Tuesday, January 23, 2007

A Bible and A Bus Ticket Home



Koboi muda itu sudah bulat hatinya. Ia ingin pergi jauh dari kampung halamannya. Kampung tak lagi menebar pesona. Ladang gandum yang luas sudah membosankannya. Lenguh sapi dan ringkik kuda tak lagi menarik perhatiannya. Orang-orang kampung yang ramah dan riuh rendah jadi terlihat norak di matanya. Ayah dan ibu yang dicintainya, sepertinya tak sanggup lagi menahan dirinya. Dan karena itu ia ingin pergi. Ingin mengejar cita-citanya jadi orang hebat. Pergi ke kota besar. Menjadi manusia modern dan tentu saja jadi orang sukses. New York, kota besar yang sibuk dan terang benderang itu sudah ia dengar seperti memanggil-manggil.

Maka ia sungkem di depan ibunya yang bercucuran air mata. Ia rasakan jabatan tangan ayahnya yang erat dan kencang, lazimnya jabat tangan petani. Sang koboi mantap hatinya, melangkahkan kaki menaiki Greyhound, bis antarkota yang membawanya ke kota besar itu. "Akhirnya, usiaku 18 tahun," pikir sang koboi. "Kini aku bebas menentukan nasibku."

Di kota besar itu, di Broadway, ia menyewa sebuah kamar kecil. Ia berharap kamar itu akan jadi saksi bagi ambisinya untuk jadi orang besar. Sambil membenahi pakaian-pakaiannya, ia sempat tertegun ketika di dalam kopernya ia menemukan sebuah surat. Juga sebuah alkitab dan selembar tiket pulang. Rupanya ibunya sempat menyelipkannya ketika ia akan berangkat. Surat itu, sama seperti surat seorang ibu di mana pun, adalah surat yang menasihati. Penuh dengan kata-kata bekal untuk menjalani hidup. Yang klise, yang biasa-biasa saja, dan karena itu sering terabaikan. Surat yang berisi nada cemas tetapi juga menguatkan. Yang seolah-olah berkata,

"Hei Koboi muda, sekarang engkau sudah cukup dewasa untuk menentukan jalanmu. Dan ikutilah mimpi dan cita-citamu. Kami, orang tuamu, mungkin tak lagi berada dekat-dekat denganmu untuk mendukungmu. Tapi ingatlah Nak. Ketika jalanmu kelak tak mulus. Ketika rantau tak seramah yang kau kira. Selalu ada yang siap menghiburmu: sebuah alkitab dan selembar tiket pulang. Engkau tahu pintu rumah selalu terbuka bagimu. "

Surat itu selalu ia simpan bersama sebuah alkitab dan selembar tiket bus untuk pulang. A Bible and a Bus Ticket Home.

Lalu waktu pun berlalu. Hari demi hari bagi sang koboi muda dijalani penuh peluh dan perjuangan. Tapi kegagalan seolah tak pernah mau jauh darinya. Impiannya tinggal impian. Kota besar itu terlalu keras baginya. Sampai akhirnya sang koboi merasa, rantau memang bukan tempat mimpinya berada. Dan ia memutuskan untuk pulang. Pulang, pulang, pulang. Pulang ke tempat darimana ia berasal. Ia bahkan seolah bisa mendengarkan suara sang Ibu yang memanggil-manggilnya. Kendati ia tahu, yang bisa ia lakukan ketika tiba di kampung halaman nanti hanya lah menabur kembang di pusara kedua orang tuanya. Tapi sang koboi muda sedikitnya masih dapat bernafas lega. Bersamanya masih tersimpan baik titipan ibu yang dulu ia dapatkan ketika pertama kali meninggalkan kampung halaman. Sebuah alkitab dan selembar tiket bus. A Bible and a Bus Ticket Home.
***
A Bible and a Bus Ticket Home adalah sebuah judul lagu. Pertama kali saya dengar kira-kira 14 tahun lalu, karya Raye Collin itu dinyanyikan oleh John Michael Montgomery. Sebagaimana kebanyakan lagu slow country, iramanya sendu ditingkahi suara gitar string solo yang kadang melengking kadang mendayu-dayu. Dulu saya sangat malu memutar lagu itu di tengah orang ramai, karena takut dituduh cengeng dan kampungan. Sebab syairnya memang rada-rada mengundang banjir air mata, seperti kebanyakan syair lagu country. Tetapi dasar orang kampung yang norak, diam-diam saya putar juga lagu itu berulang-ulang. Di dalam kamar kala sendirian. Sekadar ingin bermellow ria. Syair lengkapnya begini:

A Bible And A Bus Ticket Home
Mama's tears fell so easy,
daddy's handshake was strong
And I climbed aboard that Greyhound
18, glad to be gone

Took a rented room on Broadway
and as I unpacked everything I owned
I found a note my mama left me
With a Bible and a Bus ticket home

chorus
It said one will get you where you're going
When you haven't got a prayer
And one can bring you back son
If your dreams ain't waiting there

You're out on you're own now
We won't be there to fall back on
But you know we're never farther
Then a bible and a bus ticket home

The years have come and gone and taken
The only things in life I ever counted on
But I'm going back tomorrow
To lay flowers on their stones

I can almost hear my mama calling
Saying son come back where you belong
You've got all you need to get here
A bible and a bus ticket home





***

Saya tidak tahu bagaimana dengan orang lain. Tetapi bagi saya lagu-lagu country dengan syair yang cengeng dan kampungan itu justru kerap membuat saya duduk tertegun. Berpikir dan merenung. Dari dulu ketika saya masih berada jauh di kampung halaman nan kampungan sono hingga kini di tengah riuhnya serbuan lagu-lagu kontemporer ala Ungu dan Dewa.

Dan tertegun pula lah saya ketika beberapa pekan lalu menonton acara Going Country yang ditayangkan Metro TV. Sebagaimana juga mungkin Anda sudah tahu, program ini adalah paduan antara sajian lagu-lagu country dan talk show inspiratif dengan para bintang tamu. Dibawakan oleh Tantowi Yahya, baru kali itu saya menyaksikan Going Country. Dan ternyata cukup membekas. Sebab, ya itu tadi. Acara itu menayangkan lagu-lagu yang membuat saya tertegun dan merenung.

Sebabnya adalah sebuah lagu yang direquest pemirsa. Menurut Tantowi Yahya, Going Country membuka kesempatan kepada penonton untuk meminta lagu untuk ditayangkan. Sejauh ini, kata Tantowi, kebanyakan permintaan adalah lagu-lagu yang sudah populer, semisal Leaving on a Jetplane, Country Road dan seterusnya. Tapi ada seorang pemirsa yang menurut Tantowi, meminta lagu yang unik. Dan, karena itu lah, malam itu lagu dimaksud dinyanyikan. Langsung oleh Tantowi sendiri.

Dari judulnya saja lagu itu sudah benar-benar bisa menghipnotis: Unanswered Prayer. Terlebih lagi ketika Tantowi memberi intro mengantarkan lagu itu. Bahwa kita kerap kali harus bersyukur justru karena doa-doa kita yang tak terkabul. Bahwa kita harus berterimakasih justru karena tidak semua hal yang kita inginkan diberikanNya. Bayangkan, kata, Tantowi. Bagaimana bila setiap hal yang kita mintakan kepadaNya, bakal dikabulkanNya? Bukankah kekacauan yang bakal muncul? Mirip-mirip film kartun kegemaran anak-anak, Dora Emon yang selalu berakhir kisruh manakala aneka keinginannya dikabulkan?.

Seperti syair lagu itu:


Just the other night a hometown football game
My wife and I ran into my old high school flame
And as I introduced them the past came back to me
And I couldn't help but think of the way things used to be

She was the one that I'd wanted for all times
And each night I'd spend prayin' that God would make her mine
And if he'd only grant me this wish I wished back then
I'd never ask for anything again

CHORUS:
Sometimes I thank God for unanswered prayers
Remember when you're talkin' to the man upstairs
That just because he doesn't answer doesn't mean he don't care
Some of God's greatest gifts are unanswered prayers

She wasn't quite the angel that I remembered in my dreams
And I could tell that time had changed me
Inn her eyes too it seemed
We tried to talk about the old days
There wasn't much we could recall
I guess the Lord knows what he's doin' after all

And as she walked away and I looked at my wife
And then and there I thankedd the good Lord
For the gifts in my life

CHORUS

Some of God's greatest gifts are all too often unanswered...
Some of God's greatest gifts are unanswered prayers


Maka terimakasih Going Country. Terimakasih Tantowi Yahya. Walau baru itu kali saya pernah mendengar Unanswered Prayer, walau lagu itu menyebabkan saya harus berulang-ulang masuk kamar untuk menghapus titik-titik air mata (gile, kalau putri semata wayangku melihatku menangis begitu, habislah aku seharian diledeknya) tetap saja Unanswered Prayer lagu yang berkesan karena mempunyai pesan. Sama seperti lagu A Bible and a Bus Ticket Home, yang akan selalu mewanti-wanti, bahwa siapa pun orangnya, sesungguhnya ia berada di rantau. Entah rantau yang berarti jauh dari tanah kelahiran, entah rantau dalam arti betapa jauhnya perjalanan hidup yang telah dilalui, selalu tersedia A Bible and a Bus Ticket Home.

1 comment:

  1. Anonymous9:34 PM

    Saya memang orang yg cengeng.. Dan jadi makin cengeng setelah baca postingan ini.. :p

    Was a touchy note tho'... Saya mau coba share ke komunitas saya, numpang copy boleh ya pak? Terima kasih.. GBU :)

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...