Wednesday, November 15, 2006

Shakespeare Hidup Lagi

Shakespeare, sumber: www.u.arizona.edu

Jika ada organisasi yang menamakan dirinya Movers & Shakespeare, lembaga macam apakah ia menurut Anda? Dugaan saya, akan banyak yang mengiranya nama teater, atau komunitas para seniman, atau kelompok pencinta buku, atau organisasi lain sejenis itu lah. Sedikit, atau bahkan mungkin tak ada yang menyangka ia adalah perusahaan pelatihan eksekutif.

Namun, memang betul, Movers & Shakespeare adalah perusahaan pelatihan eksekutif. Berbasis di Virginia, Amerika Serikat, Movers & Shakespeare beroperasi sejak 1998, dikepalai oleh suami istri Ken dan Carol Adelman. Bukan kebetulan mereka memakai nama Shakespeare. Materi dan alat pelatihan yang diajarkan di Movers & Shakespeare memang memakai lakon-lakon yang ditulis oleh pujangga asal Inggris itu. Diantaranya adalah mengenai prinsip-prinsip kepemimpinan dan pengambilan keputusan.

“Kepemimpinan sangat berkaitan dengan bagaimana memahami manusia dan apa yang menggerakkan mereka,” kata Ny. Adelman. “Dan, tidak ada orang yang mempunyai pengertian lebih mendalam mengenai ini selain Shakespeare.”

Menoleh kepada kisah dan pikiran klasik rupanya sedang jadi mode di negeri Paman Sam. Sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Morris Institute, juga sebuah lembaga pelatihan eksekutif, membawa pesertanya menjelajahi pemikiran filsuf-filsuf dunia, mulai dari Machiavelli hingga Aristoteles. Pendiri institut itu berpendapat para pemikir klasik, dengan pandangan-pandangan mereka yang luas dalam mempertanyakan kebenaran, harus diperkenalkan secara lebih mendalam kepada eksekutif di zaman modern ini. “Bangsa Yunani mempunyai banyak pepatah dan kata-kata bijaksana yang menggambarkan kesempurnaan dan kebajikan. (sementara) Pemimpin (bisnis) sekarang cenderung memikirkan keuntungan dan kebajikan secara terpisah. Padahal, Anda takkan bisa memelihara kesempurnaan tanpa etika,” kata Tony Morris, pendiri institut itu.

Para pebisnis, CEO, dan para profesional Amerika Serikat dewasa ini memang seolah kehilangan pegangan. Setelah mencatat sukses sekian lama, sejumlah perusahaan raksasa jatuh, setelah berbagai kecurangan ditemukan pada pembukuannya. Perusahaan yang dulunya dielu-elukan, jatuh bangkrut. Publik menaruh curiga yang amat sangat pada dunia bisnis, yang menyebabkan optimisme terhadap perekonomian menurun.

Banyak analis mengatakan sukses perusahaan-perusahaan besar selama ini hanya artifisial, tidak menggambarkan keadaan sebenarnya. Ini hanya dimungkinkan oleh kecanggihan dalam mengutak-atik angka, lalu menyusunnya dengan cara yang dikesankan ‘strategik’ tetapi artinya sebenarnya adalah menonjolkan hal-hal baik dan menyembunyikan hal-hal buruk.

Lalu semua orang bicara tentang perlunya etika bagi para pelaku bisnis. Sebuah ulasan pada The Economist baru-baru ini yang mengetengahkan survei yang dilakukan Boston Consulting Group mendapatkan bahwa kini muncul kesadaran baru di kalangan pebisnis untuk kembali ke nilai-nilai lama. Tiga nilai lama yang dianggap tetap relevan hingga kini adalah sikap jujur, hemat dan waspada.

Agaknya inilah yang tak pernah ditemukan pada buku-buku teks ekonomi, manajemen mau pun akuntansi. Buku-buku itu dinilai hanya menunjukkan jalan kepada efisiensi, laba, pertumbuhan, pangsa pasar dan sejenisnya sedangkan jawaban tentang benar dan salah tidak ditemukan di sana. Tak mengherankan jika kisah-kisah klasik yang ditulis para pujangga dan filsuf dilirik sebagai acuan baru.

Di lembaga pelatihannya, misalnya, Ny. Adelman menggunakan klip film, kuliah interaktif, dan diskusi kelompok untuk menganalisis dan membahas lakon-lakon karya Shakespeare untuk menggugah munculnya nilai-nilai yang kuat sebagai dasar dalam berbisnis.

Di Jakarta, tidak boleh tidak, kita harus mengingat Gede Prama (dan belakangan ini, Jansen Sinamo) manakala mencari padanan lembaga pelatihan semacam itu. Mereka yang sudah bosan dengan banyak konsep dan teknik manajemen, tak lagi hanya menyebut Philip Kotler, Peter Drucker, Peter Senge tetapi juga bicara tentang Jalaludin Rumi, Kahlil Gibran dan bahkan Einstein. Ia tak menjanjikan laba, pertumbuhan, pangsa pasar tetapi kebahagiaan, kedaiaman dan hidup yang bermakna.

Apakah para pebisnis sudah demikian lelah di ladang yang mereka tekuni? Apakah demikian membosankannya arena itu sehingga kita harus berpaling ke dunia lain untuk mencari kesegaran? Mudah-mudahan tidak. Yang kita butuhkan mungkin adalah keseimbangan. Kerelaan untuk makin banyak mendengar suara hati ketimbang suara hasrat ingin menang.

© eben ezer siadari dan wartaekonomi

(pernah dimuat di majalah wartaekonomi edisi 23, 9 Oktober 2002, dengan judul Shakespeare)

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...