Tuesday, October 31, 2006

Wanita Itu Bertanya, "Kampung Halaman Gue tuh Apa Ya?"




Wanita itu bernama Teh Manis. Pasti lah itu bukan nama sebenarnya. Itu cuma sebuah julukan, alias atau nickname. Mungkin saja kependekan dari Teteh Manis. Atau Kakak yang berparas manis. Atau si Mbak yang berwajah manis. Atau semacamnya lah. Fotonya sedikit banyak menggambarkan itu.

Wanita kelahiran Bandung itu, dugaan saya, adalah seseorang yang berwawasan luas, jika menyimak caranya menulis dan bertutur. Usianya mungkin di sekitar 20-30 an tahun. Aktivitasnya banyak, sama juga dengan minatnya yang juga luas. Itu sebabnya ia bisa bercerita dengan lancar perihal macam-macam soal. Mulai dari pendapatnya mengenai gaya hidup orang-orang di perkotaan, tinjauannya atas buku-buku yang ia baca juga aneka resep masakan yang menarik perhatiannya.

Tapi semua gambaran saya tentang Teh Manis itu hanya dapat saya bangun dari menduga-duga saja. Sebab, sumpah, saya tidak mengenal dia. Belum pernah bertemu dan samasekali belum pernah berkenalan. Saya tahu dia, saya tahu bahwa ada wanita dengan julukan selucu itu, adalah karena kebetulan. Ceritanya, dua hari lalu, iseng-iseng saya mencoba membrowse via search engine semua yang berhubungan dengan Sarimatondang. Saya ingin tahu seberapa populer kampung halaman saya itu. Dan ternyata search engine Yahoo mengarahkan saya ke sebuah situs bernama www.tehmanis. multiply.com. Situs itu adalah kepunyaan Teh Manis.

Ternyata di situsnya itu pada Juni lalu, Teh Manis bercerita tentang the beautiful sarimatondang. Dan, terus terang saja, hidung saya megar membaca 'pujiannya' pada kampung halaman 'maya' saya itu. Coba, siapa yang tidak ge-er, mendengar pujiannya bahwa saya ini adalah "penulis berbakat?" Dan bagaimana saya bisa menyembunyikan perasaan senang saya mendengar dia bercerita bahwa seringkali sarapan paginya ditemani oleh the beautiful sarimatondang ?

Namun pada saat yang bersamaan, saya juga tertegun membaca kegelisahan Teh Manis. Tertegun dan sedikit menyesal karena belum bisa menjawab kegamangannya yang ia tuangkan dalam tulisannya itu. Sebab, Teh Manis rupanya merasa tidak punya kampung halaman. Tidak punya tanah kelahiran.

Teh Manis menulis begini:

Kampung Halaman Gue tuh apa ya?

gue kadang kadang mikir kampung halaman gue itu di mana ya? apa sih artinya kampung halaman??

gue sering terkagum-kagum sama tulisan seseorang yang sangat berbakat dalam tulis menulis di http://sarimatondang.blogspot.com, tulisannya yang indah tentang kampung halamannya selalu bisa bikin kagum gue, & seringkali blog ini yang jadi pembuka hari gue ditemenin sarapan...bisa bikin tenang terus bikin kita mensyukuri apa yang kita punya, hal-hal sederhana yang sering terlewat.

Tulisannya yang penuh cinta tentang keindahan dan kesederhanaan kampung halamannya, bikin gue mikir kok gue ga bisa segitunya ya ke kampung halaman, tapi terus gue mikir kampung halaman gue tuh apa ya?

Papa asli Cianjur tapi besar di Bandung sampe lulus kuliah, Mama asli Cianjur juga tapi besar di Jakarta sampe lulus kuliah. Gue sendiri lahir di Bandung, cuma sebentar, umur 3 tahun pindah ke Bogor. Ga lama terus pindah ke Jakarta menghabiskan masa kecil. Terus lanjut pindah ke Depok menghabiskan masa remaja sampe sekarang masih tinggal Di Depok. Terus kampung halaman gue apa?

Depok? ngga juga, gue ngga ngerasa itu kampung halaman, gue cuma ngerasa orang yang tinggal di Depok. Jakarta? ngga juga. Masa kecil emang banyak di kota ini tapi ini bukan kampung halaman. Cianjur? tiap lebaran emang selalu ke Cianjur karena masih ada nenek di sana. Tapi gue juga ngga ngerasa itu kampung halaman, gue datang ke sana karena memang masih ada nenek yang harus dikunjungi untuk silaturahmi. Bandung? hmm ngga juga , gue emang lahir di sana, tapi ngga kenal akrab sama Bandung. Bandung buat gue sebatas tempat liburan, tempat shopping + tempat jajan makanan enak. Tapi bukan perasaan itu, iya...itu...perasaan terhadap kampung halaman. Tempat lo ngerasa disitulah elo berasal......... hmm kok ga ada ya???


***

Ingat pada Teh Manis, saya jadi membayangkan, mungkin putri saya Amartya, kelak akan berada pada posisi seperti dia. Putri saya itu, walau sudah berkali-kali saya bawa ke kampung halaman saya, Sarimatondang, jelas lah ia merasa tidak layak jadi orang Sarimatondang. "Itu kampung halaman Papa," kata dia. Begitu juga dengan Tulung Agung, tempat kelahiran ibu Mertua saya. Istri saya yang lahir di Jakarta, untuk tak ketinggalan pada fanatisme saya kepada Sarimatondang selalu mengaku sebagai orang Tulung Agung. Tetapi walau Amartya sudah berkali-kali ke sana, putri saya itu selalu dengan tegas menjawab, "Tulung Agung itu kampung Mama."

Lantas dimanakah kampung halaman putri saya itu?

Saya masih ingat, istri saya mengandungnya ketika kami masih tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat kecil di kawasan Pisangan, Jakarta Timur. Beberapa bulan sebelum Amartya lahir, kami pindah kontrakan ke perumahan Pondok Kopi, juga di Jakarta Timur. Di sanalah secara resmi Amartya dilahirkan, walau pun secara fisik, ia dilahirkan di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Jakarta Timur. Seminggu ia berada di Rumah Sakit itu. Ari-arinya saya tanamkan di halaman rumah kontrakan kami.

Sekarang kami tinggal di Vila Dago Tol, sebuah perumahan di sebuah desa bernama Sarua, Ciputat. Saya berharap kami akan membesarkan Amartya di situ, di rumah kami yang serba mungil dan pas-pasan. Diam-diam, saya juga berharap Amartya akan bisa mengenang tempat kami tinggal sebagai kampung halamannya, seperti saya mengenang Sarimatondang. Dan saya tahu, ini bukan harapan yang ringan. Sebab seseorang hanya akan bisa mengenang tempat ia tinggal sebagai kampung halamannya, manakala ia di sana menemukan kebaikan-kebaikan yang menenteramkan. Kebaikan-kebaikan yang ajek, ada dan berkesinambungan. Kebaikan yang mendarah-daging. Seperti datangnya angin dan sinar matahari. Yang selalu hadir dan baru setiap pagi.

Adakah itu ia temukan kini dan kelak di rumah kami, dan di perumahan kami itu? Saya kira ini bukan semacam pertanyaan yang jawabannya sudah tersedia dan tinggal petik saja. Ini adalah pertanyaan yang kita sendiri harus ikut membentuk jawabannya. Sama seperti yang pernah saya baca perihal tata cara orang Jawa dalam berkomunikasi. Konon, setelah seorang putri telah dipetuahi panjang lebar, dan si pemberi petuah kemudian bertanya, "Kamu mengerti, Nduk?" Konon si putri tak pernah dan tak akan menjawabnya dengan berkata, "Mengerti." Dan si penanya pun tak mengharapkan jawaban atas pertanyaannya itu. Sebab, mengerti dalam konteks semacam itu adalah berusaha mengerti dan sebisa mungkin harus mencari cara untuk bisa mengerti.

Dulu ketika Amartya mulai bisa bicara, putri saya itu sering meminta saya mendongengi dia tentang apa saja. Dan saya menceritakan masa kecil saya di Sarimatondang. Dugaan saya, ia bisa melihat rona wajah saya yang selalu cerah ceria manakala bercerita tentang masa kecil di Sarimatondang. Sehingga ia suka dan minta tambah terus untuk diceritai tentang kampung halaman. Sebab, memang betul, Sarimatondang banyak sekali memberi saya kebaikan-kebaikan. Entah lewat alamnya yang sejuk, entah lewat lingkungannya yang saya akrabi. Tetapi yang terutama, lewat orang-orang yang tinggal disana. Tentu saja tidak mungkin hanya kebaikan yang saya dapatkan dari mereka. Kadang-kadang kekecewaan juga sering mampir. Tapi untuk apa mengingat-ingatnya?

Dan mungkin karena putri saya melihat wajah saya yang cerah-ceria tiap kali bercerita tentang Sarimatondang, maka ia selalu ingin diceritai tentang Sarimatondang. Sebab, bukankah keceriaan bisa menjalarkan keceriaan juga?

Saya ingat ayah saya. Dia dilahirkan di Parapat, sebuah kota kecil di tepi pantai Danau Toba. Dulu sewaktu saya kecil, setiap kali melintas melewati sebuah rumah di pinggir jalan di kota itu, ayah saya selalu menunjuk dan mengatakan kepada saya, "Saya dulu dilahirkan di sana." Wajahnya selalu ceria, bersemangat manakala bercerita tentang tempat dia dilahirkan itu. Tentang berlari-larian di tepi danau. Tentang memanjat pohon mangga. Tentang bersembunyi di belakang rumah manakala kakek saya ingin memarahi ayah saya yang ternyata bandel juga sewaktu kecilnya. Setiap kali kami ke kota itu, ayah saya tak pernah bosan mengatakan hal serupa. Walau kadang-kadang kami anak-anaknya berujar dalam hati "uh bosan, critanya itu-itu mlulu," tetapi ayah saya tak pernah peduli dan selalu mengatakan hal yang sama, "saya dulu dilahirkan di sana." Seperti berdendang. Seperti bernyanyi. Yang menyebabkan kami anak-anaknya merasa ikut merasakan keindahan dendang dan nyanyian khayal itu.

Sekarang kejadian serupa berulang. Tiap kali saya dan putri saya terlibat pembicaraan tentang desa, tentang sawah, tentang kicau burung di musim panen, sudah pasti saya akan menyinggung Sarimatondang, kampung halaman saya. Memang, kadang-kadang kalau moodnya sedang jelek, putri saya pasti menukas, "uuuuuh, bosan." Tapi yang lebih sering adalah ia akan senang dan bersemangat. Lantas berteriak, "ceritakan lagi, Pa, orang-orang baik di Sarimatondang itu. Sudah dimana mereka sekarang?"

Barangkali itulah makna paling hakiki dari sebuah kampung halaman. Ia bukan sekadar menunjuk pada tempat. Melainkan suasana dan nilai-nilai. Suasana dan nilai-nilai yang kita rindukan sekaligus kita impikan. Suasana dan nilai-nilai yang kita ingin kembali ke sana, tetapi juga suasana dan nilai-nilai yang ingin kita hadirkan di tempat dimana saja kita berada. Suasana dan nilai-nilai yang menyebabkan kita merasa ada dan tidak hilang.

Barangkali itu juga lah gunanya kenapa banyak sekali anjuran-anjuran dari orang bijak yang mengatakan agar kita tak bosan-bosan memperbincangkan suasana dan nilai-nilai semacam itu kepada orang-orang yang kita kasihi. Terutama kepada anak-anak kita. Apakah di meja makan sambil dan seusai bersantap. Apakah di tempat tidur menjelang tidur. Apakah di perjalanan sambil menyedot Coca Cola dan plain cheesburger.

Nah, dear all, saya berharap kita sudah menemukan kampung halaman buat Teh Manis. Semua kota dan tempat yang ia sebutkan itu, apakah itu Cianjur, Bandung, Depok dan Jakarta, dapat menjadi kampung halaman buat Teh Manis dan siapa saja. Sepanjang kita dapat mengingat suasana dan nilai-nilai yang menenteramkan yang kita dapatkan semasa tinggal di sana.

© eben ezer siadari

Catatan:
(*) Terimakasih banyak untuk Teh Manis untuk ulasannya tentang the beautiful sarimatondang. Akan menjadi energi berharga untuk terus menulis dan mempopulerkan cinta akan kampung halaman.
(**) Versi orisinil dari tulisan Teh Manis berjudul Kampung Halaman Gue Tuh, apa Ya? Dapat di klik di sini
(***) Saya juga merekomendasikan siapa saja untuk mengunjungi situs milik Teh Manis www.tehmanis.multiply.com. Bacaan yang mencerahkan. Dapat di klik di sini

















1 comment:

  1. comment pertama!! iya, saya Tina, pemilik ID tehmanis itu. saya emang kagum skali sama cara Bang Eben menulis. Pertama saya tau blog ini dari Bradley teman saya. Salam kenal Bang Eben. Semoga tulisannya selalu menjadi energi.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...