Monday, November 27, 2006

Sajak di Jalan Dago



Sajak itu secara tak sengaja saya temukan di sebuah toko buku Kalam Hidup di Jl. Dago, Bandung, di tahun-tahun awal jadi mahasiswa di sana. Tertulis dalam sebuah buku berjudul Sebutlah Nama-nama Kami,karya C.S. Song, sajak itu dalam hemat saya yang awam ini, adalah salah satu penafsiran paling menyentuh dari Hukum Kasih yang diajarkan Yesus. Itu sebabnya, sajak ini selalu saya usahakan kutip dimana perlu, termasuk ketika membuat skripsi yang memotret pertanian di sebuah desa di Subang:

Dari Jaimi Bi –Salam Kasih

Setiap tengah hari pukul dua belas
Di panas terik
Allah datang padaku
Dalam bentuk
Dua ratus gram bubur

Kukenal Dia dalam tiap butir padi
Kucicipi Dia dalam tiap jilatan
Aku bersekutu dengan Dia selagi menelan
Karena Dia memelihara aku dengan
Dua ratus gram bubur

Kutunggu hingga tengah hari berikutnya
Karena kutahu Ia akan datang
Aku berharap hidup sehari lagi
Karena engkau Allah datang sebagai
Dua ratus gram bubur

Sekarang aku tahu Allah mengasihiku
Sekarang kutahu apa yang kau katakan
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini
Sehingga dikaruniakanNya anakNya yang dikasihi
Setiap hari melalui ENGKAU



Dunia mungkin tak bisa berubah oleh sebuah sajak. Tetapi sebuah sajak mungkin dapat menginspirasi manusia untuk mengubah dunia. Saya tetap berpengharapan sajak ini telah dan masih akan terus menyentuh hati siapa pun. Menemukan sebanyak mungkin orang yang benar-benar menggunakannya dasar untuk berkarya. Membawa dunia lebih dekat kepada Hukum Kasih itu.


P.S.
* Untuk memahami sajak ini, seseorang pernah menganjurkan saya untuk membayangkan bahwa yang mengucapkan sajak ini adalah para tunawisma dan tunakarya di India, yang setiap hari hanya menantikan belas kasih missionaris atau pun pekerja zending.

* Tulisan ini sudah pernah dipublish di blog ini, Juli tahun lalu. Tetapi dimunculkan lagi karena terinspirasi dari khotbah Pdt. Samuel Santoso di GKI Kwitang, Minggu 26 Nov 2006. Ilustrasi khotbah adalah tentang Ibu Ing, penyandang kanker payudara yang divonis hanya hidup 8 bulan. Tetapi tetap optimistis memandang hidup. Dan sejak 'vonis itu,' ia mengisi hari-harinya dengan melawat sesama penderita penyakit serupa. Ia masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaannya itu selama enam tahun, sebelum akhirnya ia berpulang.

* Nats bacaan: 2 Samuel 23:1-7;, Mazmur 132:1-12; Wahyu 1: 1-8; Yoh 18:33-37


(c) Eben Ezer Siadari

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...