Saturday, December 02, 2006

Dari Obral Buku di Gramedia ke Kota-kota Khayal-nya Michael Pearson



Sabtu, 2 Desember 2006.

Memang sudah agak terlambat. Arloji saya menunjukkan waktu pukul 11 lebih sedikit. Tak apa. Mudah-mudahan saya tidak kehabisan, itu harapan saya di dalam hati.

Pesta buku itu memang dijadwalkan mulai pukul 10:00 pagi hingga pukul 16:00. Tempatnya di kawasan Palmerah, dekat kantor Harian Kompas. Yang punya hajat adalah Gramedia Group. Mereka selama beberapa hari menyelenggarakan pesta obral buku. Dahsyat lho. Harganya cuma Rp10 ribu untuk setiap lima buku.

Dan saya makin deg-degan ketika mendekati tempat parkir yang disulap jadi arena obral buku. Orang sudah ramai. Berkerumun di tiap onggokan buku. Saya bersyukur karena ini diselenggarakan di hari libur. Pengalaman saya beberapa bulan lalu ketika Gramedia bikin hajatan serupa di saat hari kerja, ya ampun.... suasananya sudah seperti pasar pagi. Orang antri mau memasuki arena obral, antri pula ketika mau membayar di kasir.



Kali ini lebih tertib. Dan yang menyenangkan, ternyata stok buku yang diobral itu begitu banyaknya. Mulai dari yang tipis-tipis ala komik Tom & Jerry, hingga yang setebal kamus ala kumpulan tulisan Ali Alatas (mantan Menlu), ada di situ.

Saya membeli kira-kira 25 buah buku. Yang paling banyak, 12 buah, adalah buku cerita anak-anak buat putri saya. Buat istri saya, saya membeli beberapa buku resep, antara lain bagaimana mengolah masakan Eropa. Lalu buku tentang bagaimana membuat saos dari pepaya. Juga sebuah buku tentang seluk-beluk merangkai bunga. Satu lagi, yang saya juga pasti akan mencuri waktu untuk membacanya, adalah perihal bagaimana memelihara boneka dan membedakan yang asli dan palsu.

Untuk saya sendiri, ada beberapa yang menurut saya menarik. Ada antologi sastra dari sastrawan Angkatan 2000 (tebal sekali bukunya). Lalu sebuah buku tipis kumpulan tulisan M.A.W. Brower. Ada pula karya Sumarsono Sastrowardoyo, berjudul Kembali ke Uteran, Sebuah Kenangan. Juga buku yang kelihatannya stoknya hampir habis di pesta buku itu, yakni Sun Tzu: Seni Berperang. Tetapi yang paling pertama menarik perhatian saya adalah buku berjudul Kisah-kisah Lucu dan Ringan tentang Orang Banjar. Dalam hati saya berpikir, suatu saat, saya harus menulis tentang Yang Lucu dan Yang Ringan tentang orang Simalungun.

Sambil berkeliling di arena obral buku, (saya memotret pesta buku ini dengan handphone saya, tetapi belum sempat mentransfernya ke komputer. Sabar ya…) saya berpikir-pikir. Apakah saya harus sedih atau senang dengan pesta buku semacam ini? Sebagai seorang yang sudah dan berharap dapat hidup dari pekerjaan menulis, ada sedikit perasaan teriris melihat buku-buku itu diobral sehingga sebuah buku tak lebih dari harga sebotol Teh Sosro. Padahal, ketika menuliskannya, mungkin para penulis itu menghabiskan beribu botol minuman…

Tetapi sekelebat kemudian saya melihat sisi positifnya pula. Menyaksikan begitu antusiasnya orang berebut, membawa pulang kardus-kardus yang semuanya berisi buku, dalam hati saya berbisik, manusia memang selalu kehausan akan ide. Manusia tak pernah jera dengan buku. Dan, karena itu lah, menurut saya, sekecil apa pun insentif bagi penulis, karya-karya hebat tak kan pernah berhenti diproduksi. Sebab dengan buku lah, antara lain, manusia bisa melihat keterbatasannya sekaligus ketidakterbatasannya. Kalau ada yang mengatakan buku adalah jendela melihat dunia, itu berarti yang dibukakan jendelanya bukan hanya pembaca buku. Tetapi para penulis pun, merasa terbebaskan ketika mereka menelorkan karya demi karya.

Dan, karena itu, buku tampaknya tak akan pernah mati. Sebab selalu ada cerita, seperti yang akan saya ceritakan berikut ini.



***

Pada suatu hari Michael Pearson mendengar putranya yang masih kecil berbincang-bincang dengan kawan-kawan sebayanya. Mereka membicarakan pekerjaan orang tua masing-masing. Lalu tatkala sang kawan bertanya apa pekerjaan ayahnya, putra Pearson mengatakan pekerjaan ayahnya adalah membaca buku…

Jawaban anaknya itu memang tak salah. Sebab sebagian besar pekerjaan Pearson benar-benar membaca buku. Santir (refleksi) dari bacaan itu lah yang ia bicarakan di kelas dengan para mahasiswanya yang duduk mendengarkannya, dengan serius mau pun pura-pura serius. Itulah rutinitas kerja Pearson sebagai gurubesar Bahasa Inggris dan Jurnalisme di Old Dominion University, Amerika Serikat.

Terdengar sangat 'kering' memang pekerjaan 'membaca buku' itu. Tetapi Pearson ternyata menikmatinya. Dalam berbagai hal, pekerjaan itu bahkan menghanyutkannya. Menerbangkannya. Sebab menurut dia, (membaca) buku selalu berarti "petualangan, suatu kesempatan untuk menjelajahi wilayah yang tidak kukenal, sebuah jalan untuk sesaat melepaskan diri dari dunia ini lantas menemukannya kembali."

Petualangannya lewat bacaan-bacaan itu telah membawanya menulis sebuah buku yang menarik, yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Tempat-tempat Imajiner . Judul asli buku ini adalah Imagined Places, Journeys into Literary America. Diterbitkan pertamakali oleh University Press of Missisippi pada 1991, buku ini dialihbahasakan oleh Sori Siregar, Erwin Yusbar Salim dan Ayu Utami pada 1994.



Dalam buku ini, Pearson menceritakan 'proyek'nya yang tanpa ia sadari sudah ia gagas sejak ia masih kecil. Yakni menjelajahi untuk kesekian kalinya tempat-tempat yang pada mulanya hanya ia kenal lewat kisah-kisah pada buku yang ia baca. Penjelajahan ini dapatlah disebut semacam jiarah ke alam imajinasinya. Dalam proyeknya itu, Pearson menapak-tilas gaya hidup sekaligus tempat tinggal para penulis favoritnya. Ia mengunjungi kota-kota khayal, yang dulunya hanya sempat ia kenal lewat fiksi yang dikarang oleh para penulis kesayangannya.

Pearson mengemukakan latar belakang penulisan buku ini begini:

"Aku dibesarkan di New York. Kadang-kadang aku merasa bahwa buku lah satu-satunya yang menunjukkan cahaya mentari kepadaku. Gedung apartemen menyembulkan sedikit saja langit bagi mataku….. Di kelas lima, pada hari Natal, aku dihadiahi biografi Kit Carson edisi anak-anak terbitan Grosset dan Dunlap. Kubaca buku itu berulang-ulang kali. Aku juga meniru-niru Kit Carson…. Aku tersesat dalam impian petualangan yang begitu hebat. Lantas dimataku gedung-gedung itu lenyap menjadi pegunungan Colorado, asap pun menjelma menjadi matahari Meksiko yang keunguan ketika terbenam."


Ia kemudian melanjutkan:

" Ketika aku menjadi seorang wartawan, keinginan-keinginanku itu berkembang. Aku ingin melihat tempat-tempat dimana personalitas dan tulisan para pengarang itu masih meninggalkan mitos. Aku juga ingin menemui orang-orang yang tinggal di tempat itu. … Buku memperkenalkan aku dengan orang-orang baru dan tempat-tempat yang tidak kukenal."


Maka Berbulan-bulan Pearson menjelajah dari satu kota ke kota lain di Amerika. Menelusuri jalan-jalan yang dulu memukaunya dalam buku dan karya pengarang idamannya. Ia pergi ke Vermont kota yang sering menjadi setting puisi-puisi Robert Frost, sekaligus kota yang pernah ditinggali penyair Amerika yang melegenda itu. Pearson menjangkau Missisippi, kota tempat asal pengarang favoritnya yang lain, yakni William Faulkner. Ia mencoba menyelami bagaimana rasanya hidup di Georgia, tempat Flannery O Connor menghabiskan sebagian besar umurnya sebagai penulis. Ia melarutkan diri di Key West, tempat Ernest Hemingway pernah tinggal dan menghasilkan karya-karyanya. Lalu ke Kalifornia-nya John Steinbeck dan Missourinya Mark Twain.

Ditulis dalam kata-kata pilihan yang lembut mengalir, penjelahan Pearson adalah paduan antara eksplorasi hati tetapi sekaligus eksplorasi geografis. Pearson mengeksplorasi semua novel, puisi dan pikiran-pikiran para penulis favoritnya itu, untuk ia konfrontasikan dengan kenyataan yang ia hadapi ketika 'menjiarahi' kota-kota kelahiran para penulis itu.

Sambil berulang-ulang membacanya, saya menemukan pikiran bahwa mungkin setiap orang yang hanyut dalam bacaan, pastilah juga ia tergoda untuk menjadi seperti Pearson. Tergoda untuk menapak tilas, menjelajahi dan menjiarahi, tetapi juga sekaligus mengkonfrontasikan alam imajinasi itu dengan alam nyata.

Jika, pesona karya-karya Mark Twain telah mendorong Pearson berkunjung ke Missouri, saya juga kadang-kadang sering berpikir untuk suatu saat harus pergi ke Blora. Pergi ke sana untuk sekali lagi 'menyaksikan' suramnya Cerita-cerita dari Blora-nya Pramudya Ananta Toer, yang tempo hari sering membuat saya berlinang air mata dan tidur dengan mimpi buruk. Jika John Steinbeck telah membawa Pearson pergi ke Kalifornia dan menyelidiki sejauh mana kota itu mempengaruhi Steinbeck, saya juga merindukan Ngawi, tempat kelahiran almarhum Umar Kayam, yang tampaknya begitu dalam memberi pengaruh bagi penulis hebat itu.

Ya, banyak lagi kota-kota khayal, yang di dunia memang ia benar-benar nyata tetapi dalam benak kita selalu menghadirkan detailnya yang sangat pribadi. Ketika suatu malam mobil yang membawa kami ke Magelang mogok di Muntilan, entah kenapa pikiran saya justru melayang kepada Romo Mangunwijaya, yang saya kenal lewat novelnya, Burung-burung Manyar. Sambil sekelebat mengarahkan pandangan di antara pohon-pohon dan temaramnya lampu di kota kecil itu, dalam hati saya bertanya, inikah kota tempat dimana Romo yang saya kagumi itu memulai pendidikan HISnya selama enam tahun? Adakah ketenangan kota ini dan desau daun-daun di pepohonannya yang membuat gaya menulis sang Romo demikian detail, terutama bila bicara soal sawah, burung dan wayang?

Sesekali di saat naik Kereta api KRL dari tempat saya tinggal menuju kantor, sudah pasti kereta itu akan berpapasan dengan kereta ekonomi yang datang dari atau menuju Rangkas Bitung. Kereta itu seringkali berjubel, orang-orang naik hingga ke atapnya. Dan wajah-wajah kecoklatan yang dipanggang matahari itu selalu membuat saya merindukan Rangkas Bitung dalam khayal saya. Tempat Saijah dan Adinda dalam Max Havelaar karya Multatuli, merangkai cintanya. Dan sekelebat pula dalam hati saya berkata, "beginikah wajah-wajah Saijah tempo dulu itu?"



Sama seperti jika orang bicara tentang Sriharjo lantas saya ingat kepada Masri Singarimbun, atau Mojokuto (yang ternyata nama samaran dari kota Pare di Kediri) yang mengingatkan saya pada Clifford Geertz, atau Dilli yang mengarahkan pikiran kepada Uskup Bello, begitulah banyak kota-kota nyata telah kita asosiasikan pada penulis (atau tokoh) tertentu. Kekaguman kepada para penulis mau pun karyanya, pada gilirannya bahkan memampukan kita untuk merasa memiliki kota-kota itu. Sesungguhnya kita mungkin belum pernah menjejakinya, tetapi kita telah merasa ribuan kali datang ke sana. Kita tak tahu bagaimana rupa kota itu, tetapi kita justru sudah membentuk sendiri detail demi detailnya. Dalam khayal kita.

Barangkali itu sebabnya saya sering merasa merindukan sebuah pasar, yang hanya pernah saya kunjungi di alam khayal. Pasar yang dalam khayal saya pasti lah pasar yang menyenangkan, menghibur dan membuat orang betah di dalamnya. Sebab, pasar itu justru menjadi tujuan orang-orang yang saling berkasih-kasihan. Nama pasar itu Tiga Raya, di sebuah wilayah kabupaten Simalungun, yang sangat populer dalam lagu yang saya tak tahu pengarangnya.

Rap ma hita lahou botou da
hu Tiga Raya

(Marilah kita pergi bersama, kekasih,
ke Pasar Raya)


Seperti juga kerinduan saya pada sebuah sungai bernama Aek Sarulla, yang populer dalam lagu karya Nahum Situmorang berjudul serupa. Sudah sejak kecil saya mendengar lagu itu. Dan saya suka. Suka pada iramanya. Suka pada syairnya yang membuat saya terkagum-kagum pada komponisnya. Sejak kecil, tiap kali orang bicara Aek Sarulla, saya merasa seolah sudah pernah menjejakkan kakinya di sana. Padahal, sampai saya setua ini saya belum pernah memrasakan bagaimana sungai yang konon berkelok-kelok itu.

Aek Sarulla tudia ho lao
tung ganjang ma attong dalan mi
tung paboa ma jolo tu au
Niidam di tongan dalan i..

(Sungai Sarulla kemana kau pergi
Betapa panjang yang kau jalani
Tolonglah beritahu saya
Semua yang kau saksikan dalam perjalanan)
.

Pearson, melalui bukunya, Tempat-tempat Imajiner, sangat beruntung telah pergi ke kota-kota khayal yang sudah ia kenal bertahun-tahun sebelum ia menjejakkan kakinya. Ia beruntung telah mampu menjiarahinya. Tidak seperti saya yang sampai hari ini belum juga bisa menjejakkan kaki di kota-kota khayal saya, Blora, Ngawi, Aek Sarulla, Tiga Raya, Dilli, Rangkas Bitung dan lain-lain.

Lalu apakah kiranya yang Pearson dapatkan dari penjelajahannya? Dan apa pula kiranya gunanya bagi kita, pembacanya?

Jika Pearson mengunjungi kota-kota khayal itu bertujuan untuk mendapatkan kembali kota-kota khayalnya di alam nyata, dengan cepat kita bisa segera menghakiminya. Kita dengan tegas mengatakan itu adalah penjelajahan sia-sia. Jika Pearson bermimpi akan menemukan secara utuh kota-kota impiannya yang ia dapatkan lewat buku-buku itu, ia hanya akan menemukan pepesan kosong. Pengarang yang hebat memang melahirkan mitos tentang dirinya dan tempat tinggalnya. Kota-kota yang jadi setting tulisan mereka, menjadi kota-kota khayal yang selalu jadi kerinduan para pembaca sekaligus pemujanya. Tetapi manakala kota-kota dalam imajinasi itu kita kunjungi di alam nyata ia kerap tak seperti yang kita bayangkan.

Dan Pearson memang tak menemukan kota-kota itu seperti dalam khayalnya. Ia memang tak ingin menemukan kembali kota khayalnya itu.

Justru di situlah sumbangan Pearson bagi pembacanya. Pearson membuat kita sadar bahwa memang ada kota-kota yang hanya bisa kita kunjungi dalam khayalan kita. Kota yang hanya kita sendirian yang mengenalinya. Orang lain, termasuk yang paling dekat dengan kehidupan kita sekali pun, tak kan bisa membayangkannya, apalagi menemukannya. Ia benar-benar kota yang sangat pribadi. Kota yang hanya kita yang memilikinya. Dan yang hanya kita jelajahi dalam khayal atau angan.

Kota-kota itu memang ada di dunia nyata. Semua orang bisa datang dan berdiam di sana. Tapi tidak ada sepasang pun manusia yang mempunyai khayal yang sama tentang kota dimaksud. Medan dalam khayal saya, misalnya, mungkin tidak seseram Medan sebagai kota khayal seseorang gadis Solo, yang belum pernah sekalipun ke sana dan sangat terpengaruh oleh slogan, "Ini Medan Bung." Istri saya yang orang Jawa selalu membayangkan pohon Mangga di rumah mbahnya yang berbuah ramai dan ranum setiap kali (dulu) ia pulang kampung ke Tulung Agung. Sementara Tulung Agung sebagai kota khayal saya adalah kota dimana dari pagi, siang, malam hingga pagi lagi, sajian yang terhidang di meja makan adalah pecal, pecal, pecal, pecal….

Pada akhirnya penjelajahan Pearson makin mengingatkan saya pada apa yang kerap muncul dalam perdebatan filsafat. Bahwa yang kita sebut nyata itu tak kan pernah abadi. Kota berubah bertambah padat. Orang berubah bertambah tua. Pohon berubah menjadi rimbun atau bisa juga meranggas. Dan seterusnya dan seterusnya. Lalu apa sebenarnya yang tetap? Apa sebetulnya yang tidak berubah?

Penjelajahan Pearson mengajarkan lagi hal yang mungkin sudah sering kita dengar. Yakni yang abadi justru adalah hal-hal yang tidak nyata. Itu lah mungkin yang kita sebut ide. Atau imajinasi, cita-cita, kasih sayang, persahabatan dan aneka yang tak nyata lainnya, seperti nilai-nilai kebajikan dan keluhuran.

Kota berubah dalam wujudnya yang nyata. Tetapi kota dalam khayal kita, yang dibangun oleh penulisnya dengan cara yang menyentuh dan mencerahkan, niscaya senantiasa tetap. Abadi sebagai ide. Yang selalu dapat kita jiarahi dalam angan dan khayal.

Manakala seorang penulis berhasil membawa pembacanya pada kota-kota khayal yang tak pernah pupus itu, saya kira di sana lah ia dapat tersenyum. Tersenyum karena ia telah menyumbangkan sesuatu bagi pembacanya....

***

Tiga jam saya habiskan di pesta obral buku itu. Dua kantong berisi 25 buku saya tenteng keluar dari arena itu. Wah, berapa bulan baru semua buku ini habis kami lalap ya.....

(c) eben ezer siadari

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...