Tuesday, December 05, 2006

Makan Enak Itu Adalah....



‘Makan enak’ bagi orang kampung yang norak seperti saya bukan lah urusan susah. Kapan dan dimana saja kita bisa makan enak. Itu menurut ayah dan ibu saya, yang juga orang kampung yang noraknya satu strip di atas saya. Kata mereka, ‘Makan enak’ itu adalah makan di saat kita lapar dengan menu yang semuanya serba segar, serba baru dimasak dan serba panas.

Ada benarnya juga.

Misalnya, dulu semasa kecil, manakala di rumah kami tanggal sudah sebegitu tuanya, ada saja cara orang tua kami untuk membuat 'makan enak' bisa hadir tepat pada waktunya. Yakni pada siang hari saat semua anak-anaknya baru pulang sekolah. Kala itu di meja makan sudah ada nasih putih yang masih ngebul, sobekan-sobekan kol dan potongan kacang panjang mentah di atas piring, petai muda beberapa papan dan tak ketinggalan sambel merah yang merupakan gabungan antara tomat, bawang merah, cabai, garam dan perasan jeruk nipis.

Dipancing oleh aroma ikan asin yang baru saja diangkat dari penggorengan, sudah cukup membuat kami berebut duduk mengelilingi meja. Terjadi keributan kecil ketika tangan-tangan kami saling sikut kala menyendok nasi ke piring masing-masing. Setelah itu 'damai turun ke bumi.' Hening menyelimuti ruang makan merangkap dapur itu karena kami semua sedang menikmati makanan dengan lahap. Sesudahnya: "Enak kali bah….," begitu lah satu per satu kami berkomentar sambil bersendawa.

Saya kadang-kadang berpikir, kenapa makanan sesederhana itu bisa begitu enak ya? Padahal, bahan-bahan yang kami lahap itu semuanya apa adanya. Tak perlu pengolahan yang rinci dan canggih. Toh, kok terasa nyuuuus saja di tenggorokan. Apa kuncinya?

Ah, saya tahu. Sekarang setelah saya agak tua begini, saya bisa mengatakan bahwa 'makan enak' pada masa kecil itu sangat ditentukan oleh hal-hal ekstrim pada saat makan. Coba. Perut kita kala itu pasti lah tengah berada pada saat yang ekstrim laparnya. Sebab bagaimana pun pelajaran Matematika atau Berhitung di sekolah, menguras banyak energi. Belum lagi kami jarang disangoni dengan uang jajan. Maka apa saja yang tersaji pada saat-saat semelelahkan itu, pastilah kita lahap dengan antusiasnya.

Hal ekstrim lainnya adalah pada aroma makanannya. Aroma ekstrim ikan asin yang baru diangkat dari penggorengan, rasa pedas ekstrim dari sambel tomat plus cabai plus bawang, bau petai muda yang semriwing, plus nasi panas yang menyengat lidah, merupakan bagian yang penting yang menyebabkan makan siang di saat-saat seperti itu terasa begitu nikmat.

Saya kira taktik semacam ini pula yang banyak dipraktikkan oleh restoran-restoran Kaki Lima di Jakarta yang sangat ramai di saat jam makan siang kantor. Lihat itu restoran Padang. Atau rumah makan Ikan Bakar Makassar. Juga Kedai Makan Manado. Semuanya menyediakan menu yang rasanya serba ekstrim. Ekstrim pedasnya, ekstrim gurihnya dan ekstrim pula aromanya.



Lain halnya dengan ‘makan enak’ yang saya dapati, Kamis, 30 November lalu. Itu adalah kebalikan dari ‘makan enak’ dengan rasa serba ekstrim. Hidangannya justru jadi enak karena menu yang tersaji terasa lembut di lidah. Tidak ada rasa yang tak terduga. Semua pada tempatnya dan pada porsinya.Tidak ada rasa yang terlalu menonjol yang menyebabkan kita, misalnya, ho ah, ho ah, karena kepedasan, atau memicingkan mata karena keasinan. Semuanya mengalir berirama tetapi pada saat yang sama kita seakan ingin agar makanan itu betah berlama-lama di mulut untuk kita nikmati setiap rincian rasanya.

Itu lah yang saya dapati saat menghadiri acara Gala Dinner malam itu. Gala dinner itu dihadiri oleh kalangan pebisnis terkemuka. Acaranya adalah penganugerahan gelar Indonesia Entrepreneur of the Year 2006. Tempatnya di Hotel Mulia, di kawasan Senayan Jakarta.

Acara Gala Dinner semacam ini sudah rutin diselenggarakan setiap tahun. Dan, Thank God. Pihak Ernst & Young, perusahaan konsultan multinasional terkemuka yang jadi penyelenggaranya, rajin pula mengundang saya, walau saya ini cuma wartawan kampungan yang sering kikuk di keramaian.

Saya selalu berusaha hadir pada acara ini karena dua alasan. Pertama, majalah tempat saya bekerja menempatkan acara seperti ini pada prioritas yang tinggi untuk diliput. Dengan menghadirinya, kita bisa berbincang dan mengenal entrepreneur-entrepreuer hebat di Tanah Air. Dan, mereka pada dasarnya adalah bahan tulisan yang menarik untuk disajikan kepada pembaca.

Kedua, dan ini yang paling penting, saya menikmati betul makan ala Gala Dinner sebab menunya selalu istimewa. Sejak acara IEOY diadakan, seingat saya, saya selalu hadir, kecuali tahun lalu. Untuk acara kali ini, saya benar-benar antusias untuk datang, apalagi dua hari sebelumnya, seorang staf penyelenggara sudah menghubungi untuk memastikan kehadiran saya. Klop lah.

Ketika saya tiba di tempat itu pukul 18:35, para undangan sudah berdatangan. Kala itu Ball Room tempat gala dinner belum dibuka. Para hadirin yang umumnya mematuhi dress code: black tie malam itu, sibuk bersosialisasi satu sama di depan Ball Room sambil menikmati cocktail reception yang berlalu tanpa terasa. Saya sempat mencomot kacang telor yang tersuguh di meja, dan segelas white wine yang ditawarkan waiter. Hmm, perut segera saja terasa lapar padahal sore sebelum berangkat, beberapa potong tahu dan tempe goreng sudah mampir di perut saya.

Setelah saya mengecek daftar undangan berikut denah tempat duduk yang tertempel di sejumlah tempat, saya akhirnya tahu saya akan duduk di meja 40. Dan ketika pintu Ball Room itu terbuka, saya dengan cepat menemukan meja saya. Tidak terlalu dekat dari panggung tapi masih cukup jelas untuk menyaksikan sepenuhnya acara. Duduk bersama saya di meja 40 itu adalah para wartawan senior dari beberapa media massa.

Setelah duduk kira-kira 10 menit dan bersilaturahmi dengan kawan-kawan tetangga duduk, seorang waiter menyapa saya dengan berkata, “Selamat malam.” Lalu ia mengangkat serbet diatas meja di hadapan saya dan meletakkannya di pangkuan saya. Ehm. Saya tahu, tampaknya hidangan dinner akan segera dihidangkan.

Betul saja. Tak lama kemudian, dari atas panggung saya mendengar Master of Ceremony malam itu mengucapkan sambutan yang diakhiri dengan ucapan selamat menikmati hidangan. Para waiter yang malam itu berpakaian hitam-hitam dan jumlahnya puluhan, hilir mudik melayani tamu yang saya kira jumlahnya lebih kurang 500-an orang.

Malam itu kami menikmati dinner ala table manner. Kalau ayah saya yang kampungan bertanya, apa itu table manner, saya benar-benar akan kikuk menjawabnya. Sebab saya pasti tidak dapat menjelaskannya dengan persis. Yang mungkin saya bisa katakan adalah makan dimana kita tidak mengambil makanan sendiri, tetapi kita cukup dengan duduk, para pelayan akan segera meladeni.

Selain itu, makan ala table manner adalah makan dengan menu yang sudah ditentukan. Ada urut-urutannya. Jika di depan masing-masing yang duduk mengelilingi meja sudah tersedia dan ditata aneka sendok, garpu dan pisau, penataannya itu juga adalah berdasarkan urut-urutan menu yang akan kita santap. Sendok dan pisau mana untuk menu yang mana, biasanya dimulai dari bagian terluar.

Makan malam kami diawali dengan sebuah hidangan yang penataannya menarik. Masing-masing kami disuguhkan piring yang lumayan besar ukurannya berisi makanan yang merupakan kombinasi antara daging bebek, udang dan salad. Daging bebek diiris tipis-tipis, dijejerkan setengah bertindih sesamanya sehingga seolah membentuk tangga mini. Daging bebek itu, konon menurut daftar menu yang saya lihat di atas meja, adalah daging bebek asap yang diawetkan ala rumahan. Home cured smoked duck breast. Daging itu lembut ketika dikunyah. Rasanya gurih.

Bersama dengan daging bebek, ada kira-kira dua ekor udang segar yang berwarna merah seukuran ibu jari. Terasa basah, udang itu memang sebelumnya sudah direndam (marinated) dengan bumbu yang saya tidak tahu persisnya. Udang terhidang bersama satu slice jeruk. Cocok lah dengan namanya, yellow lemon marinated live prawn.

Lalu salad yang mendampingi bebek dan udang itu adalah potongan-potongan sayuran mentah yang ditata menjadi seperti buket kembang mini. Ketika saya cicipi, enak juga rasanya. Segar, agak manis dan di lidah terasa juga sepuhan saos mustard padanya. Dalam hati saya berpikir, mungkin itu lah sebabnya salad ini diterangkan sebagai small salad bouquet with honey mustard dressing.


Sambil ngalor-ngidul bicara tentang apa saja, dan sesekali mencomot roti aneka jenis yang menggunung di keranjang mini di depan kami, saya menikmati dinner itu seperti seorang anak kampung yang tak jemu-jemunya mensyukuri asyiknya hidup di tengah orang-orang yang berkelimpahan. Kelimpahan itu setidaknya dapat saya saksikan dari hidangan yang tersaji. Termasuk ketika sambil saya menikmati makan, waiter merunduk dan menawari saya aneka minuman yang ada di baki yang ditatangnya. Saya tersenyum dan mencomot segelas jus sirsak. Tetangga duduk di sebelah kiri saya malah bertanya, “ada wine merah nggak?” yang segera dijawab, “Ada Pak, sebentar ya…”

Elfa Seciora Band di atas panggung perlahan-lahan melantunkan lagu-lagu pop lembut sambil kami menikmati hidangan. Piring di depan saya pun licin tandas, hanya menyisakan kulit udang dan lelehan saos. Waiter kemudian mengangkat piring saya.

Ronde pertama selesai sudah. Apa lagi nih, selanjutnya, pikir saya. Di daftar menu di atas meja, saya membaca hidangan berikutnya adalah cream of green pea soup and watercress. Dan tak lama kemudian, waiter memang menghidangkan semangkok sop berwarna hijau. Kental. Saya kira inilah yang dimaksud dengan sop kacang polong itu.

Di piring yang jadi tatakan mangkok itu, tergeletak setangkai selada air. Serba hijau sop ini, kata saya dalam hati. Ketika saya cicipi, ueeenak juga. Paduan antara rasa asin gurih yang ringan, berpadu dengan aroma alami bumbunya. Sepotong roti saya ambil, saya celupkan ke dalamnya untuk selanjutnya saya makan. Selada air yang segar itu, juga saya kunyah. Wah, kok masih tetap enak juga ya?

Sop di depan saya itu akhirnya ludes juga. Saya sudah mulai bersendawa sesekali, tetapi anehnya, perut rasanya masih penasaran menunggu ‘ronde’ selanjutnya. Waiter kemudian mengangkat mangkok sop yang sudah kosong itu. Tak lama sesudahnya, ia datang lagi menghidangkan suguhan yang menurut saya, sangat dahsyat. Tampaknya ini lah hidangan yang paling utama malam ini.

Di piring besar di depan saya, tersaji daging sapi (beef) seukuran kotak rokok. Di sebelahnya, juga ada seukuran mouse komputer potongan daging ikan. Beef berwarna kecoklatan itu dikelilingi bubur kentang berwarna kuning muda. Juga jamur goreng dan aneka sayuran yang ditumis. Tampaknya ini lah yang dimaksud dengan Duet of beef tenderloin and pacific cod, herbed mousseline potatoes, sauteed mushrooms and vegetable shiraz reduction.

Menurut yang pernah saya baca, tenderloin beef adalah bagian daging sapi yang terbaik dan paling empuk. Ingat nama tenderloin itu, saya tak bisa tidak, teringat pula pada judul lagu, Love me tender, love me true….

Ketika pisau saya arahkan ke daging sapi itu, terasa memang kelembutannya saat pisau itu memotong serat-seratnya. Sementara ketika saya mengarahkannya ke potongan ikan, cuma dengan sentuhan ringan ia sudah segera terbelah. Ikan cod dari Pasifik itu, menurut istri saya (ketika saya tanyakan di rumah) adalah juga ikan yang terkenal enak dan mahal.

Karena namanya ‘duet’, saya mencoba makan dengan cara duet pula. Yakni memasukkan sekaligus sepotong kecil beef dan sepotong kecil ikan cod. Paduan beef dan ikan cod itu tak terkatakan nikmatnya. Gurih yang lembut, tetapi terasa lebih berat dari hidangan sebelumnya.

Apalagi ketika duet beef dan ikan itu didampingi pula dengan bubur kentang, perut tak bisa bohong lagi bahwa ia sudah mulai terisi. Hawa dingin di Ball Room yang besar itu, memang lumayan membantu agar kita tak segera merasa kenyang. Seteguk wine dan diselingi air putih, juga menolong untuk mendorong beef dan ikan cod itu menyusuri tenggorokan. Namun lambat dan pasti, sendawa-sendawa kecil makin tak tertahankan. Menandakan perut sudah makin penuh nih.

Ada banyak bahan obrolan sambil makan malam begitu. Apalagi disamping saya kemudian duduk seorang eksekutif dari sebuah perusahaan kosmetik besar di Tanah Air. Roti di hadapan, kami comoti juga satu per satu, sambil kami berbincang tentang ekonomi yang masih tetap carut-marut. Sang eksekutif mengatakan negara kita ini makin lama makin mirip dengan Republik Mimpi. Saya tidak tahu apakah Republik Mimpi itu penghalusan dari Republik BBM (Benar-Benar Mabok) atau malah merupakan kelanjutan yang lebih parah. Tapi sambil cerita tentang bisnis yang masih sulit berkembang tanpa kepastian arah dan ketegasan Pemerintah, kami ludeskan juga duet beef dan ikan cod itu.

Setelah piring-piring diangkat lagi, hidangan selanjutnya adalah pencuci mulut yang ternyata tak kalah ramainya dengan yang sudah-sudah. Sepotong tart coklat sebesar tahu goreng, remah-remah biskuit Oreo, es krim aprikot seukuran setengah bola kasti, plus manisan buah kenari dan buah lainnya tersaji di masing-masing piring kami. Tart coklat itu tak bisa saya habiskan. Juga es krimnya, hanya setengahnya yang bisa saya teguk. Saya benar-benar kekenyangan. Di daftar menu, saya membaca, yang baru saja terhidang itu adalah:
Bitter sweet chocolate tart with Oreo cookie crumbs
Apricot ice cream, pistachio coulis
And fruit of the forest compote

Sendawa saya makin menjadi-jadi, ketika Pak waiter mengangkat piring saya. Ia lalu bertanya, “Teh atau kopi?” Saya lekas-lekas menjawab, “Teh.” Dan sambil berkata begitu, saya mengangkat serbet di pangkuan, mengelapkannya ke sekitar mulut. Saya pun mulai memperbaiki duduk saya. Perasaan bercampur baur. Kenyang yang enak, karena semua rasa yang saya nikmati dari makanan itu sangat lembut. Samasekali tidak ada yang mendorong reaksi berlebihan dari dalam perut, hal yang sering saya jumpai semasa kecil manakala usai ‘makan enak’ dengan sambal, petai dan lalapan.

Setelah makan malam itu, acara masih berlanjut lagi, dengan pengumuman pemenang Entrepreneur of the Year. (Tentu saja informasi dan ulasan perihal itu tak akan saya bagikan di blog ini, karena ia akan menjadi jatah para pembaca majalah di mana saya bekerja). Cukup lah saya mengatakan bahwa untuk kesekian kalinya, saya benar-benar berterimakasih kepada Ernst & Young. Untuk kesekian kalinya pula mereka berhasil menyelenggarakan sebuah malam yang sukses. Selain karena mereka juga menyajikan suguhan musik bertema Broadway yang menampilkan Elfa Seciora Band, Syaharani, Eka Deli dan Agus Wisman, yang terutama adalah karena malam itu, sekali lagi Indonesia mempunyai Entrepreneur of the Year yang baru. Nantinya sang pemenang akan berlaga di Monte Carlo memperebutkan World Entrepreneur of the Year.

Sementara untuk istri saya di rumah, yang terpenting adalah oleh-oleh saya. Yakni dua potong coklat yang merupakan cindera mata dari penyelenggara. Kata dia, coklat itu enak benar. Dan ia bertambah gembira lagi karena saya membawa selembar catatan saya tentang menu yang disuguhkan. Itu ternyata jadi bahan obrolan yang menarik, meskipun menurut dia, akan sangat mahal dan agak sulit untuk membuatkannya sendiri. Ketika membicarakan menu itu lah saya sedikit banyak mengetahui, bahwa keunggulan masakan Eropa yang terutama adalah pada pengolahan bahan-bahannya, disamping bumbunya yang sangat alami. Samasekali tidak memakai MSG.

Pantas saja tak ada rasa yang ekstrim....

© eben ezer siadari

1 comment:

  1. Hahaha, enak yah makanan ala western itu? Aku pernah dapat 2 course-menu ala western dan rasanya kenyang sekali tapi lama banget nunggu makanannya datang. Terus ini dapat prize datang ke cabaret show diatas kapal keliling sydney harbour malam2 dan nonton cabaret show, dah termasuk 3 course dinner. Tar saya foto satu2 deh.
    Terus itu salah satu hidangan pak eben koq live prawn?

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...