Wednesday, November 15, 2006

Tangan Manis

menulis dengan tangan kiri, sumber:www.nibs.com

Anak-anak suka menanyakan hal tak terduga. Beberapa hari lalu, anak saya bertanya mengapa saya mengenakan arloji di tangan kiri dan bukan di tangan kanan. Pertanyaan ini sebenarnya kurang saya sukai karena bernada subversif. Pertanyaan itu menggugat kebiasaan dan kelaziman. Bagaimana pula nanti kalau ia bertanya mengapa garpu harus di tangan kiri dan mengapa bersalaman harus memakai tangan kanan?

Namun, karena orang-orang pintar selalu melarang orang tua membungkam pertanyaan anak-anak, pertanyaan itu saya jadikan ‘pekerjaan rumah.’ Dan nyatanya saya mendapat pelajaran banyak. Rupanya pilihan kiri atau kanan bukan soal yang given atau terjadi dengan sendirinya. Orang terbiasa mengenakan arloji di tangan kiri terutama karena alasan pragmatis. Di tangan kiri, arloji lebih terlindung dari risiko benturan, karena tangan kiri relatif kurang aktif dibanding tangan kanan (kecuali mereka yang kidal).

Ini sedikit berlawanan dengan pandangan yang bersifat dogmatis, seperti ketika ibu guru kita di sekolah dasar dulu selalu menanamkan persepsi bahwa tangan kanan adalah tangan manis. Pilihan kiri atau kanan bukan lagi didasarkan pada fungsionalitas atau kemanfaatannya, tetapi diukur oleh sesuatu yang lebih bersifat idealistik. Seingat saya, alasan semacam ini lah yang membuat para personil dalam satu generasi di Angkatan Bersenjata kita, beberapa tahun lalu, seolah menyimpang dari kelaziman. Mereka menanamkan tradisi mengenakan arloji di tangan kanan karena, menurut mereka, waktu adalah lambang disiplin dan merupakan hal berharga. Karena itu arloji sebagai penunjuk waktu tak patut ditaruh di tangan kiri yang kurang mulia itu. Sebaiknya ia ditaruh di tangan kanan. Dalam hal ini, pertimbangan idealistik lebih menonjol ketimbang pertimbangan pragmatis.

Soal kiri dan kanan ini ternyata tak hanya menarik dibicarakan dalam hal mengenakan arloji. Seorang pembaca majalah National Geographic beberapa waktu lalu menanyakan mengapa pengendara di Inggris diharuskan mengambil jalur kiri? Jawabannya ternyata juga karena alasan pragmatis di zaman baheula. Konon para satria Inggris di zaman feodal menunggang kuda di jalur kiri akrena dengan tangan kanan lah mereka menenteng dan menghubus pedang. Kebiasaan itu kemudian dikukuhkan oleh Walikota London pada tahun 1722 yang mengharuskan penyeberang jembatan London (London Bridge) mengambil jalur kiri.

Jika ditelusuri lebih jauh, pragmatisme ternyata sangat banyak mengarahkan kebiasaan dan tradisi hidup manusia. Pragmatisme, sebagaimana tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah kepercayaan bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran bergantung pada penerapannya bagi kepentingan manusia. Dalam defenisi lain, pragmatisme juga dikenal sebagai paham yang menyatakan bahwa segala sesuatu tidak tetap melainkan tumbuh dan berubah terus. Jika dikatikan dengan pilihan kiri atau kanan tadi, pragmatisme menjadikannya sangat relatif, tergantung untuk kepentingan apa dan untuk manfaat apa kita memilih kiri atau kanan.

Demikianlah, ketika zaman berganti, ketika banyak nilai dan praktek berbisnis berubah, seperti di era new economy saat ini, agaknya banyak hal yang selama ini seolah sudah given, seperti pilihan kiri atau kanan tadi, ditafsirkan kembali. Dan, tampaknya pragmatisme kembali berbicara. Ambil contoh dalam hal karier, seperti ditulis oleh Roy Sembel. Jika selama ini seorang pekerja mempunyai banyak job di banyak perusahaan dinilai tidak etis, di masa depan hal semacam itu justru akan makin lazim. Loyalitas kepada perusahaan ditinjau ulang. Yang paling benar bukan lagi hanya work for the company tetapi juga work with the company.

Pragmatisme dalam kebijakan ekonomi tampaknya juga akan makin mendorong banyak negara membuka diri dan meninggalkan nasionalisme buta. India, yang sebelum ini dikenal merupakan negara proteksionistis, kini menghasilkan film sejenis Kuch-Kuch Hota Hai yang sarat dengan latarbelakang produk-produk asing seperti Nike, GAP, Coca Cola dan MTV.

Karena pragmatisme pula, menurut kolumnis Bambang Pratomo, pemerintahan Partai Republik di Amerika Serikat yang selama ini pelit dalam membantu negara miskin, berubah menjadi pemurah. Pasalnya, negara yang miskin adalah lahan subur bagi pemikiran radikal dan gerakan terorisme yang pada Tragedi 11 September telah menunjukkan dampak dahsyatnya. Kerugian negara Paman Sam begitu besar. Untuk menyelamatkan beberapa maskapai penerbangan saja (yang terancam bangkrut akibat anjloknya penumpang yang bepergian, penulis) Pemerintah AS mengeluarkan dana tak kurang dari US$20 miliar, sementara kerugian kota New York ditaksir mencapai US$100 miliar. Padahal untuk membangun Afganisthan dari puing kehancuran perang, hanya perlu 1/12nya, bahkan bisa lebih kecil dari itu seandainya tragedi 11 September tak sempat terjadi.

Bukankah kita perlu menarik banyak pelajaran dari contoh-contoh itu?

© eben ezer siadari dan wartaekonomi

(Tulisan ini pernah dimuat di majalah wartaekonomi no 11, 15 April 2002, dengan judul ‘Kiri’)

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...