Saturday, November 04, 2006

Pada Sebuah Sore di Washington....



Suatu hari di tahun 1997….
Sore sudah usai di Washington akhir Januari lalu ketika pria itu tergesa menyapa saya. “Maaf, saya membiarkan Anda menunggu. Kapan Anda tiba?” dia bertanya sambil menghempaskan diri di atas kursi. Usianya barangkali belum 35. Berwajah imut-imut, sepotong dasi menggantung di kemeja hijau yang ia kenakan. Pria itu bernama William E. Conklin. Penampilannya tak sedikit pun menggambarkan bahwa dirinya aktivis buruh. Ia bahkan tidak berbeda dengan eksekutif muda yang biasa menongkrong di kafe-kafe Jakarta.

Namun, dia memang aktivis buruh. Dia adalah pengurus Asian American Free Labor Institute, sebuah lembaga di bawah naungan AFL-CIO (American Federation Labor- Congress of Industrial Organization), federasi buruh terbesar di AS. Ia sudah melanglang buana membela kaum buruh, termasuk ke beberapa negara di Asia. Sebagai program officer untuk kawasan Asia, dia juga sudah berkunjung ke Indonesia beberapa kali, termasuk membesuk Muchtar Pakpahan, aktivis buruh yang kini berada di penjara. “Menjadi aktivis adalah panggilan,” kata dia sembari menyuguhkan kopi setelah berhasil menemukan dua buah gelas di laci meja. Hari sudah malam, staf lainnya di kantor itu sudah pulang.

Suatu sore di Seattle, Februari, 1997
Seorang pria jangkung muncul dari balik ruangannya yang pintunya dibiarkan terbuka. Ron Judd, 42, menjajakan senyum hangat. Kulit mukanya tampak halus pertanda tak banyak disentuh angin musim dingin. Kumisnya tercukur rapi. Sepasang sepatu mengilat melengkapi celana dan kemejanya yang bersih. Dengan rambut yang hampir ludes di bagian atas kepalanya, Judd lebih mirip seorang bankir ketimbang aktivis.

Tetapi, ia juga adalah aktivis buruh. Ia adalah sekretaris eksekutif dewan buruh AFL-CIO untuk King County, beranggotakan 18 ribu lebih. Dari ruang yang sangat sederhana itu, Judd dan tak lebih dari 18 orang pengurus lainnya menjalankan organisasi mereka.

Pada suatu sore di musim dingin, pertengahan Februari lalu, saya mengunjunginya di kamar kerjanya. Sebuah ruangan yang tak terlalu luas, berada di lantai dua sebuah bangunan tua di ujung jalan 1st Avenue, Seattle. Duduk tak jauh-jauh dari pesawat telepon (dia sedang menunggu hasil negosiasi gerakan buruh setempat dengan manajemen sebuah perusahaan), Judd ketika itu banyak bicara tentang visi dan masa depan gerakan buruh.



Wajah Buruh yang Makin Matang
William E. Conklin dan Ron Judd bisa menjadi jendela kecil untuk menilik gerakan buruh di AS yang terus hidup dan makin matang. Gaya bicara mereka jauh dari berapi-api. Mereka menyimpan semangat, tetapi tak menyebarkan rasa permusuhan. Mereka menyadari kapitalisme global yang makin mendera, tetapi tak menawarkan jalan pintas. Perlawanan buruh memang harus berjalan terus, menurut mereka, tetapi dengan langkah yang lebih cerdik dan menumbuhkan empati. Gerakan buruh, menurut Judd, bukan hanya untuk buruh, tetapi untuk kebaikan seluruh orang. “Jadi gerakan buruh juga harus menarik simpati mereka,” kata Judd.

Masih di kota hujan Seattle, misalnya, bagaimana buruh berusaha menarik empati juga dapat terlihat. Malam hari, hanya satu jam setelah wawancara dengan Judd, sebuah demonstrasi terjadi di depan 5th Avenue Theatre. Dua ribuan demonstran meramaikan tempat itu. Demonstasi yang disponsori serikat buruh para musikus Seattle itu menuntut perbaikan upah. Rupanya pada siang harinya, negosiasi dengan manajemen teater tak membuahkan hasil. Tak ada kenaikan upah bagi musisi mau pun pekerja teater. Musisi itu tetap dibayar US$3 per jam, tingkat upah yang bahkan lebih rendah dari upah minimum, US$5 per jam. Karena itu, demonstrasi pun digerakkan.

Akan tetapi itu bukan lah unjuk rasa orang-orang frustrasi. Tak ada massa mengamuk. Tak ada umpatan kasar dan tak ada perkelahian. Sebuah grup musisi memainkan musik jazz lembut di tepi jalan. Suara saksofon dan flute memancing perhatian para pejalan kaki. Tak sedikit dari mereka yang ikut membubuhkan tanda tangan lambang dukungan. Sementara di jalan raya puluhan aktivis buruh ikut mengatur lalu lintas yang mulai macet.

Demonstrasi itu memang dirancang bukan untuk memaksakan tuntutan. Tujuannya Cuma untuk menunjukkan kepada para penonton teater bahwa di balik meriahnya tontonan yang mereka nikmati, ada pekerja yang tak mendapat bayaran cukup. Seorang demonstran, misalnya, dengan wajah sedikit menyesal mendekati orang-orang yang antre menunggu loket karcis teater dibuka. Ia menjelaskan tujuan demonstrasi dan meminta maaf jika kali ini mengganggu mereka.

Alunan musik juga membuat pria-pria berdasi di balik kaca jendela mobol melambatkan kendaraannya. Mereka tersenyum, membuka kaca jendela, dan mengacungkan ibu jari tanda turut bersimpati. Sebagian diantaranya malah membunyikan klakson, ikut meramaikan musik. Lantas terdengar suara dari mikropon. “Terimakasih Pak Polisi atas kerjasama yang baik.” Seoang pengurus serikat buruh memulai pidatonya. Ia rupanya ingin juga meraih simpati aparat kemanan itu.



Ironi di Balik Kemajuan Ekonomi
Amerika Serikat memang bukan cuma lahan subur bagi para kaum kapitalis. Gerakan buruh juga menikmatinya. Hampir tiap profesi punya serikat buruh sendiri. Pilot, pramugari, ahli mesin, guru, perawat, wartawan, pegawai pemerintah daerah, musisi hingga buruh tani membentuk serikat buruh. Dikotomi antara pekerja kerah putih dan kerah biru tak lagi jelas. Semua orang yang menikmati gaji bisa mengidentifikasi diri sebagai buruh.

Secara nasional serikat buruh-serikat buruh ini membentuk federasi yang lebih besar. Yang terbesar kini adalah AFL-CIO yang beranggotakan sekitar 13 juta buruh. Jumlah ini diperkirakan 95% dari buruh yang memilih bergabung dalam serikat buruh. Selain itu ada juga serikat buruh independen. Mereka umumnya tak berafiliasi kemana-mana.

Banyak soal yang membuat serikat buruh kian kerap beraksi dalam tahun-tahun terakhir. Di balik pertumbuhan ekonomi Amerika yang pesat, kenyamanan bekerja makin dirasakan berkurang. Tuntutan efisiensi dan rekayasa manajemen yang bermacam-macam, ujung-ujungnya adalah penyempitan kesempatan kerja. Restrukturisasi, downsizing, reengineering dan jargon semacamnya hanya musik yang enak di telinga kaum pengusaha, tetapi malapetaka bagi pekerja.

Di tengah dunia bisnis yang demikian, wajar saja makin banyak pekerjaan yang tngkat kepastiannya sangat rendah. Ambil contoh di King County, di wilayah kerja Judd tadi, misalnya. Sedikitnya 40 hotel tidak membuat landasan kontrak yang jelas dengan pekerjanya. Belum lagi persoalan upah yang tidak memenuhi standar dan kasus-kasus pelecehan seksual ikut mewarnai. “Pekerja temporer sebagian besar tidak mendapat benefit seperti pensiun dan tunjangan kesejahatan,” tutur Judd.

Maka tak mengherankan bila berkembang pendapat bahwa kemajuan ekonomi Amerika dibayar oleh pengorbanan kaum buruh secara berlebihan. Dalam sebuah surat kampanyenya tahun lalu, misalnya, Bernie Sanders, anggota House of Representative yang mewakili aspirasi kaum buruh, mengatakan bahwa kini kelas menengah ekonomi Amerika mengalami kemerotosan pendapatan paling hebat sejak depresi 1929.

Kelas menengah Amerika saat ini, menurut dia, bekerja lebih panjang untuk upah yang lebih kecil. Dua puluh tahun lalu, menurut dia, buruh Amerika adalah pekerja yang paling baik bayarannya di seluruh dunia. Kini melorot ke urutan ke-13 di antara negara-negara industri. Dari empat juta lapangan kerja yang tercipta dalam kurun 1979 hingga 1987, 3,6 juta diantaranya adalah pekerjaan dengan upah minimum. “Jadi bagi kelas menengah dan kaum pekerja, tidak ada boom ekonomi, tidak ada ekonomi yang tumbuh dan tidak ada ekonomi yang dinamis,” kata Sanders.

Tentu saja angka-angka itu tak sepenuhnya menggambarkan keadaan sebenarnya. Pidato Sanders biasanya ditujukan sebagai alat kampanye untuk pemilihannya kembali sehingga mengandung diramatisasi di sana-sini. Sisi buruk perburuhan di Amerika menjadi begitu menonjol. Sementara keadaan sebenarnya tidaklah separah yang dia ucapkan.

Secara umum dibandingkan dengan masalah buruh di negara berkembang umumnya, tuntutan para buruh di AS kerap kali jauh lebih ‘mewah.’ Simak, misalnya, pemohokan yang dilakukan oleh 200 pekerja sebuah perusahaan farmasi di Portland. Mereka melakukan aksi bukan karena bayaran yang terlalu rendah, melainkan karena adanya kewajiban membayar premi asuransi sebesar US$100 per bulan. Tuntutan para pekerja yang kontraknya habis pada 2 September tahun lalu itu, akhirnya dikabulkan awal tahun ini, hanya tiga jam sebelum demonstrasi besar-besaran terjadi. Selain itu perusahaan juga membayar US$5 per point of service, di samping kenaikan upah 2% per tahun selama tiga tahun berikutnya.

Tuntutan yang lebih hebat muncul dari serikat pekerja para pilot yang bekerja di American Airlines. Pilot perusahaan penerbangan paling menguntungkan itu menuntut kenaikan upah 11% per tahun selama empat tahun mendatang. Padahal para pilot di sana sudah mengantongi upah antara US$120 ribu (pilot baru) dan US$200 ribu (pilot senior) per tahun. Selain itu serikat pilot juga menuntut hak membeli 7,25 juta lembar saham perusahaan itu dengan diskon harga US$10 per lembar.

Manajemen American Airlines sendiri hanya bersedia memberi kenaikan gaji 5% sampai 1999. Menurut mereka, pilot American merupakan pilot yang bayarannya paling tinggi di Amerika saat ini. Sedangkan dalam soal kepemilikan, manajemen cuma bersedia memberi pinjaman untuk pembelian 5,75 juta lembar saham, disamping insentif berupa bagi hasil.

Pemogokan yang mereka lakukan pada akhir Februari lalu itu sempat melumpuhkan beberapa rute penerbangan Amerika. Sampai-sampai akhirnya Presiden AS Bill Clinton menggunakan haknya untuk menghentikan pemogokan, beberapa menit setelah presiden serikat buruh pilot, James Sovich, menganjurkan pemogokan lebih besar lagi. Itulah pertamakalinya Presiden AS menggunakan hak semacam itu dalam tiga dekade terakhir. Clinton memerintahkan pendinginan selama 60 hari.




Kapitalisme yang Mendewasakan
Tuntutan semacam ini sebetulnya bukan soal aneh dalam percaturan gerakan buruh di AS. United Airlines, misalnya, juga pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Saat ini serikat pilot dan pramugarinya menjadi pemegang saham mayoritasnya. Alhasil, orang-orang yang tergabung dalam serikat buruh, termasuk keluarga mereka, lebih suka memilih terbang bersama perusahaan penerbangan ini. “Ini merupakan solidaritas kami,” kata seorang aktivis buruh dengan bangga.

Tak berlebihan bila ada yang beranggapan kapitalisme juga turut mendewasakan gerakan buruh. Seiring dengan makin rumitnya percaturan modal dunia bisnis, gerakan buruh juga belajar mencari strategi mengegolkan tuntutannya. AFL-CIO sendiri banyak mengadakan pelatihan bagi para spesialis aktivis buruh. Mulai dari teknik kepemimpinan hingga pengerahan massa, diajarkan disitu.

Dengan demikian cara-cara berjuang gerakan buruh pun kian hari menghadirkan kerumitan juga. Pemogokan saja hanya lah salah satu dari banyak alternatif yang dijalankan. Cara lain yang lebih moderat, termasuk negosiasi, kerap lebih dipilih. “Pemogokan adalah alternatif terakhir. Harus kita perhitungkan untung-rugi dari pemogokan yang kita lakukan,” tutur Conklin.

Sebuah cerita menarik, misalnya, terjadi pada kasus antara serikat pramugari perusahaan penerbangan Alaska dan pihak manajemen. Ketika itu serikat pramugari menuntut kenaikan upah dan pemilikan saham.

Pada awalnya mereka sudah hampir sepakat untuk mogok saja karena tuntutannya tidak dipenuhi. Strategi itu kemudian berubah setelah dikonsultasikan dengan pengurus AFL-CIO. Yang mereka tempuh justru sebaliknya: menganjurkan para pramugari itu bekerja serajin mungkin. Selain itu para aktivis buruh juga dianjurkan agar selalu bepergian dengan pesawat Alaska.

Para wakil pramugari tentu saja tak mengerti mengapa hal ini harus dilakukan. Bukankah itu justru akan menguntungkan perusahaan itu? Ternyata tidak. Pada saat pesawat yang mereka naiki sudah lepas landas, para aktivis itu melakukan aksi di dalam pesawat. Mereka memajang poster seraya memberi penjelasan kepada penumpang bahwa perusahaan penerbangan itu punya masalah dengan para pramugarinya. Disamping itu, serikat buruh juga sedikit demi sedikit membeli saham perusahaan itu melalui bursa. Dengan melakukan itu, porsi pemilikan mereka makin besar dan ketika RUPS berlangsung mereka pun membuka suara.

Cerita ini kemudian berakhir dengan happy ending. Tuntutan serikat pramugari dikabulkan dan Alaska sampai kini termasuk perusahaan penerbangan favorit. “Sebelum memutuskan sebuah tindakan, kami para pengurus kerap kali berdebat panjang lebar,” tutur Judd.

Tentu saja perjuangan gerakan buruh tak selalu berjalan mulus. Sejak dua tahun lalu, misalnya, sejumlah wartawan dan para pekerja eks koran milik Gannett & Co di Detroit, masih terus mengadakan perlawanan terhadap majikannya itu. Mereka tak setuju dengan tindak-tanduk Gannett yang melakukan perampingan besar-besaran demi menunjang ambisi bisnisnya.

Para pekerja surat kabar itu akhirnya mendirikan surat kabar sendiri, di samping secara sporadis berdemonstrasi. The Detroit Sunday Journal, tabloid perjuangan mereka itu, sebagian besar dijual kepada para simpatisan gerakan mereka. Sampai saat ini, para pekerja yang mengadakan perlawanan itu hidup dengan keuangan yang pas-pasan. Bahkan banyak diantaranya yang hanya mengandalkan sumbangan dari anggota serikat buruh dari negara bagian lain. Berbagai forum kerap diadakan untuk membicarakan nasib mereka. Sebuah pertunjukan musik, misalnya, pernah diadakan untuk mengumpulkan dana bagi kelanjutan perjuangan mereka. Semua yang mengambil bagian pada acara itu adalah para anggota serikat buruh –mulai dari musisi, penyanyi hingga waitressnya. Gedung yang dipakai pun adalah milik serikat buruh.

Pada saat itulah solidaritas yang tinggi muncul. Musisi dan penyanyinya tidak dibayar. Demikian pula para pelayan minum. Sumbangan pun mengalir. “Lima dolar yang saya sumbangkan mungkin bisa membuat keluarga seorang anggota serikat buruh menikati sarapan paginya lebih lengkap,” kata seorang aktivis buruh, dengan nada terharu, menceritakan pengalamannya.



Gagal di Pentas Politik
Beberapa tahun belakangan ini media massa Amerika menggembar-gemborkan kebangkitan gerakan buruh di sana, terutama di medan politik. AFL-CIO, misalnya, tahun lalu meluncurkan sebuah iklan kampanye senilai US$35 juta. Newt Gingrich, salah seorang petinggi partai Republik, sampai-sampai melempar kritik pedas. Menurutnya, bos serikat buruh menghabiskan sekitar US$50 juta sampai US$100 juta hanya untuk membeli dan mengontrol kongres.

Gerakan buruh juga mencoba menunjukkan kekuatan dengan mendirikan partai politik mereka sendiri. Di Cleveland, Ohio, mereka memproklamirkan berdirinya Partai Buruh yang diresmikan dalam sebuah konvensi. Tak kurang dari 1.300 delegasi datang dari berbagai negara bagian, mewakili 1,5 juta buruh. Inisiatif pendirian partai ini datang dari kaum buruh independen di luar AFL-CIO.

Sejauh ini, tampaknya gerakan di medan politik ini tak sepenuhnya berhasil. Latar belakang sejarah Amerika sendiri ikut mendorong hal ini. Menurut Suzie S. Sudarman, staf pengajar pada Pusat Kajian wilayah Amerika, Universitas Indonesia, kesetiaan kelas pada masyarakat di negara Paman Sam relatif lebih rendah dibandingkan dengan kesetiaan pada ras.

Banyak peristiwa besar yang kelihatannya seperti gerakan buruh, menurut dia, sebetulnya lebih dipicu oleh isu ras ketimbang perjuangan kelas. Hal ini, menurut dia, berbeda dengan gerakan buruh di Eropa, yang anggotanya sangat kental mengidentifikasi diri pada organisasinya. “Karena itu saya melihat gerakan buruh di sana masih sulit mendapat tempat,” kata Suzie.

Soal lain yang lebih penting adalah minimnya liputan media massa. Dengan begitu, gerakan politis serikat buruh tak bergaung luas. Berdirinya Partai Buruh itu, misalnya, tak diliput oleh media massa berpengaruh di negeri Paman Sam itu. Tak ada liputan televisi mau pun koran nasional. Tak mengherankan bila aktivis buruh menuduh pers Amerika tunduk pada kaum kapitalis dan bukan pembela publik lagi.

Tuduhan semacam ini bulan lagi hal baru di tengah makin mengindustrinya media massa. Menurut Suzie, bagaimana pun media massa utama AS dikuasai oleh orang-orang yang tak suka pada kebangkitan kaum buruh. Kalau pun ada tokoh buruh yang diorbitkan, biasanya adalah mereka yang tidak terlalu ekstrem. Tokoh-tokoh AFL-CIO sendiri cenderung menjadi lebih moderat bila sudah duduk di posisi enak. “Ini memang sering mengecewakan, terutama bagi orang yang menginginkan perubahan,” kata Suzie.



Memenangkan Publik, Bukan Serikat
Banyak tokoh gerakan buruh secara tak langsung mengakui hal ini. Menurut Judd, memang benar, selama ini ada anggapan bahwa kemenangan gerakan buruh ditentukan di petas politik. Penggalangan massa untuk kampanye politik, negosiasi suara menjelang Pemilu, kerap dianggap salah satu jalan menembus kemenangan. “Seolah-olah bila kita bisa membeli kursi di kongres, kita akan menang,” kata Judd.

Sebenarnya, menurut dia, kemenangan ada di soal lain, yakni memenangkan publik itu sendiri. Untuk bisa memenangkan publik, jalan kesana tampaknya masih akan panjang bagi gerakan buruh Amerika. Masih banyak yang harus dikerjakan. Kaum buruh sendiri tak semuanya tertarik untuk ikut berserikat karena bermacam-macam soal. Ada yang kecewa karena di lingkungan serikat sendiri kerap terjadi percekcokan. “Masih banyak terjadi saling bajak anggota diantara serikat buruh itu sendiri,” kata Conklin.

Selain itu, kesan bahwa gerakan buruh hanya menguntungkan pengurusnya belaka, juga masih kerap terdengar. Kepengurusannya Cuma dimanfaatkan sebagai batu loncatan ke posisi yang lebih melambung. Ini menjadi batu sandungan bagi sebagian besar kaum awam. Mereka akhirnya memandang gerakan buruh sebagai gerakan serikat belaka, bukan gerakan sosial.

Kerja besar semacam itulah yang membuat orang-orang seperti Conklin dan Judd masih harus betah berlama-lama di kantornya—berkutat dari pengadun ke pengaduan lain, dari satu negosiasi ke negosiasi lain bahkan dari satu pemogokan ke pemogokan lain. Mereka tahu, mungkin bukan mereka kelak yang akan menikmati hasilnya. Namun, bagaimana pun gerakan memang harus berjalan terus.

@ eben ezer siadari dan wartaekonomi

(Tulisan ini pernah dimuat di majalah Warta Ekonomi edisi Maret 1997, dengan judul Gerakan Buruh Amerika: Gerakan tanpa Ujung)

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...