Thursday, November 23, 2006

Bedanya London, Singapura dan Kampung Halaman Saya

Dua orator lagi unjuk gigi di Hyde Park

Di London ada sebuah taman yang luas dan cantik. Namanya Hyde Park. Berada di tengah kota dan dikelilingi oleh jalan besar yang ramai, pohon-pohon dan bunga-bunga yang semarak di musim semi menghiasi taman ini. Tak heran bila Hyde Park kerap dijadikan tempat untuk kongkow-kongkow, janjian, kencan, berolah-raga, belajar bareng dan….. (serius lho) memaki-maki siapa pun yang kita tidak suka, kecuali Raja dan anggota kerajaan Inggris.

Kok bisa?

Sebab di taman itu ada yang namanya Speakers’ Corner. Ini adalah sebuah pojok yang disediakan bagi siapa saja yang ingin berpidato, berteriak, marah-marah, dan aneka bentuk ekspressi lainnya yang mencerminkan kebebasan mengeluarkan pendapat (freedom of speech). Tidak ada dan tidak boleh ada yang melarangnya sebab ekspressi seperti itu di tempat itu dilindungi hukum. Pada saat yang sama, tidak boleh pula dilarang bila ada orang yang hadir di situ berusaha mendebat si orang yang berpidato atau marah-marah.

Duabelas tahun lalu saya bersama sejumlah wartawan dari Indonesia mengunjungi taman ini. Saya dikagetkan kerumunan orang yang terpaku menonton seorang pria berjaket hijau, yang di telinga saya, suaranya seolah berteriak-teriak. Ternyata ia sedang berpidato. Dengan bibir yang bergetar karena kedinginan, satu tangannya bergerak-gerak mengikuti ucapannya sementara satu tangan lagi ia masukkan ke kantong celananya. Saya kira jaket dan celana jeansnya tak cukup kuat melindunginya dari musim dingin yang sepenuhnya belum usai. Wajah dan kulitnya mengingatkan kita pada Paul Scholes, salah seorang pemain klub Manchester United itu. Sambil berpidato panjang lebar, dari mulutnya berkeluaran asap, pemandangan yang lazim bila orang banyak bicara pada suhu yang tak bersahabat. Juga ludahnya berhamburan.

Saya tidak bisa menangkap apa yang ia pidatokan kala itu. Bahasa Inggris saya pas-pasan. Dan Bahasa Inggris orang Inggris di kala bicara cepat di cuaca dingin yang membuat bibir terasa setebal sandal, sulit saya mengerti. Dugaan saya, pria itu mengeritik kebijakan Pemerintah Inggris dalam mengatasi pengangguran.

Si pria yang kelihatannya agak sulit tersenyum itu, rupanya mampu menarik perhatian. Terbukti banyak orang yang lalu lalang, berhenti mendengarkannya. Mereka sesekali bertepuk tangan, atau berteriak, yeah… yeah…, menandakan mereka setuju pada apa yang diucapkan si pria berwajah Paul Scholes itu. Hanya seorang Pak Tua yang memberanikan diri tampil agak ke depan, melontarkan pertanyaan dan lantas mereka malah berdebat.

Tapi manakala si pria berwajah Paul Scholes itu menyelesaikan orasinya, si Pak Tua kemudian menjabat tangannya. Lalu menyodorkan kopi hangat di gelas plastik. Mereka mengobrol akrab. Kali ini wajah mereka tidak tegang lagi. Malah perbincangan mereka lebih mirip dengan susana ketika seorang pemain catur bertukar pikiran dengan sekondannya tentang permainan yang baru saja mereka lewatkan. Dalam hati saya curiga, apakah perdebatan mereka tadi cuma akting belaka, untuk meramaikan suasana?

Seorang pengunjung Hyde Park merespons orasi seseorang di Hyde Park

Para hadirin kemudian membubarkan diri sambil bertepuk tangan. Untuk sementara waktu podium itu pun kosong, tetapi hanya beberapa menit. Sebab setelah itu, giliran orang lain yang berpidato. Dengan topik yang lain dan dengan penonton yang lain pula, yakni orang-orang yang bersiliweran di taman itu….
(Foto-foto si pemuda dan Pak Tua itu sebenarnya ada, tapi belum sempat discan. Sabar ya. Foto yang saya tampilkan di sini saya ambil dari internet).

Keberadaan Hyde Park sebagai pusat keramaian mempunyai riwayat panjang. Sejak berabad-abad lalu taman ini sudah jadi tempat orang berkumpul-kumpul. Terutama oleh para pekerja untuk saling curhat tentang apa saja.

Hyde Park pula yang sering menjadi titik pertemuan para buruh untuk melalukan aksi protesnya. Salah satu yang terbesar adalah ketika l5l tahun lalu, demonstrasi besar-besaran meledak di taman ini. Pemicunya adalah sebuah undang-undang yang melarang orang-orang berjualan di hari Minggu. Publik memprotes karena jika undang-undang itu dijalankan, berarti tak ada lagi kesempatan bagi masyarakat kelas pekerja ke pasar, sebab hanya hari Minggu mereka libur. Sebagaimana diterangkan oleh Wikipedia, peristiwa unjuk rasa itu menurut Karl Marx, adalah awal dari revolusi industri di Inggris. Maka popularitas Hyde Park pun makin meningkat.

Meskipun Hyde Park sudah lazim jadi tempat berkumpul pada masa itu, sesungguhnya secara hukum belum ada tempat yang permanen bagi publik untuk mengekspresikan diri secara bebas. Maka seiring dengan makin maraknya unjuk rasa dan kerusuhan, publik makin getol meminta adanya perlindungan hukum untuk mengeluarkan pendapat di Hyde Park. Itu sebabnya pada tahun l872 Kerajaan Inggris memberi hak kepada otoritas taman itu untuk mengatur penggunaan Hyde Park sebagai sarana mengeluarkan pendapat. Tampaknya dari sana lah cikal bakal lahirnya Speakers’ Corner di taman itu.

Siapa saja bisa menggunakan Speakers’ Corner untuk melampiaskan protesnya. Sepenglihatan saya, tiap orang yang ingin berpidato membawa podiumnya masing-masing. Ada kalanya podium itu begitu praktis. Bisa jadi hanya sebuah kursi, yang dia jadikan tempat berdiri agar ia terlihat kemana-mana. Tetapi ada juga yang nyentrik. Selain membawa poster, bendera, juga assesoris-assesoris lainnya.

Seorang aktivis socialist berorasi di Hyde Park

Ternyata Speakers' Corner ini tidak terlalu menarik bagi orang-orang dari aliran utama (mainstream). Mereka sangat jarang memanfaatkannya. Speakers Corner tampaknya hanya jadi favorit bagi orang-orang yang ingin merombak kemapanan. Tercatat, tokoh-tokoh legendaris seperti Karl Marx, Vladimir Lennin dan George Orwell, sering mampir di Speakers’Corner ini di masa hidup mereka.

Bagi penguasa, kehadiran Speakers’ Corner bisa jadi dimaksudkan perlambang adanya kebebasan mengeluarkan pendapat. Tetapi suara miring terhadapnya tetap ada. Sebab, ada yang curiga, dengan adanya tempat khusus semacam ini, berarti secara tidak langsung hanya di sini lah orang bisa koar-koar mengeluarkan pendapat. Sementara di tempat-tempat publik lain, tidak boleh.

Tetapi suara miring tetap lah suara miring. Kehadiran Speakers’ Corner ternyata lebih banyak dipandang positif. Buktinya, Speakers’ Corner seperti di Hyde Park itu, diikuti juga dengan pojok serupa di beberapa negara belahan dunia lainnya. Semisal di Spanyol mau pun di Kanada. Bahkan, di Singapura pun ada Speakers’ Corner.

Di Singapura? Di negeriya Lee Kuan Yew?

Betul. Memang ada lho, Speakers' Corner di negerinya Lee Kuan Yew yang sering dijuluki negara sejuta denda itu. Walau pun orang-orang sering meragukan adanya demokrasi di Singapura, di negeri pulau ini ternyata dibolehkan berpidato berapi-api ala aktivis di Hyde Park. Negara itu menyediakan Speakers’Corner yang terletak di Hong Lim Park, sebuah taman yang kecil, bila dibandingkan dengan kantor polisi yang sangat besar tak jauh dari taman itu.

Speakers' Corner di Singapura yang kesepian

Didirikan pada l September 2000, Speakers’ Corner ini buka mulai pukul 7 pagi hingga pukul 7 sore, sepanjang minggu. Hanya penduduk Singapura yang boleh menggunakannya. Materi orasi tidak boleh menyinggung SARA dan harus disampaikan dalam bahasa resmi Singapura. Dulunya, orang yang ingin berorasi, harus terlebih dahulu mendaftarkan diri ke kantor polisi. Namun belakangan Pemerintah kemudian mengeluarkan Undang-undang yang menghapus keharusan tersebut.

Sayangnya, orang Singapura rupanya sudah cukup puas menjadi ‘economic animal’ saja, yang sibuk sepanjang tahun dengan urusan pekerjaan, bisnis dan keluarga. Mungkin mereka tak terlalu berbakat jadi politisi dan tukang protes. Terbukti, jika pada awal pendiriannya Speakers’s Corner mencatat ada 400 orang terdaftar untuk menggunakannya, sekarang ini tak lebih dari 26 orang. Bahkan kini ada lelucon. Ketimbang disebut sebagai Speakers’ Corner, taman itu lebih sering dijuluki sebagai Sneakers’ Corner. Soalnya orang pergi ke sana bukan lagi untuk mendengar ‘khotbah’ para orator-orator amatir, melainkan bermain bola atau bersenda gurau dengan teman-teman.

Bagaimana dengan di Sarimatondang, kampung halaman saya itu? Apakah di sana ada juga Speakers’ Corner?

Oh, ada, tentu. Jangan anggap remeh lho. Walau pun kampung saya cuma senoktah atau nyaris tak ada di peta, walau pun orang-orangnya norak seperti saya, ia tak kalah dengan London atau Singapura. Di sana ada juga taman yang mirip dengan Hyde Park di London. Ehm. Sedikit mirip deh. Lebih tepatnya sebuah lapangan hijau yang luas. Dikelilingi oleh sekolah, gereja, pasar dan jalan raya.

Di lapangan itu juga ada semacam Speakers' Corner, tempat yang bebas untuk melakukan apa saja. Mau teriak. Mau memaki-maki. Mau ngambek.Mau berguling-guling di atas rumput. Mau malas-malasan sepanjang hari, bahkan juga untuk buang air kecil mau pun besar.

Sayangnya, kebebasan semacam itu hanya diperuntukkan bagi sapi dan kerbau. Entah sudah sejak kapan mulanya ada keleluasaan bagi pemiliknya untuk menambatkan sapi dan kerbaunya di lapangan itu. Dulu di masa kanak-kanak, sapi dan kerbau ini lah yang sering saya dengar berteriak (atau berpidato?) dengan suara seperti… mmmmboooahhh. Sambil begitu, kadang-kadang cikal bakal pupuk kandang berhamburan dari bokong mereka. Membentuk bulatan-bulatan hijau seperti martabak. Di kala musim libur, martabak-martabak kering tadi jadi sasaran perburuan kami para anak-anak. Untuk dimasukkan ke dalam karung, dipikul, dibawa ke kebun, dan kemudian ditaburkan di bawah pohon cengkeh dan kopi.

Sebuah pojok di lapangan bola Sarimatondang

Begitulah Speakers' Corner di kampung halaman saya.

Kalau dipikir-pikir, saya punya beberapa jawaban untuk pertanyaan mengapa Speakers’ Corner di kampung halaman  hanya untuk para sapi dan kerbau, dan bukan untuk manusia.

Pertama, mungkin  di kampung halaman banyak arena untuk kongkow-kongkow selain taman atau lapangan. Bisa di lepau pada pagi dan sore hari, dimana kita bisa berdiskusi, berdebat, bahkan bernyanyi sepuas hati direriungi oleh kawan sekampung dan handai tolan.

Kalau bukan di lepau, di tempat-tempat hajatan perkawinan, juga adalah arena yang baik untuk berorasi, melampiaskan uneg-uneg tentang apa saja. Coba saja datang ke pesta perkawinan orang Batak di kampung saya. Sehabis makan, menjauh lah beberapa meter dari arena pesta, dan cari lah kerumunan orang (mereka sebenarnya undangan pesta juga, tetapi merasa sudah bosan dengan ritual pesta) yang seolah-olah menjadi ‘tandingan’ dari kerumunan orang yang berpesta. Nah, di sana pasti akan kita temukan satu-dua orang tokoh yang jadi ‘motor’ diskusi. Dia ini akan ‘berorasi’ mengenai aneka hal, mulai dari politik daerah hingga soal budaya, mitologi, bahkan perihal bagaimana bercocok tanam. Kalau teliti mendengar, banyak lho pelajaran filsafat yang kita dapat di sini. Sebab, bukankah Socrates di zamannya juga membuktikan kepiawaiannya justru kepada orang-orang jalanan, di pasar dan di keramaian apa saja?

Kedua, Speakers’ Corner jadi tidak populer di kampung halaman, bisa juga karena sasaran ketidakpuasan kita itu adalah ‘kita-kita’ juga. Coba lah pikir-pikir. Yang jadi lurah, bisa jadi adalah kerabat kita. Kalau dia semarga dengan ibu, kita memanggil dia Tulang (Paman). Kalau semarga dengan ayah, kita panggil dia Om (Bapa Anggi atau Bapauda). Kalau sebaya, kita panggil dia Lae (ipar). Sangat mungkin pula dia adalah tetangga kita. Atau teman sepermainan. Atau teman satu serikat marga atau serikat kampung. Jadi sungkan lah bicara macam-macam lewat speakers' corner itu.

Begitulah dugaan saya. 

Tapi itu dulu, di masa saya masih kecil. Sekarang zaman sudah berganti. Waktu terus berjalan. Dan banyak hal sudah berubah. Saya dengar-dengar, lapangan sepak bola di kampung halaman tak seperti dulu lagi. Sudah lebih sering dipotong rumputnya. Sudah lebih bersih. Dan sudah lebih kerap dipakai bermain sepak bola. Mudah-mudahan pula, ada juga yang memikirkan agar kelak di sana ada Speakers’ Corner sungguhan. Seperti di Hyde Park itu.

Jika itu terjadi, harapan saya akan lahir orator jempolan dari kampung halaman saya yang dapat berpidato menggugah dan menghanyutkan. Atau jika pun tidak, saya yakin akan muncul penyanyi-penyanyi dan komposer bermutu. Sebab saya perkirakan selain mengekspresikan kebebasan bicaranya lewat pidato, tak kalah banyak pula yang melampiaskannya lewat lagu.

Seperti lagu dari Batak Toba, berikut ini, dari sebuah Trio yang saya sudah lupa namanya:



Setelah namamu, anakku,
Tersohor sampai ke ujung dunia
Engkau ternyata lupa
Pada alas tempat tidurmu
Yang sudah sobek

Juga engkau lupakan
Jalan berlumpur di bawah pohon perdu
(padahal) itulah tanah kelahiranmu
dan engkau melupakannya.

(Ia dung tarida ma, da goar mi amang
Sahat tu ujung ni portibi on
Ai gabe lupa do, Ho di lage-lage
Podoman mi Naung maribak I

Nang di dalan na, Margambo i amang
Da na ditoru ni sappilpil i
I ma tano hatubuanmiAmang,
Lupa do ho)


23 november 2006
© Eben Ezer Siadari

2 comments:

  1. haha. menarik sekali ulasannya. sepertinya, untuk di neeri kita, pemandangan hewan pidato lebih umum, ya.

    ReplyDelete
  2. Boleh juga artikel ini, salut saya sama pemikiran abang

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...