Wednesday, October 11, 2006

Surat Cinta untuk Marty

wajah nakal marty di atas sepedanya

Pengantar:
Dua tahun lalu sebuah majalah membuat sayembara menulis surat cinta. Pembaca diminta mengarang surat yang ditujukan kepada orang-orang yang dikasihi. Saya mengirimkan surat berikut ini. Sayangnya, tak memenangkah hadiah apa pun. (Kasian deh gue). Iseng-iseng, saya ternyata menemukan file-nya di laci meja kerja saya. Maka saya sajikan lah di sini. Mudah-mudahan kelak Marty bisa menceritakannya kepada anak-cucunya.


SURAT UNTUK AMARTYA

dari: eben
untuk: marty


Marty putriku,
Tahukah kau saat-saat paling melegakan dalam hidupku? Adalah ketika malam yang panjang itu lewat, ketika matahari pagi menembus jendela, ketika kau terbangun dan berkata, "Papa, bolehkah aku menonton Dora sebelum berangkat ke sekolah?" Saat itu aku tahu, 'sahabat kita' sang asma telah melepaskan dekapannya darimu dan satu lagi hari yang manis menanti kita.

Marty buah hatiku,
Tahukah kau saat terindah dalam hariku? Adalah ketika dengan bangga engkau berkata, "Papa, Marty telah minum obat yang pahit itu. Aku akan sembuh kan Pa?"

Marty permata jiwaku,
Tahukah kau waktu-waktu paling membahagiakan Papamu? Adalah ketika senyummu mengembang, keluar dari kamar praktik dokter dan melapor dengan suara sengaumu, "Papa, dokter bilang obatnya sudah boleh berhenti minumnya, sekali-kali aja kalo lagi kambuh."

Ketika itulah aku bisa lupa sejenak, pada saat-saat paling menyayat dalam hidupku, ketika menjelang subuh batukmu tak kunjung reda dan bunyi ngik…ngik….ngik di nafasmu memburu, dan air matamu sederas suara jantungku, ketika kau menangis memelas, "Papa, kok aku nggak sembuh-sembuh?"

tertawa meledek papanya

Sungguh sayangku, aku ingin melupakan saat-saat mengibakan itu. Ketika es krim dibagikan di pesta sekolahmu, dan kau berkata, "Papa, nanti kalau asmaku hilang, Papa mesti belikan aku es krim yang banyak, warna ungu." Aku tahu bahwa engkau tahu haru biru di hatiku melihat engkau hanya bisa melihat kawan-kawanmu menikmati es krim itu. Dan sesungguhnya engkau hanya ingin menghibur dirimu.

Entah berapa kali engkau datang ke pangkuanku, merajuk dan merayu ketika mamamu tak mengizinkanmu menyentuh Silver Queen oleh-oleh dari orang-orang yang mungkin ingin menyenangkanmu, dan aku tahu engkau pun akan tahu apa jawabanku ketika engkau menghiba, "Boleh kan Pa, sediiiikit aja?"

Marty dan ibunya membakar singkong di halaman kosong di samping rumah

Marty sayangku,
Mungkin terlalu dini bagimu untuk mengerti bahwa hidup bukan berarti boleh mendapatkan semua, bahkan untuk hal-hal kecil yang jadi kesenangan anak-anak sebayamu. Mungkin engkau terlalu bocah untuk tahu bahwa ada yang takkan pernah kita nikmati walaupun kita layak mendapatkannya.

Bertahun-tahun aku memendam rasa bersalah, mengapa engkau hanya bisa membayangkan betapa indahnya senda-gurau bintang cilik di televisi mereguk warna-warni pastel yang dingin, manis dan menggoda itu, dari iklan sirop, es krim, dari wafer, dan entah cemilan apa lagi yang harus kau hindari.

Sampai kemudian aku menghibur diriku sendiri, bahwa Tuhan boleh juga lah sedikit galak untuk hal-hal seremeh itu. Untuk tak mengizinkan anak sekecil engkau boleh menginginkan apa saja. Dan aku sangat yakin, Dia pasti tak akan lupa mencatat doa-doamu yang pendek tapi banyak, tentang ingin menjadi dokter semanjur doktermu, tentang ingin secepatnya pintar bikin kue seperti mamamu, tentang ingin memainkan piano semahir guru lesmu. (Untuk hal ini, aku harus bekerja lebih bersungguh-sungguh lagi agar suatu saat, kau juga berdoa agar engkau diberi anugerah untuk bisa menulis dan jadi wartawan, hehehe).

Di atas semua itu, engkau pun pasti dan akan tahu, masih banyak hal lain yang lebih berharga dari itu semua, seperti yang telah dan tak akan pernah berhenti engkau miliki, yakni cinta kami, Papa dan Mamamu.***


Catatan: Marty adalah putri kami satu-satunya, lahir 25 Maret 1999. Ketika surat ini dibuat ia menjelang masuk Sekolah Dasar. Dideteksi mendapat gejala asma sejak umur 3,5 tahun. Ia tak pernah lagi diperbolehkan minum es krim dan coklat, makanan favoritnya sebelum terserang penyakit itu.

bangun tidur pagi hari, marty sering malas-malasan, nonton tv dulu baru mandi

Sekarang Marty sudah kelas 2 SD. Asmanya makin jarang kambuh. Sekali-dua kali, ia juga sudah kembali melahap es krim, fanta hijau (favoritnya) serta bersepeda sampai jauh. Sama seperti ayah-ibunya ketika seumur dia, kini ia juga sudah berani 'membantah' ayah-ibunya.

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...