Monday, November 20, 2006

Satu Lagi Bab Kehidupan, Saya Pelajari di Pasar Ini

ibu-ibu pedagang sayur di pasar, sumber:www.seasite.niu.edu

Ibu-ibu zaman sekarang kerap mencong-mencong mulutnya manakala bicara tentang pasar. Seolah mencibir. Seolah terbayang bau anyir di gang-gang sempit dan selokannya yang dipenuhi sampah. Tentu kita tak boleh menyalahkan keberadaan supermarket, hypermarket atau pasar raksasa lainnya, yang menyebabkan para ibu-ibu makin alergi pergi ke pasar. Harus diakui, pasar-pasar modern ini lebih nyaman, lebih wangi dan lebih ramah untuk dikunjungi.

Meskipun begitu, orang-orang seusia saya pasti pernah menyimpan aneka kenangan khusus tentang pasar-pasar tradisional itu. Kehadiran supermarket dan pasar modern, setahu saya, baru lah dua atau tiga dekade belakangan. Sebagian kita masih pernah menyimpan kenangan-kenangan menggembirakan dari pasar zaman baheula. Entah karena ibu kita selalu akan membawa oleh-oleh dari sana. Entah karena kita sendiri yang selalu terpesona oleh keramaian orang di pasar itu.

Di Sarimatondang, kampung kelahiran saya, pasar adalah semacam ikon, semacam penanda, semacam batu penjuru. Kalau, misalnya, kita ingin memberitahu dimana letak rumah kita, pasar (atau pekan, kata orang sana) adalah patokan yang efektif. Hampir semua orang tahu dimana letak pekan Sarimatondang. Ia hanya beberapa ratus meter dari gereja GKPS, sebuah gereja di dekat lapangan sepak bola. Hanya beberapa ratus meter pula dari satu-satunya SMP Negeri di sana.

Sebagai anak kecil, dulu saya selalu tak bisa melupakan para penjaja obat keliling di pekan itu. Setiap hari Jumat, manakala sekolah sudah usai, saya segera berlari ke pekan. Menyusup diantara keramaian orang yang biasanya sudah berkerumun mengelilingi si penjaja obat. Gayanya berorasi tak kalah hebat dengan para aktor pengangguran di Hyde Park London. Para penjaja obat itu menempelkan pengeras suara ke mulutnya, sedemikian dekatnya sehingga dari jauh saja kita bisa melihat air ludah menempel di sapu tangan yang biasanya dijadikan pembungkus ujung pengeras suara.

Saya selalu takjub pada gaya bercerita mereka. Kadang-kadang mereka menirukan suara angin, suara macan, suara burung. Lain waktu, ia juga bisa menyanyi, menirukan suara penyanyi yang lagi populer kala itu. Kala begitu, suara pengeras suara begitu memenuhi seisi pasar. Dengan setengah nakal di pikiran saya, kadang-kadang saya berkata dalam hati, jangan-jangan penjaja obat itu adalah seniman-seniman kawakan yang menyamar saja menjaja obat. Siapa tahu kan? Mungkin mereka sudah bosan dengan hidup glamournya, lalu mencoba menginjak bumi untuk lebih dekat dengan rakyat jelata seperti kami.

Berada di seputar penjaja obat itu selalu lah merupakan pengalaman yang menyenangkan. Sebab ada banyak atraksi yang biasanya mereka sajikan, sebelum akhirnya ia tiba pada maksudnya yang sesungguhnya, yakni menjual obatnya. Atraksi itu bisa berupa sulap. Bisa juga berupa memamerkan aneka alat mainan elektronik yang kala itu sudah sangat modern untuk ukuran Sarimatondang. Kala lain, ia bisa juga mempertontonkan kehebatan jimatnya. Misalnya, tangannya disayat, tidak berdarah. Orang diikat di dalam peti, eh ketika sang peti dibuka, si orang itu sudah hilang. Itu semua membuat saya dan anak-anak seusia saya selalu betah duduk berjongkok di dekat-dekat penjaja obat itu. Lalu bertepuk tangan seolah telah bertemu dengan sang pahlawan.

Meskipun demikian, saya juga pernah punya pengalaman kurang enak dengan penjaja obat. Sekali waktu ada penjaja obat cacing yang sedang show. Dan saya segera berdiri di barisan paling depan. Eh, ketika dia melihat perut saya yang rada buncit kala itu, tak berapa lama kemudian ia menempelkan ujung tongkat yang dipegangnya ke perut saya. Lantas sang penjaja berkata, "Nah, ini dia contoh anak yang cacingan". Rupanya saya ingin dia jadikan kelinci percobaan bagi obat cacing yang ia jajakan. Saya yang terkejut dan setengah panik, kontan saja mundur dan berlari pulang. Takut. Sedih. Di rumah saya meyakinkan Ibu, supaya membeli obat cacing karena menurut si penjaja obat, saya ini cacingan. Ibu saya tertawa. Menurut dia, saya belum lama diberinya obat cacing. Dan minum obat cacing tidak boleh sembarang waktu.

Saya sedikit lega. Tapi sampai saat ini saya masih bisa ingat wajah penjaja obat cacing itu….

***
Kenangan tentang pasar Sarimatondang itu berkecamuk dalam pikiran saya ketika suatu hari, beberapa bulan lalu, saya menginjakkan kaki di Pasar Induk Kramat Jati. Bau sampah yang bertebaran. Wajah ibu-ibu tua yang trengginas. Keranjang sayur-mayur yang seperti terengah-engah menampung muatan yang berlebihan, menyegarkan ingatan saya pada pasar di kampung halaman itu.

Sayangnya kenangan itu hanya seperti kilatan cahaya. Hanya dalam hitungan detik. Muncul sebentar kemudian menghilang. Sebab, ada yang tidak saya temukan di sini. Yakni suasana yang riuh seperti hajatan sesama anggota keluarga, tak saya temukan di Pasar Induk yang meraksasa ini. Di sini saya benar-benar seolah menyaksikan pasar yang di bola mata setiap orang, kita dapat melihat bayangan Rp, Rp, Rp dan Rp. Sia-sia saja saya berharap dari rumah akan menemukan tempat jajanan yang enak, dimana kita akan disambut oleh suara mendayu-dayu dari si ibu tua penjualnya. Sia-sia saya membayangkan akan menemukan pecal yang sambalnya masih benar-benar kacang goreng yang ditumbuk pada saat kita memesan. Atau getuk berwarna coklat, yang kadang-kadang gula arennya tidak terlalu halus dilumatkan. Tidak. Itu samasekali tidak ada.

Dan, memang Pasar Induk ini tak mungkin dapat saya jejerkan dengan pasar di kampung halaman saya. Bukan kesalahan pasar ini bila ia tidak ramah. Sebab pasar ini memang benar-benar sebuah arena dimana sebanyak mungkin orang bergegas, dan kadang-kadang harus bertarung untuk mendapatkan yang dicarinya.

Bayangkan, di pusat pasar grosir buah dan sayuran ini ada hampir 4.000 lebih pedagang. Setiap hari mereka berpacu dengan waktu memutar roda ekonomi kedua jenis komoditas itu, untuk kemudian menyebarkannya ke seluruh pasar di Jakarta. Skala usahanya bervariasi. Mulai dari pedagang grosir besar, sub grosir dan juga eceran. Fungsi mereka yang utama adalah sebagai perantara perdagangan dari sumber pasok pertama dari seantero Nusantara, ke pedagang di seluruh pasar di Jakarta lalu kemudian kepada konsumen akhir. Tak kurang dari 4000 ton lebih sayur dan buah berpindah tangan setiap hari di sini. Di masa 'sepi' transaksi buah dan sayur di pasar ini bisa mencapai Rp16 miliar per hari.

Sebelum krisis, jumlah pedagang di sini hanya berkisar 2.700-an. Tetapi setelah krisis jumlahnya melonjak. Walau pasar ini sudah mendapat saingan dari kehadiran pasar induk dari tempat lain, tetapi jumlah orang yang ingin mengadu untung di sini tak makin surut. Semakin banyak ‘pemain-pemain baru’ yang tertarik berusaha di sini. Korban-korban PHK dari aneka perusahaan banyak mencoba peruntungan. Pengusaha yang gagal di bidang lain, mencoba pula meniti bisnis di sini.

Sukatma, foto by eben

***
Lalu saya menemukan lelaki itu. Menurut cerita sejumlah orang, beliau adalah salah satu pedagang grosir yang jadi pentolan di pasar ini. Dagangannya cabai. Volume bisnisnya menyebabkan ia jadi salah satu dari puluhan orang yang disegani di sini. Orang itu dipanggil Katma. Nama lengkapnya Sukatma. Umurnya sudah 61. Begitu ia bicara, orang pasti bisa menebak. Lelaki ini pasti orang Betawi. Bahasanya adalah bahasa ‘orang lapangan,’ lengkap dengan lu gue lu gue-nya. Tak menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, ia bekiprah di Pasar Induk sejah 25 tahun lalu. Mulanya adalah untuk meneruskan usaha orang tuanya karena Katma, adalah satu-satunya anak lelaki. Dan ia merasa usaha orang tuanya wajib dikembangkan.

Di tangannya, usaha ini berkembang. Katma termasuk salah satu pentolan pedagang grosir cabai di Pasar Induk. Setiap hari, Katma mampu ‘melempar’ rata-rata 5 ton ke seluruh pasar di Jakarta. Ia mempekerjakan tak kurang dari 10 orang untuk membantunya menyortir dagangannya. Kios berukuran 2x2 tempatnya mengawasi dagangannya, ia lengkapi dengan AC. Hanya beberapa pedagang yang melakukan hal serupa. “Hidup ini harus kita nikmati dong,” kata Katma, yang mengaku hanya menduduki sekolah sampai kelas 3 Sekolah Rakyat (SR) saja.

Walau umurnya sudah sebegitu banyak, wajah Katma tak menunjukkannya. Saya benar-benar kagum bagaimana dia bisa tampak begitu ceria. Padahal, jalan hidupnya adalah adalah kisah orang yang benar-benar ditempa pahit getirnya bisnis di lapangan. Walau dalam ceritanya ia tak pernah sedetik pun ingin mendramatisir cerita --bahkan ia lebih banyak bercanda, tertawa dan menganggap cerita hidupnya tak ada yang menarik untuk dikisahkan-- segera saja tergambar bagaimana usaha semacam ini harus dilalui dengan ketekunan.

Katma mengakui hidup sebagai pedagang grosir di Pasar Induk sama dengan berjudi (Gambling, kata dia). Ia tak mau, atau memang tak bisa menjawab berapa besar rata-rata selisih jual-beli yang ia kantongi setiap hari. Kata dia, tidak bisa ditentukan persentasenya. Sebab harga berubah-ubah. Makanya harus pintar-pintar membaca pasar. Harus jeli melihat apakah barang hari ini pada masuk atau tidak. Harus rajin bicara dengan pedagang lainnya. Sebab bukan kita yang menentukan harga, tapi pasar. Barang pun tidak bisa distok karena akan susut dan busuk.

"Udah deh, nggak usah mikir kayak orang sekolahan di sini. Nggak akan nyambung. Lagian, ngapain ngurusin ini. Cukup lah kita-kita yang tidak makan sekolahan kerja di sini. Ente-ente kerja di kantoran aja. Yang adem. Yang enak. Biar kita yang banting tulang," kata Katma sambil tertawa.

Menurut cerita Katma, ia mendatangkan barang dari sejumlah pemasoknya dari Jawa Tengah dan Bali. Pokoknya ia mau menerima dari mana saja kalau harganya cocok. Nanti ia akan ‘melempar’ barang ke pedagang yang datang ke Pasar Induk serta sejumlah pelanggannya. Sebagian besar adalah home industry. Menurut Katma, dulu ia pernah juga memasok ke beberapa perusahaan yang memproduksi saos. Namun beberapa tahun lalu, permintaan itu dihentikan. “Saya tidak tahu alasannya kenapa. Kata mereka cabai saya tidak pedas lagi. Itu saya kira alasan yang tidak benar. Bisa saja mereka sudah mendapatkan pemasok lain,” kata Katma.


Walau bicaranya ceplas-ceplos, dengan bahasa pasar yang kadang-kadang tak mengindahkan tatakrama dan tata bahasa, sesekali Katma menyelipkan juga petuah-petuah hidup, dari khasanah budaya Betawi mau pun reliji. Di balik demikian kerasnya suasana pasar induk itu, saya bisa menangkap bahwa di dalam pikiran Pak Katma ini bukan melulu Rp, Rp, Rp. Tanpa diminta dan tanpa disuruh, ia, misalnya, menasihati bahwa semua pekerjaan, semua usaha, ada rezekinya. Dan semua orang juga ada jalan berkatnya. Karena itu, menurut dia, tidak boleh serakah. Tidak boleh membuat target tak kira-kira. Tetapi --nah di sinilah dia benar-benar tampak jadi orang lapangan-- keyakinan seperti itu bukan alasan untuk duduk diam, pasrah dan begitu saja menunggu mukjizat. Seolah karena sudah ditentukan dan sudah ada jalannya, rezeki bakal datang dengan sendirinya.

Justru sebaliknya. Menurut Katma, jalan menuju rezeki itu harus dicari. "Harus ikhtiar, ikhtiar, ikhtiar," kata dia seolah menirukan gaya pengkhotbah di televisi. Jalan menuju rezeki itu sudah jelas patokannya. Yakni bekerja keras dengan tulus dan jujur. Dan bahwa kemudian kelak di ujungnya ternyata rezeki itu tak seperti yang ente bayangkan, kata Katma, setidaknya ente sudah tahu, bahwa itu lah bagian rezeki ente kali ini. "Jangan marah. Jangan ngambek. Hidup nggak boleh ngambek. Terima yang lu dapet. Sambil berikhtiar lagi untuk rezeki yang lebih besar. Persediannya dari Yang Diatas masih banyak. Mungkin saja keringat kite kurang banyak. Mungkin doa kite kurang panjang. Mungkin zikir kita perlu ditambah lagi." Itu kata Katma.

Saya kira Katma berujar seperti itu setelah ia menangkap kesan seolah-olah saya demikian getolnya ingin mengerangkeng setiap perbincangan dengannya menjadi angka-angka. Ia rupanya begitu herannya mendengar saya ingin tahu berapa besar penjualannya, berapa besar untungnya, berapa banyak orang yang hidup tergantung padanya, berapa besar setoran yang harus dia berikan kepada orang-orang yang seharusnya tidak berhak mendapat setoran itu…

***

Di jalan pulang menjelang sore, saya masih membayangkan wajah Katma. Gaya bicaranya yang lepas. Ringan. Tidak ada beban, walau pun karung-karung cabai di depannya, mungkin sekali menjadi malapetaka bagi bisnisnya bila sampai malam nanti itu tak terjual. Pasar yang begitu ganas tak membuatnya ikut berwajah sumpek. Senyumnya lebar. Katma sudah sekian tahun menikah, dan belum juga dikaruniai seorang anak pun. Tetapi ia dengan ringan menceritakan bahwa ia sudah menyiapkan keponakannya untuk kelak meneruskan usahanya bila ia sudah tiada.

Wah, satu lagi bab yang asyik dari buku kehidupan, saya pelajari hari ini.

20 November 2006
(c) eben ezer siadari

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...