Wednesday, November 15, 2006

Tracy Trinita

Tracy Trinita, sumber: www.suaramrdeka.com

Libur Idul Fitri yang lumayan panjang kali ini menyempatkan saya menikmati bacaan yang bukan menu sehari-hari. Saya pun jadi mengenal atau mengenal lebih jauh banyak sekali tokoh fiktif seperti Harry Potter, Crayon Sinchan, Smurf hingga Obelix lewat buku-buku komik baru mau pun bekas. Semuanya sangat mengesankan, menghibur dan menggelitik, namun bukan berarti tokoh dari dunia nyata tidak ada yang menarik. Banyak juga dan Anda jangan menuduh saya genit jika saya terkesima pada Tracy Trinita, model belia yang semampai itu.

Saya mengenal Tracy, 21, lewat majalah Femina edisi Natal 2001 milik istri saya. Majalah itu menampilkan wajah Tracy sebagai gambar sampul. Luar biasa anak ini. Dilahirkan di sebuah pemukiman sederhana di Bali, pada usia 15 ia sudah terbang ke New York dan berkarier di sana sebagai model kelas dunia. Ia pernah menyabet ranking ketujuh pada kontes model Elite International setelah sebelumnya memenangkan banyak gelar di kontes-kontes lokal mau pun regional. Wajahnya terpampang sebagai model iklan kosmetik global, sejajar dengan model-model dunia lainnya, sebuah lompatan hidup yang tak pernah ia bayangkan sebagai bocah udik dari daerah.

“Itu lah uniknya hidup,” kata dia, menjawab pertanyaan bagaimana ia bisa cepat menyesuaikan diri dengan gaya hidup keras di New York. “Batasnya sangat tipis antara Tracy yang lari-lari tanpa sandal di Pantai Bali dengan Tracy yang terengah-engah di New York.”

Tipis, kata Tracy, tetapi kenyataan sebenarnya berkata lain, setidaknya bagi orang yang tidak segesit dan seluwes Tracy. Jangan kan beda antara Bali dan New York, jurang pembatas antara Bengkalis dan Jakarta pun bagi banyak orang demikian lebarnya. Dan, apabila kita menyimak apa yang terjadi di Tanah Air sepanjang tahun ini, semakin lengkap lah perbedaan itu. Pergolakan di Aceh, Maluku, Mataram hingga Poso, tarik ulur spin-off Semen Padang, demo di Papua, semuanya menunjukkan adanya anasir kecemburuan orang daerah. Sadar atau tidak, kita yang merasa diri sebagai orang jakarta sering menggunakan sebutan ‘orang daerah’ bukan hanya untuk menggambarkan identitas domisili tetapi juga ‘kelas’ seseorang. Anda simak juga lah, misalnya, promosi dengan hadiah miliaran rupiah oleh berbagai perusahaan berskala nasional. Disengaja atau tidak, mereka telah melakukan diskriminasi ketika memberi catatan, “hanya berlaku untuk kawasan Jabotabek.”

Pernah dalam sebuah konperensi pers dengan menteri yang meninjau sebuah daerah, seorang rekan wartawan setempat terpaksa protes berkali-kali karena ia tidak diberi kesempatan bertanya semata karena moderator mendahulukan wartawan nasional (baca: Jakarta). Aneka ragam kekecewaan semacam ini, ditambah dengan elit lokal mediocre yang tak bisa melihat dunia sebijaksana Tracy, membuat kecemburuan daerah menjadi-jadi. Dan hasilnya, kita menghitung hari-hari 2001 sebagai masa yang memprihatinkan.

Maka jika ada yang membuat polling tentang tahun apakah sebaiknya tahun 2001 dijuluki, saya akan mengusulkan nama sebagai Tahun Kebangkitan Daerah dalam makna yang negatif mau pun positif. Negatif bila kita hanya mengenang Aceh, Maluku dan Poso. Tetapi cerah bila membayangkan wajah Tracy yang tak kenal menyerah. Dan, memasuki 2002 ini kita tentu tak perlu terperosok pada gambaran-gambaran suram itu. Masih banyak hal yang membuat kita bisa berharap.

Adi Rahman Adiwoso, tokoh yang jadi Businessman of the Year WartaEkonomi kali ini, demikian optimistis memandang daerah. Dia tidak mau terpengaruh oleh para ekonom yang selalu mengunderestimate daerah termasuk dalam hal daya beli mereka terhadap telekomunikasi. Faktanya, menurut survei yang dilakukan perusahaannya, penduduk desa di Sumbawa rata-rata menghabiskan 20 menit bicara lewat telepon ketika akses komunikasi itu disediakan.

Dan bukan hanya Adi tokoh yang besar menritis sukses dari daerah. Dahlan Iskan, Indonesia Entrepreneur of the Year versi Ernst & Young, membangun grup Jawa Pos sebagai kelompok bisnis media terbesar justru di Jawa Timur, bukan Jakarta. Chairul Tanjung merintis bisnisnya dari Bandung, Jawa Barat. Putera Sampoerna, generasi ketiga pendiri pabrik rokok PT HM Sampoerna, kita tahu, juga adalah orang daerah.

Jika contoh-contoh itu masih terlalu melaingit, cobalah simak kaki lima sepanjang jalanan Jakarta pada malam hari. Betapa daerah menunjukkan keperkasaannya. Jika Sate Madura dan Masakan Padang sudah lama unjuk gigi, kini kita makin mudah menemukan Cwimie Malang, Soto Lamongan, Sop Konro Makassar, Tahu Campur Surabaya.

Dari sini kita boleh yakin, suatu saat bukan hanya Tracy yang bisa bicara betapa tipisnya beda antara orang daerah dan orang mana saja. Sebab pada dasarnya kita ini juga orang daerah, bukan?

© eben ezer siadari dan wartaekonomi
(pernah dimuat di majalah wartaekonomi no 51, 31 Desember 2001 dengan judul '2001')

1 comment:

  1. Anonymous1:02 PM

    wow! sangat berseni sekali dalam menceritakan sesuata yg begitu unik

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...