menertibkan’ beberapa anggota PS yang hilir mudik sebelum mereka benar-benar berbaris rapi untuk bernyanyi. Beberapa dari anggota PS itu ada yang demam panggung, berwajah cemberut sampai-sampai akan menangis. Tapi ada juga yang tak sabar, sudah bernyanyi-nyanyi kecil sebelum aba-aba mulai bernyanyi diberikan.

Dan, akhirnya, PS itu memang benar-benar bernyanyi. Suara mereka tak dapat dikatakan sudah padu dan sesuai dengan partitur. Tetapi anehnya semua yang menyaksikannya ikut terhanyut pada lagu yang mereka bawakan. Suara mereka yang sebenarnya rada meleset nadanya di hampir semua bagian lagu, terdengar ceria seperti riuh-rendah kicauan burung di pagi musim panen. Suara yang benar-benar menyihir. Semua yang menyaksikannya mengikutinya dengan keceriaan yang sama, bahkan mungkin di dalam hati para hadirin itu ikut mendendangkan lagu yang berkumandang. Dan tatkala PS itu mengambil jeda untuk membiarkan keyboard pengiring melantunkan melodi, para anggota PS itu berhamburan dari depan altar mendatangi para hadirin. Lalu membagi-bagikan bunga-bunga tanda kasih sayang. Sungguh mengharukan adegan itu. Tak terhindarkan lagi tepuk tangan membahana menyambut mereka.

Saya tidak tahu apa nama resmi PS itu. Yang jelas, kami semua mengenalnya dengan nama Paduan Suara Balita. PS yang memang beranggotakan anak-anak Sekolah Minggu (SM) yang berusia dibawah usia lima tahun. Orang-orang tua yang mempunyai anak Balita setiap hari Minggu berduyun-duyun mengantarkan anak-anak mereka ke lantai tiga di gedung samping gereja itu. Di sana lah mereka ‘beribadah’ dengan ala anak-anak dipimpin oleh para guru SM. Termasuk bernyanyi, bermain, diceritai kisah-kisah tentang Dia dan ciptaanNya, lalu yang tak kalah penting, berlatih ‘paduan suara’ itu.

PS itu sebetulnya tak bisa disebut PS jika yang dimaksudkan dengan itu adalah paduan aneka suara yang menjadi padu dan merdu. Penampilan mereka samasekali tidak bisa dibandingkan dengan PS Anak Angelicus, PS Anak di gereja GKI Kwitang itu juga, yang sudah melanglang buana sampai ke China dan meraih berbagai gelar juara di dalam dan di luar negeri. PS balita yang saya ceritakan ini hanya lah sekelompok anak Balita yang dipersatukan oleh SM. Lantas bernyanyi begitu saja dengan alami, seperti anak-anak TK bernyanyi beramai-ramai. Gaya khas anak-anak yang mereka tampilkan, dengan kepolosan dan keluguan mereka, membuat yang menyaksikannya mendapatkan kegembiraan, penghiburan dan rasa syukur.

Tentu sangat lah merepotkan mengurus mereka, bocah-bocah berumur 2,5 tahun sampai 5 tahun itu. Saya serba sedikit tahu kerumitan mengelola SM Balita karena putri saya, Marty, dulunya adalah ‘alumni’ sekolah itu. Setelah ia masuk SD, barulah ia ‘diwisuda’ dan dilepas dari SM Balita ke SM ‘biasa.’ Dulu saya sering mengintip bagaimana guru-guru SM Balita itu mengajar mereka. Dan, memang dibutuhkan kesabaran yang panjang untuk berhadapan dengan para bocah pembuat kacau itu. Termasuk ketika harus mengawasi mereka tampil di hadapan jemaat dalam bentuk bernyanyi PS seperti kemarin itu. Dapat lah dimengerti jika ibu-bapak bocah-bocah itu ikut sibuk, ikut berjubel di depan altar, menonton, memotret, sekaligus mengawal putra-putri mereka itu.

Ketika kemarin saya menyaksikan PS Balita tampil pada acara ibadah pagi itu, saya seolah diingatkan lagi pada masa ketika Marty ikut dalam ‘pasukan pengacau’ itu. Para orang tua anak-anak balita yang hilir mudik kesana kemari membantu guru-guru sekolah minggu menertibkan perilaku mereka, mengingatkan saya pada antusiasme kami dahulu, di kala menyemangati anak-anak kami yang kala itu juga masih Balita. Agar tak demam panggung, agar tak grogi di tengah keramaian. Dan tentu yang lebih penting lagi, agar mereka anak-anak itu tak perlu canggung berada dan memuji sang Pencipta. Tak perlu ragu-ragu berada di rumahNya. Sebab anak-anak itu adalah anak-anakNya juga.

Saya kira itu pula yang menyebabkan Pak Arti Sembiring, Pak Pendeta yang bertugas pagi itu, senyum-senyum saja dari atas mimbar menyaksikan 'betapa kacau'nya Paduan Suara Balita itu. Ia tertawa. Wajahnya seolah berkata, "Ayo Bapak-Ibu, ajak anak-anak itu datang kepadaNya. Tak usah khawatir dituduh berisik. Tak usah merasa bersalah karena ada yang terganggu. Tidak. Tidak ada yang berisik, tidak ada yang terganggu. Biarkan anak-anak itu datang, dengan kepolosannya. Dengan keluguannya. Sebab dengan hati yang polos dan lugu itu lah kerajaanNya bersemayam."

Dan, memang dalam khotbahnya seusai PS itu tampil, Pak Arti memberi dorongan, dengan mengatakan, jangan merasa direpotkan oleh 'kekacauan-kekacauan' yang ditimbulkan oleh anak-anak. Orang tua tidak boleh merasa repot, melainkan justru harus antusias untuk mendorong anak-anaknya mengenal Dia, mengenal ciptaan-ciptaanNya. Banyak caranya. Salah satunya adalah dengan membawa anak-anak itu sedini mungkin mengakrabi aktivitas apa pun yang memberinya kesempatan mengenal Dia dan mengenal sesamanya. Termasuk melalui kegiatan Paduan Suara, 'sekacau' apa pun itu dilakoni oleh anak-anak Balita.

***
Di rumah, sambil merenungi kembali 'oleh-oleh' dari ibadah itu, saya jadi ingat ketika beberapa hari lalu saya membolak-balik sebuah buku panduan mengenai negara Jerman. Judulnya, Fakta Mengenai Jerman. Buku saku yang tebal itu adalah salah satu bacaan favorit saya manakala duduk di depan televisi. Buku semacam itu, menurut saya, cocok jadi teman manakala kita sedang tidak ingin memusatkan perhatian pada sesuatu. Sambil sesekali melempar pandangan ke televisi, lalu kembali ke buku saku itu, beberapa informasi pendek biasanya langsung menancap di kepala kita.

Misalnya, dari buku itu saya jadi tahu bahwa Jerman termasuk sebuah negara yang sangat sangat banyak organisasinya. Ada-ada saja alasan orang untuk berkumpul dan membentuk organisasi. Mulai dari organisasi kaum profesional, asosiasi kaum pebisnis, hingga organisasi 'ecek-ecek' yang mungkin hanya karena dipersatukan oleh kegemaran mengumpulkan tutup botol, misalnya.

Dari buku itu pula saya jadi tahu bahwa di Jerman ada banyak sekali perkumpulan PS. Lebih jauh, dan ini yang menarik, buku itu mencatat ada 2 juta penduduk Jerman yang menggabungkan diri pada berbagai perkumpulan PS di sana. Bukan main. Bayangkan lah. Seandainya saja satu PS terdiri dari 50 orang, maka negara itu mungkin sudah bisa membuat pagelaran 40 ribu kelompok PS secara bersamaan. Wah saya tidak bisa membayangkan sebesar apa stadion harus dibangun untuk melaksanakan hajatan semacam itu.


Saya lantas berpikir, bagaimana seandainya hal semacam itu digalakkan di Indonesia, ya? Saya ingat sewaktu saya masih kecil. Ada sejumlah PS di kampung kami itu. Sebagian besar memang bernaung di bawah asuhan gereja. Tetapi tidak sedikit dari PS itu yang dibentuk secara spontan, terutama bila ingin tampil pada event-event tertentu. Ada PS di lingkungan tempat kita tinggal, ada PS sekolah, bahkan ada PS yang dipersatukan oleh kegemaran nongkrong di lepau tuak. Berhimpun di dalam sebuah PS selalu mendatangkan keasyikan tersendiri. Bukan hanya karena kita bisa bernyanyi secara bersama-sama. Tetapi juga dalam menjalin keakraban disela dan disaat latihan PS itu.

Sayang, belakangan saya melihat seolah ada kemunduran. Beberapa kali saya ikut beribadah di gereja di kampung kami manakala ada kesempatan pulang kampung, PS Pemuda sudah tak pernah tampil. Para pemuda agaknya makin memilih sisi praktisnya. Lebih suka muncul dalam bentuk vocal group, dengan iringan gitar lantas melantunkan lagu-lagu populer. Tak perlu direpotkan oleh ketaatan pada partitur.

Saya sendiri harus jujur mengakui, walau pun saya penggemar nyanyian-nyanyian PS, saya samasekali tidak bisa bernyanyi, terutama dalam bentuk PS. Saya tidak bisa membaca not. Suara saya sering kali tidak sampai mencapai nada-nada yang diharuskan. Dan yang terutama adalah, saya kerap ragu. Tidak kuat mempertahankan nada yang seharusnya saya nyanyikan karena sering terpengaruh oleh nada suara kawan-kawan di sebelah saya.

Namun, setelah pagelaran PS Balita kemarin, saya merasa perlu memberanikan diri untuk mengatakan agar seyogyanya digalakkan lah kegiatan PS. Dan PS yang saya maksud tidak melulu PS dalam lingkungan gereja atau institusi keagamaan tertentu. Saya membayangkan, seharusnya lah kegiatan PS jadi salah satu agenda dalam keseharian kita di lingkungan tempat kita tinggal. Ambil contoh, manakala ada peringatan 17 Agustus. Disamping acara senam poco-poco atau pertandingan tenis meja, atau lomba masak-memasak, atau lomba balap karung, mungkin sudah perlu dipikirkan menggalakkan kompetisi PS di lingkungan tempat kita tinggal.


Ciputat, 16 Oktober 2006



Catatan:Kalau ingin tahu tentang aneka kegiatan Paduan Suara,
Coba klik situs-situs berikut:

(01)CHRISTMAS CHOIR VAGANZA
www.yayasanpeka.org
Total Hadiah : 200juta
Hadiah 1 : 100juta

Babak Penyisihan : 29-30 Nop 2006
Semifinal : 9 Des 2006
Final : 19 Des 2006

Pendaftaran : Rp 100.000 saja per choir
Batas usia peserta : 15-30 tahun
Personel : 15-30 orang (tidak termasuk conductor/pemusik)
Jenis : Mixed Choir

Sekretariat :
Yayasan Peka
Wisma Unggul Indah lantai 2
Jalan Gatot Subroto Kav. 6-7
Jakarta Selatan 12930

Contact Person :
NANA : 0815-86198658
LILY : 0855-7889966
MARIA : 5790-5100 / 0811-156208
HENNY : 0815-086145247
Fax : 5780-5123 / 5790-5111

Pendaftaran ditutup tanggal 20 OKTOBER 2006


(02) FESTIVAL PADUAN SUARA MAL CIPUTRA 2006
Kali ini kembali memperebutkan PIALA BERGILIR dan Total Hadiah 30,5
juta rupiah. Silakan lihat di :
http://www.indonesianchoral.net/publikasi/fpsciputra2006.jpg.

Informasi tentang dunia Paduan Suara di Indonesia, bisa klik:
www.indonesianchoral.net
www.sevenchorale.org

2 comments:

  1. Anonymous11:08 PM

    stuju, stuju, stuju. aku mau ikut paduan suara. do re mi do re mi. ayo, ayo, ayo, dong.

    Lam kenal Bang. Horas

    Karjo

    ReplyDelete
  2. Eben,

    Liat tulisan mu ttg PS, aku jadi bersyukur di usia yang sudah mulai uzur ini, aku aktif lagi ikutan PSUI (alumni) 2 bulan ini, dan sempat manggung di ultah TVRI dan ultahnya SBY. Walaupun teman-teman banyak yang ngeledekin, hari gini baru ikut2 Ps, tapi aku cuek aja, karena aku sudah berpulauh2 tahun jarang nyanyi digereja, ternyata ikut PS , refreshing banget, seneng dan chelenging kalo nemuin lagu2 yang susah,juga latihan napas dan belajar nyanyi yg bener! tapi jangan lah disuruh ngapalin beberapa lagu tanpa teks/buku untuk manggung...udah nggak kaya dulu wkt muda ...susah ngapal nya! :-) terus nulis ya...btw kalo mau buat link ke blog Eben caranya gimana ya? (jadi di blog ku terlihat blog kamu).TX. Debby

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...