Tuesday, January 09, 2007

Selamat Tahun Baru 2007!

sumber: www.tempo.co.id

Selamat Tahun Baru 2007! Terimakasih untuk yang telah mengucapkan salam dan berkat serupa kepada saya melalui blog ini. Dengan apa saya akan membalasnya, kecuali dengan harapan dan salam yang sama?

Yang menyenangkan dari perayaan Tahun Baru adalah tradisi berbagi optimisme lewat ucapan selamat. Terutama melalui SMS. Seperti bunyi pesan dari Bang Jansen Sinamo, yang melekat di hati saya, walau pun pesan itu sudah sempat terhapus dari memori ponsel saya. Katanya:

2007:
dua modal: iman dan harapan
dua nol: apatisme dan pesimisme
tujuh motivasi: visi, misi,nilai, strategi, rezeki, profesi dan silaturahmi.


Rupanya manusia di mana pun dan di zaman apa pun, adalah manusia yang penuh harapan. Man of hopes.Sekelilingnya boleh saja seolah dengan ganas ingin merenggut harapan itu. Baik oleh berita-berita menyeramkan di televisi. Fenomena alam yang tidak bersahabat. Keadaan ekonomi yang makin menghimpit. Tetapi tiap manusia selalu menyimpan harapan di dalam hatinya. Sekecil apa pun. Ia selalu ada.

Saya bukan tak punya alasan untuk 'memaki-maki' keadaan di tahun 2007 ini. Bahkan banyak sekali alasan untuk itu. Entah untuk alasan sepele, semisal tanggal 2 Januari pagi-pagi sekali saya sudah harus ke pengadilan lalu-lintas di kawasan Ampera Raya Jakarta Selatan, karena dua pekan sebelumnya saya mengendarai motor di jalur yang salah. (Foto sidangnya saya ambil tapi belum sempat mendownloadnya ke blog ini. Lucu deh). Atau budget memperbaiki kamar mandi yang membengkak dua kali lipat dari yang kami anggarkan yang menyebabkan kantong benar-benar kering. Atau yang lebih serius: berita dari kampung halaman tentang keponakan yang mulai bandel dan melawan orang tuanya.

Tetapi kelihatannya selalu ada alasan untuk sebaliknya. Untuk bersyukur. Atau pun kalau bersyukur terlalu luhur kedengarannya, paling tidak kita bisa menghindar dari memaki-maki dengan cara mentertawakan saja kejutan-kejutan dalam hidup. Membawanya jadi guyon untuk meledek diri sendiri. Alangkah lucunya hidup dan alangkah absurdnya yang namanya manusia seperti kita-kita ini. Harus menghadapi satu masalah ke masalah lain, seperti legenda sisiphus yang harus mendorong batu besar ke puncak gunung, untuk kemudian membiarkannya meluncur terjun dan selanjutnya mendorongnya lagi ke atas...

Misalnya, tahun 2007 ini saya sambut dengan sedikit tertawa-tawa dan meledek diri sendiri. Sebab..... ternyata masih ada teman baik yang ingat saya. Lalu menawarkan sebuah 'proyek' yang masih ada kaitannya dengan menulis. Wah, dalam hati saya membatin, tahun 2007 ternyata menawarkan kebaikan-kebaikan tak terduga ya?.

Belum lagi istri saya yang....eh, ternyata hari Minggu kemarin ketiban giliran mendapat arisan RT. Jadi ketutup deh bolong-bolong anggaran menjelang tahun baru kemarin, walau pun dia mewanti-wanti, saya tidak boleh minta bonus apa-apa di atas Rp50.000. Jadinya saya cuma ditraktir makan nasi goreng kepiting di pasar modern BSD plus dua tusuk sate B2. Enak juga.

Juga makin hari saya makin tahu bagaimana menyiasati hidup agar fokus memenuhi 'apa yang kita perlukan', bukan 'apa yang kita mau'. Semisal, saya sudah bisa mengurangi merokok. Kadang-kadang hanya setengah bungkus sehari. Pernah beberapa minggu saya samasekali tidak merokok dan ternyata tidak apa-apa tuh. Saya juga jadi lebih sering sarapan dulu dari rumah, agar tak perlu lagi sarapan di kantor. Hemat paling tidak Rp7.500.

Apakah contoh-contoh ini terlalu remeh-temeh?

Jika iya, maafkan saya. Dan kalau begitu, saya akan menunjukkan contoh yang mudah-mudahan lebih inspiratif. Yakni seseorang yang menurut saya berjiwa negarawan. Saya mewawancarainya tiga tahun lalu, kala ramai-ramainya orang mencalonkan diri jadi Presiden. Beliau ini mencalonkan diri juga. Tetapi jarang sekali kita menemukan tokoh seperti dia, yang tampaknya memandang jabatan kepresidenan (atau jabatan apa pun) sebagai pengabdian. Bukan kekuasaan. Dan, itu dia ucapkan dengan meyakinkannya, sehingga kita benar-benar yakin dia akan melaksanakannya.

Sayang beliau tidak terpilih. Tetapi sekali lagi kita harus bersyukur, bahwa tokoh seperti ini benar-benar ada, masih hidup dan tinggal di Indonesia. Dan jika di tahun ini kita-kita mungkin akan disodori pada aneka pilihan, mari kita yakinkan, bahwa di tahun 2007kita masih menemukan orang seperti beliau. Jangan biarkan orang seperti dia kalah lagi.Tidak perlu apatis terhadap sebuah negara yang bernama Indonesia.

Selamat menikmati wawancara dengan Siswono Yudohusodo berikut ini.


Saya ingin Terpilih dengan Cara yang Baik


Karena kecewa terhadap pemerintahan Megawati, semula Siswono Yudohusodo dan rekan-rekannya memprakarsai pencarian calon-calon presiden di masa depan. Tak dia sangka, ternyata justru banyak yang mencalonkan dirinya. Maka sejak enam bulan lalu, Siswono Yudo Husodo, pendiri dan komisaris utama PT Bangun Tjipta Sarana, serius mempersiapkan diri sebagai calon presiden. Termasuk dengan menganggarkan dana kampanye sebesar Rp127 miliar.


Hari-hari belakangan ini adalah masa paling sibuk bagi Siswono Yudo Husodo, satu dari sekian pengusaha yang terjun dalam perlombaan menuju kursi kepresidenan. Waktunya habis bepergian, berkeliling ke seluruh penjuru Nusantara. Secara terbuka ia telah mengumumkan jumlah dana yang ia siapkan dalam membiayai persiapannya sebagai calon presiden. Total keseluruhan mencapai Rp127 miliar. Dari kocek pribadinya, ia menganggarkan Rp80-an miliar, sisanya sumbangan dari perusahaannya, Bangun Tjipta Sarana dan para pendukungnya. Pada 12 Februari lalu, ia mengadakan malam pengumpulan dana dalam rangka pencalonan dirinya itu. Terkumpul sebesar Rp15,5 miliar.

Meskipun telah menyediakan dana ratusan miliar, kebersahajaan tampaknya tak pernah lekang dari dirinya.Berbeda dengan beberapa calon presiden yang lain yang punya tim besar dan ada yang sampai memiliki pesawat pribadi, Siswono memilih bepergian dengan pesawat reguler. Ia terbiasa didampingi satu atau dua stafnya saja dari 'tim suksesnya.' Sebab, di daerah-daerah ia sudah punya jaringan, yang siap menyambutnya.

Menyebut Siswono sebagai pengusaha saja tentu kurang tepat. Pengalamannya di panggung bisnis sama panjangnya dengan aktivitasnya di panggung politik. Ia pendiri dari kelompok bisnis Bangun Tjipta Sarana, yang terkenal dengan proyek properti dan konstruksinya. Sebagai birokrat, ia dikenang sebagai menteri dua periode di masa pemerintahan Soeharto: menteri perumahan rakyat dan menteri transmigrasi. Sejak mahasiswa ia sudah menjadi aktivis. Semasih kuliah di ITB ia adalah wakil Komando Laskar Soekarno, justru ketika pengganyangan terhadap presiden pertama itu marak. Di MPR, sejak 1982 ia menjadi anggota. Terakhir, pada periode 1999 hingga sekarang, ia hadir sebagai utusan golongan mewakili petani. Maklum, dia adalah ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Jabatan yang pernah dan masih ia sandang di berbagai aktivitas demikian panjang. Mulai dari komisaris utama Bangn Tjipta Sarana, ketua Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila hingga anggota Wali Amanat Institut Pertanian Bogor. Gelar doktor honoris causa di bidang pendidikan telah ia dapatkan pula dari Universitas Negeri Jakarta.

Selama lebih dari satu setengah jam wartawan WartaBisnis, Eben Ezer Siadari dan wartawan foto Alfian Kartim, menungguinya di kantornya, di Gedung Bangun Tjipta Sarana, 27 Februari silam. Ia tergopoh-gopoh menuju lift setelah tiba dari Bandara Soekarno Hatta sehabis berkunjung ke Semarang selama tiga hari. Di ruang tamu telah menunggu sejumlah tamu, antara lain Prof. Dr. Soebroto, rektor Universitas Pancasila. Keramahan dan kebersahajaannya lagi-lagi tak bisa ia sembunyikan. Di gedung itu ternyata ia tak punya lift pribadi, seperti kebanyakan bos perusahaan. Ia tak sungkan berimpit-impit dengan belasan karyawan lain dalam lift, dalam perjalanan bersama WartaBisnis menuju lantai ruang kerjanya. Ia bercanda dengan sesama stafnya. Ia juga mengantarkan setiap tamunya hingga ke pintu lift ketika berpamitan.

Suasana siap tempur tampak di ruang kerjanya yang tak terlalu luas. Sejumlah foto-foto dirinya yang tampaknya baru saja dicetak dan masih dibungkus plastik, dijajarkan rapi di sebuah meja yang besar. Foto-foto itu menunjukkan dirinya pada berbagai pose. Tampaknya itu akan menjadi bahan bagi publikasi dirinya dalam kampanye. Sebuah buku setebal 82 halaman telah ia terbitkan berisi visi, misi dan programnya sebagai calon presiden. Dalam buku berjudul Percepatan Kemajuan Peradaban Bangsa 2004 itu, antara lain ia mencantumkan susunan kabinet yang ia impikan. Terdiri dari tiga Menko, 11 menteri negara, 22 menteri selain tiga pejabat setingkat menteri.

"Tentu menggembirakan bila makin banyak pengusaha yang ingin terjun ke panggung politik. Kemampuan manajerial mau pun entrepreneurial mereka memang bisa menjadi modal yang baik untuk itu," tutur dia, ketika diminta komentar tentang banyaknya pengusaha mencalonkan diri sebagai presiden. Namun, ia juga menggaris bawahi agar sebaiknya pengusaha yang sehat lah yang layak menjadi pemimpin. Maksudnya? "Ya, pengusaha yang tidak bermasalah. Misalnya, aset-asetnya tidak ada yang tersangkut di BPPN," tutur Siswono.

Sepuluh pertanyaan tertulis WartaBisnis ia jawab secara pribadi, diketik oleh stafnya dan ia koreksi dan ia bubuhi tanda tangan. Ia masih pula menyediakan kesempatan menjawab sejumlah pertanyaan WartaBisnis, di sela-sela pemotretan dirinya, padahal sejumlah tamu sudah bersiap menunggunya. Berikut ini petikan wawancara dengan Siswono.


Bisakah Anda ceritakan mengapa tertarik pada perlombaan menjadi Presiden melalui Pemilu nanti?

Siswono Yudo Husodo: Perlu saya klarifikasi bahwa sejak awal saya tidak berambisi menjadi presiden dengan cara mencalonkan diri sendiri. Sikap politik saya bersama banyak kawan-kawan di MPR dari berbagai golongan ketika terjadi kekecewaan kepada pemerintahan Ibu Megawati Soekarno Puteri, adalah meneliti para tokoh nasional untuk mencari seorang calon presiden yang paling mampu dan paling tepat memimpin negara yang amat saya cintai ini. Saya akan mendukung penuh tokoh tersebut walaupun misalnya tokoh tersebut orang yang secara pribadi paling tidak saya sukai.

Dalam upaya mencari tokoh tersebut, tanpa saya perkirakan sebelumnya, saya menerima banyak sekali pernyataan yang disampaikan oleh beragam orang, tokoh nasional, kelompok masyarakat, organisasi sosial kemasyarakatan, beberapa partai politik yang menginginkan saya menjadi Presiden R.I. melalui Pemilu 2004 yang akan datang.

Bisa Anda sebut dari mana saja?


Pernyataan-pernyataan tersebut datang dari berbagai daerah, dari Propinsi NAD, petani-petani di tanah Karo, petani-petani kelapa sawit di Riau, Jambi, tokoh-tokoh masyarakat di Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, seluruh propinsi di Jawa, Bali, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, juga tokoh-tokoh masyarakat di Papua. Sungguh, saya merasa memperoleh kehormatan. Organisasi Sosial Kemasyarakatan yang telah secara terbuka mancalonkan diri saya adalah HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) dan beberapa organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan lokal. Selain itu, SOKSI dan KOSGORO 1957 juga mencalonkan saya untuk ikut menjadi calon presiden melalui konvensi partai Golkar.

Jika dari partai politik, sejauh mana dukungan terhadap Anda?

Sampai saat ini Partai Sarikat Indonesia (PSI) dan Partai Penegak Demokrasi Indonesia (Partai PDI), Partai Politik Peserta Pemilu 2004 secara resmi telah mencalonkan saya sebagai calon presiden. Juga beberapa partai peserta Pemilu 2004 lain yang menominasikan saya sebagai calon presiden di antara calon-calon presiden lainnya seperti PKP Indonesia, PNI Marhaenisme, dan lain-lain. Selain itu, beberapa partai politik yang tidak lulus verifikasi KPU juga mendukung saya sebagai capres, yaitu Partai PDKB, PNI-BK 1927, dan Partai Kongres Pekerja Indonesia (PKPI).

Apa saja yang telah Anda lakukan setelah mengetahui besarnya dukungan itu?


Sebagai seorang Warga Negara biasa, yang kurang dikenal rakyat, saya sungguh menyadari tugas berat yang terbentang di depan saya untuk menjadi seorang calon Presiden, sejak harus memperkenalkan diri pada para pemilih yang jumlahnya lebih dari 140 juta orang yang tersebar di wilayah yang sangat luas; dan terutama tugas berat seorang Presiden untuk dapat memenuhi harapan rakyat, mengatasi berbagai persoalan berat yang sedang dihadapi negara kita.

Saya memandang bahwa ke depan, negara kita membutuhkan hadirnya kepemimpinan nasional yang dari track recordnya telah teruji memiliki kemampuan manajerial yang tinggi baik dalam bidang public administration maupun entrepreneurship disamping syarat-syarat umum tentang ideologi dan moral yang baik. Ke depan, diperlukan tahapan baru yang lebih berwarna managerial, penegakan hukum yang tegas, peningkatan kesejahteraan yang tinggi, dan kehidupan masyarakat yang tertib berdasarkan hukum.

Sikap politik saya dalam menerima pencalonan ini adalah untuk memberikan peluang yang seluas-luasnya pada seluruh rakyat Indonesia agar dapat memberikan pilihannya pada putra terbaik bangsa untuk menjadi Presiden RI melalui Pemilu 2004. Kita mengharapkan agar pada Pemilu Presiden 2004 mendatang, rakyat memiliki kesempatan untuk memilih calon yang merupakan Primus Inter Pares atau calon yang terbaik diantara yang baik-baik.

Pernah terbayang bahwa Anda akan dicalonkan?

Setamat dari ITB pada tahun 1968, saya bekerja siang malam sebagai pengusaha, membangun rumah sederhana, dan berbagai usaha untuk membuka ribuan lapangan kerja untuk rakyat. Sewaktu menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat, membangun ratusan ribu rumah sangat sederhana, meremajakan pemukiman kumuh, perumahan nelayan dan desa-desa, juga untuk rakyat. Sewaktu menjadi Menteri Transmigrasi dan PPH, menyediakan ratusan ribu hektar lahan-lahan pertanian untuk para buruh tani, petani yang tidak memiliki lahan, juga untuk rakyat. Seusai 10 tahun di pemerintahan, bersama kawan-kawan memperjuangkan hak-hak petani yang adil melalui HKTI, juga untuk kepentingan rakyat. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa hal itu, puluhan tahun kemudian membuahkan harapan sebagian rakyat Indonesia untuk mencalonkan saya sebagai calon presiden melalui Pemilu 2004. Bila saya terpilih menjadi Presiden, sekali lagi saya akan bekerja untuk rakyat. Bila saya tidak terpilih, saya akan tetap bekerja untuk rakyat.

Anda tampak sangat membela petani. Bisa Anda jelaskan mengapa?

Pada waktu ini, sebagai negara agraris, dalam arti mayoritas penduduknya petani, angka impor pangan negara kita sangat besar dan cenderung terus meningkat. Sebagai contoh, impor beras lebih kurang 2 juta ton/tahun (terbesar di dunia); impor gula lebih kurang 1,6 juta ton/tahun (no.2 terbesar di dunia); impor kedelai lebih kurang 1,3 juta ton/tahun; impor gandum lebih kurang 4,5 juta ton/tahun; impor jagung lebih kurang 1 juta ton/tahun; dan impor ternak sapi lebih kurang 450.000 ekor/tahun. Dari data tersebut dapat kita lihat betapa pasar pangan amat besar yang kita miliki telah diambil oleh produsen pangan luar negeri.

Guna membangun pertanian, diperlukan insentif berupa harga produk pertanian yang baik. Cara ini ditempuh oleh semua negara yang sukses dalam pertanian seperti Jepang, Thailand, Eropa, Amerika Serikat, dan sebagainya. Dengan harga produk pertanian yang lebih baik, petani dapat hidup lebih sejahtera dan produksi meningkat. Oleh karena jumlah petani kita mencakup sekitar 60% populasi masyarakat Indonesia, maka sejahteranya petani adalah sejahteranya Indonesia. Dengan harga produk pertanian yang baik, tingkat kesejahteraan penduduk desa akan meningkat dan desa-desa kita akan terbangun. Dengan demikian akan terjadi peningkatan permintaan produk barang dan jasa yang signifikan dan industri di perkotaan akan berkembang dengan lebih pesat. Di sisi lain akan terjadi proses diversifikasi pangan yang akan mengurangi ketergantungan kita pada beras.

Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, utang negara yang besar, potensi pertanian yang juga besar, dan seiring dengan pertambahan populasi dunia yang pada gilirannya berdampak pada peningkatan permintaan produk pangan, maka kebijakan pangan negara kita perlu diarahkan pada dua tahap; yaitu pertama mengejar swasembada dan setelah itu kita memasuki tahap menjadi negara eksportir pangan.

Menurut Anda, apa problem utama ekonomi Indonesia dewasa ini dan bagaimana Anda memberi solusinya?

Salah satu hal yang amat memprihatinkan negara kita saat ini adalah tingginya tingkat pengangguran terbuka yang mencapai lebih dari 10 juta tenaga kerja dan bersama dengan setengah menganggur dan pencari kerja berjumlah lebih dari 35 juta tenaga kerja. Bersamaan dengan itu, tingkat ketergantungan negara kita kepada luar negeri juga semakin meningkat; baik ketergantungan dalam membiayai pembangunan negara berupa utang luar negeri yang terus meningkat, maupun ketergantungan pada impor pangan yang juga terus meningkat. Selain itu terjadi pula ketergantungan pada pemenuhan kebutuhan mobil, mesin-mesin produksi, bahan baku industri, dan karya intelektual.

Utang luar negeri negara kita baik oleh pemerintah, BUMN, dan swasta serta utang pemerintah ke dalam negeri telah sedemikian besarnya hingga mencapai 210 miliar dolar AS.

Utang luar negeri negara kita berada pada peringkat enam terbesar di dunia. Dan setiap tahun, utang tersebut terus bertambah, seolah-olah kita telah menjadi negara bangsa yang tidak dapat menjalankan pembangunan tanpa membuat utang baru. Sebagai suatu negara, membuat utang bukanlah hal yang salah, tetapi menjadikan negara tergantung pada utang luar negeri adalah menjerumuskan masa depan bangsa.


Dengan tekad membangun kemandirian bangsa dan setelah memperhitungkan potensi-potensi ekonomi yang dapat digali, ke depan, demi harga diri dan masa depan kita sebagai suatu bangsa, kita perlu mengusahakan agar mulai tahun 2007 utang luar negeri negara kita berkurang dan akhirnya melunasinya dalam waktu 35 tahun yang akan datang.

Kita juga perlu menetapkan dan merencanakan untuk dalam waktu dekat dapat memenuhi sendiri kebutuhan pangan kita dan selanjutnya menjadi negara pengekspor pangan bagi kebutuhan dunia. Misalnya, kalau kekurangan kebutuhan garam yang sekarang dipenuhi dengan impor sebesar lebih dari 1 juta ton per tahun, dipenuhi sendiri dengan fasilitas produksi modern di kawasan timur yang curah hujannya rendah dan kadar garam dilautnya lebih tinggi seperti di NTT, akan membuka lapangan kerja secara langsung paling tidak untuk 100 ribu orang. Hal yang sama berlaku dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Pasar mobil yang cukup besar di negara kita, misalnya, juga feasible untuk membangun dua pabrik mobil besar.

Jika Anda diberi hanya 100 hari untuk membuktikan janji Anda sebagai calon presiden, janji mana yang paling utama Anda prioritaskan?

Tidaklah mungkin membuktikan sesuatu yang nyata berupa perubahan yang signifikan dalam waktu seratus hari. Seratus hari pertama hanya dapat membangunkan keyakinan rakyat tentang harapannya bahwa negara akan semakin menjadi baik. Rakyat yang berpengharapan ini penting karena hanya rakyat yang yakin akan masa depannya sajalah yang akan dapat diajak membangun masa depan negara yang lebih baik. Langkah awal yang penting adalah perluasan penyediaan lapangan kerja dengan memberi insentif –insentif ekonomi kepada kegiatan ekonomi masyarakat yang terkait dengan lapangan kerja yang ada, seperti penyediaan kredit untuk pertanian berbunga rendah, juga KPR untuk rumah sederhana, yang akan mendorong naiknya permintaan yang akan menghidupkan industri-industri rakyat, seperti industri bata, genting, ubin, dan lain-lain.

Bila korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) kini dianggap sebagai masalah besar di Indonesia, bagaimana Anda sebagai pengusaha yang menjadi presiden mengatasinya?
Permasalahan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang melanda bangsa Indonesia sudah sangat serius, dan merupakan kejahatan yang luar biasa yang telah menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kasus-kasus KKN telah menghancurkan bukan saja perekonomian nasional menjadi high cost namun juga merusak tata nilai yang ada di masyarakat.

Oleh karenanya, diperlukan langkah-langkah tegas untuk, Pertama, melakukan penindakan hukum yang tegas dan bersungguh-sungguh terhadap semua kasus korupsi, termasuk korupsi yang telah terjadi di masa lalu, dan bagi mereka yang telah terbukti bersalah dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya.
Kedua, mendorong partisipasi masyarakat luas dalam mengawasi dan melaporkan kepada pihak yang berwenang berbagai dugaan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dilakukan oleh pegawai negeri, penyelenggara negara dan anggota masyarakat.
Ketiga, mencabut, mengubah, atau menangani semua peraturan perundang-undangan serta keputusan-keputusan penyelenggara negara yang berindikasi melindungi atau memungkinkan terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Salah satu masalah yang sangat berat dan masih menjadi beban bagi kehidupan bangsa kita saat ini adalah penanganan masalah KKN yang berlarut-larut. Perlu diambil langkah penindakan yang tegas secara hukum terhadap para pelaku KKN melalui pengadilan. Apabila keputusan pengadilan menyimpulkan bahwa seorang tersangka terbukti melakukan tindak pidana KKN maka seluruh harta hasil KKN disita untuk dikembalikan pada kas negara. Bagi pelaku usaha yang terbukti terlibat KKN, negara akan menyita kekayaan badan usahanya untuk sementara dikelola oleh lembaga pengelola aset sitaan, dan selanjutnya akan dijual kepada publik. Dengan mekanisme demikian, negara menegakkan keadilan namun tetap menjaga kelangsungan usaha yang banyak diantaranya merupakan usaha yang bagus.

KADIN baru-baru ini mencanangkan sikap, forgive but not forget, terhadap KKN. Menurut Anda?

Setiap krisis selalu disertai dengan ketidaktertiban dan ketidakteraturan. Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum beserta perangkat yang ada membuat penerapan sistem hukum di Indonesia tidak n efektif dan menimbulkan tidak adanya jaminan kepastian hukum. Oleh sebab itu, menurut saya kita harus berbicara mengenai penegakan hukum yang adil dulu baru kita berbicara mengenai pengampunan atau tidak terhadap kasus-kasus KKN masa lalu.

Baru-baru ini kami juga mendengar paparan Anda tentang dana kampanye Anda dan sumber-sumbernya. Bolehkah kami tahu bagaimana dana itu dikelola dan untuk kegiatan apa saja telah Anda gunakan?

Upaya untuk memperoleh kepercayaan rakyat menjadi Presiden melalui Pemilu 2004 juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dalam membiayai kegiatan politik yang mahal itu, salah satu gejala negatif di tanah air kita adalah begitu banyaknya pembiayaan politik yang tertutup, tidak transparan, bahkan banyak elit politik yang tidak mengindahkan lagi cara-cara yang halal untuk mencapai tujuan politiknya. Dalam rangka ikut menyehatkan kehidupan politik dan lembaga-lembaga politik di tanah air kita, sumber pembiayaan politik untuk maju menjadi calon presiden ini akan saya lakukan dengan transparan. Saya bersyukur dalam usia saya yang 60 tahun ini, 38 tahun sejak rupiah pertama saya peroleh melalui otak dan keringat saya sendiri, Tuhan telah memberikan rezeki yang cukup yang selama ini tidak saya gunakan untuk berfoya-foya dengan tetap hidup sederhana sesuai martabat saya. Bagian terbesar dari biaya politik yang saya perlukan, berasal dari kantong saya pribadi; dan dijamin uang putih. Saya juga bersyukur perusahaan-perusahaan dalam grup Bangun Tjipta Sarana yang saya miliki di bawah kepemimpinan yang profesional telah tumbuh dan berkembang dengan sehat, tidak jadi pasien BPPN, juga memberikan dukungan finansial untuk memperjuangkan saya menjadi Presiden. Menurut rekan-rekan di Bangun Tjipta Sarana, itu tidak untuk mengharapkan imbalan, tetapi karena meyakini bahwa ke depan negara kita membutuhkan seorang pemimpin yang tidak hanya telah berpengalaman di pemerintahan, tetapi juga memiliki pengalaman bisnis, kemampuan entrepreneurial, dan manajerial, disamping bersih dan memiliki pengalaman politik yang memadai.

Seberapa besar sebenarnya keinginan Anda jadi presiden?

Saya tidak jujur kalau tidak menyatakan ingin menjadi Presiden RI melalui Pemilu 2004 yang akan datang, tetapi lebih dari keinginan itu adalah ingin terpilih menjadi Presiden melalui cara yang baik dan di atas itu semua ingin Indonesia menjadi lebih baik. Apa artinya kedudukan yang demikian tinggi itu, jika tidak mampu membuat keadaan menjadi lebih baik, lebih-lebih kalau tahu ada orang lain yang akan dapat lebih membawa kemajuan bagi bangsa, negara, dan tanah air yang amat saya cintai ini.


(c) wartabisnis dan eben ezer siadari

2 comments:

  1. Nina Mussolini-Hansson11:22 AM

    Ben, titip salam utk Pak Sis. Diam2 gw pengagum berat beliau loh! Ingat gak, gw kan pernah nge-pos di Deptrans, waktu beliau jd menterinya. Hm...sejak itulah gw mengagumi sosok yg merakyat ini.

    Ada 2 hal yg selalu gw kenang dari Pak Sis sampai detik ini:
    1. Waktu buka puasa di Deptrans, gw duduk semeja dg beliau. Gw ternganga lihat beliau ngisapin tulang ayam. Merasa gw pelototin kali ya, terus dia bilang: "Ayo...mbak...dimakan. Yg paling enak dari ayam itu justru tulangnya".

    2. Gw pernah baca wwcr ttg profil dia dia Kompas bbrp tahun silam. Pernyataan dia yg selalu & selalu gw kenang adalah: "Saya sdh berkeliling byk neg, tp Indonesia tetap neg yg plg indah."

    Saat itu gw berfikir, masak sih? soale gw kan blm pernah ke LN, jd gak bs membandingkan. So, sekrg setlh gw hidup di Swedia, he was completely right about our beautiful country. Sayang sekali, byk rakyat Indonesia yg gak menyadarinya sehingga punya kecenderungan merusak drpd membangun negeri kita yg indah. Mungkin memang hrs keluar dulu kayak gw, kali ye...Makanya, saat ini jiwa nasionalisme gw betul2 gede than ever before shg gw bersemangat promosi Indonesia di Swedia, meski voluntair.

    So salam buat Pak Sis klo ketemu.

    ReplyDelete
  2. Dear Nina,

    Trims. Slamat tahun baru ya?
    Aku masih nggak jemu-jemu untuk bilang: tulislah memori-memori yang berharga itu. Aku akan senang membacanya. Dan aku kira nggak akan kalah dengan memoar-memoar orang lain yang sudah lebih dulu ada. Salam buat keluarga ya...
    EES

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...