Thursday, November 02, 2006

Gusti Allah ternyata masih Sempat Baca Surat-Surat Kita

letter to the president

Mungkin sudah agak membosankan bila saya harus mengatakan lagi bahwa penulis favorit saya adalah almarhum Umar Kayam. Dia itu budayawan dan sastrawan kelahiran Ngawi, yang kalau menulis, selalu lebih dulu membawa kita ke sebuah suasana yang benar-benar menghanyutkan. Lewat suasana itu lah ia menjadi guru yang manis, kocak dan sopan. Kita tak merasa digurui. Sebab pelajaran itu disampaikan dengan cara bersahabat. Ia mengajar bukan untuk memaksa siapa-siapa untuk setuju dengan dirinya.

Salah satu buku karyanya yang saya simpan, sudah kumal. Entah sudah berapa kali buku itu saya lipat-lipat, terjatuh ke dalam ember berisi air, terselip di gantungan baju, terendam di dalam bak dan sebagainya. Sebab buku itu memang seringkali menemani pagi saya di kamar mandi kala saya harus jongkok diam barang 15 menit. Judul buku itu, Mangan Ora Mangan, Ngumpul, diterbitkan oleh Grafiti, 1990. Merupakan kumpulan tulisan Umar Kayam di harian Kedaulatan Rakyat. Ini adalah cerita-cerita berupa sketsa di Keluarga Pak Ageng, tokoh setengah fiksi yang merupakan altar ego Umar Kayam sendiri.




Di buku itu, ada cerita tentang dialog Pak Ageng dengan Beni Prakosa, seorang bocah, anak pembantunya, yang baru duduk di Taman Kanak-kanak. Pak Ageng menulisnya begini:

Beni: Pak Ageng, Pak Ageng, Gusti Allah itu siapa?
Pak Ageng: Lho, kok kamu tiba-tiba tanya dia Le? Dari siapa kamu dengar?
Beni: Tadi Bapak sama Pak Ageng ngomong Gusti Allah, Gusti Allah.
Pak Ageng: Gusti Allah itu yang bikin semua, Le.”
Beni: Semua?
Pak Ageng: Semua. Matahari, bulan, bintang, langit…
Beni: Layangan juga, Pak Ageng? Layangan juga?
Pak Ageng: Juga layang-layang, le.

Entah bagaimana Beni kok jadi puas setelah tahu bahwa Gusti Allah membuat layangan juga. Ah, saya jadi senang tiba-tiba. Ini dia Beni Prakosa generasi muda kita. Dia tidak melihat Gusti Allah yang menyuruh pasrah dan ayem. Dia melihat Gusti Allah Sang Pencipta yang lebih menyenangkan dan menggembirakan. Layang-layang. Horeee...


Kala membaca cerita itu, saya sering tertawa sendiri. Tertawa senang karena hanyut dan ingin bisa hadir dalam dialog itu. Seandainya saja saya bisa menembus ruang dan waktu, saya ingin sekali menjadi Beni Prakosa. Beni si bocah kecil, yang menginginkan Gusti Allah ikut menciptakan layang-layang baginya. Dan untuk keinginan itu, si bocah dibantu sepenuhnya oleh Pak Ageng sang bijaksana, yang siap sedia meminta Gusti Allah itu membuatkan layang-layang.

Apakah memang betul Gusti Allah masih suka cawe-cawe mengurusi hal remeh-temeh seperti membuatkan layang-layang? Bukankah Dia sudah cukup repot mengurusi aneka macam urusan besar, semisal terorisme yang makin gawat, kemungkinan meletusnya perang nuklir, atau yang rada lebih abstrak, the clash of civilization?

Tapi serta-merta pula pendapat itu dapat didebat. Sebab, apa sebetulnya arti besar dan kecil di hadapan sang Gusti? Bukankah ada yang berkata, bahwa seabad di mata manusia, bisa hanya sedetik dimata Dia. Yang berarti bukankah urusan layang-layang yang remeh temeh di mata saya, sangat mungkin besar bagi sang Gusti? Dan sebaliknya, urusan nuklir yang mahadahsyat di hadapan kita, adalah seupil di mata Dia?



Syahdan, suatu hari 16 tahun lalu, saya merasa sudah putus asa dan kehilangan akal. Bagi orang lain, urusan ini mungkin sepele. Tapi bagi saya ini adalah persoalan hidup-mati. Yakni ketika saya sudah di ujung kuliah saya. Dan saya memilih sebuah topik skripsi yang rada aneh. Biang keroknya adalah karena saya jatuh cinta pada sebuah desa bernama Sukamelang di Subang, tempat saya menempuh Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di desa itu saya menemukan banyak sekali –bahkan sebagian terbesar—petani adalah petani penggarap. Bukan petani pemilik. Padahal, sawah begitu luasnya di sana. Dan para petani itu sudah turun-temurun menggarap sawah-sawah itu.

Mungkin karena dulu sewaktu kecil, ayah saya pernah jadi petani penggarap dengan sistem bagi hasil (mamola pinang, belah pinang) simpati saya jadi jatuh kepada para petani penggarap itu. Dengan kesombongan seorang mahasiswa muda yang merasa nasib dunia ini ada di tangannya, (ceritanya) saya ingin menyumbang sesuatu untuk mengubah keadaan lewat penelitian saya. Maka saya ingin meneliti bagaimana hubungan antara sistem pemilikan tanah dengan efisiensi usaha pertanian. Saya ingin menjawab pertanyaan, seandainya para petani penggarap itu menjadi pemilik tanah garapannya, apakah ia akan lebih efisien dan produktif? Teori ekonomi mikro mengatakan ya. Sistem hak milik akan memberi hasil maksimal bagi seorang petani. Dan saya ingin membuktikan kebenaran teori itu. Agar petani penggarap itu, kelak diberi hak memiliki tanah (hmmm, ambisi ini sebenarnya rada menyimpan pertentangan kelas, ya?)

Topik ini ternyata sudah tergolong tua. Tidak banyak lagi literatur baru yang membahasnya. Saya berkelana dari satu perpustakaan ke perpustakaan di Bandung, tapi tetap tak menemukan literatur pendukung itu. Juga saya datangi perpustakaan FE-UI di Jakarta, perpustakaan CSIS dan juga perpustakaan LIPI. Saya temukan beberapa literatur yang berhubungan. Tetapi yang saya cari sungguh-sungguh tak ada.

Dan, ini adalah malapetaka besar bagi seorang mahasiswa.

Berbulan-bulan saya habiskan untuk mencari literatur itu. Sampai kemudian saya demikian putus asanya. Dan kepasrahan itu hanya dapat saya tuangkan melalui sebuah ‘surat kepada Tuhan’ melalui Kontak Pembaca Tempo. Saya berharap, mudah-mudahan ada orang yang terketuk hatinya membantu saya. Atau, dalam bahasa relijius, semoga Gusti Allah mengetuk hati orang-orang untuk membantu saya.

Surat saya di Kontak Pembaca Tempo itu berbunyi begini:

Buku Sistem Kepemilikan Tanah

Saya kini tengah menyusun tugas akhir tentang hubungan efisiensi dan sistem kepemilikan tanah. Ternyata, literaturnya sangat terbatas. Saya sudah berusaha mencari di berbagai perpustakaan di Bandung. Tapi hasilnya tak memuaskan. Rupanya, topik yang saya pilih sudah usang sehingga buku-bukunya sukar dicari.

Untuk itu saya minta bantuan pembaca TEMPO agar memberikan informasi beberapa buku yang saya butuhkan dan saya bersedia mengganti biaya fotokopi dan ongkos kirim. Buku-buku yang saya perlukan antara lain:

1. Reiner Schickele, Effect of Tenure System on Agricultural Efficiency, Journal of Farm Economics, vol 23, Februari 1941.
2. E.O. Heady, Economics of Farm Leasing System, Journal of Farm Economics, vol 34, no 3 Agustus 1947.
3. D.G. Jhonsons, Resources Allocation Under Share Contract, Journal of Political Economy, vol 57, April 1950.

Ebenezer Siadari
Jl. Ir. H. Juanda 109,
Bandung 40132.
(Rubrik Kontak Pembaca Tempo, 24 Februari 1990)


Benar saja. Orang-orang rupanya terketuk hatinya. Atau, Gusti Allah ternyata sempat juga membaca surat saya itu. Ia mengetuk hati sejumlah orang. Hanya dalam hitungan beberapa minggu, berturut-turut empat amplop kuning berukuran besar mampir di asrama saya. Dan, ketika saya buka, semuanya berisi fotokopi literatur yang saya butuhkan.

Sampai sekarang nama orang-orang itu saya catat, dan saya hanya sempat mengucapkan terimakasih lewat kata pengantar skripsi saya. Mereka adalah Arief Budiwyanto, Harijanto, Judawinata dan Pos M. Hutabarat. Beberapa diantara mereka beralamat di Amerika Serikat ketika mengirimkan literatur itu. Kiriman mereka tanpa surat pengantar, tanpa catatan apa-apa.

Coba. Alangkah jelinya Gusti Allah mengatur ini semua. Ia masih ikut mengurusi literatur usang yang tak ketahuan rimbanya, bagi orang yang sudah begitu putus asa seperti saya. Dan, lihat pula. Betapa mulianya hati manusia. Hati orang-orang baik. Mereka menolong, tanpa mengharapkan imbalan apa-apa, kecuali agar saya bisa cepat-cepat lulus…..



Surat saya di Kontak Pembaca Tempo itu pastilah bukan satu-satunya surat yang mampir di meja kerja Gusti Allah dan dibacanya. Sebab saya yakin, Gusti Allah telah menjawab lebih banyak lagi surat-surat demikian. Surat-surat yang remeh temeh mau pun surat-surat yang gawat-gawat. Surat-surat yang sampai kepadaNya lewat kotak surat bernama Kontak Pembaca Tempo atau lewat saluran lain. Seperti ucapakan terimakasih dari Ny. Indriati berikut ini.

Terimakasih Haji Lele

Kami mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan pembaca TEMPO yang telah memberikan alamat Haji Lele untuk kesembuhan mata adik saya. Kami sangat terharu atas budi baik pembaca.

Ny. Indriati
Jl. Dr. Wahidin 5-15
Cilacap Jawa Tengah
(Rubrik Kontak Pembaca Tempo, 10 Juni 1989, halaman 3)


Lihat. Catatan tentang alamat, yang mungkin hanya mengambil waktu beberapa menit saja untuk menuliskannya, dapat demikian berartinya bagi seorang ibu seperti Ny. Indriati. Bantuan-bantuan kecil yang remeh-temeh, bisa menjadi urusan yang sangat gawat bagi orang lain. Dan karena itu pula, Gusti Allah masih juga ikut repot mengetuk hati orang untuk urusan yang demikian.

Karena itu kita mungkin tak perlu ragu lagi mengatakan bahwa Gusti Allah juga pasti membaca surat Ny. Susilowati Ibrahim, berikut ini. Gusti Allah juga pasti mengetuk hati banyak orang untuk memberikan bantuan kepadanya. Sebab, yang dimintakannya sesuatu yang mulia. Yakni merangkai kembali sebuah persahabatan. Antara dua insan yang tak melihat perbedaan diantara mereka sebagai halangan, melainkan hanya melihat bahwa mereka saling menyayangi sebagai teman.

Sahabat di PT Pusri

Saya punya sahabat bernama Samaria Tarigan (Ria). Kenal ketika sama-sama bekerja di Kantor Pusat Pusri Jakarta (1975-1976). Waktu itu Ria bekerja sebagai sekretaris kepala biro akuntansi sedangkan saya sekretaris Pricewaterhouse Association (konsultan manajemen buat PT Pusri).

Hubungan kami terputus karena Ria disunting Ir. Budi D. Sinulingga dan tak lama kemudian pindah ke P. Siantar. Adakah pembaca yang tahu alamat Ria?

Ny. Susilowati Ibrahim (Utjie)
Jl. KH Wahid Hasyim 45
Depan SDN Bengselok
Sumenep, Madura
(Rubrik Kontak Pembaca Tempo, 1 September 1984 halaman 5)


Dan, sebagai penutup, izinkan saya mengatakan bahwa Gusti Allah pasti juga membaca surat seseorang bernama Iwan Rachmawan ini. Seorang mahasiswa yang terancam putus kuliah karena ketiadaan biaya.

Iwan Rachman menulis suratnya pada tahun 1984, begini.

Untuk Cita-citaku

Saya mahasiswa tingkat III di salah satu PT di Bandung, 23 tahun. Kuliah saya sejak tingkat I sampai III berjalan serba kekurangan. Ayah saya meninggal sewaktu saya masih di SMA kelas III, sedangkan ibu pensiunan guru SD.

Tapi cita-citaku ialah agar pendidikanku tidak terbengkalai. Untuk itu saya ingin mencari pekerjaan, apa saja, yang penting halal. Adakah pembaca yang mau menolong mencarikan pekerjaan atau memberi bantuan apa saja? Bantuan agar langsung kepada saya.

Iwan Rachmawan
Jl. Tamansari 97/53
Lebakgede
Bandung 40132
(Rubrik Kontak Pembaca Tempo, 15 September 1984).


Gusti Allah ternyata tak hanya membaca suratnya, tetapi juga menjawabnya dengan cara yang mungkin tidak dia duga samasekali. Karena lima tahun kemudian, seorang wanita bernama Ermanely, menulis surat berikut ini juga di Kontak Pembaca Tempo:

Suami Kontak Pembaca

Saya yakin pembaca TEMPO sudah lupa isi surat salah seorang pembacanya pada KONTAK PEMBACA ini, 15 September 1984 yang berjudul Untuk Cita-citaku.

Tetapi bagi saya, pemuatan surat itu membawa berkah. Mengapa? Pria pengirim surat itu kini menjadi pribadi istimewa dalam kehidupan. Pada 31 Maret 1989 lalu kami melangsungkan peresmian pernikahan kami di Cirebon, Jawa Barat.

Kami mengucapkan terimakasih kepada TEMPO. Persahabatan kami yang lama akhirnya membawa arti penting dalam kehidupan.

Ermanely
Jl. G. Salak D III/40
Perumnas Cirebon,
Jawa Barat
(Rubrik Kontak Pembaca Tempo, 6 Mei 1989, halaman 3)


Gusti Allah ternyata bukan cuma bisa kita harapkan membuat layang-layang. Ia juga mencari literatur usang buat saya, seorang mahasiswa yang putus asa mengerjakan skripsinya. Ia membantu menemukan alamat tabib Haji Lele bagi yang sedang sakit. Dan ia bahkan mencarikan jodoh bagi seorang pemuda, Iwan Rachmawan, yang sudah hampir kehabisan biaya melanjutkan studinya.

Ciputat, 3 November 2006
© eben ezer siadari

Catatan:
(*) Terimakasih dan salut untuk rubrik Kontak Pembaca Tempo (terutama zaman-aman awal) yang demikian dahsyat menjadi perantara orang mendapatkan pertolongan.

(**) Terimakasih untuk perpustakaan CSIS tempat saya menemukan majalah Tempo edisi-edisi tua.

(***)Inspirasi tulisan ini sebagian datang dari khotbah Pdt Litos Pane di gereja GKI Kwitang, 22 Oktober 2006 dengan tema Allah tempat perlindungan keluarga (Mazmur 90:1-17).

(****)Nats Mazmur 90:1-17 itu selengkapnya adalah:

Allah, tempat perlindungan yang kekal.
Doa Musa, abdi Allah

Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami, turun-temurun.
Sebelum gunung-gunung dilahirkan,
dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya Engkaulah Allah.

Engkau mengembalikan manusia kepada debu,
Dan berkata, “Kembalilah hai anak-anak manusia!.”
Sebab dimataMu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.

Engkau menghanyutkan manusial mereka seperti mimpi,
Seperti rumput yang bertumbuh,
Di waktu petang lisut dan layu.

Sungguh kami habis lenyap karena murka-Mu,
Dan karena kehangatan marahMu kami terkejut,
Engkau menaruh kesalahan kami di hadapanMu
Dan dosa kami yang tersembunyi
Dalam cahaya wajahMu

Sungguh segala hari kami berlalu karena gemasmu
Kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh

Masa hidup kami tujuh puluh tahun
Dan jika kami kuat, delapan puluh tahun,
Dan kebanggaan adalah kesukaran dan penderitaan;
Sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.

Siapakah yang mengenal kekuatan dan murka Mu
Dan takut kepada gemas Mu?

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian
Hingga kami beroleh hati yang bijaksana

Kembalilah, ya Tuhan –berapa lama lagi?
Dan sayangilah hamba-hambaMu.

Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setiaMu;
Supaya kami bersorak surai dan bersukacita semasa hari-hari kami

Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami
Seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka

Biarlah kelihatan kepada hamba-hambaMu perbuatanMu
Dan semarakMu kepada anak-anak mereka
Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami,
Dan teguhkanlah perbuatan tangan kami
Ya perbuatan tangan kami
Teguhkanlah itu.

1 comment:

  1. Anonymous7:09 PM

    wah, mas eben. surat pembaca dari majalah tua bisa juga jadi ide tulisan di tangannya. blajar dimana nih menggali ide...kok asyik-aasyik aja

    salam yo....buat kluarga

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...