Saturday, November 04, 2006

Begini Ternyata Rasanya....

Buku The Ciputra's Way, Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati dipajang di toko buku

Serpong, 4 November 2006
Setelah Amartya menuntaskan les pianonya tadi sore, ia dan ibunya menyandera saya jalan-jalan ke World Trade Center, Serpong. Sebuah pusat perbelanjaan yang besar dan modern. Sudah tiga kali kami ke sini, tetapi baru kali ini saya melihatnya lebih teliti. Dari pintu utama, kita segera menginjakkan kaki di lobi yang sebenarnya lumayan luas. Tetapi karena sudah dijejali oleh aneka outlet, jadi kelihatan sempit. Lalu ada tangga berjalan yang seolah menyambut mereka yang datang. Dua jalur naik-turun, yang mengingatkan saya pada kesenangan putri saya ketika ia masih balita. Tiap kali menemukan tangga berjalan yang begitu, ia selalu menyuruh saya ke tangga berjalan yang satu, dan dia di yang satunya lagi. Nanti di satu titik, kami akan berpapasan dan ia akan berteriak kencang…..

Di WTC itu kami singgah di toko buku Gramedia. Toko buku yang besar dan lengkap juga. Tak kalah dengan toko buku Gramedia lainnya. Tapi soal itu tak menarik perhatian saya. Sebab ada hal lain yang lebih menarik. Yakni di jajaran Buku Laris, ternyata…. eh, ada lho buku berjudul The Ciputra’s Way, Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati. DAlam hati saya bersorak, itu buku kan, buah karya Andrias Harefa dan saya?

Maka kami pun mendekat ke sana. Berulang-ulang saya bolak-balik buku-buku itu. Sambil begitu, saya mengamati ke kanan dan ke kiri. Seolah saya ingin merasakan, begini toh, rasanya jadi penulis buku. Kok nggak ada sih, yang minta tanda tangan? Kok nggak ada sih yang minta foto bersama? (Husss, kata saya dalam hati, dasar wong norak saya ini. Kok perasaan begini saja perlu betul untuk dinikmati…..)

Putri saya yang berdiri disamping saya, berbisik kepada saya. “Eh, Pa, ini kan buku yang Papa bikin? Kok ada di sini?”. Saya berbisik kepadanya, “Ssssst, jangan keras-keras. Nanti ketahuan orang.”

Buku The Ciputra's Way juga dipajang di rak di depan kasir

Semenjak akhir Juli lalu, buku itu memang secara resmi sudah beredar. Tetapi beberapa kali saya mendatangi toko buku, saya tak menemukannya. Kata staf di sana, bukunya belum sampai. Tapi kejadian seperti itu tak berlangsung lama. Tiga minggu lalu, ketika saya mengunjungi toko buku Gramedia di Matraman, Jakarta, saya mendapati buku tersebut sudah ditumpuk di bagian buku laris. Wah, alangkah senangnya saya. Buku itu bahkan dipajang juga di rak buku saku di depan kasir. Ketika saya mencoba membuka sampul bagian dalam, lebih berbunga-bunga lagi hati saya. Sebab, di sana diterangkan buku ini ternyata sudah memasuki cetakan kedua. Cetakan pertama Juni 2006, cetakan keduanya Juli 2006.

Saya kemudian membelinya dua biji. Aneh juga saya ini. Seorang penulis membeli bukunya sendiri. Padahal, dari penerbit, saya sudah dapat jatah beberapa biji. Biarin. Itung-itung uang yang saya belanjakan itu bisa membuat buku itu lebih lama bertengger di jejeran buku laris.

Ortu Kenapa Sih, karya bareng sejumlah blogger Blogfam

Sore tadi di toko buku Gramedia di WTC Serpong, saya dan putri saya berkeliling agak lama. Mencoba mencari buku hasil karya saya lainnya, yang saya kerjakan bersama para penulis komunitas Blogfam. Judul buku itu Ortu, Kenapa Sih?, sebuah buku genre chicken soup for the soul, yang diantaranya berisi dua tulisan saya tentang masa kecil di Sarimatondang. Sayang, sampai beberapa kali saya mengitari aneka rak buku di sana, tidak ketemu juga.

Akhirnya kami nyangkut di rak buku bertema Psikologi Populer. Mata saya terpaku kepada sebuah buku tebal berjudul: Gede Prama, Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki Keheningan. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Gramedia, tahun 2006. Ada foto Gede Prama tertawa bahagia di covernya.

Buku tentang Gede Prama oleh sejumlah penulis

Ah, saya tahu. Saya juga ikut berkarya untuk buku ini. Sebab, buku ini sebetulnya adalah kumpulan tulisan dan wawancara dengan Gede Prama oleh sejumlah penulis. Beliau bertindak sebagai narasumber. Sedangkan pena yang bekerja merangkai kata-katanya, adalah pena para penulisnya. Mulai dari tokoh yang sudah punya nama besar seperti Maria Hartiningsih hingga yang masih amatiran seperti saya. Dan, terimakasih kepada Pak Gede Prama, karena telah begitu bermurah hatinya memilih salah satu tulisan saya bersama Agung Widyatmoko untuk dimuat dalam buku itu. Tulisan kami itu dulunya dimuat di WartaBisnis No 11, 15-31 Juni 2003. Judul aslinya: Berguru kepada Taman. Suatu saat nanti saya juga akan menyajikan tulisan itu di blog ini. Alangkah mulianya hati Pak Gede. Dari ketinggian singgasananya sudi mencomot salah satu karya saya yang tak terlalu bermutu itu…

Demikianlah. Tak ada kata lain selain rasa syukur dan nikmat dari perjalanan di toko buku sore ini. Dalam hati saya berkata, oh, begini toh, rasanya punya buku yang dipajang di toko buku…

(c) eben ezer siadari

4 comments:

  1. Anonymous7:13 PM

    rasa yang "Begini" itu bagaimana bang ?
    btw..selamat ya bang,mudah2an semakin semangat bekerja, menghasilkan karya-karya yang baru ya..

    ReplyDelete
  2. Hehehe, rasanya ternyat biasa saja. Tidak seperti ketika mengerjakannya, yang penuh deg-degan dan kadang-kadang stres takut kalau-kalau gak akan bisa kelar.

    Ngomong-ngomong, siapa nih ya? Trimakasih lho, udah datang ke sini

    eben

    ReplyDelete
  3. Ben, nanti kalau aku ke Jakarta, aku minta tanda tanganmu deh. Tp kalau bs, honornya bagi2 dong atau traktir gue ke bakmi GM Ha...ha...jadi inget jaman2 di WE. Ih...kangen berat deh.

    sukses ya, Ben. Senang baca blog & keberhasilanmu dalam keluarga dan karir sbg penulis.

    ReplyDelete
  4. Hai Nina. Senang kalau lu masih juga datang-datang ke blog ini. Soal traktir di bakmi GM, bisa diatur. Nggak usah dari honor pun bisa lah. Hehehe. Yang penting, lu pulang dulu. Tugas mu sudah menunggu: datang ke perpustakan CSIS, dan fotokopi tuh semua tulisan2 lu semasa di WE dulu. Sayang lho... kalau gak ada dokumentasinya.

    Sementara ini, aku sarankan gunakan search engine. Ketik namamu, aku yakin beberapa tulisan mu dulu masih ada di websitenya ANU.

    Beberapa hari lalu ada penulis kamus Swedia-Indonesia (lupa namanya) nulis di Kompas perihal bahasa. Sudah kesekian kali dia nulis. Buat saya, sudut pandangnya menarik. Ia mengulas fenomena bhs Indonesia dengan bertitik tolak dari kemajemukan masy Swedia. (Yang saya ingat, ia membahas Ramadhan... apa gitu, yang menggambarkan mulai munculnya tradisi memberi ucapan selamat ramadhan di Swedia).
    Aku jadi ingat lu. Seharusnya, banyak tema2 begitu yang mungkin lu bisa gali. Asyik kan, kalau Nina muncul lagi dengan kehebohannya seperti di WE dulu?

    Soal keberhasilan, ah... lu bisa aja. Blum ada yang bisa gue banggain. Hehehe. Kalau anak-anak kita udah bisa gratis masuk sekolah favorit, barulah kite bangga jadi orang indonesia...

    Salam ama Mr Hansson dan Hansson junior ya...?

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...