Sunday, January 28, 2007

Bukan Teddy Bear, tapi Saya lah yang Salah



Setelah sebulan di Sangatta, Kalimantan Timur, menantikan dan menjenguk kelahiran cucu baru dari anaknya yang keempat, ayah dan ibu saya singgah di Jakarta. Selama 10 hari mereka tinggal di rumah kami. Dan, sehari sebelum pulang ke Sarimatondang, kampung halaman saya, mereka berbenah-benah. Membereskan bawaan mereka yang terdiri dari pakaian-pakaian mereka plus sedikit oleh-oleh dari kami.

Karena di Medan ayah dan ibu akan singgah di rumah adik saya yang lain, ada ide dari istri dan putri saya. Mereka ingin menyumbangkan boneka-boneka putri saya yang teronggok di lemari kepada Lidya, bocah perempuan yang masih balita, putri dari adik saya itu. Putri saya sendiri kini berusia delapan tahun. Ia tak lagi terlalu gandrung boneka. Sudah lebih suka pergi bermain-main ke rumah tetangga dengan sepedanya.

Maka putri saya mengeluarkan puluhan bonekanya dari lemari. Boneka beruang, anjing,kucing, jirapah, Barbie dan banyak lagi, ia beberkan di lantai sambil menonton televisi. Mulai dari yang bisa bunyi, yang empuk, yang lagi duduk atau berdiri, yang berwarna-warni hingga yang sudah lusuh. Satu per satu ia amati, ia pilah-pilih. Dan akhirnya terkumpul sekelompok boneka yang boleh dibawa oleh Oppungnya. Kelompok lainnya tetap bertahan alias harus tetap tinggal di rumah kami. Saya tidak tahu apa kriteria dia dalam melakukan pilihan. Kalau saya amat-amati, banyak juga dari antara boneka yang ia pertahankan itu sudah belel. Ada malah boneka yang kami dapatkan secara gratis ketika berbelanja di di supermarket. Tapi begitu lah anak-anak. Kerap kita tak bisa menebak perasaan dan intuisinya.

Saya lantas berpikir-pikir, sejak kapan sebetulnya manusia memulai tradisi mengoleksi boneka? 100 tahun lalu? 200 tahun lalu?

Ah, saya jadi tergerak untuk membaca buku saku yang pernah saya beli dari pesta buku tempo hari. Judulnya: Boneka, Mainan, & Permainan. Pengarangnya, Hilary Kay. Buku terbitan Elexmedia Komputindo itu merupakan terjemahan dari buku berjudul asli Pocket Guide: Dolls, Toys & Games.

Siapa nyana di balik boneka-boneka lucu yang kerap kita beli demi menyenangkan putri kita, bersembunyi sejarah panjang yang tak selucu tampang mainan anak-anak itu. Boneka ternyata tak luput dari pengaruh pergumulan manusia dalam melintasi perubahan zaman. Yang manis mau pun pahit.

Dari buku itu akhirnya saya tahu, sebelum boneka muncul pertama kali lebih kurang 100 tahun lalu, anak-anak para kaum aristokrat lebih banyak dihibur oleh mainan yang juga mencerminkan ‘mainan’ kesukaan orang-orang dewasa. Maka mereka pun akrab dengan miniatur baju besi untuk perang dan pedang. Anak-anak yang tak beruntung jadi keluarga berada, lebih menyedihkan nasibnya. Mereka sudah lazim ikut bekerja membantu orang tuanya. Tetapi tentu saja naluri untuk bermain tetap ada. Dan mereka menemukan hiburan pada mainan yang mereka ciptakan sendiri. Bentuknya pastilah lebih sederhana, semisal balon atau kantong karet yang bisa ditiup.

Pengetahuan orang dewasa tentang anak-anak kemudian berkembang. Mereka mulai tahu bahwa sambil bermain, anak-anak juga belajar. Maka pada abad ke 18 untuk pertamakalinya mainan anak-anak diproduksi secara komersial. Mainan dari kayu pahatan, bola, perahu Nuh dan sebagainya, diproduksi di Jerman dan di ekspor secara luas. Toko mainan William Hamley di London dibuka pada tahun 1760.

Lalu muncullah tradisi bermain boneka. Dan seperti saya katakan tadi, ia bukan datang tiba-tiba melainkan berkaitan dengan pergumulan manusia mengubah dan menghadapi perubahan zaman. Yakni munculnya revolusi industri yang menghadirkan mekanisme dan teknik produksi yang supermurah, termasuk dalam memproduksi mainan. Revolusi industri memunculkan kelas menengah yang kelebihan uang. Kaum ini juga ingin menyenangkan putra-putri mereka dengan mainan, termasuk boneka. Maka industri pun bergerak memenuhi kebutuhan mereka. Diproduksi lah mainan dengan berbagai variasinya. Ada boneka yang kepalanya terbuat dari porselen, lilin, bubur kertas dan sebagainya. Boneka yang dihadirkan pun bermacam-macam. Para perancang berlomba membuat tiruan kehidupan nyata ke dalam bentuk mainan termasuk boneka.



***

Salah satu boneka yang sangat disukai oleh putri saya adalah boneka Pooh. Berwarna kuning dengan T-shirt merah menutupi setengah badannya, boneka beruang ini berukuran kecil. Ujung hidungnya berwarna hitam, matanya menatap lembut, samasekali tak lagi mencerminkan keganasan seekor beruang. Putri saya mati-matian mempertahankan boneka ini, ketika kami mencoba menggodanya dengan mengatakan boneka itu sepatutnya ikut dibawa pulang oleh Oppungnya.

Mengapa sih beruang bisa menjadi boneka yang disukai anak-anak? Bukankah ia binantang ganas, berbadan raksasa yang sering dijadikan olok-olok kepada manusia yang lebih mengedepankan otot ketimbang otak?

Rupanya di balik wajah-wajah jutaan boneka di seantero jagat raya ini, tersimpan cerita menarik, yang mungkin sebetulnya populer tapi para politisi agaknya perlu lagi membaca ulang. Menurut buku karya Hilary Kay itu, beruang jadi populer disebabkan pemunculan sebuah film kartun pada tahun 1902. Di film tersebut digambarkan bagaimana Presiden Theodore Roosevelt yang gemar berburu tidak mau menembak seekor anak beruang. Film itu mendapat sambutan hangat. Dan beruang itu pun digunakan lagi pada film lainnya yang menggambarkan Roosevelt. Bersamaan dengan itu mainan dan boneka beruang yang lembut diimpor dari Jerman. Mainan itu segera populer di kalangan pengikut Roosevelt. Dan itu lah awal mula nama Teddy Bear untuk boneka beruang. Beruang si Teddy, sang presiden.

Wajah beruang dalam bentuk boneka pun berubah dari waktu ke waktu. Pada mulanya boneka beruang masih ‘seseram’ wajah beruang yang asli, meniru beruang gizzly yang berwarna coklat. Namun lambat laun wajah boneka beruang makin lembut dan makin bersahabat. Warnanya pun tak luput dari eksperimen. Sejak tahun 1930-an, muncullah boneka beruang dengan warna merah tua, ungu, biru dan lain-lain. Bila awalnya bahannya adalah serutan kayu, makin ke belakang main banyak bahan yang lebih lembut digunakan, termasuk kapuk.



***

Barangkali suatu waktu saya akan menanyakan kepada putri saya. Apakah ia tahu sejarah di balik segala sesuatu yang menyenangkannya, termasuk boneka-bonekanya? Bisa jadi itu adalah sejarah yang manis. Tapi juga sejarah yang pahit. Misalnya, bagaimana kira-kira pendapatnya jika saya mengatakan, di balik popularitas boneka Teddy Bear, sebenarnya terkandung pesan untuk mengampuni yang lemah? Sehingga bahkan seorang pemburu kaliber wahid seperti Roosevelt, tahu kapan membidikkan bedil dan kapan menjauhkannya?

Barangkali saya juga suatu saat harus mengatakan kepada putri saya bahwa dulu –dan mungkin sekarang juga—boneka-boneka itu bisa hadir di lemari mainan para anak-anak adalah berkat cucuran keringat dan penderitaan orang lain. Misalnya boneka yang populer di tahun1800-an yang kepalanya berbahan bisque porselen yang terbuat dari kaolin. Boneka itu bisa populer dan ekspornya merambah kemana-mana, berkat kaolin yang melimpah dan tenaga kerja yang bersedia dibayar rendah. Saya tak bisa membayangkan, apa kira-kira reaksi putri saya kalau dia tahu, bahwa di balik boneka mainannya yang lucu itu, sangat mungkin ada orang yang harus hidup membanting tulang dan dibayar dengan gaji yang tak lebih dari kebutuhan untuk bertahan hidup?

Saya pernah menemukan seorang bocah demikian bersemangat dan gembiranya dengan mainan bajaj berwarna oranye. Di tangannya, mainan itu didorong dan dilesatkan sedemikian rupa tak ubahnya mobil balap yang bisa mengebut ke sana ke mari melewati jalan berlobang dan mendaki. Menyalip kendaraan-kendaraan lain di kanan-kiri. Saya lantas berpikir, bagaimana sekiranya si anak tahu, dibalik kebut-kebutan itu, mungkin si sopir bajaj sebetulnya tak menikmati perilakunya yang sering membuat jengkel orang-orang. Tapi ia tidak punya pilihan, karena ia menguber setoran. Agar di rumah, anak-anaknya –yang mungkin masih sebesar bocah itu—bisa sekolah dan bisa mendapatkan mainan yang mungkin jauh lebih sederhana dari miniatur bajaj.

Tapi kemudian saya tahu diri. Saya bisa menangkap kesan orang yang membaca tulisan ini bahwa saya terlalu nyinyir untuk urusan ini. Anggap saja ini hanya gerundelan seorang pria yang makin hari makin khawatir tak bisa mengajarkan anaknya tentang apa arti bekerja, apa arti mencucurkan keringat demi kelangsungan hidup. Gerundelan seorang ayah yang makin cemas ketika anak-anak makin mengikuti cara pandang orang dewasa, yang cepat silau pada segala sesuatu yang mudah, tetapi enggan menyingsingkan lengan menjemput lumpur sebelum menuai hasil.

Dimana ya saya dapat menemukan boneka petani, yang dipanggang sinar matahari, terbenam di bawah pematang sawah, harus bersabar dan bersahabat dengan cuaca yang tak terduga-duga, untuk kemudian masih harus berperang dengan tengkulak dan kebijakan ekonomi bernama ‘impor beras’ dan buffer stock?



***

Entah kebetulan atau tidak, di meja ketika saya mengetik tulisan ini, duduk mematung teddy bear berwarna kuning dengan t-shirt merah kepunyaan putri saya. Tatap matanya polos sepolos anak-anak yang selalu tak pernah bisa kita salahkan. Dan memang teddy bear ini tak bersalah. Putri sayajuga tak bersalah pula bila menyukainya karena bentuk dan wajahnya memang imut dan lucu. Saya mungkin yang bersalah. Terlambat memperkenalkannya kepada boneka petani yang berkeringat, dengan bahu yang kokoh dan kebiasaan makan ala kadarnya dan seperlu yang dibutuhkannya. Kebiasaan, semangat dan kebersahajaan yang makin tanggal dari hidup kami sehari-hari. Padahal itu lah tulang punggung rumah tangga kami, yang menyebabkan nasi setiap pagi, siang dan malam, dapat hadir di meja makan kami.

Ciputat, 28 Januari 2007.

1 comment:

  1. wah ito, kalo saya mendingan demen sama teddy bear daripada barbie doll....soalnya barbie doll itu bener2 mengajarkan dunia fashion, dunia glamor, dunia narsis dan konsumtif ke anak2 perempuan...yang saya bilang, agak terlalu dini...dan...gak banyak gunanya....

    dari dulu saya gak terlalu demen sama boneka barbie atau porcelain doll yang cantik2 itu, (padahal gedenya pun tetep konsumtif dan suka boros belanja belenji gak keruan...hahaha..gimana tuh kalo dulu biasa main barbie?????)...mungkin karena takut, karena pernah nonton film horor Child's Play yang super serem itu, dimana boneka mainannya itu ada setannya....

    aduh, kalau ngeliat teddy bear juga bikin salah kaprah...beruang itu gak selucu dan seramah yang sering digambarkan di film2 kartun....aslinya galak, teritorial dan sensitif.... :)

    seneng baca tulisan ini, langsung teringat dengan kamar saya di rumah jaman dulu, dari lemari sampe tempat tidur, penuuuuh aja boneka....tiap ulang taun, selalu ada saja yang ngasih kado boneka...padahal udah gak terlalu doyan...sampe pas gede, pacar2 pun ngasihnya ko bonekaaaa????? nonton aja atau gak dibeliin buku lebih enak kayaknya...ahahahahah

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...