Wednesday, March 21, 2007

Buah Jatuh tak Jauh dari Pohonnya



Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Itu kata pepatah. Digunakan untuk menggambarkan bahwa sifat-sifat dan nilai-nilai yang dianut oleh orang tua pasti menurun kepada anak-anaknya. Dalam bahasa Batak Toba, ada juga pepatah serupa. “Dang dao tubis sian bona na, molo dao, disarut babi.” Artinya, tak kan jauh rebung dari batang (bambu). Kalau jauh, akan diserobot babi…”

Tatkala dulu saya mulai jadi wartawan, banyak sekali sanak saudara yang melontarkan pepatah itu. Dan, saya mati-matian membantahnya. Mereka mengira saya memilih profesi ini karena ingin mengikuti jejak ayah. Padahal tidak. Di mata saya, ayah tak lebih dari seorang wartawan amatir. Ia menjalankan profesi itu sambilan saja. Nafkahnya yang terutama adalah dari pekerjaannya sebagai guru Sekolah Menengah Pertama di sebuah kota kecamatan bernama Tiga Balata di Sumatera Utara. Dan, saya tidak melihat ada yang perlu dikagumi dari hal itu.


Sekali-dua kali, memang ada juga kenikmatan mengikuti dia bepergian. Misalnya, kala meliput pertandingan sepak bola antar klub kabupaten, kita kerap mendapat tiket gratis dan duduk barisan yang agak di depan. Tetapi saya akan menjadi cemas manakala dia meninggalkan saya dan dia memotret para pemain sepakbola yang akan bermain.

Atau bila ada pesta budaya, ia juga akan dengan senang hati mengajak saya. Dan pengalaman serupa terulang. Ia akan membiarkan saya kesepian di tengah keramaian, duduk sendirian diantara orang-orang yang menyaksikan pesta itu. Sementara dia asyik dengan kameranya atau mewawancarai orang-orang.

Selebihnya, saya tak banyak melihat hal yang menyenangkan dari pekerjaan sambilannya itu. Di rumah ia sering sibuk dengan mesin ketiknya. Kertas-kertas berserak di atas meja. Apalagi dia agak pelupa (sifat ini menurun juga kepada saya). Lupa meletakkan dimana pinsil. Lupa meletakkan dimana catatan-catatannya. Bahkan sering pula lupa menyelipkan karbon (nah, karbon itu penting untuk membuat naskah rangkap) di kertas yang sedang ia ketik.

Ibu sering bercerita dengan nada kesal tiap kali mereka berkunjung ke kampung kerabat entah dimana. Mereka pergi bersama. Tetapi hanya setengah jam saja ayah betah berbincang dengan kerabat yang dikunjungi itu. Selebihnya, ayah sudah menghilang, dan ketika ibu bertanya kesana kemari, akhirnya ia menemukan ayah tengah sibuk mengobrol entah dengan petani, dengan kepala desa, dengan penjaga tanggul air di sawah, entah dengan pedagang sayur, untuk jadi bahan tulisannya.

Saya kira ayah juga tak pernah menyangka saya akan jadi wartawan. Tatkala masih kecil, seingat saya dia tak pernah sekalipun memesankan hal semacam itu. Bahkan memberikan isyarat pun, tidak. Hanya satu kali saja, seingat saya, ia tampak senang ketika saya duduk di kelas V SD dan naskah karangan saya ikut dilombakan ke tingkat kecamatan. Ia membaca karangan saya itu, lalu menyuruh saya menyalin ulang setelah ia menyuntingnya di sana-sini. Naskah itu ternyata tak memenangkan apa pun.

Seperti kebanyakan keluarga guru, dugaan saya, ayah mengharapkan saya mengikuti jejaknya sebagai guru juga. Tentu kalau bisa, lebih tinggi lah dari sekadar guru SD. Kalau bisa jadi guru besar. Mengajar di Perguruan Tinggi. Mungkin juga dia mengharapkan pekerjaan-pekerjaan lain bernada serupa. Semisal menjadi penyuluh pertanian atau penyuluh penerangan. Pokoknya pekerjaan-pekerjaan mapan, yang menyebabkan kita masih dapat menikmati tidur siang sepulang kerja.

Anehnya, walau tak terlalu mengagumi pekerjaannya, saya merasa selalu ingin tahu ayah menulis apa saja. Ayah saya bekerja di sebuah harian yang berkantor pusat di Medan, namanya harian Sinar Pembangunan. Kala itu termasuk lima besar di Sumatera Utara. Kami juga berlangganan koran itu. Tiap kali koran itu hadir di rumah, yang pertama kali saya cari adalah apakah laporan ayah ada termuat di sana. Setelah itu, baru saya membaca headline-nya.

Suatu hari seorang kerabat memberinya sebuah kamera bekas. Ia senang sekali. Dan ia makin tekun mempelajari teknik-teknik memotret. Bukan cuma itu. Ia juga belajar bagaimana memproses film-film hasil jepretannya. Kamar tidurnya bersama ibu ia sulap jadi kamar gelap, menggantungkan klise-klise hasil kerjanya. Dan untuk hal ini saya benar-benar mengagumi ketelatenannya. Foto-foto keluarga hasil buah tangannya sebagian besar jadi dokumentasi berharga. Sampai sekarang untuk hal ini saya harus mengaku kalah kepadanya. Saya samasekali tak bisa berkreasi dengan kamera, bahkan ketika kamera zaman sekarang sudah demikian praktisnya cara kerjanya.



***

Sama seperti wartawan di zamannya, ayah adalah wartawan all round. Apa saja ia tulis. Ia melaporkan tentang jalan-jalan berlubang. Ia menulis tentang peristiwa budaya. Kala lain ia menceritakan tentang panen yang gagal. Juga tidak ketinggalan reportase tentang ketidakberesan pembangun. Tentu, dalam skala kampung.

Salah satu laporannya adalah tentang kampung halaman tempat ia dibesarkan, bernama kampung Hutamula. Dalam laporan itu, ia memberitakan tentang pembangunan jalan yang tak kunjung selesai, padahal, jalan itu dirintis dengan swadaya masyarakat dan mereka telah mengorbankan tenaga selain sawah dan ladang untuk mewujudkan jalan yang lama dinanti-nanti. Ia melaporkannya begini:


…. Keluhan lain dari rakyat Sipolha ialah tentang bangunan jalan sejak tahun 1972 tak kunjung selesai. Bangunan jalan tersebut dimulai dari Kp Hutamula cabang simpang Parapat Simarjarunjung sepanjang 8 Km melalui Lingkungan I, II sampai berakhir di pantai lingkungan III Sipolha sampai kepada lokasi SD Inpres yang jadi persoalan.

Pembuatan jalan tsb atas swadaya rakyat secara gotong-royong dibantu oleh pemerintah dengan pengukuran dan pemberian alat2 seperti cangkul, linggis dll. Untuk pembuatan jalan tersebut setiap orang tenaganya dikorbankan sebanyak 295 hari. Sebenarnya sudah selesai 2/3 bagian hanya memerlukan beberapa bubusan dan jembatan2 kecil serta penggunaan dinamik (maksudnya, dinamit) untuk memecah batu2 yang tak mempan dengan tenaga manusia.

Namun sampai hari ini jalan tsb tak kunjung selesai dan di bagian jalan itu ditumbuhi belukar2. Satu demi satu sponsor penggerak pembangunan jalan ini tak terdengar lagi suaranya. “Kami telah mengorbankan sawah ladang tumbuh2an dan tenaga kami untuk pembuatan jalan itu, namun hasilnya nol,” demikian keluhan masyarakat yang diucapkan salah seorang penduduk dengan nada sedih.”

( Sinar Pembangunan, 28 November 1977)


Tampaknya ia memang memberi perhatian yang besar terhadap keterbelakangan daerah yang disaksikannya. Dan ayah tampaknya punya segudang cara untuk membuat laporan. Jika perlu, menyampaikan kritik secara halus, seperti sebuah tulisannya yang melaporkan kesan-kesannya tatkala membawa murid-muridnya berdarmawisata ke Kabanjahe. Setelah ia menghabiskan beberapa paragraf tentang keindahan alam dan tingkah polah murid-muridnya, ia kemudian melontarkan pengamatannya seperti berikut ini.

Jalan menuju Kabanjahe-Brastagi sungguh bagus tak seperti jalan Siantar-Seribudolok. Dari cetusan omongan rombongan ada mengatakan: “Jago do huroha Bupati ni Kab Karo on bah, sering do haroha mamareksa hu lapangan (artinya: Hebat tampaknya Bupati Kabupaten Karo ini, ia tampaknya sering memeriksa ke lapangan).” Ucapan itu tentu emosionil tanpa penelitian, hanya saja ditautkan dengan pelajaran Civics-Hukum (SMP) di sekolahnya.

Masyarakat Kabanjahe Brastagi nampaknya jelas turut berusaha menarik para turis, rumah2 diberi pagar yg menarik, taman2 bunga mini, hiasan cat rumah yg menarik, di jalanan umum diberi ranjau2 jalan batu2 yg bercat putih menarik. Plangkat2 yg menarik tanpa ada pengrusakan.

(Sniar Pembangunan, 15 November 1977)


Sebuah laporannya yang tak lebih dari dua paragraf dari kunjungan keluarga kami ke Kabanjahe, sebelumnya, juga menunjukkan perhatiannya yang besar akan pembangunan kota. Judul tulisan itu sendiri agak lucu bila dibaca dengan kacamata zaman sekarang: Kaban Jahe Repot dalam Pembangunan.

Dalam suatu kunjungan wartawan Sinar Pembangunan baru2 ini ke kota Kabanjahe nampaknya sedang sibuk dan repot dalam pembangunan al gedong2, jalan2 dan parit. Pada Pusat Kota nampak jalan diperbaiki dan diperlebar dan banyak parit tersumbat. Dilain tempat sedang sibuk dibangun beberapa gedung baik itu swasta dan pemerintah, sementara yang telah ada dan berjaark beberapa puluh meter dari gedung yang satu ke yang lain teristimewa disepanjang jalan ke Brastagi membuat indah dan segar dipandang mata.
(Sinar Pembangunan 16-3-1976)


Tidak selalu hal-hal gawat yang ia laporkan. Minatnya yang sangat besar terhadap budaya, membuat ia kerap juga menurunkan tulisan tentang acara-acara yang menghibur. Diantaranya tampak pada berbagai laporannya tentang peristiwa budaya di kampung kami (Sidamanik). Salah satunya adalah tentang lomba-lomba dalam pekan kesenian Batak Simalungun. Ayah masih sempat-sempatnya menerangkan sejumlah jenis makanan khas Simalungun yang dilombakan kala itu.

…. Tentang makanan adat bernama: dayok na binatur dan itak, dimana makanan itu dahulu yang disodorkan kepada raja atau yang terhormat yg diperbuat dari seekor ayam. Disini nampak bahwa makanan dari ayam yg khusus di Simalungun mengambil peranan penting dan perlu diketahui para generasi muda terutama dari suku Simalungun untuk dapat dikembangkan. Mengenai makanan itak yg dijadikan dari tepung beras terbuat dari tepung dengan bumbu lainnya yang diperuntukkan untuk para panglima sebagai makanan kesayangannya untuk pergi berperang.
(Sinar Pembangunan, 9 Juni 1977)



Ada lagi satu tulisannya yang menurut saya menarik bila menyimak judulnya: SIDAMANIK SEMALAM SUNTUK DIBAWA KE P. JAWA. Dalam tulisan ini, ia menceritakan pelantikan pengurus BKKJ (Tidak ia sebutkan apa kepanjangan dari BKKJ itu. Dugaan saya adalah Badan Kerukunan Keluarga Jawa) di daerah kami. Kepengurusan BKKJ itu melibatkan seluruh komponen Pemerintah dan masyarakat. Dilengkapi pula dengan seksi-seksi wayang, ludruk, reog dan karawitan. Selanjutnya, ia melaporkan sbb:

Setelah acara kata2 sambutan, telah pula dimunculkan kesenian Jawa dengan lagu2 Jawa hingga hadirin bagai di tepi Bengawan Solo, dengan penyanyi-penyanyi wanita yang setengah umur. Kemudian dilanjutkan dengan tari kiprah yang dibawakan Mbak Mini dan Kifaah. Sedang tari bambangan dibawakan Mbok Mangun (sebagai Arjuna) dan Cakil dpegang Taris.
(Sinar Pembangunan, 26 Januari 1977)


Seumur hidupnya ayah belum pernah melihat Bengawan Solo. Ia juga setahu saya belum pernah membaca kisah-kisah dari epik Mahabrata mau pun Ramayana. Jadi imajinasinya menuliskan laporan ini, dugaan saya adalah bersumber dari pengetahuan awamnya yang secukupnya saja tentang budaya Jawa yang tak banyak dikenalnya itu. Namun, mengingat tulisan ini dimunculkan pada tahun 1977, di sebuah desa orang-orang Batak di Sumatera Utara, saya benar-benar dapat merasakan betapa semaraknya suasana pluralitas di kampung kami itu. Plus, betapa lucunya ayah yang orang Batak totok itu berada di lingkungan budayawan Jawa.

Sekali-dua kali ayah menulis artikel opini tentang budaya Batak yang dikuasainya agak mendalam. Salah satu tulisannya yang ia banggakan adalah mengenai rumpun marga Parna. Ia bangga karena tulisannya itu mengundang polemik dan salah satu yang memberi tanggapan sekaligus membantah argumen-argumen ayah adalah Drs. S.S. Sidabutar, kepala sub bidang sarana kebudayaan Kanwil Departemen P dan K Sumut. Sidabutar menulis sbb:

Setelah membaca harian Sinar Pembangunan tanggal 17 dan 18 Januari 1977 masing2 halaman III, di sana ada beberapa pon yang perlu ditanggapi sesuai dengan permintaan sdr. W. Siadari BA (ayah saya, red).
Sinar Pembangunan, 25 Januari 1977


Walau dalam polemik itu ayah tampaknya ‘kalah’, ia bangga karena yang mendebatnya adalah seorang pejabat berwewenang yang cukup tinggi. Tentu lah seorang guru SMP dengan golongan secukupnya seperti ayah, demikian gembira mendapatkan tantangan dari lawan yang satu level di atasnya. Bahwa ia kalah, tak terlalu ia persoalkan betul.

Laporan-laporan lainnya yang sangat membekas adalah reportase ayah dan kawan-kawannya yang bersifat setengah investigasi tentang meninggalnya Hasiangan Simanjuntak, wartawan Sinar Pembangunan yang oleh ayah, dianggapnya sebagai kakak sekaligus mentornya. Berhari-hari laporannya tentang tewasnya wartawan senior itu menghiasi koran tempatnya bekerja.

Hasiangan Simanjuntak meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan ketika ia menaiki sepeda motor. Anehnya, sepeda motornya tidak terlalu rusak. Dan, karena Hasiangan diketahui sedang mengerjakan pemberitaan yang menyerempet-nyerempet bahaya, ada dugaan kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa.

Ayah makin merasa bersalah karena sehari sebelum meninggal, almarhum Hasiangan meminta foto yang pernah dijanjikan ayah untuk mendukung cerita yang akan dituliskan Hasiangan. Kala itu ayah menolak karena ia merasa foto itu terlalu berbahaya. Hasiangan marah dan berkata, “Sudahlah, kalau kau tidak berikan, inilah menjadi perpisahan kita. Mulai hari ini kita berpisah.” (Sinar Pembangunan, Kamis 5 Januari 1978).

Ayah tak terlalu menggubris pernyataan Hasiangan itu karena almarhum memang sering bergurau dengan humor-homor kering semacam itu. Dalam cerita obituarinya tentang Hasiangan, ayah menulis begini:

Penulis hanya senyum karena sudah kebiasaan Hasiangan selalu humor dan ianya berkata2 itu selalu seakan2 serius, tak tampak yang dibuat2 hingga penulis tak menanggapi secara serius. Lagi Hasiangan satunya teman saling tukar pikiran menurunkan berita.
(Sinar Pembangunan, Kamis 5 Januari 1978)


Tak dinyana, itulah percakapan terakhir ayah dengan orang yang diidolakannya itu. Maka siapa pun yang membaca beberapa tulisan-tulisan ayah tentang Hasiangan (beberapa hari setelah meninggalnya almarhum) pasti dapat menangkap suasana emosional ketika ia menuliskannya. Dan pada akhirnya, ayah tak kuasa menahan diri untuk menulis dengan sedikit berkhotbah, mengembalikan masalah kepada Dia yang maha kuasa.

Hasiangan yang lebih dahulu meninggalkan kita dipanggil Tuhan tepat dalam situasi Natal ada persamaan bahwa Hasiangan anak tunggal meninggal setelah berbuat amal dan kebajikannya di dunia ini. Natal adalah peringatan lahirnya Jesus anak tunggal Allah diutus ke bumi dan mati demi menebus dosa manusia. Suatu titian ingatan kita untuk mendekatkan kita kepada Tuhan.
(Sinar Pembangunan, 27 Desember 1977)



***

Kenapa saya harus menceritakan semua ini?

Pemicunya hanya soal kecil. Dari sekolahnya putri saya mendapat pekerjaan rumah untuk mencatat apa saja yang dikerjakan ayahnya di rumah di kala libur. Di lembar kerja buku tulisnya, ia menulis: mengetik, membakar sampah, membaca, mengetik, membabat rumput, mengetik lagi…

Baginya mungkin mengetik itu adalah sebuah pekerjaan. Apalagi beberapa kali dia saya bawa ke tempat saya bekerja, makin yakin lah dia bahwa pekerjaan saya memang membaca dan mengetik. Ketika dia mencoba duduk di kursi di belakang meja kerja saya, wajahnya langsung tereskpos kepada komputer tua yang jadi teman saya sehari-hari. “Nggak beda dengan yang di rumah,” kata dia.

Barangkali saya memang harus lebih kreatif lagi memperkenalkan pekerjaan saya kepadanya. Saya ingat ketika mewawancarai Pak Ciputra tempo hari. Menurut cerita beliau, tatkala anak-anaknya masih kecil, di hari libur ia sering membawa mereka ke proyek-proyek yang ditanganinya. Itu lah cara beliau memperkenalkan dunia kerja, sekaligus dunia yang digelutinya kepada anak-anaknya. Dan, putra-putri beliau sejauh yang saya lihat, menghayati nilai-nilai kewirausahaan yang diperkenalkannya itu.

Sekarang saya ingat. Ayah juga mungkin bermaksud serupa ketika dulu, suatu hari, ia juga mengajak saya, seperti biasa duduk di belakang sepeda motornya. Ia meminta saya mengenakan baju yang terbaik yang pernah saya punya. Dan itu adalah baju safari kanak-kanak, berkantong empat, sementara celana panjangnya berwarna dan bercorak serupa dengan baju itu. Hanya pada hari-hari ‘keramat’ saja saya boleh memakai setelan ini, yakni ketika ulang tahun, pada perayaan besar di gereja, Natal dan Tahun Baru.

Kami pun berangkat, yang ternyata tujuannya kali ini adalah sebuah kantor pejabat. Kemudian kami masuk ke dalam sebuah ruangan dan tak lama kemudian, sang Pejabat menemui ayah. Mereka berbincang, mengobrol, lalu kemudian tiba ke bagian ‘inti’ dari pertemuan itu. Ayah mewawancarai Pak Pejabat. Ayah mengeluarkan bolpoin dan blocknote kecilnya. Sambil Pak Pejabat bercerita, ayah mencatatnya di buku kecil itu.

Diam-diam saya mulai merasa tertarik dengan gaya menulis di blocknote kecil itu. Apalagi ketika saya mengintip, saya samasekali tak bisa membaca catatan ayah. Kelihatannya huruf-huruf yang dituliskannya mirip tulisan cakar-ayam, dicorat-coretkan demikian cepat. Seringkali ayah tak mengarahkan perhatiannya ke blocknote-nya itu, melainkan ke wajah si Pak Pejabat. Namun tangannya tak pernah berhenti menulis.

Sayangnya, satu ‘kecelakaan kecil’ terjadi saat wawancara berlangsung. Ketika ayah asyik melakukan wawancara, saya mengarahkan pandangan ke seantero ruangan Pak Pejabat. Saya takjub pada banyaknya foto-foto yang bergantungan di dindingnya. Lalu karena merasa wawancara akan berlangsung lama, saya bangkit dari tempat duduk. Maksud saya ingin berkeliling ruangan yang tidak terlalu besar itu untuk melihat foto-foto yang menggantung. Eh, apa daya kaki saya terantuk pada kaki meja di hadapan. Meja itu bergoyang, membuat tiga gelas kopi susu yang baru dihidangkan, jatuh dan isinya tumpah membasahi permukaan meja. Beberapa lembar kertas diatasnya ikut basah. Wawancara itu sempat terhenti sebentar. Ayah saya merah wajahnya. Ia tampaknya malu dan meminta maaf kepada Pak Pejabat. Tetapi saya cukup senang dapat melihat sebagian dari cara kerja ayah.

Di rumah, kala ayah sedang libur dan ketika pekerjaan di ladang sudah beres, ayah rajin membuat kliping-kliping tulisannya. Duduk menggelesot di lantai, ia akan mengenakan ‘baju kebesarannya’ . Yakni celana pendek dengan kaos dalam berwarna putih dengan merek Swan (anehnya, sekarang saya juga keranjingan dengan kaos dalam seperti itu).Koran-koran selama seminggu ditumpuk di atas lantai. Kami berdua, kadang-kadang ditemani adik-adik yang masih kecil, ikut membantunya membuka satu per satu koran itu. Lalu digunting-gunting. Guntingan itu ditempelkan ke lembaran karton untuk kemudian disusun lagi membentuk sebuah album berisi tulisan-tulisannya. Sambil begitu, saya kembali lagi membaca satu per satu tulisan itu. Sebagian saya mengerti. Lebih banyak lagi yang tak saya pahami.

Sambil membuat kliping demikian, ayah melontarkan komentar-komentarnya tentang tulisan mau pun foto yang terpampang di koran-koran itu. Kliping-klipingnya ayah simpan dengan rapi di dalam lemari kami yang fungsinya serbaguna: ya tempat pakaian ayah-ibu, tempat menyimpan dokumen-dokumen penting dan juga tempat menyimpan kliping-klipingnya itu. Sejumlah kliping bahkan ia bungkus dengan plastik. Semuanya ditaruh pada bagian paling bawah lemari.

***

Suatu hari, dua tahun lalu, di kampung halaman ketika saya dan anak-istri pulang kampung, tiba-tiba saja saya teringat pada kliping-kliping ayah. “Aku ingin melihat bagaimana tulisan-tulisan ayah ketika jadi wartawan tempo hari.” Kata saya, ketika kami duduk-duduk menikmati ubi jalar rebus, sore hari.

Agak malas-malasan ia mendengarkan permintaan saya. Tetapi ia beranjak juga menuju lemari tua di sudut ruang tamu. Sambil begitu ia menjelaskan bahwa sebagian besar kliping-klipingnya dahulu dia berikan kepada seorang kerabat. Kerabat tersebut konon ingin jadi wartawan dan ingin mempelajari kliping-kliping ayah. Lalu bolehlah ditebak, kliping-kliping itu tidak pernah kembali lagi…

Dari lemari tua itu akhirnya dia keluarkan juga beberapa kliping yang tersisa. Tidak banyak. Ada kira-kira 20 judul tulisan. Warnanya sudah coklat tua. Namun foto hitam putih yang menjelaskan setiap suasana masih tampak tajam. Khas foto-foto hasil jepretan ayah yang saya kagumi.

***
Sabtu, 17 Maret 2007
Sambil sesekali tersentak menyaksikan Manchester United menghabisi Bolton Wanderer secara telak, 4-1, saya menyimak dengan agak serius kliping-kliping ayah. Sejak saya bawa dari kampung halaman tempo hari, baru lah kali ini saya punya waktu memelototinya. Dan, dari membaca cara-cara ayah menulis, dari melihat bagaimana fanatiknya ia pada kampung halamannya, berikut sifat sok pahlawannya dalam membela yang ia anggap lemah, dari gaya noraknya dalam melaporkan apa yang sebetulnya yang ia tidak pahami, saya justru makin melihat diri saya, yang norak dan sok tahunya mungkin ada juga yang merupakan titisan ayah. Dan agaknya saya harus mengaku. Bahwa mungkin benar kata pepatah itu. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Ciputat, 17 Maret 2007

4 comments:

  1. Oh.. ceritanya menyentuh sekali. Aku jadi rindu ayahku...

    ReplyDelete
  2. Anonymous11:22 AM

    Hebat..

    ReplyDelete
  3. mengharukan sekali.. sy jd bangga sama ayah

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...