Thursday, March 08, 2007

Mengheningkan Cipta untuk Nanas Sidamanik




Selain memperkenalkan diri sebagai orang Sarimatondang, kawan-kawan sekampung saya acap kali, atau bahkan lebih sering, menyebut dirinya orang Sidamanik. Dalam bahasa orang sono, disebut Par-Sidamanik. Dan, ini tidak perlu diherankan. Sebab Sidamanik adalah nama wilayah kecamatan yang menaungi Sarimatondang, desa tempat kelahiran saya itu. Mungkin hampir sama kasusnya bila ada yang bertanya kepada saya sekarang dimana saya tinggal. Saya akan lebih praktis untuk menyebut tinggal di Ciputat, ketimbang harus lebih rinci mengatakan di desa Sarua. Orang akan lebih cepat merasa nyambung mendengar nama Ciputat, walau pun sebetulnya, Sarua adalah tempat persisnya lokasi perumahan yang kami tinggali.

Nah, hubungan Sarimatondang dan Sidamanik pun begitu.

Dulu sekali, di era tahun 1970-an di zaman ketika saya masih Sekolah Dasar, Sidamanik terkenal dengan buah nanasnya yang besar-besar dan manis-manis. Sampai-sampai ada pantun dalam lagu yang menggambarkannya. Dalam Bahasa Batak Toba, bunyinya begini:

Sidamanik parhonasan do
Boru Manik Nappunasa do

Artinya,
Sidamanik kebun nenas lho,
(perempuan) marga damanik lho yang punya…


Memang tak berlebihan lagu itu. Di Sidamanik tempo hari kita memang dengan mudah menemukan ladang kering (lawan dari sawah) yang dijadikan kebun nanas. Cukup luas kebun-kebun itu. Biasanya rumpun-rumpun nanas ditanam berbaris di pinggiran ladang, sementara di tengahnya ditanami cengkeh atau kopi.

Begitu populernya Sidamanik sebagai penghasil nanas sehingga bila di sekolah ada pelajaran berhitung, Ibu Guru pasti mengambil nanas sebagai ilustrasinya. “Anak-anak, satu nanas ditambah dua nanas, ada berapa nanas....?” begitu kira-kira. Bila tiba pelajaran menggambar, nanas adalah objek gambar yang banyak dipilih.

Sanak saudara yang berkunjung ke kampung kami, pulangnya pasti dibekali dengan nanas. Dan mereka memang tak malu-malu meminta dioleh-olehi buah eksotik itu. Idem dito dengan perantau Sidamanik yang pulang ke kampung kami, yang pertama mereka cari pasti lah nanas. Belum sampai rasanya mereka di tanah kelahirannya jika belum mencicipi buah dengan rasa manis-asam-tajam itu.

Anak-anak SMA dari kampung kami yang bersekolah di P. Siantar, kota kabupaten yang berjarak lebih kurang 25 km dari kampung kami, pasti pula setiap akhir pekan membawakan nanas sebagai buah tangannya ke tempat kosnya. Soalnya, kawan-kawan mereka di P. Siantar memang sudah keranjingan dengan nanas Sidamanik. Sebaliknya, manakala tiba waktunya perayaan 17 Agustusan, ketika banyak pelajar dari desa-desa lain datang ke kampung kami untuk berpawai atau bertanding sepak bola, mereka juga pasti lah tidak sabaran untuk segera diajak ‘menjenguk’ ladang. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk berpesta nanas di sana.

Pemandangan yang lebih seru adalah pada pesta-pesta gereja. Pada kesempatan demikian, orang-orang lazimnya membawa siluah, kata lain dari buah tangan. Buah tangan itu nanti diuangkan melalui lelang sebagai sumbangan untuk gereja. Dan, dengan gampang dapat ditebak, buah tangan yang paling banyak adalah nanas, disamping hasil bumi lainnya, seperti bersisir-sisir pisang, nangka, durian dan sejenisnya.



***

Di rumah kami di Sarimatondang, nanas hampir dapat disebutkan sebagai makanan sehari-hari. Kami tak punya kebun nanas, tetapi kakek (dari ibu), punya. Diantaranya di kebun belakang rumah yang tidak terlalu luas. Macam-macam cara kami memakan nanas itu. Yang paling mudah tentu lah mengupas dan memotong-motongnya lalu melahapnya begitu saja. Herannya, diantara anak-anak seperti kami, bagian yang paling diperebutkan justru bukan daging nanasnya. Melainkan tongkolnya yang paling tengah, yang keras dan agak kering. Nikmat rasanya jika berhasil mendapatkannya untuk dikerat begitu saja.

Kalau sore-sore hujan turun sehingga ada alasan untuk tinggal di rumah dan terhindar dari kewajiban bekerja di ladang, seringkali ide-ide kreatif muncul. Anak-anak perempuan biasanya saling bertukar informasi perihal apa saja yang persediaan di dapur masing-masing. Dengan cepat terjadi pembagian kontribusi. Si A menyumbang gula aren. Si B menyumbang minyak goreng. Si C menyumbang cabai dan bawang. Si D menyumbang kacang. Si E menyumbang nenas. Dan, tak berapa lama, mereka sudah asyik menumbuk bumbu untuk rujak nanas. Satu sore yang membosankan pun lewat sudah dengan santapan yang sering kali membuat air mata bercucuran karena lidah tersengat rasa pedas tak terkira-kira….

Gulai nanas (saya tidak yakin apakah penamaan ini tepat) juga sudah saya kenal tatkala saya masih Sekolah Dasar. Itu adalah semacam sayuran berkuah terdiri dari potongan-potongan nanas matang yang dimasak. Di rumah kami, gulai nanas itu menjadi bagian dari hidangan manakala ada syukuran kecil-kecilan. Rasanya manis, seperti bumbu asam-manis pada masakan sea food di Jakarta ini. Cocok juga dijadikan pendamping dari gulai ayam atau ayam panggang.

Yang paling aneh adalah kakek (sekarang sudah almarhum). Dia itu di masa mudanya pernah jadi ‘tentara’ Heiho sebelum bergabung dengan republik. Konon, dia sudah pernah berkeliling seantero Indonesia dengan kapal laut dalam rangka tugasnya. (Nama salah seorang putrinya diambilnya dari nama sebuah pulau di kawasan Indonesia Timur). Karena itu lah, dia sering sekali terkenang-kenang pada makanan kalengan ketika di kapal, termasuk nanas yang diawetkan dalam kaleng. Untuk mengingat-ingat ‘zaman kejayaannya’ itu, tatkala kami makan siang di ladang, kakek sering kali meminta dikupaskan nenas. Nanas itu menjadi bagian dari makan siangnya. Sepotong nanas dan sesuap nasi, dengan nikmatnya dia masukkan ke mulutnya. Setidaknya begitu lah kesan yang saya lihat. Akan halnya saya sendiri, sampai sekarang belum dapat saya temukan dimana kenikmatan makan nasi campur nanas.



***
Begitulah, nanas menjadi bagian hidup orang Sidamanik sehari-hari. Nanas dan kebun nenas jadi semacam ikon juga bagi kampung yang kala itu belum terekspos begitu rupa dengan kehidupan modern seperti sekarang. Televisi kala itu masih sporadis, aliran listrik masih berupa genset partikelir yang hanya beroperasi malam hari. Frekuensi angkutan umum ke kota juga masih seperti jadwal makan obat, tiga atau empat kali sehari. Jangan tanya lagi tentang teknologi pertanian. Semuanya masih dikerjakan secara tradisional.

Memang sih, tak jauh dari kampung kami, ada perkebunan teh yang luas lengkap dengan pabriknya yang menghasilkan bubuk teh yang konon terkenal sampai ke ujung dunia. Tetapi perkebunan itu tak ubahnya pulau tersendiri yang tak banyak bersentuhan dengan kehidupan kami. Perkebunan itu adalah dunianya para ‘tuan-tuan’ yang hanya bisa kami pandangi dengan nada minder, seraya dalam hati mengguman, “Awas ya, lihat saja nanti kalau aku sudah besar, kalau aku sudah sekolah tinggi-tinggi. Aku nanti yang akan jadi direktur utama di situ.” Gumaman yang sampai sekarang tinggal ilusi sebab ternyata memang susah betul menembus tembok birokrasi perkebunan itu (dan saya dengar-dengar, perkebunan di mana pun begitu) yang sudah mapan sejak zaman Belanda dulu. (Puspawarna nostalgia tentang kebun teh kapan-kapan akan saya ceritakan, sabar ya…)

Dengan demikian, nanas dan kebun nanas berguna juga sebagai identitas otentik bagi Sidamanik, mengimbangi identitasnya sebagai daerah perkebunan teh yang bagi kami seolah jadi tempelan belaka. Jika, misalnya, orang bertanya kepada saya waktu itu tentang Sidamanik sebagai penghasil teh, cerita saya mungkin akan berhenti sampai dua atau tiga paragraf saja. Sebab tidak banyak yang saya tahu tentang itu. Yang saya lihat hanya lah tetek-bengek di seputar bagaimana para wanita buruh pemetik teh bekerja dengan topi lebarnya dipanggang terik matahari, sementara sang mandor yang sangat ditakuti mengawasi dari jauh, benar-benar jauh dari nuansa romantis yang digambarkan lagu-lagu Franky Sahilatua tentang hidup di perkebunan teh. Ini berbeda dengan jika orang bertanya tentang nenas dan kebun nanas. Saya akan selalu punya semangat untuk menceritakannya, bisa saya buat melebar-lebar seperti martabak telor yang dari secuil menjadi sebelanga, walau pun cerita saya mungkin itu-itu belaka.

Kebun nanas bagi banyak orang Sidamanik kala itu, juga adalah pusat aktivitas. Para petani membenamkan dirinya di ladang sejak pagi hingga sore. Anak-anak sebaya saya, hari-harinya dihabiskan di ladang sepulang sekolah. Ada-ada saja yang dikerjakan di sana. Seperti yang saya katakan tadi, ladang itu tidak sepenuhnya ditanami nanas. Sebagian lagi ditanami dengan tanaman lain sehingga banyak sekali pekerjaan berberes-beres. Uniknya, walau ladang itu ditanami apa saja, julukan untuknya tetap saja kebun nanas, ladang nanas, atau dalam bahasa Batak, Juma Honas.

Sebagai pusat aktivitas, kebun nanas punya banyak cerita. Kalau saya dengar-dengaran pada cerita-cerita para senior saya waktu itu, kebun nanas kerap mereka jadikan sebagai tempat rekreasi dan kencan. Misalnya, anak-anak remaja kampung kami yang bersekolah di kota, sudah lazim jika hari Sabtu mereka pulang kampung. Keesokan harinya kalau mereka ketemu pacar, cukup sering jika kencan dilangsungkan di kebun nanas. Sambil melahap satu-dua potong nanas, mengalir lah rayuan paling gombal sedunia. Sayang, belum ada survei tentang berapa banyak sudah rumah tangga bahagia di kampung kami yang berawal dari kencan di kebun nanas. Saya kira jumlahnya cukup banyak juga.

Juga kalau musim liburan. Ada-ada saja teman-teman sekolah dari kota datang berkunjung ke Sidamanik. Nah, apalagi hiburan yang bisa kami sediakan kecuali mengajak mereka ke kebun nanas. Anehnya, orang tua kami dengan bangganya pula membiarkan kami berpesta-pora nenas bila tiba waktu-waktu semacam itu. Padahal kalau hari-hari biasa, nanas betul-betul diperlakukan sebagai komoditas ekonomi. Hanya boleh dimakan seperlunya.

Jangan bayangkan jika ladang-ladang nanas di kampung kami ditata ala kebun yang rapih, lengkap dengan pagarnya. Tidak. Satu ladang dengan ladang lain kerap hanya dibatasi oleh semak-semak belaka. Juga dari jalan setapak, ladang nanas itu cukup gampang terjangkau sehingga dengan sekali lompatan saja kita sudah berada di tengah kebun nanas.

Tidak mengherankan jika ada saja orang yang iseng dan tergoda mengambil nanas tanpa bilang-bilang kepada yang punya. Atau pun kalau bilang, hanya sekadar formalitas belaka. Sambil melewati ladang itu, dipetiknya sebuah nanas, lalu berkata seolah-olah si empunya kebun berada di situ (padahal tidak). “Nanasmu kuambil satu ya….”. Dan, sudah, begitu saja. Nanas itu berpindah tangan dan orang yang mengambil itu sudah merasa aman dari tuduhan mencuri.

Meskipun demikian, ada juga mitos (sebab saya sendiri belum pernah membuktikannya) tentang orang yang terperangkap dan tidak tahu jalan pulang ketika mencuri nanas. Konon ada sekelompok orang yang makan nenas sepuas-puasnya di kebun nanas yang bukan milik mereka. Begitu asyiknya sehingga mereka seharian hanya berputar-putar di ladang nanas itu sebab mengalami disorientasi, tak tahu jalan kembali. Konon pula, orang Sidamanik punya ‘ilmu’ yang membuat orang yang ‘panjang tangan’ pasti akan kena batunya. Kalau pun bisa lolos dari jeratan semacam itu, paling tidak perutnya akan sakit tak terkira-kira jika makan nanas tak bilang-bilang kepada yang punya.

Saya benar-benar tak percaya pada cerita itu. Lebih tepatnya, saya tak percaya akan adanya ilmu semacam itu. Pengalaman saya di ladang kakek, sering juga saya melihat nanas sudah dipetik orang lain tidak pada waktunya tetapi tetap saja kasus pencurian itu tidak meninggalkan bekas berupa orang yang terperangkap tak bisa pulang. Dan, seandainya pun hal semacam itu pernah ada, dugaan saya bukan lah karena terkena ‘ilmu.’ Dugaan saya simpel saja. Seseorang sampai nekad mencuri nanas banyak-banyak dan memakannya di tempat itu, pasti lah karena ia lapar. Dan, wajar, bukan, jika seseorang bakal linglung, muntah-muntah, buang air terbirit-birit bila dengan perut lapar lantas ‘membantai’ nanas lima sampai enam biji? Itu sebabnya, kakek dan ibu saya selalu punya hukum yang tak bisa dilanggar (tetapi sekali dua kali kami langgar juga), yakni makan nanas jangan ketika perut kosong.

Jadi, samasekali bukan karena ada ilmu hitam atau ilmu putih.



***
Bagian paling menyedihkan tentang cerita kebun nanas adalah bila menyinggungnya sebagai penyangga ekonomi petaninya. Di zaman sebelum saya, pernah memang terdengar tentang kejayaan kebun nanas sebagai penyokong hidup yang andal. Kita masih kerap mendengar orang yang berkata, “Saya ini bisa berhasil, karena disekolahkan nanas lho…” Tetapi di zaman saya, nanas sebagai komoditas ekonomi mulai menunjukkan tanda-tanda meredup.

Jika panen tiba, nanas-nanas itu dionggokkan di depan rumah, menggunung hingga setinggi bocah siswa sekolah dasar. Tetapi si empunya akan melihatnya dengan harap-harap cemas. Sebab dalam hatinya ia bertanya-tanya, berapa kira-kira sang tengkulak akan menghargainya. Sebagaimana permasalahan dalam komoditas pertanian pada umumnya, nanas itu begitu melimpah di musim panen, sementara industri yang menjadi penampungnya belum banyak kala itu. Seingat saya, nanas ketika itu terutama hanya dijadikan bahan baku untuk pembuatan sirup yang konon pabrik pengolahannya hanya bisa dihitung dengan jari di P. Siantar.

Dan, ketika sang tengkulak datang, ceritanya juga selalu itu-itu saja, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang. Bahwa harga nanas lagi merosot. Pabrik pengolahannya lagi rusak. Jadi tidak bisa beli banyak-banyak. Kalau pun mau beli, harganya tidak seperti yang dulu-dulu. (Padahal harga yang dulu-dulu itu juga tidak tinggi-tinggi amat). Dan jika sudah terjadi cerita saling memelas seperti itu, luluh juga lah hati si empunya nanas. Terjual pula lah nanas itu dengan harga seadanya.

Jangan bayangkan jika nanas itu dijual dalam hitungan kilogram, seperti yang bisa kita jumpai di supermarket di Jakarta. Nanas-nanas itu dibeli oleh sang tengkulak dengan hitungan butir. Semuanya disamaratakan begitu saja. Yang besar, yang kecil, yang ranum, yang setengah ranum, harganya sama. Semua nanas itu kemudian dimasukkan ke dalam karung, setelah masing-masing ‘mahkota’nya berupa daun-daun lancip yang mengembang itu dicopot satu per satu.

Lagipula para petani itu akan cemas bila nanasnya yang bertumpuk tak laku-laku. Akan dikemanakan itu bila nanti membusuk? Sekarung dua karung dapat lah dilego di pasar yang hanya buka pada Jum’at dan Minggu. Tetapi kalau sudah berpuluh-puluh karung, seberapa sanggup perekonomian Sidamanik dapat menampungnya?

Nenek saya (juga sudah almarhum) sering saya lihat termenung-menung manakala dia menyaksikan sang tengkulak memuat nanas-nanasnya ke dalam truk. Mungkin ia membayangkan bagaimana repotnya merawat kebun nanasnya itu. Bayangkan saja. Nanas-nanas itu harus rutin disiangi. Dan, menyianginya adalah salah satu pekerjaan yang paling tidak disukai orang, termasuk saya, tetapi harus dikerjakan. Kita harus mencangkul di sela-sela rumpun nenas yang berduri. Walau kita sudah mengenakan celana panjang dan baju berlengan panjang, duri dari daun nanas itu tetap saja bisa menembusnya.

Yang paling menyebalkan adalah bila menyiangi nanas manakala setelah hujan reda. Wah, kita kerap merasa jadi orang paling sial di dunia. Kaki berlumpur, sementara daun nanas yang berduri tak kenal kompromi menusuk kulit kaki dan tangan. Pada saat yang sama, tetesan air yang masih menempel di daun itu, mengalir pula ke bekas luka akibat tusukan duri. Perih dan bikin senewen…Tetapi harus terus dilakoni.

Puncak kesedihan nenek saya yang samar-samar sampai sekarang masih saya ingat adalah ketika suatu malam Pak Tengkulak dari Pematang Siantar datang dengan metode baru dalam membeli nanas. Kala itu, para petani nanas sudah mengonggokkan nanas-nanas mereka di depan rumah masing-masing. Semuanya sudah siap mendengar apa yang akan dikatakan Pak Tengkulak. Dan, ternyata, lagi-lagi kabar yang tidak menyenangkan. Bersama dia, sang tengkulak membawa sebuah peralatan yang susah saya menggambarkannya, tetapi intinya adalah ada lingkaran-lingkaran terbuat dari kawat yang digunakan untuk mengukur diameter nanas. Dengan alat itu lah sang tengkulak memilah-milah nanas menjadi tiga ukuran: kecil, sedang dan besar. Nanas yang berukuran besar, adalah nanas yang tidak muat, atau setidaknya benar-benar sesak ketika dimasukkan ke dalam lingkaran besar. Kalau sang nanas masih lolos, berarti dia dimasukkan ke dalam lingkaran berukuran sedang. Kalau masih lolos lagi, berarti sudah nasibnya lah dia ditahbiskan sebagai nanas berukuran kecil.

Dan, yang terjadi malam itu benar-benar membuat pilu. Sebagian besar nanas itu lolos dari lingkaran besar dan sedang, yang berarti pula sebagian besar nanas-nanas itu dicap sebagai nanas berukuran kecil. Seperti mimpi buruk, sebagian besar si empunya nanas hanya bisa menggerutu. Juga nenek. Tetapi apa yang bisa dikatakan, melawan ‘ekonomi pasar’ yang demikian kejam itu, di kampung yang ekonominya masih terlalu berpusat pada perputaran uang para tengkulak?

Saya tidak bisa memastikan apakah malam itu yang jadi pemicunya. Yang jelas, lambat laun kebun nanas bagi orang Sidamanik jadi sekadar simbol belaka. Nanas masih dibiarkan tumbuh di ladang-ladang, tetapi para petani makin memusatkan perhatian pada komoditas lain. Cengkeh mulai jadi primadona apalagi harganya cukup melangit. Sebutan Juma Honas yang berarti ladang nanas, perlahan-lahan berubah menjadi Juma Cengkeh. Memang tanaman keras itu hanya berbuah dua atau tiga kali setahun, tetapi sekali panen, kadang-kadang ada yang bisa langsung punya sepeda motor baru. Banyak orang tua yang dengan hasil kebun cengkeh telah mengirimkan anak-anaknya mengejar titel sarjana di Jakarta, Bogor, Yogyakarta bahkan ke akademi militer di Magelang….. Sampai di kemudian hari pohon-pohon cengkeh itu punah oleh penyakit, sebuah cerita lain yang kapan-kapan lah saya ceritakan. Akan halnya nanas, waktu kemudian menempatkannya jadi tinggal sejarah di kampung halaman saya itu.



***
Setiap pagi manakala saya berangkat kerja dari rumah, di salah satu sudut jalan kawasan Bintaro Jakarta, saya pasti melewati sebuah mobil Espass yang kap belakangnya di buka lebar-lebar. Lalu di dalam mobil itu terlihat nenas bertumpuk, tetapi ada juga satu-dua yang digantung. Di samping mobil, dilengketkan sebuah papan kecil, dengan tulisan: NANAS MADU SUBANG, Rp5.000.

Tiap kami menoleh ke mobil itu, hati saya seperti disiram air segar. Seperti dilemparkan lagi kepada masa-masa lucu dengan pengalaman bersama kebun nanas. Namun pada saat yang sama, ada perasaan miris mengingat nanas Sidamanik yang sudah tak jelas lagi rimbanya sekarang ini. Dalam hati, saya berkata, mestinya bukan hanya NANAS MADU SUBANG yang yang terpampang disana. Semestinya ada juga lah, NANAS SIDAMANIK yang legendaris itu.

Sama seperti ketika dulu, menjalani praktek Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa Sukamelang di Subang. Dari Bandung menuju desa itu, di tepi jalan ada satu-dua orang yang menjajakan nanas. Lalu saya dengan teman yang datang mengendarai motor, menyempatkan diri singgah. Lalu kami memesan untuk dikupaskan nenas untuk dimakan di situ. Nanas itu memang demikian nikmat, dan teman saya berkali-kali menggumam alangkah enaknya nanas Subang. Tentu saya membantah dengan semangat 45. Saya katakan bahwa nanas Sidamanik tak kalah enaknya, lebih enak dari nanas mana pun di dunia. Tapi saya segera sadar bahwa itu hanya bualan saya saja sebagai orang-orang yang kalah, sebab, bukankah nanas yang saya jagokan itu sudah tinggal sejarah kini?

Di Trans TV beberapa waktu lalu, diulas mengenai mitos tentang nanas dalam acara Asal Usul. Istri saya dan saya duduk terdiam menyaksikan acara itu. Hati saya gembira melihat gambar-gambar presenternya yang lucu berkeliaran di kebun nanas, lalu menelusup ke laboratorium pengolahan nanas. Di sana diceritakan betapa nanas mengandung vitamin C (?) dan vitamin lainnya yang berguna bagi kesehatan. Mongkok hati saya. Apalagi disodorkan pula tayangan bagaimana mereka melahap nanas dan aneka makanan lain yang diolah dari nanas. Tambah berbunga-bunga hati saya.

Setidaknya saya merasa tayangan itu bisa jadi energi bagi para petani nanas di tempat lain. Untuk tidak mau menyerah dan jangan membiarkan nanas itu punah seperti di kampung saya. Apalagi jika industri pengolahannya sudah makin maju, seperti yang ditayangkan di televisi itu. Saya berharap mudah-mudahan itu juga diilhami oleh pemahaman bahwa bertani nanas itu susah, lho, dan jangan patok harga semena-mena dong. Terus lah cari inovasi lagi, bikin aneka macam cemilan dari nanas. Bila perlu bukan hanya dodol nanas, wajik nenas, tas dari serat daun nanas. Ayo temukan lagi yang lain-lainnya. Bila di sekolah kami dulu contoh-contoh berhitung menggunakan ilustrasi nanas, sekarang coba lah di sekolah anak-anak kita ketika mengajarkan Bahasa Inggris, contohnya jangan apple melulu. Sekali-kali boleh juga pineapple. Bila perlu, kalau masih pake komputer Mac, ganti tuh logonya jadi gambar nenas, dan tambahkan pine di depan kata apple.

Dulu sekali saya pernah mendengar cerita Presiden Soekarno mempermalukan Duta Besar Amerika Serikat di hadapan rapat umum dengan memaksanya memakan durian. (Tahu, kan, kalau orang Bule itu lebih memilih disuruh push up seratus kali ketimbang diminta makan durian yang baunya auzubillah itu?) Wah, itu pastilah kampanye negatif dari sudut diplomatik walau pun positif bagi petani durian. Demi para petani nanas, dan demi mengenang nanas Sidamanik yang tinggal sejarah, lebih baik bila tamu-tamu negara itu disuguhi nanas dan buah khas Indonesia lainnya. Misalnya, jika kelak suatu hari, Mohammad Yunus sang pemenang nobel perdamaian itu datang ke Indonesia, saya ingin sekali dia disuguhi nanas.

Dan, sambil begitu, kepada para penggemar nenas, saya menitipkan permintaan, yakni manakala mencicipi nanas, dimana pun dan pada saat mana pun, sudilah kiranya meluangkan waktu, 10 barang 20 detik saja. Untuk mengheningkan cipta bagi nanas Sidamanik yang kini tinggal sejarah. Dengan begitu, kalau pun suatu saat orang tak lagi menemukan nanas di Sidamanik, setidaknya di hati banyak orang, Sidamanik masih dikenang sebagai kampung penghasil nanas.

Tidak berat, kan, permintaan saya?

6 comments:

  1. Anonymous8:47 PM

    ga kebayang Mac jadi gambar nanas...xixixi repot juga musti narik semua yang udah dikasih cetakan gambar apple..
    salute..........

    ReplyDelete
  2. Anonymous10:19 AM

    Hoi bot,

    Apa kabar di sana?
    Baca tentang nanasnya, jadi teringat masa lalu, jadi datang juga air liur,

    Salam dari utara!

    Diana Vmp

    ReplyDelete
  3. Wah, jadi kangen dengan Sidamanik. Walaupun leluhurku dari Samosir, dan aku dibesarkan di Sidikalang (Dairi-Sumut) tapi aku selalu ada perasaan rindu untuk ke Sidamanik. Kenapa? Karena di Sidamanik lah aku lahir sekitar 32 tahun yang lalu. Oppung ku almarhum(yang dari pihak mama) tinggal disana.

    Yang kurindukan dari Sidamanik adalah udaranya yang sejuk, suasana perkebunan teh nya yang hijau, sampai aroma teh nya di sepanjang jalan yang harum yang bisa membuat kita kecanduan untuk kembali ke Sidamanik :-)

    ReplyDelete
  4. horas bah
    jadi kangen pulang kampung ne
    makasih atas postingannya
    (Pahompu Dukun Patah, Pekanbaru)

    ReplyDelete
  5. kangen jadinya mau pulkam ke Sidamanik ...

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...