Monday, December 11, 2006

'Buah Tangan' dari Uteran

Saya: “Sudah pernah dengar nama Uteran?”
Teman: “Belum.”
Saya: “Itu kota di Jawa Timur lho…”
Teman: “Lantas?”
Saya: “Lu mestinya tahu dong.”
Teman: “Kenapa harus?”
Saya: “Lu kan orang Jawa Timur.”
Teman: “Kalau orang Jawa Timur harus tahu semua kota di Jawa Timur, apakah semua kota di Batak sana harus lu tahu karena lu orang Batak?”
Saya: Uuuups, kok jadi ‘dalam’ begini. Oke. Agar perbincangan ini ada ujungnya, gue ubah deh pertanyaannya.
Teman: Apa pertanyaannya?
Saya: Lu mau dengar tentang Uteran nggak?
Teman: Apa untungnya buat gue dengar cerita itu?
Saya: MAU DENGAR NGGAK!!???

Si Teman hanya bersiul, lalu memasangkan earphone di kedua telinganya. I-pod di genggamannya mungkin telah menghanyutkannya dalam lagu-lagu kegemarannya.

Tak apa. Kalau si Teman tak mau dengar, mungkin ada orang lain yang sudi.



***
Uteran adalah kota kecil, terletak di antara Madiun dan Ponorogo di Jawa Timur. Ia berada di sebuah lembah yang memisahkan dua gunung: Gunung Lawu di Barat dan Gunung Wilis di Timur. Lembah itu terkenal subur diairi sungai-sungai dari kedua gunung. Perkebunan tebu dan sawah-sawah yang ditumbuhi padi mengelilingi wilayah Uteran. Juga ada pabrik gula tak jauh dari pusat kota. Perkebunan tebu mau pun pabrik gula itu adalah milik Belanda.

Uteran yang saya kenal itu memang Uteran di zaman Belanda. Kala itu masih berupa distrik yang dipimpin oleh seorang wedana. Yang dapat disebut sebagai pusat kota adalah beberapa puluh rumah dan dua-tiga toko. Rumah yang paling besar di sana ditempati oleh Pak Wedana. Rumah itu ditandai oleh pendapanya yang besar. Terbuat dari tiang-tiang kayu jati, ia memayungi lantai yang luasnya kira-kira 25 x 20 meter. Ia menjadi semacam teras bagi rumah Pak Wedana, yang di dalamnya terdiri dari kamar-kamar, baik untuk tempat kerja Pak Wedana mau pun para stafnya.

Saya yang orang Batak norak ini pertama kali tahu ada kota bernama Uteran berkat sebuah buku yang ‘boleh nemu’ dari pesta obral buku Gramedia beberapa waktu lalu. Buku itu berjudul Kembali ke Uteran, Sebuah Kenangan. Diterbitkan oleh Grasindo, 1996, penulisnya bernama Sumarsono Sastrowardoyo. Ia pantasnya mungkin harus saya panggil Mbah, karena dilahirkan pada 5 Maret 1922.

‘Mbah’ Sumarsono lahir di Uteran. Dia salah seorang putra dari wedana Uteran kala itu. Saya kira ia termasuk orang Indonesia yang berhasil. Baik untuk ukuran zaman ini terlebih lagi ukuran zamannya. Melalui perjuangan yang tak mudah, ia berhasil jadi dokter, lulus dari Universitas Indonesia tahun 1952 dan masih sempat mengambil spesialisasi di Luar Negeri.

Alasan Sumarsono menulis buku ini dia cantumkan di halaman paling belakang. Katanya:

Buku ini ditulis untuk menerangkan pada kaum muda keadaan waktu zaman koloni Belanda, penjajahan Jepang dan hal ihwal sekitar proklamasi kemerdekaam disusul dengan peperangan dan pemberontakan. Mudah-mudahan buku ini dapat memberi keterangan sedikit tentang hal di atas dan juga ditambahi lagu-lagu yang pada waktu zaman itu dinyanyikan.


Dalam hati saya berterimakasih, masih banyak orang yang mau dan mampu menulis seperti yang ia lakukan. Kembali ke Uteran ditulis dengan gaya bercerita yang ringan tetapi telaten, dalam tempo yang mengingatkan kita pada kayuhan sepeda ontel para buruh rokok sepulang jam kerja. Berputar dengan lepas, lega, tidak terburu-buru sebab beban sudah lewat. Sebuah buku yang sepantasnya dibaca sore-sore sambil menyeruput teh tubruk, menyaksikan anak-cucu berlarian di taman depan rumah.

Isi buku ini berupa kenangan Sumarsono sejak ia masih kecil hingga kemudian beranak-cucu. Bab-babnya ditata menurut urut-urutan waktu. Satu bab dengan bab lainnya bukan persambungan episode yang ketat. Melainkan berupa fragmen-fragmen, baik tentang dirinya dan orang-orang yang dikasihinya. Sambil menceritakan itu lah Sumarsono menyelipkan hal-ihwal zaman kolonial Belanda, penjajahan Jepang, masa peperangan dan pemberontakan, seperti yang ia kemukakan dalam tujuannya menulis buku ini.

Saya belum selesai membaca buku ini. Saya bahkan membacanya melompat-lompat, mungkin karena sebagai ‘orang gajian’ saya belum punya sore yang bisa dinikmati sambil menyeruput teh tubruk. Belum punya rumah berpendapa yang layak dijadikan tempat leyeh-leyeh sambil melihat matahari senja menyeruduk meninggalkan siang. Tetapi setidaknya ada dua alasan saya untuk tidak bisa melewatkan buku ini.

Pertama, keberanian Sumarsono menampilkan Uteran di judulnya sangat menyentuh hati saya. Orang yang hanya berpikir tentang ‘pasar’ pasti akan mengernyitkan dahi dan bertanya, untuk apa menampilkan Uteran, kota kecil yang tak banyak dikenal itu? Siapa yang akan tertarik membacanya?

Sumarsono agaknya mengacuhkan pertimbangan semacam itu. Mungkin karena kecintaannya kepada Uteran, tanah kelahirannya. Mungkin karena rasa berhutang. Tetapi mungkin pula karena ia memang merasa begitu lah seharusnya. Sebab tidak ada kota yang tidak penting. Tidak ada tempat yang tidak bisa menentukan sejarah. Bukankah New Hampshire di Amerika Serikat atau Betlehem di Israel mempunyai arti penting bagi orang-orang yang mengerti sejarahnya?

Kedua, Kembali ke Uteran adalah sebuah buku yang memberi pencerahan terutama karena totalitas penulisnya mengerahkan ingatan, pemikiran dan kemampuan menulisnya melahirkan karya ini. Kisah demi kisah yang dihadirkan adalah jalinan kejujuran yang kadang-kadang lugu, konyol dan blak-blakan. Tetapi pada saat yang sama ia ditata dengan sopan, lembut dan tetap awas pada tujuannya: bercerita tanpa menyakiti siapa pun. Seperti pepatah Jawa yang terkenal itu, yang dikutip di awal dan di bagian dalam buku:
Sugih tanpa banda
Ngluruk tanpa bala
Menang tanpa ngasorake.


Puncak Gunung Lawu

***
Tempo hari roman Para Priyayi karya Umar Kayam hangat jadi perbincangan. Roman itu dengan sangat dalam menggambarkan bagaimana nilai-nilai kepriyayian diperjuangkan dalam perubahan zaman.

Ya. Nilai-nilai.

Priyayi akhirnya bukan mengacu pada status, melainkan semangat dan nilai-nilai. Jabatan kepriyayian itu boleh lepas. Bahkan ia bisa memabukkan dan menjatuhkan. Tetapi nilai-nilai kepriyayian itu tetap hidup. Entah diperjuangkan oleh generasi penerus yang berstatus sebagai priyayi atau malah oleh generasi yang diluar status itu. Justru orang-orang yang hidup dengan nilai-nilai priyayi itu lah yang dapat disebut priyayi, daripada orang yang menduduki jabatan sebagai priyayi tetapi tidak menganut nilai-nilai kepriyayian. Begitulah, seingat saya, pesan dalam karya Umar Kayam itu.

Kembali ke Uteran pun adalah cerita tentang sebuah keluarga priyayi. Kisah tentang keluarga seorang wedana Uteran yang mengarungi zaman demi zaman sejak Penjajahan Belanda hingga melangkah ke masa kemerdekaan. Sumarsono sebagai pencerita, berada dalam pusaran sejarah waktu itu. Mengalami jatuh-bangun sebuah keluarga priyayi yang terus berusaha memperjuangkan nilai-nilai kepriyayian. Baik oleh dirinya sebagai salah seorang putra penerus sang wedana, mau pun oleh para saudara-saudaranya.

Sebagai keluarga wedana Uteran, misalnya, mereka pernah ‘diusir’ dari rumah besar kewedanaan itu, manakala sang ayah tak sudi melaksanakan kebijakan Pemerintah Belanda yang ia nilai akan merugikan rakyatnya. Ketika Perkebunan Belanda ingin memperluas lahan dan akan menyewa lahan-lahan di sekitarnya, Pak Wedana tak mau menggunakan kekuasaannya untuk memaksa rakyat menyambut tawaran pihak Perkebunan itu.

Pembangkangan Pak Wedana makin lengkap kala ia tak mau melarang anaknya aktif dalam pergerakan kemerdekaan. Ia kemudian mempertaruhkan jabatannya, ‘terusir’ dari rumah kebanggaan berserta fasilitas kepriyayian. Berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, bahkan kerap tak sanggup membayar uang kontrakan.

Penderitaan Ayah dan Ibu seperti tidak ada hentinya: adik saya Subandrio sakit berminggu-minggu lamanya, tetapi Ayah tidak memanggil dokter karena tidak ada uang. Jadi ibu memberikan jamu terus, tetapi panasnya tidak mau turun.

Ibu biasanya menumbuk sendiri ramuan jamu dan setelah menjadi halus dicampur dengan air dan disaring. Warnanya kuning kehijau-hijauan, rasanya campuran antara pahit, manis, asin dan masam dan baunya menusuk hidung. Kalau kami diberi jamu kami berteriak menolak, akan tetapi Auah sudah bersedia dengan sandalnya untuk memukul pantat kami kalau kami tidak mau minum. Akhirnya jamu dalam gelas habis diminum juga.


Walau kerap menghadirkan kejutan demi kejutan, Kembali ke Uteran pada dasarnya adalah kisah yang dijalin tanpa mengharapkan pembacanya berekspresi berlebihan. Jika ada kisah yang mengharukan di dalamnya, kita mungkin hanya akan merasakannya sebagai sedikit sesak di dada, tak perlu menitikkan air mata. Sama seperti jika ada cerita yang konyol. Senyum kita hanya di kulum saja, tak sampai tertawa terbahak-bahak.

Pada saat lain, kita kerap manggut-manggut manakala menemukan bahwa ‘oh, ternyata begitu toh, zaman tempo dulu itu.’ Misalnya, tentang ‘gigi putih’ yang ternyata justru bukan mencerminkan gigi yang sehat di zaman tempo dulu.

Menurut orang, makan sirih itu membuat gigi kuat, tetapi banyak gigi wanita Jawa berwarna hitam karenanya. Dengan gigi serba hitam tampaknya mereka cantik juga, ditambah dengan kulit warna kuning langsat, yang selalu dijaga terhadap sinar matahari dengan payung kalau berada di luar rumah dan dengan rambut yang hitam. Menurut orang zaman itu, gigi putih tidak baik, ‘seperti gigi seekor macan saja…’”


Atau tentang hal yang mengerikan seperti kisah mengenai orang-orang yang digantung karena membangkang:

Pada waktu ayah masih sekolah telah berjalan Cultuurstelsel, suatu sistem tanam paksa untuk penduduk petani…. Tiap petani diharuskan menanam sepertiga dari tanahnya dengan tanaman ekspor seperti karet, kopi, the dan indigo. Akan tetapi petugas-petugas yang terlalu ingin menyenangkan atasannya, bahkan meminta separuh dan lebih dari tanah petani untuk keperluan itu.

Akibatnya para petani tidak ada waktu lagi untuk menggarap tanahnya sendiri sehingga banyak orang menderita kelaparan. Orang yang menentam sistem ini dijemur di panas matahari dari pagi sampai sore dan pemimpinnya digantung di pasar. Orang sekarat dan mayat akibat kelaparan memenuhi jalan-jalan di desa-desa dan di daerah pegunungan banyak macan membawa lari bangkai-bangkai ini….”


Juga tentang asal-usul istilah Hantam Kromo yang ternyata datangnya dari Sumatera Utara….

Di rumah ayah bercerita tentang Poenale Sanctie atau hak menghukum di daerah perkebunan di Sumatera Utara. Orang-orang dari Jawa dikirim ke daerah Medan untuk dijadikan kuli perkebunan karet yang membutuhkan banyak pekerja. Mereka dijanjikan uang banyak dan pada waktunya mereka akan bisa pulang dengan banyak uang.

Akan tetapi kenyatannya mereka tidak pernah bisa pulang karena terjerat utang yang dengan sengaja diiming-imingi kepada mereka dan tidak pernah dapat mereka bayar kembali. Oleh karena itu banyak yang bingung dikejar penagih utang. Banyak orang yang melarikan diri dan itu merupakan suatu alasan bagi Pemerintah Belanda untuk membuat undang-undang yang memberikan hak kepada pengusaha kebun karet untuk menangkap dan menghukum mereka dengan pukulan rotan disaksikan oleh klepala kebun dan mandor-mandor kebun. Oleh karena itu, sampai sekarang masih ada sebutan Hantam Kromo, yaitu perintah kepala kebun kepada mandor-mandor agar si Kromo (si orang Jawa) diberi pukulan dengan rotan.


Ada pula cerita tentang Warok yang menyebalkan…

Di lembah antara dua gunung ini terdapa suatu kumpulan orang yang menamakan diri Warok. Mereka mempunyai sifat khas, sama sekali lain daripada orang-orang di sekitarnya. Para warok ini selalu ingin memperlihatkan bahwa mereka tidak takut pada siapa pun. Mereka berseragam baju piyama hitam dengan kaos merah putih di bawah banjunya dan dan mereka bersumpah untuk jujur, loyal kepada kawannya dan tidak menikah. Salah satu kebiasaan mereka ialah memperolok-olok pejabat baru di depan orang-orang lain, seperti waktu itu terhadap ayah. ‘Saya senang lho melihat kumis di bawah hidung wedana baru itu. Saya dulu pernah lihat orang mirip dia, main wayang wong di alun-alun sebagai Gatotkoco. Apakah bukan Pak Wedana yang main wayang itu?”


Namun adegan menyenangkan yang mengingatkan kita pada lukisan-lukisan pastel yang romantis juga ada:

Saya melihat Indra menunggu di depan bioskop Menteng.

Saya berjanji dengan dia untuk melihat film Decameron yang sengaja kami pilih karena mengenai seorang penulis yang mengkritik dengan tajam gereja Katolik waktu itu.

Di belakang kacamatanya saya melihat matanya berkedip-kedip memandang sinar matahari. Entah berapa lama ia menunggu di situ. Saya terlambat karena dokter Parto yang harus menggantikan saya untuk alih jaga kamar bedah terlambat datang.

“Ah,” katanya tersenyum, “Saya menunggumu di sini.”

Tiba-tiba terasa dalam hati saya bahwa saya telah menunggu dia seumur hidupku. Sebelum ini semua gadis tak ada artinya, begitu besar keyakinan saya terhadap gadis yang satu ini.


Lalu kita juga dibawa untuk menyadari, bahwa pria sering tersentuh oleh hal-hal yang remeh-temeh di luar kecantikan wajah. Ternyata hal semacam ini sudah lumrah sejak zaman nenek-moyang kita:

Tiba-tiba saya kenal ia waktu ada suatu pesta ulang tahun. Aneh gadis ini. Tidak banyak gadis sekarang yang masih bisa berbahasa Belanda dan komentarnya begitu mengena dan lucu. Ia sekolah Katolik dan sehari-hari dalam asrama, hanya hari Sabntu dan Minggu boleh keluar. Sebenarnya saya tidak tahu mengapa saya tertarik padanya, apa ucapannya yang lucu atau karena ia tidak seperti saya yang selalu malu. Ia selalu berani secara spontan mengeluarkan pendapat tanpa banyak pikir….

Selama berkenalan dengan dia beberapa minggu ini saya merasa tenang. Tak sekalipun ia menanyakan mengapa saya begitu kurus. Oh itulah barangkali mengapa saya memberanikan diri untuk mendekati dia. Gadis-gadis lain begitu cepat mengusir saya kembali ke buku-buku saya di kamar. Ia sebaliknya tidak pernah mengatakan bahwa badan saya tidak seperti orang lain yang sportif dan kuat.


Dan sebagaimana cinta dimana pun, ia selalu diuji. Ada rintangannya.

Sekarang ada masalah. Ia Katolik sungguh-sungguh.

Mengapa semua gadis yang saya ingini selalu memberikan masalah agama. Dulu Yati yang ingin meyakinkan saya bahwa agama Protestan itu yang paling baik, sekarang Indra yang berpegang teguh pada agama Katolik. Tidak cukupkah bila orang hidup baik, menolong sesama orang dan tidak merugikan orang lain? Kemarin kami berdebat lagi tentang agama. Indra berpendapat bahwa konsekuensi kawin dengan seorang Katolik itu ialah bahwa seluruhnya juga harus Katolik, termasuk pendidikan anak-anak.

Saya yang tidak pernah dibesarkan dalam agama tertentu tidak mengerti mengapa pendidikan agama tertentu itu penting dibandingkan dengan agama lain. Ayah dan Ibu itu religius dan percaya pada kekuasaan dan kebesaran Tuhan tetapi Ayah menerima semua agama, baik itu Hindu, Budha, Kristen atau Islam.


Puncak Gunung Lawu

***
Kisah demi kisah mengalir terus, tetapi pada akhirnya Kembali ke Uteran adalah sebuah kisah dengan happy ending. Dan kita senang dengan itu. Bukan semata karena kita tak ingin bersedih. Melainkan karena sang pencerita datang ke hadapan kita sebagai seorang manusia yang telah melalui rintangan dan perubahan zaman. Maka sepatutnya lah ia menyuguhkan happy ending. Ia sebagai bukti sejarah, yang menunjukkan bahwa dengan ketekunan, kesabaran dan dengan semangat Sugih tanpa banda, Ngluruk tanpa bala, Menang tanpa ngasorake, hidup telah dia menangkan. Nilai-nilai kepriyayian itu pada akhirnya akan tetap hidup.

Saya janjikan istri saya (Indra) dan anak-anak untuk melihat tempat kelahiran saya di Uteran. Mereka gembira dapat berhenti di sini setelah begitu lama duduk dalam perjalanan begitu jauh…..

Anak-anak segera turun dan berlari-lai menuju pendopo. Rupanya paginya telah turun hujan. Saya hirup bau tanah basah dan bau bunga tanjung yang menutupi tanah di bawah pohon itu.

Kami bertemu dengan pembantu bupati, yaitu nama baru untuk wedana, seorang muda dalam seragam putih. Ia persilakan kami untuk melihat-lihat dalam rumah. Seragamnya lebih praktis dari pakaian ayah dulu walau pun saya merasa tidak begitu mengesankan tanpa destar dan keris di punggung.

Zaman sudah lewat.

Banyak yang berubah tapi ada yang tetap langgeng seperti pendopo ini.

Perjalanan saya sudah lengkap membentuk satu lingkaran dan kembali di mana saya mulai dulu.

Barangkali tidak banyak orang yang begitu beruntung seperti saya ini.


Saya kira bukan hanya Sumarsono yang merasa beruntung. Tiap orang yang membaca buku ini sepatutnya merasa beruntung. Sebab sekali lagi kita disadarkan bahwa tiap kali kita mengenali hidup seseorang, kita melihat sebagian dari diri kita di sana: sebagian dari diri kita yang mungkin belum mencapai yang dicapainya, sebagian dari diri kita yang mungkin tak akan pernah sampai ke sana tetapi sekaligus pula sebagian diri kita yang juga ada pada diri si pencerita. Dan justru dengan menyadari hal itu lah kita tahu alangkah lengkapnya kenyataan. Dengan begitu, tidak perlu terkaget-kaget oleh perubahan. Diam-diam, kita pun dapat mengaminkan pepatah klasik itu, yakni Sugih tanpa banda, Ngluruk tanpa bala, Menang tanpa ngasorake.

(c) eben ezer siadari

2 comments:

  1. saya cari bukunya sudah sulit, dimana kira - kira yg masih ada ya

    ReplyDelete
  2. Anonymous1:13 AM

    saya punya buku ini dan sungguh bagus isinya. seakan2 mengajak pembaca merasakan zaman kolonial dan uteran tempo dulu.

    pengen nambahi, uteran itu skrg masuk ke kabupaten madiun.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...